TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Miss Understanding part 2


__ADS_3

Ceklek! Pintu perlahan terbuka. Anas langsung memeluk erat sosok yang baru keluar dari kamar itu. Mengusap kepala dan menc**mnya. Tapi rupanya yang dipeluk berusaha melepaskan diri. Tidak nyaman diperlukan seperti itu.


"Lepasin aku!" Cantika agak berteriak.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya sebelum kamu memberi maaf." Semakin menguatkan lingkar tangannya.


"Minggir, aku mau pergi! Jangan peluk-peluk!"


"Aku tahu kamu marah dan terluka. Maafkan aku..." Saking merasa bersalah, pria itu kini berurai air mata. Memohon diberi pengampunan dari sang istri.


"Aku lagi gak mau dipeluk, aku mau pergi pokoknya." Berteriak lebih keras sambil mendorong tubuh yang menempel itu.


"Maafkan aku..." lirih Anas.


"Mas keras kepala juga ya....tapi aku beneran pengen pergi. Minggir!"


Anas menggeleng cepat sambil mengokohkan pelukannya. "Jangan pergi!"


Cantika menggertakkan giginya karena kesal. "Aku bilang minggir!!!" Kakinya menginjak-injak kaki Anas dengan keras. Tapi sepertinya pria itu tak terpengaruh. Akhirnya dia berinisiatif untuk menggigit leher suaminya dengan sangat keras.


"Awwww," pekik pria itu.


Anas refleks mengurai pelukannya. Dan di saat itu istrinya segera lari menuju kamar kecil. "Udah dibilangin minggir, masih aja ngotot pengen meluk. Aku gak tahan dari tadi pengen pipis." Tangannya memegang inti tubuhnya yang semakin terasa sakit.


Umpatannya terdengar begitu nyaring di telinga Anas. Pria itu mengusap lehernya yang terasa sakit dan perih, seraya mesem-mesem. "Aku kira Cantika mau pergi dari rumah ini, ternyata cuma mau buang air kecil."


Dalam beberapa menit kemudian, perempuan itu telah kembali. Dia hendak masuk lagi ke dalam kamar namun tangannya ditarik oleh suaminya. Bibir merah itu memanjang beberapa sentimeter. Matanya mendelik tajam pada sosok di depannya. Tidak bisa dipungkiri jika dadanya masih panas karena kesal.


Anas meraup wajahnya dan menatapnya lekat. "Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Tadi aku terlalu kalut hingga tak dapat mengontrol diri. Sebenarnya aku hanya tidak mau..."


"Kenapa kamu mencegahku memarahi Mira? Apa kamu gak suka liat aku mengusiknya? Kamu cinta sama dia?" Amarahnya meledak.


"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin mencegahmu berbuat kasar pada orang lain. Semarah apapun kita, harusnya jangan sampai menyakiti perasaan orang."


"Katakan ini sama diri kamu sendiri!"


Anas menunduk malu. Dia menganggukkan kepalanya perlahan. "Kamu benar, harusnya aku yang dinasehati seperti itu. Maafkan suami jahatmu ini, mari kita sama-sama belajar untuk jadi lebih baik!"


Cantika membuang muka dan tangannya bersidekap. Terus terang saja dia masih marah. Bibirnya masih mengerucut, "Mas bukan cuma bikin aku takut dan kecewa. Tapi Mas juga udah bikin aku malu dan sakit hati. Bukan cuma Mira dan keluarganya yang lihat, tapi semua tetangga juga pada nonton. Mereka pasti akan nyebarin berita ini ke seluruh jagat. Itu artinya aku akan jadi bahan gossipan. Pasti mereka pada bilang, Ihhh kasihan ya Anas bela-belain marahin istrinya demi cewek lain. Pasti kurang lebih kayak gitu yang akan mereka kata..."


"Syuttt!" Anas mendesis sambil menutup mulut istrinya dengan telapak tangan. "Jangan berpikir jauh seperti itu! Aku tidak membela Mira. Aku cuma tidak mau kamu jadi perempuan yang kasar dan mempermalukan diri sendiri. Tapi memang caraku yang salah. Maaf....aku janji ke depannya akan lebih mengontrol diri." Kini tangannya menempel di kedua bahu Cantika.


"Janji juga jangan mengumbar perhatian sama cewek lain. Jangan terlalu ramah dan menebar senyum sama mereka. Kamu tahu gak, kebanyakan cewek itu gampang baperan?! Mereka akan mudah jatuh cinta apalagi sama cowok baik dan mempesona kayak kamu, Mas!"


