TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Takut kehilangan.


__ADS_3

Anas sudah selesai menyiapkan dagangannya. Cantika pun ikut membantu pria itu. Kini istrinya berdiri di sebelahnya untuk memperhatikan.


"Mas, ajarin aku dong cara melayani pembeli! Aku mau tahu seberapa banyak perporsinya."


"Boleh, gampang saja. Sebenarnya tergantung pesanan pembeli juga. Lauknya mau yang mana, pake apa saja. Satu porsi nasinya kira-kira dua sampai tiga siuk. Nanti perhatikan saja bagaimana aku melakukannya."


Anas melayani pembeli pertamanya. Dan istrinya memperhatikan dengan seksama.


Ehmmm, intinya harus tahu takaran nasinya berapa banyak. Yang lainnya bisa menyesuaikan. Kalo gini kan aku bisa menghandle pembeli yang suka keganjenan itu.


Cantika tersenyum menyeringai. Niatnya selain ingin membantu, juga untuk menjauhkan ibu-ibu reseh dari suaminya.


"Saya mau dua bungkus pake telor sama bihun, pake sambel dikit." Ucap salah seorang wanita.


"Ok, tunggu bentar ya Bu!" Cantika yang melayani pembeli itu. Ekspresi wajahnya biasa saja, tidak judes tapi juga tidak ramah.


Anas tersenyum melihat istrinya begitu antusias membantu. Dan wanita-wanita itu cekikikan melihat leher Anas yang dipenuhi cap merah.


"Mas Anas disedot drakula?" goda salah satu dari mereka.


Cantika cemberut menatapnya tajam. Sialan, gue dibilang drakula!


Sedangkan Anas tersenyum dengan menunduk. Tangannya mengusap-usap tengkuk. Saat ini dia sudah kehilangan wajah.


"Nas, lehermu apa udah kerokan?"


"Wihhhh, Mbaknya juga sama. Kalian apa saling pukul sampai merah-merah seperti itu?"


Cantika tersenyum sinis, "Ibu-ibu, ini adalah suatu tanda cinta dan kepemilikan. Jadi orang-orang gak akan lupa kalo kami ini suami-istri." Wanita itu memang masih terbilang kekanak-kanakan.


"Ibu mau berapa bungkus?" Anas mencoba mengalihkan pikiran mereka.


Ibu-ibu itu pun pergi setelah mendapatkan pesanan mereka.


"Lain kali jangan membuat stempel di leher! Ini memalukan sekali." Ucap Anas sambil mengusap leher.


"Gak usah malu, jadi semua wanita gak akan lupa kalo Mas ini adalah suamiku."


"Mana mungkin mereka lupa, kamu ada-ada saja."

__ADS_1


"Ada beberapa yang lupa, contohnya dia." Cantika menunjuk ke arah gadis berlesung pipi dengan sudut matanya.


Anas menoleh ke jalanan depan rumahnya. Dia agak berteriak pada gadis yang berjalan pelan dengan menunduk itu. "Mir, mau kemana?"


Mira menghentikan langkahnya ketika mendengar suara pria itu. Perlahan dia menoleh dari kejauhan. "Aku mau ke warung." Setelah menatap wanita yang ada di sebelah Anas, dia kembali menunduk.


"Gak mau beli nasi kuning dulu?" tanya pria itu.


"Nanti besok saja mungkin. Aku permisi, Mas..." Dia masih menunduk dan hendak melangkah.


Cantika segera berlari ke arahnya hingga lagi-lagi Mira berhenti. "Adik ipar, tunggu!"


Si gadis berlesung pipi menoleh, "Ada apa?"


Cantika nyengir sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah. "Kenapa pagi-pagi udah panas gini ya?"


Mira mengernyit, "Panas?" Anehhhh, perasaan cuacanya dingin.


"Tapi aku kok gerah gini ya, leherku ampe berkeringat..." Dia mengusap lehernya yang sebenarnya kering, tak ada satu tetes pun keringat di sana.


Mira melongo menatap leher perempuan itu yang dipenuhi kiss mark. Anas menghampiri mereka dan berdiri di samping istrinya.


Cantika mendelik, tak suka dengan keramahan suaminya pada wanita lain.


"Tidak usah Mas, lain kali saja."


Enak aja lain kali, mending dia gak usah lagi nongol di depan Mas Anas.


