
Seorang pria sedang terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit. Matanya masih terkatup. Tangan dan hidungnya dipasang selang sebagai penyelamat nyawanya.
Sesosok perempuan cantik kini terus menatapnya dengan pandangan yang agak kabur karena terhalang oleh tetesan bulir bening. Ia memegang tangan laki-laki yang tak lain adalah suaminya, mengecupnya dengan rasa rindu bercampur khawatir. Takut jika pria itu tak lagi mengerjap.
"Mas….bangun!" Rintihnya dengan suara parau.
Saat itu, di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya. "Cantika, sabar. Anas pasti akan baik-baik saja." ucapnya sambil mengusap pundak putrinya.
"Aku takut Mas Anas akan pergi ninggalin aku, Pi…"
"Papi rasa suamimu akan segera sadar. Kamu harus tetap mendoakannya!"
Satu lagi perempuan masuk ke ruangan itu. Dia berjalan perlahan menghampiri Cantika.
"Permisi, Om. Saya temannya Cantika." Gadis itu mengangguk hormat dan berdiri menghadap temannya.
Laki-laki itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Gadis itu menatap lekat pada temannya yang masih menangis. Ada pemandangan lain yang baru saja dia lihat dari seorang Cantika. Ini pertama kalinya dia menyaksikan temannya itu sangat terpukul.
"Mas, cepetan bangun…! Mas…"
"Ika, apa Lo cinta sama dia?" tanya Eca.
"Sangat, gue cinta dan sayang banget sama Mas Anas. Gue gak mau kehilangan dia." Jawabnya tanpa menatap. Pandangannya hanya tertuju pada si pria yang masih belum sadarkan diri.
Eca tertunduk. Ternyata selama ini dugaannya salah besar. Cantika sudah benar-benar melupakan Peter. Itu berarti dia telah melakukan kesalahan saat membantu usaha si playboy untuk kembali pada Ika. Dia benar-benar menyesal karena telah bertindak sok tahu.
"Ika, sabar ya…suami Lo pasti bakalan sadar." Kini gadis itu berdiri di samping temannya. Dia menepuk-nepuk pundak Cantika.
Dan benar saja, mungkin ini kebetulan. Usai Eca berucap, pria yang berbaring itu kini membuka matanya perlahan.
"Can.. tika…" ucapnya lirih.
"Mas, akhirnya kamu bangun." Mengecup tangan yang dia pegang.
Eca ikut senang melihat pemandangan yang mengharukan itu. "Ika, maaf. Gue udah keliru dan bikin kesalahan karena bantu Si Peter buat balik lagi sama Lo. Tapi sekarang gue gak akan lagi sok tahu dan campurin kehidupan pribadi Lo." Gadis itu bermonolog dalam hati.
Ceklek! Pintu kembali terbuka. Si pria sipit menghampiri mereka. Dia berdiri menghadap Cantika.
"Syukurlah, suamimu udah sadar. Aku kan udah bilang kalo dia akan baik-baik aja setelah mendapat perawatan medis. Aku ikut senang." Ucapnya sambil tersenyum.
Anas sedikit menyunggingkan bibir saat menoleh pada pria itu. "Terima kasih banyak karena sudah menolongku." Nada bicaranya masih terdengar rendah.
"Peter, makasih udah nolong suamiku." Cantika menimpali.
"Jangan bilang gitu, kebetulan aja aku ada di sana. Aku gak bakalan tega saat lihat ada orang yang terluka. Apalagi Anas itu kan suamimu. Wajar kalo aku bantu kalian." Ucap Peter merendah. Namun dalam hatinya dia begitu mengagungkan apa yang sudah dia perbuat. Dia bangga dan senang karena rencananya berhasil. Imejnya di mata Cantika jadi lebih tinggi.
Sedangkan Eca menatap pria itu dengan tajam penuh selidik. Dia tahu benar jika Peter bukanlah pria yang tulus seperti barusan.
"Tanganmu terluka?" tanya Ika pada mantan kekasihnya.
Peter tersenyum kegirangan sambil menatap telapak tangannya yang diperban. "Ahh, ini gak apa-apa kok. Cuma luka bakar sedikit." Dapat dipastikan jika hatinya melambung tinggi karena diperhatikan seperti itu oleh perempuan yang dia suka.