"Akan aku usahakan, tapi untuk urusan hati aku tidak bisa mengontrol orang lain."


"Pokoknya jangan deket sama cewek manapun! Bisa gak belajar jutek dan gak banyak cengengesan?"


"Aku ya memang seperti ini. Tapi intinya aku akan selalu setia sama kamu, istriku dan cintaku satu-satunya. Kalau kamu sudah memaafkan aku, tolong senyum! Hatiku akan tenang setelah melihat senyum indahmu."


Cantika menunduk. Sebenarnya hatinya mulai luluh. Tapi gengsi juga jika saat ini dia harus menyunggingkan bibir. Sungguh Cantika bukan orang yang teguh pendirian. Itulah yang dia pikir saat ini.


"Sayang, aku sangat mencintaimu." Anas kembali meraup wajahnya.


Cantika tak mampu menolak untuk bersitatap dengan pria itu. Sungguh suaminya terlihat begitu tampan. Mata dan bibir itu sangat memabukkan.


Ishhhh, otak gue malah mikir yang aneh-aneh. Kan ini ceritanya masih ngambek, masa ngarep diono-ini sama Mas Anas. Dasar ngeres!


Cantika terpejam saat wajah brewok itu semakin mendekat. Tangannya mencengkram erat pinggang Anas ketika bib*r mereka bertemu. Kenapa wanita itu begitu terhanyut dalam s*nt*han n*kmat suaminya?


"Masih ngambek?" Tanya Anas saat menjeda pagutan itu.


Cantika menggeleng sambil terpejam karena wajah mereka masih menempel.


"Kamu memaafkan aku?"


Kali ini wanita itu mengangguk pelan. Anas tersenyum lalu memeluknya erat. Mengusap rambut indah milik si cantik. "Terima kasih, sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi!"

__ADS_1


***


Jam 8 malam, Cantika baru saja terlelap dalam pelukan suaminya. Sedangkan pria itu masih terjaga. Pikirannya saat ini berkelebat pada kejadian tadi siang di rumah Pak Yoga.


Sungguh tak pernah terduga jika Mira akan seberani itu memeluknya. Dia tak menyangka jika gadis itu mempunyai perasaan yang lebih padanya. Mungkin memang benar jika tanpa sadar dirinya sudah berbuat jahat pada temannya itu. Harusnya dia bersikap layaknya teman biasa tanpa memberi perhatian berlebih pada Mira.


Anas bangkit lalu melangkah keluar kamar. Dia bergegas membuka pintu depan karena ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Assalamualaikum, Nas. Maaf saya mengganggu waktu istirahatmu." Ucap tamu itu.


"Waalaikumussalam, Pak. Mari masuk!" Ajak Anas agak ragu.


"Istrimu mana?" tanya si tamu sambil celingukan ke dalam rumah.


"Baru saja tidur."


"Bisa kita bicara di luar saja?" tanya pria itu.


Anas mengangguk pelan lalu menutup pintu saat dirinya keluar dari rumah. Dia bersama tamunya duduk di kursi teras.


Sekitar lima menit lamanya, mereka sama-sama bungkam. Terlihat sekali bahwa keduanya merasa canggung.


"Saya lupa, saya ambil minum dulu." Anas hendak berdiri namun dicegah pria di sebelahnya.


"Tidak usah, Nas. Saya sebenarnya mau minta maaf atas kejadian memalukan saat siang tadi. Mira begitu lancang memelukmu tanpa memikirkan perasaan istrimu."


"Saya juga minta maaf karena tadi saya dan istri saya telah berbuat kasar pada Mira." Jawabnya sambil menunduk.


"Anas, sebenarnya putriku mencintai kamu. Tadi siang bahkan sampai sore ini, dia tidak berhenti mengoceh. Mira selalu menyebut namamu. Dia bilang jika selama ini cuma kamu yang dia tunggu untuk menikahinya. Pantas jika dia selalu menolak untuk kami jodohkan. Sebagai ayahnya, saya merasa malu tapi juga bersedih melihat keadaannya yang seperti orang tidak waras." Pak Yoga berkata sambil berlinang air mata.


Anas memijit pelipisnya yang terasa begitu sakit. Dia semakin merasa bersalah atas kejadian ini. Andai dirinya tidak memberi harapan kosong pada temannya itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tapi bukankah dia memang tidak berniat seperti itu?


"Pak, saya ikut bersedih melihat Mira hancur seperti ini. Maafkan saya jika tanpa sengaja sudah membuatnya kecewa dan terluka. Saya sama sekali tidak menduga jika Mira menyukai saya."


