TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Kesalahan part 3


__ADS_3

Anas terkejut melihat istrinya yang ternyata bicara dengan Peter. Dadanya bergemuruh panas dan jantungnya meledak-ledak. Rahangnya mengeras seiring tangannya yang mengepal erat.


Cemburu dan marah tentu saja bersarang di benaknya. Kenapa Cantika tega mengkhianati kepercayaan yang dia berikan? Apa dia terlalu bodoh hingga mudah percaya pada wanita itu? Atau lebih tepatnya Anas terlalu percaya diri. Tidak mungkin perempuan seperti Cantika akan mudah memberikan hati untuknya.


Rupanya Cantika diam-diam masih mengharapkan laki-laki itu.


Hatinya mencelos saat mengingat bahwa rivalnya menaiki mobil mewah, sedangkan dirinya hanya menunggangi kuda besi yang sudah karatan. Dia tidak patut bersaing dengan Peter. Pantas jika istrinya masih mau berhubungan dengan pria tajir dan tampan itu. Tapi tetap saja dia yang lebih berhak atas Cantika. Dia adalah suami wanita itu.


Anas perlahan menghampiri Cantika yang saat itu langsung membuntang setelah melihatnya. Perempuan itu terlihat gugup.


"Ini sudah tengah malam, apakah pantas seorang wanita yang sudah bersuami, berada di luar rumah?" Nada bicaranya pelan tapi mengintimidasi. Tatapannya antara marah dan sakit hati.


Cantika menatapnya sekilas lalu menunduk. Tubuhnya gemetaran karena takut. "Ma...maaf. Maaass..."


"Cepat naik, kita harus pulang. Aku belum istirahat karena dari tadi mencarimu."


"Maaf..." masih menunduk dan enggan untuk naik ke motor. Pria itu terlihat lebih menyeramkan daripada keenam begal yang tadi.


"Motorku ini memang sudah butut dan tidak bisa dibandingkan dengan mobil mewah milik mantan kekasihmu. Tapi ini masih bisa berguna setidaknya untuk mencegah kakimu lecet jika harus berjalan kaki ke rumah."


Dan perkataan lembut itu malah terdengar tajam menusuk ulu hati. Berarti Mas Anas udah tahu kalo aku dianter sama Peter. Duh, gimana ini?


Cantika segera naik ke kendaraan roda dua itu. Anas pun melajukannya dengan pelan.


"Buruk sekali nasib motorku ini. Hanya dilirik saat dibutuhkan, dan diacuhkan saat ada kendaraan yang lebih bagus. Tapi tidak apa-apa, biarpun jelek setidaknya masih bisa berguna." Pria itu tersenyum kelu.


Cantika tahu benar jika suaminya itu menyindir dirinya. Tapi dugaan Anas tidaklah benar. Dia tidak bermaksud begitu.


Tanpa terasa kini wajah cantik itu sudah sembab karena dialiri bulir bening yang berasal dari matanya. Melihat Anas terluka, dia pun ikut merasakannya. Mungkin hatinya lebih terkoyak karena suaminya sudah salah paham.


Kini mereka sudah sampai di depan rumah. Motor sudah biasa diparkir di sana tanpa dikunci karena lingkungan di kampung itu cukup aman. Lagipula tidak akan ada yang mau mencuri kendaraan butut seperti itu.


Anas melenggang menuju rumah meninggalkan istrinya yang masih berdiri di dekat motor. Pria itu kembali lagi menghampiri Cantika.


"Mau berdiri sampai kapan? Di luar udaranya dingin. Kamu bisa saja masuk angin apalagi jika memakai baju terbuka seperti itu." Dan lagi-lagi, meski nada bicaranya pelan masih saja terdengar menyeramkan dan mengintimidasi.


Cantika menunduk sambil meremas jemarinya. Dadanya makin bergejolak dan tubuhnya makin menggigil. Suaminya berubah menjadi sosok yang begitu menakutkan.


Anas kembali lagi masuk ke rumah tanpa menunggu istrinya.


Astaga, dia benar-benar murka. Apa yang harus gue lakuin?


Cantika melepas udara dari mulutnya dengan kasar. Kakinya melangkah pelan menuju rumah yang saat ini terlihat seperti ruang pesakitan. Dia mengunci pintu lalu berdiri di sebelah suaminya yang duduk di kursi.


