
Esok siang diadakan acara syukuran atas kembalinya Anas, yang diselenggarakan di rumah Pak Permana. Acara sederhana itu hanya dihadiri oleh kerabat dan tetangga serta sahabat saja. Ada juga anak-anak yang sudah tidak punya orangtua, yang sengaja diundang untuk diberikan santunan.
Selesai acara, Anas dan Cantika bersama anak mereka meluncur ke kampung, diantar oleh sopir. Pak Permana dan Bu Sofi juga Riri ikut menyertai.
Para warga dan tetangga begitu antusias menyambut mereka. Semuanya ikut senang karena ternyata si pria baik hati masih hidup.
"Alhamdulillah.... kami sangat bersyukur karena kamu masih hidup, Nas."
"Mas Anas, aku sudah kangen nasi kuning buatanmu."
"Saya ikut bahagia setelah mendengar kabar bahwa kamu masih hidup."
Begitulah beberapa perkataan yang dilontarkan para tetangga.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak atas perhatian kalian." Ucap Anas sambil tersenyum.
Semua orang yang datang diberi sebuah bingkisan sebagai ungkapan rasa syukur sekeluarga.
"Makasih, Nas. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan dan rizki yang berkah." Ucap salah seorang wanita paruh baya.
"Aamiin... Bu, saya titip juga buat Kakek Arif dan Bu Surti. Maaf merepotkan..." Anas menyodorkan lagi dua bingkisan yang langsung diterima oleh ibu tersebut.
"Gak apa-apa kok, makasih."
Semua orang pun telah kembali ke kediaman masing-masing. Keluarga itu kini tengah makan bersama.
"Mas, siniin afkarnya. Kamu makan dulu." Pinta Cantika pada suaminya yang sedang memangku sang anak.
"Kamu duluan saja yang makan, mumpung Afkar sedang anteng."
Riri bangkit dari duduknya lalu menghampiri kakak ipar. "Mas, Afkar sama aku aja."
"Jangan, kamu kan harus makan!"
"Aku males makan, belum laper. Sini Mas, aku pengen kangen-kangenan dulu sama Afkar sebelum pulang."
"Oh, ya sudah. Maaf ya merepotkan, makasih Tante...."
Anas duduk di sebelah istrinya setelah memberikan anak itu.
"Sini baby imut, kita main di teras yuk...!" Riri pun pergi dari sana.
Berpuluh menit kemudian, acara makan pun selesai. Anas dan Pak Permana membereskan bekas makan mereka. Bu Sofi dan Cantika mengobrol dengan santainya.
"Kalo Mas Anas sih gak aneh, dia emang suka beres-beres. Ini Papi.... tumben." Cantika berbisik pada ibu sambungnya.
"Nggak tahu, malu kali sama menantunya yang rajin." Bu Sofi menimpali.
"Awas Mah, jangan-jangan Papi modus. Siap-siap aja nanti Papi bakalan nagih di rumah hahaha...."
"Hus... kamu apaan? Orangtua udah gak gituan lagi." Kilah Bu Sofi dengan tersipu-sipu.
"Ahhh, masa?" Cantika masih cekikikan hingga menarik perhatian kedua laki-laki yang ada di sana.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Pak Permana yang saat itu tengah menyapu lantai.
"Nggak, Mas. Cantika saja yang ketawa, Mama nggak." Bu Sofi sedikit tersenyum.
"Papi, tumben beres-beres. Pasti ada maunya sama Mama Sofi. Hahaha... Tua-tua masih nakal!" Cantika tertawa lebih kencang.
Pak Permana cuek saja. Terserah apa yang para wanita itu pikirkan. Yang jelas dia hanya bahagia melihat keakraban putri dan istrinya itu.
Dan Anas hanya mesem-mesem sendiri sambil mencuci piring. Tidak sedikitpun berkomentar. Tapi dalam hatinya ikut senang melihat hubungan yang baik antara Cantika dan Bu Sofi.
**
Pak Permana beserta istri dan anaknya baru saja pamit pulang. Anas membereskan barang-barang yang mereka bawa. Cantika sedang mengganti popok bayinya.
"Sayang, kamu sanggup mengurus Afkar tanpa bantuan baby sitter?"
"Iya, aku mau belajar mandiri. Aku sanggup kok, Mas."
