TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Bukan kamu


__ADS_3

Cantika menangis sesenggukan sambil memeluk erat pria yang baru saja muncul itu. Semua orang menatapnya lekat bahkan ada sebagian tetangga dekat yang ikut menonton.


"Mas, jangan pergi lagi!"


"Maaf, kamu siapa? Dan sebenarnya ada apa ini?" Ujar laki-laki itu.


Cantika melepas pelukannya lalu kembali memperhatikan wajah itu. Memang nyaris mirip, hanya ada beberapa bagian yang berbeda. Kulitnya sedikit agak gelap dan postur tubuhnya lebih tinggi. Yang paling beda adalah suaranya yang terdengar serak. Kini Cantika sadar jika laki-laki tersebut bukanlah suaminya. Wanita itu berlari ke dalam rumah, menangis lebih keras di atas sofa.


Laki-laki asing itu menatap semua orang dengan kebingungan. "Maaf, sebenarnya ada apa ini? Dimana Mas Anas?"


Pak Permana baru ingat siapa sosok laki-laki tersebut. "Ardan? Apa ini kamu? Saya hampir tidak mengenalimu. Semakin dewasa kamu makin mirip dengan Anas."


"Pak Permana, ada apa ini?" 


"Mari kita bicara di dalam!"


Mereka kembali ke dalam rumah. Riri dan Bu Sofi duduk di sisi Cantika sambil memeluknya, agar lebih tenang. Pak Permana beserta Ardan dan Peter duduk berhadapan dengan para wanita.


"Pak, dimana kakak saya? Sudah seminggu lebih saya tidak bisa menghubunginya. Makanya saya datang ke sini karena khawatir."


"Maaf, Ardan. Kakakmu meninggal seminggu yang lalu."


Pria tersebut membuntang dengan mata berkaca-kaca. "Inalillahiwainailaihirojiun, kenapa Mas Anas tiba-tiba meninggal? Kenapa tidak ada yang memberitahu saya?"


Peter menatap Ardan dengan sinis. "Ternyata dia adiknya si Anas, pantesan mukanya mirip. Gue hampir aja kena serangan jantung tadi. Syukurlah karena ternyata si cowok miskin itu gak balik lagi ke sini. Tapi, gue juga harus waspada sama adiknya. Bisa aja dia jadi pesaing baru." Celotehnya dalam hati.


"Ardan, kami tidak tahu nomer kontakmu. Maafkan kami. Kakakmu meninggal karena…." Pak Permana menceritakan tentang penyebab kematian Anas.


Ardan tertunduk, saat ini bulir bening itu bercucuran ke wajahnya. Kini semua keluarganya sudah pergi, membuat hatinya seolah porak poranda.


"Pak, apa benar jika kejadian yang menimpa Mas Anas adalah murni karena kecelakaan?" tanya Ardan setelah tangisnya agak reda. Pikiran itu muncul begitu saja.


"Maksudmu?" Cantika baru bersuara lagi.


"Bagaimana jika kecelakaan ini sengaja direkayasa oleh orang yang ingin mencelakai Mas Anas?"


Peter mendadak kesulitan bernafas. Sikapnya terlihat agak gusar.


Pak Permana angkat bicara, "Tidak, tim kepolisian sudah menyelidiki kejadian ini. Tidak ada sesuatu yang janggal."


Peter tersenyum dalam hati. "Tentu aja, semua udah gue urus dengan cermat. Gak bakalan ada yang tahu fakta sebenarnya seperti apa."


Bu Sofi menatap Ardan sambil mengusap kepala anak tirinya. "Ardan, kamu mirip sekali dengan kakakmu. Kami nyaris mengira bahwa kamu itu benar-benar Anas."


"Maaf, aku gak bermaksud kurang ajar." Cantika bicara pelan sambil mengusap pipinya.


"Jadi wanita itu adalah istrinya Mas Anas. Pantas saja dia langsung memelukku tadi, kasihan sekali. Aku yakin jika saat ini dia sangat terluka. Sepertinya dia sangat mencintai Mas Anas." Ardan berbicara dalam hati. Dia memang tahu jika kakaknya menikahi putri Pak Permana, tapi sama sekali tidak hafal bagaimana wajah dari iparnya tersebut.


