TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Peter's plan


__ADS_3

Cantika dan Anas tercengang ketika baru saja sampai di halaman rumah. Keduanya menatap sesosok pria berkaca mata hitam, tengah duduk di teras. Pria itu bangkit saat mengetahui para pemilik rumah sudah pulang.


"Halo, apa kabar?" Pertanyaan itu jelas ditujukan pada Cantika saja, terlihat dari sorot mata sipitnya yang muncul setelah kacamata hitam itu terlepas dari wajahnya.


"Ngapain Lo di sini? Darimana Lo tahu rumah gue?" Jawabnya ketus. Tidak, itu bukan sebuah jawaban melainkan pertanyaan!


Pria itu tersenyum, sama sekali tidak terusik dengan kejutekan Cantika. Karena cuaca masih panas, dia menempelkan lagi benda hitam itu di matanya. "Bagaimana kabarmu, Ika? Sejak kejadian itu aku gak bisa tidur nyenyak, takut kamu trauma sama para begal yang waktu itu nyerang kamu dan Eca."


Anas menatapnya tajam. Sebenarnya dia sudah naik pitam saat mengetahui jika tamu tak diundang itu adalah mantan pacar istrinya. Tapi dia berusaha menahan diri agar tidak gegabah dalam bertindak.


"Cantika adalah istriku, aku yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Kamu tidak perlu repot-repot mencemaskan dia!"


Wanita itu menarik tangan suaminya. "Mas, gak usah ladenin dia. Kita masuk aja yuk, di sini panas!" 


"Tunggu, kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu baik-baik aja kan?!" Pria itu bersikukuh mencari perhatian.


"Gue gak apa-apa, ada Mas Anas yang jagain. Lo pulang aja sonoh!" Ucapnya lebih judes.


"Cantika, kenapa galak gitu? Kamu lupa ya kalo aku udah nolongin kamu malam itu. Kalo nggak ada aku, mungkin aja kamu saat ini ud…"


"Stop, Peter! Gue sangat berterima kasih atas bantuan Lo malam itu. Tapi bukan berarti Lo bisa seenaknya dateng ke rumah orang, nyapa istri orang. Sopan dikit dong!" 


Peter hendak menarik tangan Cantika jika saja Anas tidak menepisnya.


"Sebenarnya apa yang kamu mau?" Anas menatapnya tajam sambil menghalangi pria itu agar tidak menangkap wajah istrinya. 


"Ok, aku cuma pengen mastiin kalo Cantika baik-baik aja." Jawabnya santai.


"Sekarang kamu sudah tahu jika istriku, Alhamdulillah dalam keadaan baik. Jadi kamu bisa pergi dari sini, bukan?!" Ucap Anas sambil tersenyum sarkas.


Cantika menarik tangan suaminya. "Ayo, Mas!" Keduanya pun masuk ke dalam rumah meninggalkan pria itu.


Peter menatap pasangan itu dengan geram meski sudut bibirnya tersungging. "Jadi gue diusir? Ok, gue akan kasih hadiah atas sikap manis kalian." Dia berbalik lalu melangkah pergi. Kaki panjangnya menyusuri jalan agak berdebu itu dengan angkuh.


Tak lama berselang, Peter mengumpat kesal karena sepatunya menginjak kotoran hewan.


"Owhhh, sial! Kalo gak demi ketemu Cantika, males gue masuk ke kampung ini." Umpatnya sambil menggosok-gosokkan sepatu mahal itu ke atas tanah agar kotorannya hilang.


**


Jam 9 malam.


Cantika duduk di pangkuan suaminya dengan melingkarkan tangan di leher pria itu. Tak perlu lagi berkata dan memberi kode, keduanya sama-sama mengerti harus melakukan apa.


Tanpa dikomando, Cantika dan Anas saling mendekatkan wajah mereka lalu menempelkan b*bir agar beradu manis. Mereka kini telah menjadi pemain profesional yang handal karena sering banyak latihan.


Pagutan itu masih terus berlangsung saat tangan si pria brewok travelling di bagian daging kenyal yang menggunung keras. Bibirnya berpindah dari atas menuju bagian bawah yang masih dia r*mat.