"Nah itulah poinnya. Boleh-boleh saja kalo mau menyewa pengasuh, jika kita memang sedang butuh banget. Tapi kalo misalnya masih sanggup, mending handle sendiri saja. Bukan masalah biaya, tapi kita memang harus belajar mengurus anak. Dengan begitu kita akan mendapat banyak pelajaran berharga." Mulai ceramah.
Cantika mendengarkan dengan seksama sambil menyusui anaknya. Anas melanjutkan lagi bicara sambil tangannya bergerak memasukkan pakaian bayi ke dalam lemari.
"Kita bisa tahu bagaimana perjuangan ibu kita dulu. Lelahnya, sakitnya bahkan pusingnya seorang ibu saat mengurus buah hatinya. Selain itu, chemistry kita dan anak akan lebih terjalin kuat jika kita fokus mengasuhnya tanpa campur tangan pengasuh. Banyak juga pahala yang akan kita dapat dan dosa-dosa kita Inshaa Allah akan diampuni jika ikhlas merawat anak. Itulah keistimewaan menjadi seorang perempuan."
Jika ceramah itu disampaikan Anas saat Cantika masih seperti dulu, pasti saat ini wanita itu akan uring-uringan.
"Cantika, tidak ada rasa sakit yang sia-sia. Jangankan rasa sakitnya melahirkan, hanya tertusuk duri saja Inshaa Allah bisa menghapuskan dosa kita seandainya kita ikhlas dan selalu mengingatNya."
__ADS_1
"Iya, Pak Ustadz...." Tapi tetap saja lama-lama dia pusing jika terus diceramahi panjang lebar.
"Aku bukan ustadz, aku suamimu." Cengir Anas.
"Kayak pernah dengar deh, kamu juga ngomong begitu pas di malam pertama kita."
Anas mesem mengingat kejadian tersebut. Saat itu Cantika malah mabuk-mabukan dan ingin kabur dari kamar hotel tempat mereka menginap. Anas mencegah dan menceramahinya. Saat itulah Cantika marah-marah tidak mau diatur dan dinasehati.
"Kamu juga bilang aku ini ustadz karena suka ceramah." Anas kini duduk di samping istrinya.
Cantika menatapnya lekat. "Mas tahu nggak, waktu kamu bilang kamu itu suamiku, rasanya ada yang aneh. Nggak tahu kenapa ada sesuatu yang berdesir di hatiku waktu itu."
"Masa?"
"He-em, aneh aja sih. Tapi aku senang karena kamu selalu lembut dan perhatian meskipun aku jutek dan nyebelin. Itulah yang bikin aku cinta sama kamu, Mas."
"Kalo aku sih, aku suka semua yang ada di diri kamu meskipun lagi judes ataupun ngambek. Yang aku tidak suka adalah saat kamu bersama laki-laki lain."
"Aku juga sama, pas kamu sama si Mira stress." Tuh kan, sekarang wanita itu memonyongkan bibirnya.
"Husss, gak boleh gitu. Jangan menghina orang lain. Dia juga manusia."
"Kenapa belain dia? Orangnya aja gak ada di sini."
"Mulut kita harusnya dijaga. Apalagi kamu itu cantik, lidahmu juga harus manis."
"Hemmm...." menggeram.
Anas tersenyum melihat istrinya yang menggemaskan. Tangannya mengusap pipi tembem dede Afkar. "Nak, lihatlah Bunda ngambek! Tapi masih tetap cantik ya, bikin Ayah gemess..."
Diam-diam hati Cantika berbunga-bunga karena mendapat pujian. Tapi ekspresi wajahnya belum berubah, gengsi yesss.
Ting... Nong... Suara bel berbunyi. Yap, sekarang para tamu tidak perlu mengetuk pintu berkali-kali. Pak Permana yang menyiapkan semuanya sebelum anak menantunya memutuskan kembali ke rumah itu.
"Sayang, aku lihat dulu siapa yang datang." Anas mengecup kening istrinya lalu beranjak dari sana.
Krettt....pintu terbuka dan menampakkan dua sosok wanita beda usia.
"Assalamualaikum." Ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumussalam. Mari masuk!" Ajak Anas. Dia tersenyum tapi jelas menunjukkan ekspresi bingung. Sekilas dia menatap ke lantai atas karena merasa tidak enak hati.