Tanpa menoleh, pria itu bicara. "Cantika, dimana bajumu yang tadi? Kenapa tiba-tiba memakai baju yang lebih terbuka seperti itu?"


"Ini..baju dibeliin Gladis. Aku udah coba nolak tapi dia se..." tidak selesai bicara karena terpotong perkataan suaminya.


"Aku tidak tanya baju itu darimana atau punya siapa. Aku cuma ingin tahu kemana baju yang tadi dan kenapa kamu pakai baju sependek itu? Apa karena ingin menggoda mantan pacarmu?"


"Mas, kenapa kamu ngomong gitu?" Menatap Anas dengan mata berkaca-kaca.


"Aku hanya menyimpulkan apa yang aku lihat tadi." Masih menatap ke arah lain.


"Apa yang kamu lihat, tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku emang dianter sama Peter, tapi di mobil itu juga ada yang lain. Aku gak berduaan sama dia."


Anas memijit pangkal hidungnya. "Sebaiknya kamu ke kamar mandi. Bersihkan mulutmu yang bau alkohol. Setelah itu tidur. Aku juga mau istirahat."


Cantika menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dadanya makin amburadul. Masalahnya pasti akan lebih besar karena suaminya mengetahui apa yang sudah dia perbuat.


***

__ADS_1


Cantika sudah gosok gigi dan mencuci muka. Setelah ganti pakaian, dia menghampiri suaminya yang masih duduk di ruang tengah.


"Mas, bukannya mau tidur?" tanyanya dengan posisi berdiri.


"Aku tidur di sini." Jawabnya tanpa memandang.


"Apa karena kamu masih marah jadi gak mau tidur di kamar sama aku?"


Anas terdiam.


"Mas, aku bisa jelasin semuanya. Aku gak ber...."


"Jangan bahas sekarang, emosiku belum stabil. Aku bisa saja mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar saat marah. Sebaiknya kamu ke kamar, aku ingin di sini sendirian." Pria itu mati-matian menahan amarahnya.


Cantika tak lagi bersuara. Dengan berat hati dia menyeret kakinya menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya dengan kasar lalu menelungkup memeluk guling. Wajahnya kini kembali dialiri air mata yang makin deras. Dia menangisi sikap suaminya yang begitu dingin. Tapi bukankah itu juga karena kebodohannya? Harusnya dia menolak ajakan teman-temannya. Mas, maafin aku. Aku benar-benar nyesel!


Beberapa menit kemudian, hidungnya menangkap bau hangus. Dia segera bangkit dan mencari tahu. Saat keluar dari kamar, mata Cantika terbelalak melihat suaminya yang tengah membakar sesuatu. Itu..... Dia menghampiri Anas untuk melayangkan protes.


"Mas, kenapa kamu bakar bajuku?" tanyanya panik. Bagaimanapun juga baju pemberian Gladis itu masih ingin dia pakai. Sayang sekali jika harus dimusnahkan apalagi harganya juga sangat mahal, tidak mungkin dia membelinya di saat ini.


"Ini bukan baju yang layak dipakai, terlalu terbuka." Ucap Anas sambil menatap kobaran api kecil yang melahap kain hitam itu.


"Tapi...." Dia tidak berani melanjutkan perkataannya karena selain takut, dia juga tidak mau suaminya tersinggung.


Anas mengepalkan tangannya erat saat membayangkan istrinya memakai baju seperti itu. Memperlihatkan keindahan tubuhnya pada pria bernama Peter. Dan kini, setelah memendam rasa panas di dadanya, sebagian amarahnya pun meledak.


"Beraninya kamu memakai baju seperti ini dan menunjukkan lekuk tubuhmu pada pria lain!" Baru kali ini suaranya terdengar melengking. Bahkan matanya merah menyala penuh amarah.


Cantika menunduk dengan tubuh gemetaran. Pria itu benar-benar menakutkan. "Maaf...." ucapnya lirih.


"Pergi ke kamar, aku tidak mau hilang kendali!"


Cantika segera kembali ke tempat tidur. Dia lagi-lagi menangis sambil mengutuki kebodohannya sendiri.


