TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Kesalahan


__ADS_3

Malam ini Cantika tengah asik menonton TV, sedangkan Anas sibuk berkutat di dapur. Jangan salahkan wanita itu jika tidak membantu pekerjaan suaminya. Itu karena Anas memang tidak mau istrinya kelelahan setelah diserang secara brutal olehnya, biarkan Cantika istirahat dan bersantai saja. Mas Anas memang sungguh baik hati.


Cantika begitu kegirangan ketika suaminya menghampiri sambil membawa kripik pisang yang masih panas. Tanpa menunggu lama, dia mencicipi makanan itu.


"Pangas....pangas...."(maksudnya panas) ucap wanita itu sambil meniup-niup kripik yang sudah terlanjur masuk ke lidahnya. Tangannya mengibas-ibas mulut berharap agar rasa panas itu hilang.


Anas segera meniup-niup mulut istrinya. "Kamu ini, sudah tahu baru keluar dari penggorengan, ya pasti keripiknya masih panas. Ditiup dulu kalau mau makan sekarang, kecuali jika makannya nanti pas sudah dingin."


Cantika tersenyum melihat suaminya begitu cemas. Padahal kan cuma begini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Muncullah ide konyol di otaknya. Perempuan itu kembali mengulang adegan kepanasan makan kripik seperti tadi. Dan Anas lagi-lagi meniup mulutnya dengan lembut.


"Sayang, kamu perhatian banget sihh. Makin cinta dehhh." Ucapnya manja sambil meraba pipi berbulu itu.


"Biasa saja, aku hanya tidak mau melihatmu terluka sedikitpun."


Cantika tersipu malu lalu melanjutkan ngemil penuh drama itu. "Awww, kenapa masih panas?" Tentu saja itu cuma akal-akalannya saja. Tapi Anas sama sekali tidak berpikir ke arah situ. Dia yakin jika istrinya itu tidak akan jahil.


Anas meniup-niup mulut itu untuk ke sekian kali. Tanpa peringatan, Cantika mengec*p bibir suaminya.


"Makasih, sayang. Kamu selalu bikin aku meleleh." Nada bicaranya masih manja dan mengg*da. Usai bicara, dia mengunyah makanan yang ada di mulutnya agar segera masuk ke kerongkongan.


"Cantika, apa kamu belum puas? Masih saja merayuku." Ucap Anas sambil terkekeh.


"Gimana ya? Kamu itu terlalu indah untuk dianggurin. Siap, kita BCT?!" Senyumnya penuh kenakalan diselingi sentuhan manja dimana-mana.


Anas membulatkan matanya, "Lagi?" Apa tidak cape?" Padahal sebenarnya dia senang, hanya saja tidak menyangka jika istrinya akan meminta lagi jatah saat itu juga.


Cantika tersenyum lalu berdiri sambil menarik tangan suaminya. Melangkah pelan menuju kamar tidur. Wanita itu begitu agresif. Dia mendorong suaminya hingga terlentang di sana. Sementara dia sendiri berada di *t*s pria itu.


Jari lentiknya perlahan mem bu ka kain penutup dari tubuhnya. Anas sampai dibuat melotot seperti baru pertama kali menatapnya. Pria itu kesusahan menelan salivanya sendiri. Tubuhnya menegang kena aliran listrik yang kuat saat Cantika menyisir bagian wajahnya. Tangannya refleks menyentuh bagian kembar yang kenyal milik istrinya.


Keadaan berbalik ketika Anas mulai makin panas. Dia melakukan hal sama seperti yang tadi istrinya perbuat. Dan akhirnya mereka mengulang lagi kegiatan perang yang asik itu.


Suara-suara syahdu keluar dari mulut keduanya dengan saling bersahutan. Di saat puncak, mereka menyebutkan nama pasangan masing-masing diselingi k3cup@n mesra.


Tak butuh waktu lama, Cantika dan Anas pun terlelap dengan saling memeluk. Mereka bahkan melupakan TV yang masih menyala di ruang tengah.


***


Esok sore.


Cantika baru saja turun dari motor butut milik suaminya. Dia mencium punggung tangan pria itu setelah melepas helm.


"Mas, makasih udah anterin aku ke sini. Makasih juga udah ijinin aku keluar rumah."


"Hemmm, yang penting kamu tidak nakal dan tahu waktu. Sini helmnya!"


Cantika menyodorkan benda tersebut. "Mas, kamu gak mau nemenin aku?"


"Bukannya tidak mau, tapi aku risih jika berkumpul dengan banyak perempuan. Kamu nikmati saja waktumu dengan mereka. Nanti ku jemput."


Emang lebih bagus kamu gak ikut. Kalo ikut nongkrong ntar wajah sexy-mu jadi konsumsi publik. Gak boleh itu! Gumam perempuan itu dalam hati.


Cantika manggut-manggut lalu mengecup pipi suaminya. Anas celingukan memperhatikan sekitar, untung saja saat itu tidak ada yang melihat. "Sayang, ini tempat umum. Kenapa menciumku?"

__ADS_1


"Mas, aku temuin temen-temenku ya. Hati-hati di jalan!" Wanita itu terkekeh sambil melangkah pergi.


