
Dunia saat ini dalam keadaan gelap gulita jika saja tidak ada cahaya lampu yang menyala. Langit malam yang dipenuhi awan pekat menandakan jika sekarang akan turun hujan.
Seorang gadis duduk termenung di atas tempat tidur. Pikirannya bergelut sendiri. Keadaan yang sepi dan dingin membuatnya makin ketakutan.
Tangannya mendekap lutut yang dia peluk. Matanya meneteskan kristal-kristal air. "Mom, Dadd. Aku di sini ketakutan. Kenapa kalian selalu sibuk dan gak pernah perhatiin aku? Aku saat ini lagi butuh kalian."
Tok…tok…! Seseorang mengetuk pintu kamar.
"Non Eca, ada tamu yang nyariin."
"Siapa Bi?"
"Katanya temen waktu kuliah, namanya Syahnaz."
"Oh, ya. Aku ke bawah sekarang."
Eca mengusap pipinya yang sembab. Dia segera menemui tamunya di sana.
"Eca, apa kabar?" Cipika-cipiki.
"Baik, Lo? Udah lama kita gak ketemu." Keduanya duduk berdampingan.
"Ca, sorry gue dateng ke sini malem-malem."
"Ahh, masih jam sembilan kok. Tenang aja… Naz, sekarang Lo sibuk apa?"
"Gue sekarang jadi pembunuh bayaran." Jawabnya sambil tersenyum.
Eca tergelak, "Lo masih aja suka bercanda."
"Gue sempet kerja jadi penyanyi cafe cuma sekarang udah nggak lagi. Gue sebenernya ke sini karena mau minta bantuan Lo. Apa Lo punya kenalan yang lagi cari karyawan? Intinya gue pengen kerja lagi untuk menghidupi keluarga."
Eca terlihat berpikir. "Kayaknya ada deh, papinya temen gue ada yang lagi cari penyanyi buat di tempat karaoke. Tapi Lo mau gak kerja di tempat kayak gitu?"
Mata Syahnaz berbinar-binar. "Boleh, gak apa-apa yang penting aku bisa dapet uang terutama buat bayar kost."
"Lo masih kost di deket kampus?"
"Udah nggak, gue diusir. Gue bingung mesti tidur dimana." Wajahnya terlihat sendu.
Akhirnya Eca menawari gadis itu untuk menginap di rumahnya. Awalnya Syahnaz menolak namun karena terus dipaksa, dia pun menerima bantuan tersebut.
"Eca, sorry gue malah banyak repotin Lo."
"Gue malah seneng, jadi gak kesepian lagi di rumah ini."
Esoknya.
Syahnaz bangun pagi-pagi sekali agar bisa menyiapkan sarapan. Setidaknya dia harus berguna, jangan hanya enak-enakan numpang tidur dan makan di rumah besar itu.
Eca menghampirinya.
"Naz, ngapain Lo?"
"Ca, gue bikinin sarapan buat kita makan bareng."
"Kan ada pembantu, Lo gak usah repot gitu."
"Gak apa-apa, Bi Salma gue suruh belanja tadi. Kebetulan stok dapur udah pada habis. Sorry, gue sok tahu ngatur-ngatur gini."
"Santai aja, anggap rumah sendiri."
Keduanya pun duduk di kursi berhadapan. Mereka menikmati sarapan dengan lahap.
"Ca, gue mules. Sorry, gue ke kamar kecil dulu." Syahnaz memegangi perutnya sambil meringis. Dia berjalan ke lantai atas.
"Iya, ke sini lagi ya…gue gak ada temen." Ucap Eca sambil mengunyah makanan.
Tiba-tiba tenggorokannya serasa panas. Eca mengambil gelas yang ada di atas meja. Dia menenggak air putih hingga habis beberapa gelas besar. Namun rasa panas itu tidak mau sirna.