__ADS_1
Sebenarnya Cantika bertanya seperti itu bukan karena khawatir, dia hanya merasa tidak enak hati karena telah menyusahkan pria itu.
"Uhukkk…uhukk…" Anas mengeluarkan suara itu, bukan karena dibuat-buat.
Cantika mengusap dada suaminya. Ekspresi wajahnya begitu panik. "Sayang, kamu kenapa? Apa dadamu masih sesak dan sakit? Aku panggilin Dokter, ya?!"
"Jangan, tidak usah. Aku tidak apa-apa." Cegah Anas.
"Beneran? Bilang aja kalo emang ada yang sakit, biar nanti Dokter yang akan periksa kamu. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Ini semua demi kebaikan kamu. Aku takut kamu kenapa-napa." Ucap Cantika tanpa jeda.
"Bener, aku tidak bohong. Jangan terlalu cemas!'' Jelas Anas sambil tersenyum.
Cantika memeluk bahkan mengecup kening suaminya, tanpa mempedulikan jika kedua orang itu tengah memperhatikan. "Sayang, aku gak mau kehilangan kamu. Janji, jangan pernah bahayain diri kamu sendiri!"
Peter menajamkan sorot matanya pada pasangan suami-istri itu. Kenapa Cantika begitu perhatian dan mencemaskan Anas? Apakah perempuan itu benar-benar sudah berpaling dan melupakannya?
Karena tidak tahan lagi menyaksikan kemesraan mereka, pria itu pun pamit. Eca segera menyusulnya.
**
Saat pintu lift terbuka, Peter terhenyak karena di dalam sana berdiri seorang gadis yang tak lain adalah mantan tunangannya. Riri pun berreaksi sama. Sekilas dia menatap pria itu penuh kebencian. Matanya beralih pada gadis yang kini berdiri di sebelah Peter.
"Apa cowok brengsek ini pacaran juga sama temennya Kak Cantika?" tanyanya dalam hati. Dia pun segera melangkah pergi tanpa menyapa ataupun tersenyum pada keduanya.
Tadinya Eca ingin menegurnya, tapi niat itu dia urungkan karena melihat ekspresi wajah Riri yang masam.
Peter dan Eca pun masuk ke dalam lift. Pria itu menekan tombol untuk menuju lantai bawah.
Eca menoleh, "Peter, Riri pasti masih cinta sama Lo. Dia kayaknya gak suka liat kita jalan bareng. Kenapa Lo gak balik aja sama dia?"
"Tapi Lo harus lupain Ika. Dia cinta banget sama suaminya. Apa Lo gak bisa liat gimana cemasnya dia sama Mas Anas?"
Peter menatapnya tajam. "Jangan pernah sebut nama cowok miskin itu! Cantika selamanya milik gue. Kenapa Lo malah jadi berpihak sama cowok itu?"
"Gue sekarang sadar dan yakin kalo Ika udah lupain Lo. Dia kayaknya lebih bahagia sama suaminya. Mas Anas juga kalo dilihat dari tatapan matanya, pasti tulus banget sama Ika."
Tanpa terduga, Peter mencengkram leher gadis di sampingnya. Tatapan matanya merah menyala dan lebih menusuk. Aura wajahnya semakin menakutkan.
"Gue akan singkirkan Lo kalo terus mendukung Cantika sama cowok gak berguna itu. Ngerti?!"
Eca berusaha berontak. Kini nafasnya tersengal-sengal karena lehernya terus ditekan kuat. "Peter….Lo…lep-lepas. Lepasin gue!"
Cengkraman itu makin kuat. Eca nyaris kehabisan oksigen. Tapi dia terus berusaha melepaskan diri.
Peter saat itu menjelma bagaikan malaikat pencabut nyawa, benar-benar mengerikan. Dia sama sekali tidak peduli jika harus menyerang seorang gadis yang notabenenya adalah makhluk lemah.
"Gue gak suka ada yang bilang kalo Cantika cinta sama laki-laki itu. Cuma gue yang pantas jadi suaminya. Gue yang paling bi…"
Ting! Pintu lift terbuka. Pria itu segera menghentikan gerakan brutal tangannya. Dia berpura-pura merangkul pinggang gadis yang masih tersengal-sengal itu.
