TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Suamiku sakit part 2.


__ADS_3

Cantika membantu suaminya untuk duduk dengan bersandar pada bantal. Dia menyuapi pria itu dengan telaten. Tanpa terasa air mata membanjiri wajahnya. Ini mengingatkan dulu saat dia melakukan hal yang sama pada ibunya saat sakit keras, dan akhirnya meninggal dunia.


Anas menatapnya sayu, "Kenapa menangis ?" Suaranya masih terdengar lemah.


Cantika mengusap tetesan bulir bening dari pipinya. "Jangan pernah tinggalin aku !" ucapnya lirih.


"Kamu takut jika aku pergi ?"


Cantika mengangguk cepat, "Aku gak mau lagi kehilangan orang yang ku sayang." Dia menangis tersedu.


Sudut bibir Anas sedikit tersungging, "Apa aku berarti bagimu ?"


Perempuan itu mengangguk lagi lebih cepat. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Anas. Mengecupnya dan menempelkannya di pipi.


"Mas, aku mencintaimu. Aku gak mau kehilangan kamu."


Hati Anas berdesir saat mendengar pengakuan itu dari mulut istrinya. Dia begitu bahagia mengetahui jika cintanya telah terbalas. "Terima kasih karena sudah mau menerimaku dalam hidupmu."


Cantika tersenyum, "Makasih juga karena mas udah bersedia jadi suami yang baik untukku. Sekarang habiskan buburnya, terus minum obat biar kamu cepat sembuh." Dia menyuapkan lagi makanan ke mulut suaminya.


Setelah memberi obat, Cantika membantu Anas untuk berbaring. Pergi ke dapur untuk menyimpan bekas makan dan kembali lagi dengan membawa piring yang baru.


Cantika kembali duduk di tepi ranjang sambil memasukkan bubur ke dalam piring.


"Habiskan makananmu, aku juga tidak mau kamu sakit." Ucap Anas.


"Ya, kamu tidur saja, jangan banyak ngomong ! Mas kan harus istirahat." Mulai mengunyah. Dia harus menjaga kesehatan agar dapat merawat suaminya dengan baik.


Anas menatap istrinya itu, Mungkin ini adalah cara Tuhan memberi tahu ku bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Aku senang diperhatikan seperti ini. Aku bahagia karena kamu juga mencintaiku. Anas begitu lega saat ini, sepertinya dia akan cepat pulih.


Inilah yang disebut hikmah di balik ujian. Jika Anas tidak sakit, pasti istrinya tidak akan mengungkapkan perasaan semudah itu.


***


Usai makan dan mencuci piring, Cantika kembali menemani suaminya yang berbaring di tempat tidur. Tanpa disuruh, dia memijat tangan dan kepala suaminya.


"Mas, panas badanmu sudah turun."


"Ini karena aku dirawat oleh istri secantik kamu." Pria itu terlihat lebih sumringah. Matanya mulai menajam. Dan senyumnya sangat lebar seperti biasanya.


Cantika tersipu malu, "Kamu belajar gombal ya...."


"Assalamualaikum...." suara dari luar bersamaan dengan suara ketukan pintu.


"Waalaikumussalam....Mas, sepertinya itu suara papi."


"Cepatlah ke depan, jangan sampai papi terlalu lama menunggu !"

__ADS_1


Cantika melangkah lalu membuka pintu. Terlihat dua orang berdiri di sana dengan wajah cemas. Cantika menatap ibu tirinya dengan malas. Tidak bisakah ayahnya muncul tanpa ditemani si ibu peri ?


"Silahkan masuk !" Ucap Cantika setengah ketus.


Pak Permana dan istrinya masuk ke dalam.


"Apa Anas ada di kamar ? Bram bilang suamimu sedang sakit."


"Ya, mas Anas lagi istirahat di kamar."


"Papi mau melihatnya." Pak Permana masuk ke dalam kamar sempit itu, diikuti istri dan putrinya. Dia duduk di tepi ranjang, sedangkan kedua perempuan beda usia itu berdiri memperhatikan.


"Nas, papi sangat cemas mengetahui kamu sakit."


"Terima kasih, Pi... Aku sekarang sudah agak mendingan. Ini semua berkat Cantika, dia menjagaku dengan baik."


Pak Permana tersenyum menatap putrinya yang tertunduk malu. Pria itu kembali mengalihkan pandangan pada menantunya. "Syukurlah kalau begitu. Papi harap kamu cepat sembuh agar bisa segera memberi papi seorang cucu."


Cantika melotot, "Papi ngomong apa sih ? Apa gak ada hal lain yang bisa dibahas ?" Papi malu-maluin banget.


Pak Permana terus mendampingi menantunya sambil sesekali mengajaknya bicara. Cantika pergi ke dapur untuk memasak air. Bu Sofi menghampirinya.


"Cantika, sepertinya kamu nyaman tinggal di rumah ini. Apa karena suamimu itu bersikap baik ? Sepertinya Anas memang benar-benar mencintai kamu. Beruntung sekali punya suami sepertinya." Berusaha mengakrabkan diri.


"Bukan urusan lo." Menanggapi dengan jutek.