Kedua perempuan itu pun menurut meski dengan malu-malu.
"Silahkan." Anas menyimpan nampan berisi minuman dan sedikit camilan. Dia ikut duduk berhadapan dengan para tamu.
"Mas apa kabar?" tanya gadis berkerudung putih sambil menunduk.
"Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar? Kapan pulang?"
"Aku baik, Mas. Aku di sini sudah seminggu."
"Nas, kami kemari setelah mendengar kabar dari para tetangga. Kami sangat bahagia karena ternyata kamu masih hidup." Ucap wanita yang lebih tua.
"Iya, Mas. Aku sedih banget mendengar kabar kepergian Mas Anas. Aku rasanya tidak percaya. Dan Alhamdulillah, ternyata feelingku benar. Mas Anas masih hidup. Aku sangat bahagia."
"Terima kasih Mira, Bu. Ini semua memang takdir. Saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan istri dan anak."
"Oh, ya dimana mereka sekarang?" tanya Mira.
"Di kamar atas."
"Ada urusan apa kalian kemari?" tiba-tiba Cantika muncul dan langsung duduk di sebelah Anas. Tatapannya begitu runcing.
Anas menghembuskan napasnya berat. Dia berharap tidak akan ada perang yang terjadi.
"Apa kabar?" sapa Mira.
"Nak, lama tidak bertemu." Ibu itu menimpali.
"Baik." Jawabnya singkat penuh kejutekan.
"Cantika, aku belum sempat meminta maaf atas kejadian waktu itu. Aku benar-benar tidak sadar dan hilang kendali." Mira menundukkan kepalanya.
Tanpa disebut pun semua orang tahu duduk permasalahannya. Kejadian sekitar setahun lalu dimana Mira seperti orang gila, memeluk Anas sambil menangis. Tentu hal itu tidak akan pernah dilupakan semua orang.
"Kenapa bahas hal yang udah basi? Lagian masalahnya udah kelar. Apa jangan-jangan Lo mau bikin skandal season 2?" Cantika menatapnya tajam.
Anas mengusap tangan istrinya agar lebih tenang. Tapi wanita itu sama sekali tidak terpengaruh.
"Nak, kami hanya ingin meminta maaf saja agar hati kami tenang tanpa rasa bersalah."
__ADS_1
"Cantika, Mas Anas. Saya sekeluarga minta maaf atas kejadian tidak mengenakkan itu. Meskipun sudah terlewat sangat lama, tapi kami harap belum terlambat untuk minta maaf." Mira terlihat begitu sendu.
"Kami sudah memaafkan dan melupakan semuanya." Anas tersenyum.
Cantika memelototi suaminya. Enak aja memaafkan dan melupakan. Dasar suami sok ramah.
"Alhamdulillah, terima kasih Nak. Kami tahu bahwa kalian punya hati yang begitu besar. Jika sudah begini kami pun bisa lega."
"Terima kasih banyak atas kebesaran hati kalian. Sebenarnya kami kemari juga sekalian untuk memberikan ini." Mira meletakkan sebuah kartu ke atas meja.
Cantika segera menyambarnya. Matanya bergerak ke kiri ke kanan dengan cepat. Membaca dan memahami isi tulisan itu. Sejurus kemudian bibirnya tersungging lebar.
"Mira, jadi kamu Minggu depan akan menikah?" tanya Cantika begitu antusias.
"Iya, aku harap kalian bisa hadir." Mira tersenyum.
Anas ikut senang dan lega karena perang yang dia takutkan dijamin tidak akan terjadi.
"Alhamdulillah, semoga semuanya lancar." Ucap Anas.
"Aamiin.... Terima kasih doanya." Mira dan ibunya berucap nyaris berbarengan.
"Aamiin Ya Allah, lancarkan semuanya. Buatlah rumah tangga Mira dan suaminya kelak, selalu bahagia dan sakinah, mawadah, warohmah. AAMIIN......" Cantika-lah yang paling keras dan semangat berdoa, melebihi yang empunya hajat. Terlihat aneh dan berlebihan.
Cantika tertawa lepas penuh kemenangan dan kepuasan di dalam hatinya. Tadinya dia kira kehadiran Mira di rumahnya untuk mengganggu, tapi ternyata salah. Dia sangat lega dan bahagia karena si bibit pelakor sudah dipastikan musnah. Kalo Mira bahagia sama suaminya nanti, pasti dia gak akan ganggu Mas Anas. Hahaha....