Cantika cemberut menatap Mira. Tapi sejurus kemudian, dia tersenyum karena ide konyolnya muncul. Cantika pura-pura cemas. Tangannya memegangi wajah dan leher suaminya.


"Aduh, Mas. Apa kamu sakit lagi? Kok badanmu kayak panas?"


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Ayo kita masuk ke rumah! Aku gak mau kamu sakit lagi."


"Aku tidak sakit, sayang..." ucap Anas.


Deg! Hati Mira makin hancur-lebur. Kiss mark yang bertebaran pada leher kedua orang itu, dan Anas yang memanggil Cantika dengan sebutan sayang, sudah benar-benar mengusik hatinya. Apa itu berarti jika mereka benar-benar telah menjalani kehidupan pernikahan dengan bahagia? Sepertinya kini mereka saling mencintai.

__ADS_1


Cantika mengaitkan tangannya di lengan Anas. Dan kedua orang itu pun pergi meninggalkan gadis yang kini tengah meneteskan air mata.


***


Mira berbalik arah. Dia tidak melanjutkan langkahnya ke tempat tujuan. Dia segera pulang ke rumahnya. Dengan tergesa gadis itu masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan ibunya yang memanggil. Mira memilih mengunci diri di dalam kamar.


Ibunya menggedor pintu dengan cukup keras karena Mira belum juga mau merespon. "Mir, mana telor dan garamnya? Apa kamu tidak membelinya?"


Mira belum juga mau menjawab. Dia tengah berlinang air mata kepedihan. Dadanya begitu sesak setelah menyaksikan kemesraan Anas dan Cantika. Kenapa pria itu harus menikahi wanita lain? Selama ini Mira rela disebut perawan tua hanya untuk menunggu Anas melamarnya. Sudah banyak laki-laki yang dia tolak. Entah yang mengungkapkan cinta secara langsung maupun lewat ayah ibunya. Berkali-kali dijodohkan pun Mira selalu menolak dengan alasan belum siap berkeluarga.


Tapi semua itu sia-sia saat Anas menikahi Cantika. Seorang gadis kota yang cantik dan mempesona. Bukankah ini tidak adil? Mira yang lebih dulu mengenal dan bersama dengan Anas meski hanya sekedar berteman. Bahkan dirinya begitu hafal apa saja kesukaan pria itu. Harusnya dia yang lebih pantas dan berhak menjadi istrinya.


"Mira, kamu kenapa sih? Ibu khawatir..." ucap wanita di balik pintu.


"Aku tidak enak badan makanya tidak jadi ke warung." Jawab Mira dengan suara agak parau.


"Kalo begitu biar Ibu saja yang ke warung sekalian ke Apotek. Kamu istirahat saja!"


Aku tidak perlu obat, Bu. Aku cuma mau perasaanku ini hilang. Aku ingin melupakan Mas Anas. Rasanya sangat sakit jika selalu melihat mereka bersama dengan begitu mesra.


Mulai saat ini Mira harus berusaha keras untuk mengubur nama pria itu. Tapi apakah dia mampu melakukannya?


***


Sedangkan di tempat lain, Anas dan istrinya tengah asik berduaan di teras rumah. Duduk bersebelahan sambil saling berpegangan tangan. Saling menatap dan menebarkan senyum. Sesekali pria itu meng*c*p tangan halus milik istrinya.


"Mas, gimana perasaanmu kalo misalnya Mira itu mencintaimu?"


Anas tergelak, "Pertanyaan konyol apa itu? Mira cuma menganggapku teman."


"Gimana kalo dia sebenarnya mau jadi istri kamu?" Wajahnya begitu serius.


"Malah lebih ngaco...Kamu jangan memikirkan hal yang tidak penting! Yang harus kamu ingat adalah, bahwa aku hanya mencintai kamu. Kamu yang pertama dan terakhir." Anas mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Aku percaya sama kamu, Mas. Tapi tetep aja ada perasaan takut kehilangan. Takut ada perempuan lain yang ingin merebut posisiku sebagai istrimu."


"Jangan takut! Aku tidak akan pernah membiarkan ada orang ketiga diantara hubungan kita."


Cantika tersenyum sambil mengangguk. Dia pun akan melakukan hal yang sama. Dia akan sekuat tenaga melawan rintangan dan badai yang mungkin akan melanda pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2