"Tidak apa-apa, Mbak yang sabar. Aku tahu bahwa ini pasti sangat berat tapi mungkin semua adalah takdir. Kita harus merelakannya." Ucap Ardan. Sebenarnya umur Cantika masih ada dibawahnya, tapi karena wanita itu adalah istri dari kakaknya, maka dia memanggilnya dengan sebutan Mbak. Itu adalah caranya untuk menghormati iparnya tersebut.


"Nak Ardan, mari kita makan bersama. Kebetulan saya sudah membuat nasi goreng." Bu Sofi tersenyum.


"Tidak usah, Bu. Saya tidak lapar." Jawabnya sambil mengangguk. Bagaimana mungkin dia berselera makan di saat seperti ini.


Peter berusaha menyembunyikan kekesalannya pada Bu Sofi. Dia tetap memasang wajah santai padahal dalam hatinya menggerutu. "Dasar wanita tua nyebelin. Dia kayaknya benci banget sama gue."


"Ardan, mari kita makan. Peter, kamu juga ikut!" Ajak Pak Permana.


Peter tersenyum, "Gak usah, Om. Saya pamit pulang. Nanti besok saya kemari lagi, boleh kan?!"


"Lhooo, kenapa buru-buru?"


"Iya, Om. Momy selalu ngomel kalo aku terlalu lama main di rumah cewek." Pria sipit itu nyengir.


Riri menatapnya jijik, rasa bencinya kini muncul lagi. "Sok jadi anak momy yang penurut padahal tingkahnya di belakang, berantakan banget." Gerutunya tanpa bersuara.


"Kalo begitu hati-hati di jalan. Salam untuk Daddy-mu." Ucap Pak Permana.


Peter menjabat tangan pria di sebelahnya lalu bangkit. Pandangannya beralih pada Ardan dengan sedikit ketus. "Awas kalo Lo macem-macem, gue pastikan nasib Lo akan sama dengan Anas." Tentu saja perkataan itu hanya tersimpan di dadanya.


Peter tersenyum pada Cantika. "Ika, aku pulang sekarang. Kamu baik-baik ya, jangan banyak pikiran!"


Cantika hanya mengangguk pelan tanpa menatap. Riri dan Bu Sofi menatap pria itu dengan garang. Saat ini keduanya sama-sama tidak suka dengan sikap sok perhatian dari Peter.

__ADS_1


**


 Cantika membereskan alat sholat lalu mengambil sebuah baju koko yang biasa digunakan suaminya. Baju tersebut dia cium dan peluk, seolah itu adalah sosok yang tengah dia rindukan. Aroma parfum yang menempel di baju itu begitu kuat, hingga membuat sosok Anas seolah sedang ada di sana bersamanya.


"Mas, bahkan di baju ini aja kamu masih nempel, apalagi di hatiku." Ucapnya seraya mencium kain putih tanpa kancing itu.


Puas memeluk baju milik suaminya, dia pun menghampiri adik tirinya yang masih terlelap. "Ri, bangun. Ini udah shubuh." Menggoyangkan bahu gadis itu dengan pelan.


"Ada apa, Kak? Butuh sesuatu?" Riri berusaha mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih tertinggal di alam mimpi.


"Bukan, cepetan bangun kan kamu belum sholat!"


"Nanti, Kak. Aku masih ngantuk, dingin lagi." Ucap gadis itu sambil membenarkan selimut agar menutupi semua tubuhnya.


"Tapi nanti kebablasan kalo kamu tidur lagi." 


"Kakak bangunin aku lagi nanti."


Cantika menajamkan penciumannya yang saat itu menangkap aroma sedap sebuah masakan. Wangi yang tak asing di hidungnya, mengingatkan pada sesuatu atau lebih tepatnya seseorang.