Pak Yoga menoleh, tatapannya begitu dalam. "Anas, maukah kamu membantu agar putriku segera sembuh?"


"Bisakah kamu menikahi Mira?"


Mata Anas membulat sempurna. Permintaan konyol apa ini? Tidak bisakah orang tua itu meminta hal yang lain?


"Bapak tahu jika permintaan ini terdengar mustahil dan pasti membuatmu terusik. Tapi saya melakukan ini hanya demi Mira. Mungkin jika keinginannya menikah denganmu sudah terpenuhi, pikirannya bisa kembali stabil. Setelah dia sembuh, maka kamu boleh menceraikan Mira."


Anas menggeleng sambil memijit pangkal hidungnya. Tarikan nafasnya begitu berat. "Maaf, Pak. Saya tidak mungkin melakukan itu."


"Saya tahu jika ini mustahil. Tapi saya mohon dengan sangat, coba pikirkan lagi! Pernikahan ini hanya demi kesembuhan Mira, setelah itu kamu boleh menceraikannya. Saya mohon..." Pria itu menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Jika saja saya belum menikah, mungkin hal ini bisa saya pikirkan dulu. Tapi...."


"Tapi apa Mas? Apa keberadaanku sudah jadi penghalang untuk menikahi wanita itu?" Entah sejak kapan Cantika berdiri di sana dan menghampiri mereka.


Anas dan Pak Yoga terhenyak. Wanita itu menatap tamunya dengan tajam.


"Kenapa Bapak minta suamiku berpoligami hanya untuk menyembuhkan Mira? Apakah Bapak pikir aku ini hanya istri pajangan Mas Anas?"


Pak Yoga menundukkan kepala, "Maaf, Nak. Saya tidak bermaksud begitu, ini semua karena saya begitu menyayangi Mira."


Cantika mengalihkan pandangannya ke arah Anas. "Mas, apa kamu juga bersedia menikahi wanita itu?"


"Tidak, aku tidak mungkin melakukan itu karena aku sudah jadi suami kamu." Pria itu ikut berdiri dan menggenggam tangan istrinya.


"Jadi kalo kita belum nikah, kamu akan menikah dengan Mira?"


Anas bingung harus mengatakan apa. Maksudnya adalah mungkin saja itu terjadi. Bisa saja dia bersedia menikahi Mira hanya untuk membuatnya sembuh, bukan karena cinta.


"Kenapa diam? Jadi memang benar seperti itu?! Kalo gitu aku gak akan halangi niatmu. Aku akan pergi agar kamu bisa menikahi Mira." Cantika masuk ke dalam rumah dan tentu saja suaminya menyusul.


Sedangkan Pak Yoga memilih untuk pulang saja. Sebenarnya dia sangat tidak enak hati karena sudah mengusik pernikahan mereka. Tapi kesembuhan putrinya jauh lebih penting.

__ADS_1


***


Cantika mengambil baju-bajunya dari lemari, lalu memasukkannya ke dalam koper. Air mata kini sudah membanjiri wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Anas seraya mengambil baju istrinya dari dalam koper.


Cantika tidak menjawab. Dia terus membereskan pakaian ke dalam koper tadi. Dan Anas pun tak mau kalah apalagi menyerah. Dia melakukan kebalikannya, membereskan baju itu ke lemari lagi. Begitu seterusnya sampai beberapa kali.


Cantika mulai lelah. Dia memilih berjalan keluar kamar. Suaminya mengekor di belakang lalu menarik tangannya dan memeluk tubuh ramping itu.


"Jangan pergi! Kenapa kamu mau meninggalkan aku?"


"Bukannya kamu mau menikahi wanita stress itu?" Berteriak sambil berontak.


"Siapa bilang? Kamu jangan berpikir buruk." Pria itu menatap begitu lekat sambil memegang kedua pundaknya.


"Kamu bilang mau nikah sama dia kalo belum nikah sama aku. Itu berarti aku udah jadi penghalang buat hubungan kalian. Jadi mending aku pergi dari rumah ini dan dari hidupmu."


Anas menyeka air mata dari wajah cantik itu. "Kamu salah paham. Aku memang bilang akan pikir-pikir jika seandainya aku belum menikah, bukan berarti saat ini aku ingin menikahinya apalagi ingin kamu pergi. Mira yang harusnya berlapang dada menerima kenyataan ini. Aku akan bicara lagi pada Pak Yoga. Aku tidak akan pernah mau menduakan kamu. Sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak akan membiarkan ada orang ketiga di dalam pernikahan kita."