Sudut matanya berair dan tanpa menunggu lama, pipinya pun ikut basah. Hatinya teriris-iris karena sikap Cantika yang begitu mengecewakan. Ada rasa penyesalan dalam benaknya. Kenapa dia memilih untuk menikahi wanita itu? Wanita yang jelas-jelas berkarakter buruk.


Sejurus kemudian, dia mengusap kasar wajahnya seraya merapal istighfar. "Tidak. Mungkin aku yang harus lebih tegas lagi dalam mendidiknya! Bukankah dia sudah jadi istriku yang sah? Aku yang paling berhak atas segala sesuatu yang berhubungan dengan Cantika."


Tidak dapat dipungkiri jika pasti saja ada bisikan setan yang akan menggoda. Mengganggu setiap insan untuk mengambil keputusan yang keliru. Namun Anas berusaha untuk menepis semua pikiran negatifnya.


***


Baik Cantika maupun suaminya, tidak dapat memejamkan mata semalaman. Mereka terus terganggu dengan masalah yang belum kelar itu.


Cantika bahkan saat ini masih sesenggukan, menyebabkan matanya bengkak. Mata dan hidungnya pun memerah.


Sedangkan Anas tengah berkutat di dapur. Meski begadang semalaman, tapi dia tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Bagaimanapun juga dia harus mencari nafkah dengan berjualan.


Jam delapan pagi, pria itu duduk di teras depan sambil menunggu pembeli. Ada beberapa orang yang datang. Setelah melayani mereka, Anas menyendokkan sedikit nasi ke dalam piring lalu menyimpannya di atas meja ruang tengah.


Dia mengetuk pintu kamar. "Makan dulu, nasinya ada di atas meja." Tak ada suara sahutan dari dalam. "Jangan membuat dirimu sakit, nanti aku yang repot!" Dia pun kembali ke teras.


Cantika lebih sesenggukan setelah mendengar suara suaminya. Kenapa dia masih aja perhatian? Itu bikin aku makin ngerasa bersalah.


Anas kembali lagi ke dalam rumah setelah beberapa waktu. Karena nasi di atas meja masih utuh, maka dia mengetuk lagi pintu kamar. "Cantika, makanlah! Apa kamu sengaja ingin membuatku tersiksa dan merasa bersalah?" Meski diungkapkan dengan ketus, namun terdengar jika ada rasa cemas yang terselip dalam perkataannya.


Akhirnya pria itu membuka pintu dengan paksa. Nyaris saja dia jatuh karena berusaha mendobrak pintu yang sebenarnya tidak dikunci. Andai saja dalam situasi normal, pasti istrinya akan terbahak-bahak melihatnya.


Anas berdehem pelan untuk mengusir rasa malu. Tahu begini aku tidak usah repot mengeluarkan banyak tenaga.


Cantika masih tertunduk sambil berurai air mata. Dia duduk di tepi ranjang, membelakangi suaminya agar wajah sembab itu tidak terlihat.

__ADS_1


"Kenapa belum sarapan? Apa kamu mau sakit dan membuatku repot? Sebenarnya siapa yang harus marah? Kenapa malah aku yang seolah berbuat jahat padamu? Bukankah aku yang harusnya mendiamkan kamu seperti itu?!" tanya Anas tanpa jeda namun diucapkan dengan nada rendah.


"Aku malu sama kamu, Mas. Aku udah berbuat salah. Aku nyesel banget...hiks...hiks..." Tangisnya pecah lagi, bahkan kini suaranya terdengar parau.


"Nanti kita bahas ini setelah kamu makan. Jika tidak, maka aku tidak akan pernah mau mendengar penjelasanmu." Dia pun pergi ke teras.


Cantika mengusap air matanya. Dia memaksakan tubuhnya untuk bangkit menuju ruang tengah. Duduk di kursi menghadap piringnya. Aku tahu kalo Mas Anas masih mencintaiku meski lagi ngambek. Dia selalu perhatian. Tapi tetep aja aku lebih suka kamu yang selalu senyum. Huwa.....aku emang bego karena udah bohongi suami baik kayak kamu, Mas.


Perempuan itu masih saja menangis meskipun sambil mengunyah. Baru beberapa suap, dia menghentikan makannya karena benar-benar sudah tidak bisa lagi dipaksakan.


Jam sepuluh pagi.