Dia melangkah cepat ke lantai bawah. Aroma harum itu berasal dari dapur. Seseorang tengah berkutat di sana, membuat Cantika seakan dibawa ke memori saat Anas masih hidup.


"Mas Anas…." Ucapnya dalam hati. Matanya seolah menemukan sosok suaminya yang saat ini berdiri membelakangi. Tapi dia tahu persis jika laki-laki itu adalah adik iparnya.


Ardan berbalik, "Mbak, ada yang bisa aku bantu?"


Cantika menggeleng pelan. "Ardan, apa kamu lagi bikin nasi kuning? Boleh aku lihat?"


"Iya, Mbak. Silahkan aja, lihatnya sambil duduk biar tidak pegel."


Ardan melanjutkan memasaknya sedangkan Cantika kini duduk memperhatikan.


"Ardan, kenapa kamu masak itu? Gak mungkin buat jualan, kan?!"


"Buatku, nasi kuning ini seolah mengingatkan pada Mas Anas. Jadi aku membuatnya untuk sekedar melepas rindu." Ucapnya sambil mencampur nasi dengan bumbu.


"Aku juga berpikir sama, nanti boleh kan aku nyicip?!"


"Iyalah, Mbak. Aku bikinnya emang buat kita semua."


"Oh ya, Mbak. Tadi Pak Permana sama Bu Sofi pulang dulu. Mungkin nanti siang kesini lagi."


"Kapan?"


"Sebelum Mbak ke dapur." 


"Ardan, kamu mirip sekali sama Mas Anas."


"Memang sih, tapi kepribadian beda. Aku ini tidak sebaik Mas Anas hehe…"


"Bukannya kamu udah punya istri, kenapa gak dibawa sekalian?"


"Dia sedang hamil muda, Mbak. Beresiko jika harus bepergian jauh apalagi kondisi kandungannya agak lemah."


"Istrimu hamil? Berapa bulan?"


"Baru 7 minggu."


Cantika menunduk sambil mengusap perutnya. "Janinku juga baru 7 minggu. Kenapa bisa barengan, ya?!" tersenyum kelu.


Ardan menatapnya iba. "Mbak juga lagi hamil?"


"Iya, tapi kasihan sekali anakku karena tidak punya ayah bahkan saat masih ada di dalam kandungan." Wajahnya begitu sendu.


"Tapi aku yakin banyak yang menyayangi dan akan ikut menjaganya. Mbak jangan cemas! Aku pun bersedia jadi ayahnya. Maksudku adalah… aku adalah pamannya, berarti sama saja seperti ayahnya."


"Makasih." Sedikit tersenyum.


Mereka terus berbincang hingga akhirnya Riri muncul dan ikut duduk di sebelah kakak tirinya. 


"Wangi banget, kecium sampe atas. Makanya aku buru-buru bangun terus mandi terus ke sini." Gadis itu nyengir.


"Sholat gak?"

__ADS_1


"Udah, Kak."


Ardan menyimpan makanan ke atas meja. "Kebetulan sekali, aku udah selesai masak. Kita bisa makan sekarang."


"Kayaknya enak, mau ahh. Biasanya aku gak suka makan nasi pagi-pagi, tapi aku mau cobain." Riri mengambil piring dan menyendokkan makanan. Cantika dan Ardan melakukan hal yang sama. 


Cantika melahap makanan itu sambil terus menatap pria yang duduk di depannya. Sebelah tangannya mengelus perut yang masih rata tapi bernyawa. "Nak, begitulah wajah ayahmu." Perkataan yang hanya diketahui dirinya sendiri.


"Rasanya gak seenak buatan Mas Anas, ya?!" tanya Ardan.


"Agak beda tapi enak." Ucap Cantika sambil tersenyum.


Riri makan dengan begitu lahapnya. Sedangkan Cantika dan Ardan sebenarnya tidak terlalu menikmati. Pikiran keduanya terpaut pada sosok Anas.


Usai makan, Riri membereskan peralatan makan yang kotor. Ardan menyapu rumah. Cantika masuk ke kamar mandi.