Cantika bungkam. Bulir bening itu masih terus berlomba menuruni pipinya. Dia terlalu takut kehilangan pria itu. Anas segera memeluknya kembali.


"Sayang, bantu aku untuk menguatkan hubungan pernikahan kita. Jangan biarkan pikiran buruk menguasaimu dan membuat kita jadi renggang. Kamu percaya padaku kan?!"


Dua pasang mata itu saling beradu. Cantika melihat kesungguhan di sana. Dia tidak menemukan keraguan dalam diri suaminya. Dan hatinya, jauh di dalam sana seperti memberi tahu jika Anas memang tulus.


"Aku percaya sama kamu." Ucap wanita itu.


"Terima kasih, aku tidak akan mengkhianati kepercayaan darimu."


Keduanya saling berpelukan erat seolah mengingatkan jika mereka harus selalu bersama.


***


Pagi ini Anas sedang melayani beberapa pembeli. Sedangkan istrinya berada di belakang, menggantungkan pakaian yang telah dibersihkan.


"Nas, emang bener kalo kemarin si Mira berani meluk kamu?


"Itu perawan tua kegatelan amat ya. Dia tidak tahu malu."


"Kalau aku di posisi istri Mas, sudah pasti aku gamprat mukanya Mira. Seenaknya saja peluk suami orang. Dasar pelakor!"


Semua perkataan para emak berhasil mengusiknya. Namun sepertinya tidak ada gunanya meladeni mereka. Yang dia lakukan hanyalah sekedar memberi nasehat. "Maaf, ibu-ibu. Lebih baik berhenti mengurusi hidup orang lain. Itu dosa lhooo. Bisa-bisa amalan kalian habis hanya gara-gara ghibah. Rugi bukan kalau seperti itu?" berusaha tetap ramah meski hatinya geram.


"Makanya jadi laki-laki itu jangan terlalu baik. Meski sama temen juga jangan deket-deket amat. Emang sih kalo dilihat-lihat kamu sama Mira itu bukan seperti teman, tapi seperti pacar. Makanya pas aku dengar kamu nikah, kirain nikah sama Mira." Ucap salah seorang wanita tanpa direm.


"Heh, mulut cabe! Lo mau beli apa mau ganggu orang? Nyinyir banget sih jadi makhluk!" Cantika berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Dia memelototi wanita yang tadi bicara.


Para pembeli itu terhenyak dan langsung bungkam dengan kepala tertunduk. Tubuh mereka gemetaran tatkala Cantika mendekat. Anas memegang lengan istrinya sambil menggeleng pelan, seolah berkata bahwa Cantika harus mengontrol emosi. Namun wanita itu mendelik, tak mau menenangkan diri. Tatapannya kembali tajam kepada ibu-ibu di hadapannya.


"Heh, mulai saat ini stop ganggu gue sama Mas Anas! Kalo gue denger kalian masih ngoceh gak jelas, maka akan ada polisi yang datang ke rumah kalian. Siap-siap aja dipenjara!"


Ketiga orang itu saling bertatapan, sama-sama takut. Lalu mereka memasang wajah memelas pada Cantika.


"Kami hanya bercanda. Jangan diambil hati!"


"Ya, Mbak cantik. Lagipula kami tidak berbuat jahat." Yang lain menimpali.


"Gak berbuat jahat gimana? Kalian semua udah ganggu kenyamanan orang lain, itu bisa dilaporkan!" Cantika makin meledak-ledak.


Anas mengusap pundaknya, "Sayang, sudah. Kamu sebaiknya masuk lagi ke dalam. Biar aku yang urus mereka."


"Nggak mau. Mereka harus dikasih pelajaran!"


"Nas, gak jadi deh beli nasi kuningnya. Kami permisi." Ucap salah seorang wanita.


"Enak aja mau kabur, kalo udah beli ya beli aja. Kenapa malah gak jadi?" Ucap Cantika dengan sangar hingga membuat mereka mengurungkan niat untuk melarikan diri.

__ADS_1


Anas segera melayani mereka meski agak canggung. Sedangkan istrinya tak henti menatap tajam ke arah para pembeli. Setelah selesai transaksi jual-beli, ketiga wanita itu pun pergi dengan tergesa-gesa. Sudah dipastikan jika mereka tidak akan berani lagi berkoar setidaknya jika di depan Anas dan Cantika saja.


__ADS_2