Anas mesem sambil geleng-geleng kepala. "Menggemaskan sekali." Dia menghidupkan kembali kendaraannya lalu pergi dari tempat itu.


Sementara saat ini Cantika telah duduk di dalam cafe bersama para gadis. Mereka seperti biasa ngobrol santai sambil makan.


"Ika, Lo ikut clubbing kan ntar malem?" Tanya Gladis.


"Gak ah, gue kan harus pulang. Lagian itu tempat ter la rang!" Ucap Cantika sambil menggerakkan kedua jari telunjuk dan tengahnya di samping kepala, saat mengucap kata terakhir. 


Semua temannya terkekeh-kekeh.


"Terlarang menurut suami Lo kan?! Ahhh, gue bilang juga apa. Kalo udah nikah pasti kita gak sebebas dulu. Gak asik ahh." Ucap Gladis. Dia kembali bicara setelah menyeruput minumannya. "Gaya Lo katanya tetep bakalan nongkrong kayak biasa meskipun udah nikah. Ehhh tahunya malah duluan bucin sama Mas Anas. Lihat Lo sekarang, udah gak modis lagi. Itu baju model kapan sih? Dan kapan terakhir Lo nyalon? Lama-lama Lo kek emak-emak tahu?!"


"Gak peduli, lagian gue masih tetep cantik dan menarik. Yang penting saat ini hidup gue lebih bahagia dan bermakna." Jawab Cantika sambil tersenyum manis. Dunianya kini memang beralih hanya pada Anas. Selama dia bisa bersama suaminya itu, maka tak ada lagi masalah.


"Ika, tapi beneran deh. Lo mesti ikut clubbing soalnya sekalian rayain persahabatan kita. Gak akan lama kok, ntar gue yang bantu ngomong sama suami Lo." Bujuk Tina.


"Tapi…masa gue keluyuran malem-malem dan ninggalin Mas Anas sendirian." 


"Makanya gue bantuin ijin sama suami Lo." Tina berusaha lagi menggoyahkan keputusan Cantika.


"Duhhh gimana ini? Kalo ikut, takut Mas Anas marah. Tapi kalo gak ikut, ntar dikira gak setia kawan. Mending ikut aja kali ya, kalo diijinin. Cuma dateng doang kok. Janji gak bakalan minum nakal lagi." Pikirannya bergelut bimbang.


Akhirnya pendirian Cantika pun berubah. "Ok, gue ikut asalkan Mas Anas ijinin. Tapi bantu ngomongnya…" merengek-rengek.


"Kan gue tadi juga bilang gitu Makkk… Cepet telpon suami Lo!" Tina berucap dengan gemas.


Cantika tersenyum kaku karena gugup ketika wajah suaminya muncul di layar ponsel. "Halo…Mas lagi apa?" tanyanya sambil melambaikan tangan.


Anas pun tersenyum di sebrang sana. "Baru saja mau mandi, tapi keburu kamu telpon."


"Mandi?" Mata Cantika berbinar dan wajahnya merah. Otaknya jangan ditanya, pasti sedang travelling ke hal begituan! Hemmm, jadi pengen pulang aja ke rumah. 


Teman-temannya saling pandang sambil geleng-geleng kepala. Ada juga yang menepuk jidat. Jelas sekali apa yang Ika pikirkan lewat gesture tubuhnya.


"Bisa-bisa dia minta pulang tuh kayak waktu itu gara-gara kangen sama suaminya." Seloroh Rubi.


Rosa mencebik, "Dihh, si Ika bucinnya kumat. Tina, cepet beraksi. Jangan sampe dia lupa minta ijin buat clubbing!"


Gadis tersebut pun segera merebut ponsel dari tangan Cantika.


"Woyyy, gue masih kangen sama Mas Anas. Lo mau ngapain? Jangan berani liatin laki gue, balikin handphone itu!" Teriak Ika sambil berusaha mendapatkan gawainya kembali.


Tina hanya menempelkan telunjuk di bibir sembari mendesis pelan. Setelah itu dia tersenyum ke layar ponsel. Sedangkan Anas yang sedari tadi mengerutkan keningnya, kini tengah tersenyum kaku pada gadis itu. 


"Halo, aku Tina temennya Ika. Gini, Mas. Kita kan malem ini ada acara kecil-kecilan kayak sukuran gitu. Atau…kerennya sih anivversary pertemanan kami yang ke dua tahun. Boleh kan, kalo Cantika ikut gabung? Gak akan terlalu lama kok acaranya." 


"Syukuran?" Para gadis-gadis terkekeh mendengarnya, kecuali Cantika. Dia khawatir jika Tina malah akan berbohong demi mendapat ijin dari suaminya.


Anas terdiam. Dia sebenarnya memang berat jika mengijinkan istrinya pergi saat malam. Khawatir dan banyak pikiran negatif yang mampir di otaknya.


Cantika menunduk karena takut jika suaminya marah. Teman yang lain pun ikut deg-degan meski ada juga yang cuek. Tina berusaha lagi meyakinkan pria itu.