"Astaga, Mas…." Cantika mengejang sambil mel*nguh. Sensasi itu benar-benar memabukkan. Sen tuhan dan gerakan b*bir suaminya begitu menggelitik di seluruh tubuhnya.


Saat mereka hendak masuk ke dalam kamar tidur, tiba-tiba terdengar suara dari teras rumah. Bunyi dari sebuah lagu rock milik band Asia terkenal, terus meneror pasangan yang tengah berasik ria itu. Mau mengecek malas karena ingin melanjutkan kegiatan favorit mereka. Mau mengabaikan pun tidak bisa, karena suara bising itu terdengar begitu nyaring.


"Sepertinya suara itu dari teras." Ucap Anas sambil melangkah ke arah pintu.


"Biarin aja, Mas. Gak penting banget dehh…" Cantika mengaitkan tangannya ke lengan pria itu. 

__ADS_1


"Sebentar saja, aku penasaran." 


Anas membuka pintu lalu berjalan menuju arah suara yang masih berbunyi nyaring. Ternyata bunyi yang mengganggu itu berasal dari benda pipih tipis berwarna hitam, yang tergeletak di atas meja. Anas segera mengambilnya.


"Handphone siapa ini?"


"Gak tahu, Mas." 


Karena smartphone itu masih berbunyi, Anas pun menerima panggilan tersebut.


"Halo…" Ucap Anas agak ragu. Dia merasa tidak nyaman jika menyentuh benda milik orang lain.


"Halo, sorry…Itu handphone punya gue ketinggalan di rumah Lo."


"Ini siapa ya, bagaimana bisa handphone-mu ada di rumah saya?"


"Hahahaha, Lo lupa? Gue Peter, tadi siang gue ke rumah Lo."


Raut wajah Anas berubah jadi masam. Dia menatap istrinya sekilas lalu kembali berbicara pada si penelpon.


"Kenapa kamu sengaja meninggalkan handphone di sini? Mau bertemu istriku lagi?"


Cantika memasang wajah bingung. Kenapa namanya dibawa-bawa? Jangan-jangan ponsel yang ada di genggaman tangan suaminya adalah milik si playboy?!


"….."


"Baiklah, tapi jangan berbuat macam-macam!" Anas mengakhiri pembicaraan.


Pria itu duduk di sana dan menyimpan ponsel di atas meja. Cantika ikut duduk di sebelahnya.


"Mas, apa itu…si playboy?"


Cantika membelalak, "Apa? Dasar cowok gila. Apa dia sengaja ninggalin handphone-nya biar bisa balik lagi ke sini?" 


"Tidak tahu. Pria itu memang masih ingin kembali padamu." Ucap Anas dengan wajah kecut.


Cantika memegang tangannya, "Mas, kenapa malah ngambek ke aku sih? Dia yang dateng sendiri ke sini, aku sama sekali gak tahu."


"Aku tidak marah padamu. Aku cuma merasa kesal pada pria itu. Dia sudah tahu jika kita adalah suami-istri, tapi tetap saja nekad mendekatimu."


"Dia emang udah gak waras. Kamu jangan takut, aku sampai kapanpun gak akan mau balikan sama dia. Sekarang mending kita masuk aja ke rumah. Terserah dia mau datang atau nggak!" 


Cantika bangkit dan menarik tangan suaminya. Anas ikut berdiri dan tidak lupa untuk mengambil ponsel milik Peter. Meski dia sangat tidak menyukai pria itu, tapi tetap saja barang tersebut harus diamankan sampai diambil pemiliknya.


**


Peter tersenyum mencurigakan setelah selesai berbicara dengan Anas di telpon. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Yes, saatnya menjalankan rencana berikutnya."


Si pria sipit mengutak-atik kembali ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kalian udah di lokasi belum?" 


"….."

__ADS_1


"Ok, bagus. Jalankan rencana selanjutnya. Ingat, gue gak mau denger kata gagal!"


"…."


Peter menyimpan ponsel di atas bantal setelah pembicaraan selesai. Kini bibirnya tersenyum lebar. Sejurus kemudian, dia tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya berubah posisi jadi duduk.