"Sayang, makanya jangan menggodaku. Aku kan jadi gak tahan pengen c**m kamu." Ucap Peter sambil tersenyum. Kini dia memeluk tubuh gemetaran gadis itu.
Eca memegangi dadanya yang masih berdegup kencang karena shock. Dia baru tahu jika ternyata pria itu mempunyai perangai yang sangat buruk. Menakutkan dan membahayakan.
__ADS_1
Sementara beberapa orang yang masuk ke dalam lift, menatap mereka dengan heran dan jijik.
"Anak-anak muda jaman sekarang memang tidak tahu malu. Berani bermesraan sembarangan di tempat umum." Seperti itulah kira-kira yang ada di dalam pikiran orang-orang tersebut.
Pintu lift kembali tertutup, terus melaju turun dan terbuka lagi saat di lantai paling bawah. Semua orang keluar dari sana.
Eca buru-buru pergi. Setengah berlari dia meninggalkan Rumah Sakit itu agar tidak bersama dengan si pria gila.
**
Riri masuk ke ruangan dimana kakak iparnya dirawat. Di sana ada ibu dan ayah tirinya. Pak Permana dan Bu Sofi duduk di sofa, sedangkan Cantika duduk di kursi menghadap ranjang dimana Anas terbaring.
"Kak, maaf aku baru datang." Ucap Riri yang saat ini berdiri di sebelah Cantika.
"Gak apa-apa. Kamu dari kampus langsung ke sini?" Ika balik bertanya.
"He-em. Gimana kabar Mas Anas?" Tatapannya beralih pada si pria bewok.
"Alhamdulillah, sudah mendingan." Jawab Anas.
"Syukurlah kalo gitu. Emang kejadiannya gimana sih, kok bisa sampai kebakaran?"
Cantika mulai bercerita. "Kami juga gak tahu gimana tiba-tiba terjadi kebakaran itu? Yang jelas semuanya terjadi sangat cepat. Mas Anas hampir terjebak di sana. Untung aja ada Peter yang mau nolongin."
Riri menautkan kedua alisnya. "Peter? Dia yang nolong Mas Anas?" Gadis itu nyaris tak percaya.
Kali ini Anas yang bersuara. "Iya, dia sudah menyelamatkan Mas dari kebakaran itu."
"Ternyata dia baik juga. Papi belum sempat berterima kasih padanya." Pak Permana ikut nimbrung.
Sedangkan Bu Sofi hanya diam saja. Dia masih marah pada pria bernama Peter yang telah tega menyakiti hati putri satu-satunya.
Riri diam-diam merasa kagum akan keberanian dan kebaikan hati mantan tunangannya itu. Tidak disangka, meskipun playboy tapi Peter mempunyai jiwa penolong. Dia sama sekali tidak menduga jika kejadian itu hanyalah rencana busuk Peter.
"Kak, tadi aku ketemu sama Kak Peter sama Kak Eca. Apa mereka berdua pacaran?" Riri bertanya dengan suara pelan.
"Kenapa kamu masih mau mengetahui tentang pria itu, Riri? Apa kamu masih cinta sama dia atau bahkan ingin kembali padanya?" Bu Sofi menatap putrinya dengan tajam. Wanita itu masih duduk di sofa.
Riri menoleh ke belakang. "Ma…aku cuma penasaran aja."
Pak Permana mengusap bahu istrinya. "Sudahlah, jangan permasalahkan ini. Riri hanya bertanya."
"Aku gak tahu hubungan mereka sekarang kayak gimana." Jelas Cantika.
"Iya, Kak. Aku cuma pengen tahu aja. Gak ada niat pengen balikan lagi sama dia." Ucap Riri sambil menunduk.
"Bagus itu." Ucap Bu Sofi ketus.
"Sudah, jangan ngambek terus. Kita ke sini mau jenguk Anas. Kalo kamu begini, nanti menantu kita malah gak nyaman." Pak Permana masih mencoba menenangkan.
"Ahhh, Mama lupa. Maaf Cantika, Anas. Mama malah ganggu." Ucap Bu Sofi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Ma…" Anas tersenyum.
__ADS_1
Bu Sofi kagum pada sosok suami anak tirinya itu. Begitu dewasa dan sopan. Sepertinya dia menginginkan laki-laki yang berwatak sama seperti Anas untuk jadi menantunya.