__ADS_1


"Mas, sekali ini saja….Awww, apaan sih Lo? Sakit tahu." Pekiknya saat Ika mencubit keras lengannya. 


"Apaan Lo manggil laki gue mesra banget kayak tadi?" Ekspresi wajahnya begitu menyeramkan, seolah ingin menelan temannya hidup-hidup.


"Sorry…" Tina nyengir tidak rela karena dalam hati dia menggerutu kesal. Dasar bucin, gue cuma manggil Mas doang gak boleh!


Sedangkan yang lain ada yang tertawa dan geleng-geleng kepala. 


"Ehemmm, jelaskan lagi apa yang mau kamu katakan!" Anas berdehem keras.


Tina kembali fokus ke layar ponsel. "Rencananya kami malam ini mau rayain persahabatan terus…" Perkataannya belum selesai karena Anas langsung memotongnya.


"Dimana tempatnya? Apa saja yang akan kalian lakukan? Sampai jam berapa acaranya selesai?" Kalimat pertanyaan itu terdengar menakutkan meski diucapkan dengan ekspresi tenang.


"Kita mau…. bagi-bagi sembako sekaligus mendatangi panti asuhan. Kan, biar berkah ya…Mas." Jawab Tina kurang meyakinkan. "Acaranya diadain di…rumahku, ya di rumahku jadi Mas gak perlu khawatir. Ini sebenarnya acara syukuran pertemanan sekaligus ulang tahun pembantuku, Mas." Tina nyengir untuk menutupi kegugupannya.


Cantika kali ini memelototi temannya itu. Kenapa malah berbohong sih?


"Saya mau bicara dengan Cantika." Ucap Anas.


Tina segera memberikan ponsel ke pemiliknya. Cantika gemetaran mengambil benda itu. "Mas, a…aku…gak jadi ikut deh. Mau pulang aja." Wanita itu tertunduk dan dadanya berdegup kencang karena takut dan gugup.


"Jika mau pergi, aku ijinkan. Tapi maksimal jam 9 malam kamu harus pulang. Nanti aku jemput." 


Cantika mendongak dan menatap lekat. Sungguh dia merasa bersalah karena secara tidak langsung, sudah ikut membohongi pria itu. "Makasih, Mas." Matanya berkaca-kaca.


Anas tersenyum. Dia pikir istrinya tengah terharu, padahal Cantika merasa bersedih karena sudah berbuat salah padanya. 


Pembicaraan jarak jauh itu pun berakhir. Cantika menatap ponselnya dengan berurai air mata. "Maaf, Mas. Aku gak bermaksud bohongi kamu. Ini semua salah Lo, Tina. Kenapa mesti bohong sih?" Dia uring-uringan pada gadis di sebelahnya.


"Lahhh kalo jujur suami Lo pasti gak bakalan kasih ijin." Tina berkilah.


"Tapi tuh si Tina otaknya lumayan encer juga. Apa dia bilang tadi, mau sukuran sambil rayain ulang tahun pembantu Lo? Mau bagi-bagi sembako sama ke panti asuhan juga? Sumpah, si Tina bikin gue ngakak." Ucap Gladis sambil terbahak-bahak.


Cantika masih kesal, "Gue mending gak ikut kalian daripada mesti bohongin Mas Anas. Kasihan dia…" Banjir air mata lagi.


Rosa ikut bicara, "Udahlah, Ika. Udah terlanjur juga. Gunakan kesempatan ini untuk seneng-seneng."


"Bener tuh, sekali ini ajalah." Bujuk Rubi.


Karena banyak setan yang menggoda akhirnya Cantika melanjutkan rencananya untuk ikut mereka.


Sebelum ke club, Cantika diseret para gadis untuk membeli baju beserta sepatu dan tasnya sekalian. Cantika sudah menolak namun semua temannya tetap memaksa. Alasannya adalah karena semua yang dia pakai terlalu norak dan sudah tidak modis lagi, harus diganti dengan model terbaru.


Cantika berbinar menatap baju yang dipilihkan oleh Gladis. Gaun hitam selutut tanpa lengan itu sudah membuatnya tertarik. Dia memang masih menyukai model pakaian seperti itu. Tapi saat mengingat Anas, hatinya menciut. Tentu saja suaminya itu tidak akan mengijinkannya memakai baju terbuka. Tapi…dia benar-benar menyukainya.


"Gak ah, gue gak perlu ganti baju kok. Baju ini juga masih bagus, baru dua kali dipake." Ucap Cantika sambil menatap benda itu dengan sayang, sayang kalau sampai tidak bisa dia pakai!


"Ahhh, Lo. Ambil aja, gue yang bayarin sama sepatu dan tasnya sekalian." Ucap Gladis. "Lo pasti keren banget deh pake baju itu." 


Bagaimana pun juga Cantika hanya manusia biasa. Dia pun masih belum mantap untuk berubah sepenuhnya. Akhirnya dia pun menerima benda-benda mewah itu dan memakainya saat meluncur ke club.


Entah mengapa Cantika merasa sedikit canggung saat kembali lagi ke tempat itu? Mungkin karena selama sebulan ini dia baru ke sana, atau karena hati kecilnya melarang untuk masuk ke tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2