"Maaf jika kami sudah mengganggu, kami pamit sekarang." Ucap ibunya Mira.
"Ahhh, nggak kok." Cantika cengengesan.
"Assalamualaikum....." Mira mengucap salam dan berlalu bersama ibunya.
"Waalaikumussalam." Jawab Anas.
"Waalaikumussalam.... Semoga lancar dan bahagia selalu....." Biar gak ganggu kebahagiaan gue...!
Cantika melambaikan tangan sambil tersenyum meskipun para tamu itu sudah menghilang.
"Akhirnya cewek itu nikah juga. Alhamdulillah......" Cantika merentangkan tangannya.
Anas tergelak, "Kamu seperti anak kecil. Awalnya sok jutek tapi pas tahu Mira akan menikah, kamu langsung sumringah. Masih aja cemburu, heh?!" Dia memegang dagu istrinya.
"Iyalah, masa nggak cemburu. Orang jelas-jelas cewek itu suka sama kamu. Bego aja kalo aku cuek pura-pura nggak tahu."
"Tapi kayaknya ekspresimu berlebihan. Kadang gemesin, lucu kalo lagi ngambek kayak tadi. Tapi aku sebenarnya takut emosimu tidak terkendali. Aku gak suka keributan."
"Itu namanya antisipasi, jangan sampai ada pelakor masuk ke dalam kehidupan bahagia kita."
"Kita ke kamar!" Ajak Anas agar istrinya berhenti mengoceh. Lama-lama pusing juga melihat Cantika seperti itu.
Cantika mesem malu-malu. Anas segera mengangkat tubuhnya menuju kamar. Pria itu merebahkan istrinya ke atas tempat tidur dengan hati-hati lalu ikut berbaring.
Anas memejamkan mata sambil memeluk Cantika. "Kita tidur sebentar. Rasanya aku cape sekali."
What? Gue kira mau ke kamar itu, mau ngajak main perang-perangan. Tahunya ngajakin bobo. Ihhh, terus kenapa sok-sokan gendong gue sampe sini? Suasana romantis, ya pasti gue mikirnya ke hal begituan. Dasar suami PHP.
Hadeuhhhh, Mas Anas. Cantika jadi bete tuhh. Bibirnya sudah monyong beberapa sentimeter. Tapi rupanya pria itu memang benar-benar kelelahan. Saat ini dia sudah terlelap menuju alam mimpi.
Cantika memilih duduk saja. Tinjunya melayang di udara seolah mengenai suaminya. Gedeg banget gue, dia malah dingin-dingin aja kayak gak salah apapun. Coba lihat, dia malah enak-enakan bobo. Sebel.....
Cantika menghirup oksigen banyak-banyak agar panas di dadanya bisa hilang. Dia mengusap wajahnya kasar.
"Ya ampun, kenapa gue semarah ini? Gue gak gila kan?!"
Wanita itu mengusap rambut suaminya. Sudut bibirnya tersungging lebar. Wajah tenang milik Anas berhasil melemahkan egonya.
"Kasihan juga Mas Anas kalo aku ngambek gak jelas. Maaf, Mas. I love you so much....."
Cup! Sebuah kecupan singkat namun hangat menempel pada kening pria yang pulas itu. Dan akhirnya Cantika kembali berbaring di samping suaminya. Tak lama berselang, matanya pun terpejam. Tapi baru sepuluh menit, terdengar suara tangisan dari Afkar.
"Ya ampun, baru juga enak tidur. Iya, sayang.... Bunda datang...."
Cantika mengucek matanya yang agak merah. Dia turun dari ranjang lalu mengambil anaknya. Afkar ditimang sambil diberi ASI.
Meskipun lelah tapi Cantika sangat senang. Kehadiran anak itu semakin melengkapi kebahagiaannya. Disadari atau tidak, saat kita mempunyai anak pasti ada saja rasa indah dalam hati yang membuat kita merasa senang dan bersemangat. Hingga rasa lelah pun bisa sirna.
Semangat untuk seluruh ibu yang ada di dunia ini.
Note:
Alhamdulillah pagi ini bisa update. Spesial for my readers 😍
__ADS_1