Cantika tak menjawab. Dia sebenarnya mau jika saja yang menawarkan bantuan itu bukan ibu tirinya. Tapi Bu Sofi sepertinya paham. Dia tetap mempraktekkan cara membuat bubur tersebut.


Wanita paruh baya itu mencuci beras terlebih dahulu, lalu memasukkannya pada panci berisi air panas. Diam-diam Cantika merekam adegan itu di otaknya agar dia dapat mempraktekannya lain hari.


"Masak itu harus dari hati. Harus ikhlas dan sabar !" Bu Sofi bicara sambil mengaduk-aduk masakannya.


Setelah matang dan teksturnya sempurna, kompor pun dimatikan.


"Bagaimana, kamu paham kan ?!"


"Iya....paham !" jawab Cantika ketus. Dia pergi ke kamar mandi.


Bu Sofi hanya terdiam. Dia sudah biasa diperlakukan judes oleh anak sambungnya. Tapi ada sedikit rasa senang di benaknya. Dia tahu jika Cantika sebenarnya memperhatikan dia saat memasak bubur. Aku harap hubunganku dengan Cantika, dapat menjadi baik.


Cantika mengeluarkan cucian dari dalam keranjang. Memasukkannya pada air rendaman deterjen. Membersihkan lantai kamar mandi dengan sikat khusus.


Bu Sofi memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Sepertinya Cantika lumayan banyak berubah. Dia menjadi rajin.


Wanita itu pergi menemui suaminya yang masih anteng duduk di tepi ranjang. "Mas, Cantika sedang mencuci pakaian. Sepertinya Anas memang sudah benar-benar mendidiknya." Bisiknya di telinga Pak Permana.


Pria itu tersenyum puas, "Itu bagus."

__ADS_1


Bu Sofi pergi ke luar kamar untuk ikut membereskan rumah. Dia menyapu semua ruangan kecuali kamar tidur. Dia ingin sedikit meringankan pekerjaan Cantika. Setelah selesai dia duduk di teras rumah.


Beberapa waktu berlalu. Cantika telah selesai menjemur pakaian. Dia mengambil sapu untuk membersihkan lantai. Tapi ruangan itu telah bersih. Apa jangan-jangan wanita itu yang sudah melakukannya ?


Akhirnya dia mengambil alat pel. Mengelap lantai hingga bersih. Bu Sofi dari luar, memperhatikan. Anas memang hebat, bisa mengubah Cantika dalam waktu singkat.


Setengah jam kemudian, Pak Permana dan Bu Sofi pamit pulang. Cantika menyalami kedua orang tua itu. Ini pertama kalinya, dia dengan suka rela sungkem pada ibu tirinya. Anggap saja itu tanda terima kasih karena Bu Sofi telah membantunya membersihkan lantai.


"Kami pulang, ingat pesan papi. Kamu harus secepatnya memberi papi seorang cucu." Pak Permana tersenyum lebar.


"Papi, jangan bikin aku malu !" Wajahnya merah merona.


"Nak, jika ada masalah, jangan sungkan untuk memberi tahu kami !" Ucap Bu Sofi.


Cantika tak merespon perkataan itu.


"Ya sudah, kami pulang sekarang. Assalamualaikum." Pak Permana mengusap kepala anaknya dengan lembut.


"Waalaikumussalam."


Kedua orang tua itu pun pergi. Cantika kembali lagi ke dalam kamar.


"Mas, makan lagi ya ?! Istrinya papi tadi udah bikin bubur, sayang kalo gak dimakan. Kayaknya enak."


"Istrinya papi itu berarti ibumu juga. Panggil beliau mama atau semacamnya. Itu lebih sopan."


"Tapi dia bukan mamiku." Wajahnya berubah muram.


"Beliau memang bukan ibu kandung, tapi kamu harus tetap menghormatinya sebagai bentuk kasih sayangmu pada papi ! Aku yakin jika Bu Sofi adalah ibu yang baik."


"Gak tahu mas, aku belum siap memanggilnya mama. Aku merasa akan mengkhianati mendiang mami jika melakukan itu."


"Sampai kapanpun baik di hatimu ataupun di hati papi, nama ibumu akan selalu ada di sana. Tidak akan pernah ada yang dapat menggantikannya jika pun ada ibu lain di rumahmu. Memanggil Bu Sofi dengan sebutan mama, tidak akan merubah sedikitpun posisi mendiang ibumu. Mengerti ?"


Cantika sejenak terdiam. Mungkin perkataan suaminya ada benarnya. Tapi untuk mengakui wanita itu sebagai ibunya, dia belum siap.


"Mas, kamu udah bisa banyak ngomong. Berarti sebentar lagi kamu sembuh."


"Aku mau cepat sembuh agar bisa segera mewujudkan keinginan papi. Kita harus memberinya seorang cucu secepatnya !"


Cantika mendelik, "Ohhh, kayaknya kamu masih sakit. Otakmu jadi ngeres gitu."


Anas tertawa, "Aku sebentar lagi sembuh. Kamu harus siap-siap !"


"Sejak kapan kamu jadi semesum itu ? Lagian aku masih M, gak boleh tuh begituan !"


Anas menjadi lesu kembali saat mendengarnya. Sepertinya dia memang harus lebih banyak bersabar lagi.

__ADS_1


__ADS_2