Anas masih duduk di teras. Cantika memberanikan diri untuk menghampirinya. Dia berdiri di ambang pintu.


"Mas, aku mau ngomong?" ucapnya sambil menunduk.


Anas hanya menarik nafas panjang seraya menatap jalanan depan rumah. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya.


"Bisa kita bicara di dalam?" Cantika menatapnya dengan lekat.


Anas bangkit dari duduknya lalu melangkah ke ruang tengah tanpa menoleh. Dia duduk di sana sedangkan istrinya memilih untuk berdiri di sampingnya.


"Mas, maafin aku. Aku emang salah. Aku..."


"Katakan, apa saja kesalahanmu itu?!" Masih belum mau bersitatap. Bicaranya pun terdengar menakutkan meski dikatakan dengan suara rendah.


"A...aku.... sebenarnya pergi ke klub sama teman-temanku. Di..." Mendadak dia kesusahan bicara. Jantungnya kini memacu begitu kencang.


"Kamu pergi ke klub malam lalu minum-minum bersama mereka?"


"I...iya. Tapi...aku cuma minum dikit. Itu juga untuk menghargai mereka. Tadinya aku tidak mau, tapi mereka memaksa. Ja...jadi..."


"Dengar, menghargai teman itu bukan berarti kamu harus mengikuti semua keinginan mereka apalagi jika itu sebuah dosa. Kamu harusnya bisa menolak!" Nada bicaranya mulai meninggi.


"Maaf..."


"Kenapa kamu pergi dengannya?"


Tanpa menyebutkan nama, Cantika sudah tahu jika yang dimaksud suaminya yaitu mantan kekasihnya. Dia pun menjelaskan dengan detail tentang semua yang terjadi semalam. Anas berusaha untuk mencerna semua yang dia dengar. Ada rasa khawatir saat mengetahui bahwa istrinya diganggu para preman. Tapi karena Cantika baik-baik saja, maka dia pun menyembunyikan perasaannya. Anas tetap memasang wajah dingin.


"Jika saja aku tidak mengijinkanmu pergi, maka semua itu tidak akan pernah terjadi. Sudah dua kali kamu membuatku khawatir. Dan kali ini malah lebih parah. Mulai saat ini kamu tidak boleh pergi lagi bersama teman-temanmu apalagi dengan pria itu!"


"Aku gak bermaksud bikin kamu terluka, Mas. Maafin aku."


"Cantika, kamu tidak menghargaiku sebagai seorang suami. Apa kamu sebenarnya tidak benar-benar mencintaiku? Kamu sepertinya masih mau bersama pria itu."


Cantika kini duduk di sebelah Anas dan menggenggam tangannya. "Mas, aku udah bilang kalo tadi malam aku gak sengaja ketemu sama dia. Dan yang mesti kamu tahu, saat ini hatiku cuma milik kamu."


Anas kini bungkam. Perasaannya masih dipenuhi amarah. Dia tidak tahu apakah harus percaya dengan perkataan istrinya atau tidak?


"Mas, lihat aku! Aku benar-benar tulus sayang sama kamu. Aku janji akan memperbaiki diri." Tangannya memegang wajah pria itu untuk bisa saling berhadapan.


Anas mencoba menyelami manik kecoklatan itu. "Apa kamu mencintaiku dengan tulus?"


"Ya, aku sangat mencintaimu Mas." Jawabnya tanpa keraguan. "Kamu mau kasih aku kesempatan, kan?!"


"Berusahalah jadi perempuan yang baik. Kamu bukan anak kecil lagi, pasti tahu mana yang salah dan mana yang benar. Kamu boleh saja berteman dengan siapapun, asalkan tidak membawamu pada keburukan. Dan ingat, jangan perlihatkan lekuk tubuhmu pada laki-laki selain suamimu sendiri. Satu lagi, jangan berhubungan dengan pria manapun!"


"Iya, Mas. Aku akan berusaha. Maaf...aku beneran nyesel."


"Aku harap kamu bisa belajar banyak dari kesalahan ini."

__ADS_1


Cantika memeluk pria itu dengan erat. "Aku janji gak akan kayak gitu lagi. Aku gak mau bikin kamu terluka." Perempuan itu kini menangis lagi. Penyesalannya kian bertambah banyak karena melihat kebesaran hati suaminya.


__ADS_2