"Rencana ini pasti berhasil. Hemm, penampilan gue harus OK kalo mau ketemu My Princess." 


Peter masuk ke kamar mandi sambil bernyanyi riang. Pria itu begitu bersemangat karena akan bertemu dengan pujaan hatinya, yang notabenenya adalah istri orang.


**


Seorang pria bertubuh kekar baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Dia terlihat berbicara pada beberapa orang temannya.


"Bos ingin agar kita segera beraksi. Kalian siap?"


Semuanya mengangguk mantap. 


"Ok, sesuai rencana kita di awal, Bobi dan Boy bertugas memperhatikan dan mengendalikan situasi. Eksekusi dilakukan oleh kita berdua." Ucapnya pada laki-laki berkepala plontos.


Keempat laki-laki itu pun bergerak untuk memulai tugas mereka.


**


Suasana hati Anas terganggu karena keberadaan ponsel milik Peter di rumahnya. Itu artinya mantan kekasih istrinya itu pasti akan datang lagi. Entah apa yang akan dilakukan Peter untuk menarik perhatian istrinya?


Anas masih enggan masuk ke dalam kamar meskipun Cantika membujuknya. Dia duduk di kursi ruang tengah dengan tidak tenang. Sedangkan istrinya berdiri di depannya. Ohhh tidak! Saat ini Cantika malah duduk di pangkuan suaminya dengan posisi membelakangi. Dia menarik tangan Anas agar melingkar di pinggangnya.


"Mas, jangan jutek mulu dong. Masa gara-gara cowok reseh itu kegiatan kita dipending…" Protesnya.


"Nanti saat pria itu datang, kamu tunggu saja di kamar. Jangan kemana-mana dan jangan bersuara! Aku tidak mau dia menatap wajahmu ataupun mendengar suaramu." Ucap Anas dengan wajah yang cemas bercampur kesal.


Cantika menoleh, "Mas, lagian ini juga salahmu. Kenapa gak larang dia biar gak datang lagi ke rumah kita? Urusan handphone biarin aja, bisa dipaketin ke alamat rumahnya."


"Meskipun aku melarang, aku yakin pria itu pasti akan kemari. Yang dia inginkan bukan handphone itu, tapi kamu! Dia cuma ingin bertemu denganmu." Nada bicaranya makin meledak-ledak.


Cantika memiringkan posisi duduknya. Tangannya mengelus pipi Anas.


"Mas, Peter itu cowok gak waras. Kamu jangan terlalu ambil pusing. Mending kita lakuin hal yang lebih asik. Lanjutin yang tadi, misalnya….?!"


Cantika tersenyum nakal sembari tangannya semakin menjalar kemana-mana. Perlahan wajah tegang Anas menjadi pasrah dan relax. Baru saja akan mengadu daging yang dapat bersuara, benda di atas meja kembali berdering nyaring.


Anas mendengus kesal, "Apalagi ini?"


"Ahh, antepin aja. Paling si playboy mau bilang kalo dia lagi otw ke sini." Cantika membingkai wajah suaminya lalu menyosor bagian manis itu dengan lembut.


Musik rock yang begitu tidak enak didengar, kini berbunyi lagi setelah beberapa saat mati. Meski mencoba mengabaikan, tetap saja itu mengusik ketenangan mereka.


Cantika mengambil benda itu dan hendak membantingnya ke atas lantai. Namun Anas melarangnya.


"Jangan, itu barang milik orang lain. Jangan seenaknya merusak!"


Cantika memutar bola matanya malas. "Ya ampun, kamu ini. Masih aja baik sama cowok reseh itu."


"Nah, diam sendiri ternyata." Ucap Anas.

__ADS_1


"Baguslah…!" Cantika menyimpan kembali benda itu ke atas meja. "Kita pindah ke kamar, yuk Mas!"


Keduanya pun melangkah ke ruangan tersebut. Ponsel itu kembali berdering namun kali ini mereka benar-benar mengindahkannya. Cantika dan Anas ingin fokus pada kewajiban mulia sebagai pasangan suami-istri.


__ADS_2