"Uwooo…" Suara itu begitu nyaring. Semua yang mendengar pasti tahu jika saat ini Cantika tengah muntah-muntah. Riri menghampiri lalu memijat tengkuk Ika. 


"Kak, masih mual?"


Cantika menggeleng sambil memegang perut. Riri memapahnya menuju sofa di ruang tamu. Lalu mengambil air hangat untuk kakaknya itu.


"Minum, Kak."


Cantika mengambil gelas tersebut. "Makasih." Menyimpannya di atas meja setelah menghabiskan semua air di dalamnya.


Ardan diam-diam memperhatikan saat berjalan melewati mereka. Hatinya merasa iba melihat iparnya seperti itu. "Pasti tidak mudah ditinggal pergi saat hamil muda seperti itu. Kasihan sekali Mbak Cantika. Andai Mas Anas masih ada di sini, pasti dia yang akan menjaganya." 


Pria itu membasuh tangannya lalu berjalan ke ruang tamu. "Mbak, aku mau ziarah ke makam Mas Anas."


"Biar aku temani, kamu kan gak tahu dimana tempatnya." Cantika hendak bangkit.


"Mbak istirahat saja. Aku tahu kok tempat pemakaman di sini."


Cantika memberi tahu dimana letak makam Anas. Ardan pun pergi. 


"Kak, istirahat di kamar ini saja. Kalo ke kamar atas lebih jauh, Kakak kan masih pusing." Riri membantu kakaknya berdiri lalu masuk ke kamar di sebelah ruang tamu.


Cantika berbaring dengan posisi miring. Tubuhnya saat ini begitu lemas. Riri menyelimuti seluruh tubuh Cantika.


"Kak, bentar. Kayaknya ada yang datang."


Riri keluar dari kamar tersebut. Dia berjalan ke arah pintu. Jeng…jeng… ternyata saat pintu terbuka, sosok mantan tunangannya lah yang muncul. Dia tahu persis apa tujuan pria itu kemari.


"Kak Cantika lagi istirahat, gak boleh diganggu!" Ucapnya jutek.


Peter tersenyum, "Kenapa? Lo masih jeolus? Masih cinta sama gue?" Berbicara pelan.


Riri membuang muka. Dia memang masih menyimpan perasaan itu, tapi sepertinya jika untuk kembali pada pria bernama Peter, harus berpikir berkali-kali lipat.


"Silahkan pergi, Kak Cantika pasti gak akan mau ketemu sama kamu meskipun gak lagi sakit."


Peter tidak mau peduli, dia nyelonong masuk ke rumah tersebut lalu duduk di atas sofa. Matanya celingukan mencari sosok si pria asing.


"Mana adiknya Anas?"


Riri berdiri menatapnya sebal. "Gak ada, emang mau apa?"


"Nanya aja." Peter bersyukur karena ternyata Ardan sedang tidak bersama Cantika. "Oh, ya. Cantika istirahat dimana?"


"Di kamarlah…. Jangan berani samperin Kak Cantika. Dia sekarang butuh istirahat karena lagi hamil."


Peter terbelalak, "Hamil?"


"Iya, hamil anaknya Mas Anas. Kenapa lagi?"


Peter terlihat tidak tenang. Sepertinya pria itu tengah memikirkan sesuatu. Riri masih menatapnya tajam sambil bersilang tangan di dada.


"Mending sekarang Kak Peter pulang, kalo nggak aku bakalan teriak biar para warga dateng kesini."


Peter bangkit dari duduknya. Pria itu menatap tajam penuh amarah pada gadis di depannya. "Gue pulang sekarang. Gue pasti bakal temuin Cantika lagi. Dan Lo harus bersikap sopan nanti!"


Riri memutar bola matanya malas. Dia makin kesal akan sikap kasar si pria bermata sipit.

__ADS_1


Peter pergi dengan ekspresi wajah kesal dan juga bingung. Bagaimanapun juga, berita kehamilan Cantika telah benar-benar mengusiknya. Entah apa kini yang tengah ada di pikirannya?


__ADS_2