Tangannya memegangi leher dan dadanya yang kini terasa sakit. "Syahnaz…Naz…" Panggilnya dengan suara yang serak dan juga lemah. Dia berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang dia miliki. Niatnya ingin berjalan tapi tubuhnya terlalu lemah, dia beringsut menuju ke arah tangga yang jaraknya masih lumayan jauh dari tempatnya berada.
__ADS_1
"Syahnaz….to-tolong…." Panggilnya dengan suara sangat rendah.
Tak lama kemudian, tubuhnya telentang sambil mengejang. Mulutnya mengeluarkan busa dan matanya melotot menatap langit-langit.
Gadis itu berjuang sendirian menghadapi rasa sakit yang teramat menyiksanya. Tak ada seorangpun yang mengetahui, kecuali Syahnaz. Temannya itu sebenarnya dari tadi diam menonton kesengsaraan Eca. Tak ada sedikitpun pergerakan yang menandakan dirinya ingin menolong.
Sudut bibir Syahnaz tersungging menyeramkan. Ada rasa puas dan senang yang terlihat dari ekspresi wajahnya. Di sisi lain, ada rasa marah yang sepertinya sudah dia pendam sejak lama.
Tangannya terkepal dan matanya merah menyala. Dadanya naik turun saat mengingat masa lalu. Dulu dia harus rela melepas laki-laki yang dia cintai karena direbut oleh Eca. Hanya karena hal itu, dia memendam amarah dan dendam yang amat besar pada salah satu temannya tersebut.
Syahnaz kini tergelak sambil menangis. "Akhirnya, gue bisa lihat Lo menderita. Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang selama ini gue rasakan atas pengkhianatan Lo, Eca. Lo emang pantas dapetin ini."
Perlahan dia berjalan menuruni anak tangga lalu berjongkok di sebelah temannya yang sedang sekarat.
"Eca, sorry. Gue terpaksa lakuin ini. Coba kalo Lo dulu gak jadi pengkhianat, Lo pasti saat ini masih hidup. Bye….!" ucapnya sambil melambaikan tangan.
Saat itu muncullah Bi Salma. Wanita itu berlari menghampiri majikannya yang kini sudah tidak lagi bergerak. Saking paniknya, barang belanjaan pun dilempar begitu saja ke sembarang arah.
"Non, bangun! Kenapa malah seperti ini, ada apa sebenarnya?"
"Bi, aku juga gak tahu. Aku baru aja turun dari kamar. Tiba-tiba aku lihat Eca udah kayak gini." Syahnaz pura-pura menangis histeris. "Kita harus bawa Eca ke Rumah Sakit secepatnya!"
Bi Salma memanggil kedua satpam dan sopir yang ada di depan. Mereka membawa tubuh Eca ke dalam mobil dan langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat.
**
Mendengar kabar buruk tentang putri satu-satunya, kedua orang tua Eca pun memutuskan pulang dari perjalanan bisnis mereka dari luar kota. Mereka langsung meluncur ke Rumah Sakit yang ditunjukkan Bi Salma.
Keduanya duduk di kursi yang berhadapan dengan ruangan dimana Eca mendapatkan perawatan medis. Sedangkan Bi Salma memilih untuk berdiri di sebelah para majikannya bersama Syahnaz.
"Bi, kenapa ini semua bisa terjadi?" tanya Pak Arfan dengan wajah yang merah padam.
"Saya juga tidak tahu persis kejadiannya seperti apa. Sepulang belanja, saya dikejutkan dengan keadaan Nona yang sudah tidak sadarkan diri." Jawabnya sambil menunduk.
Syahnaz angkat bicara, "Om, Tante. Tadi saya baru aja habis dari kamar mandi, lalu saya lihat Eca udah kejang-kejang. Saya gak tahu kenapa bisa begitu?"
Sedangkan Nyonya Arfan sedikitpun tidak berkata-kata. Hanya suara tangisnya saja yang terdengar menyayat hati.
"Om, ini semua adalah takdir. Kita semua harus menerimanya. Saya yakin jika Eca akan segera pulih." Wanita bermuka dua itu tengah berakting menjadi malaikat.
Tak lama berselang, Syahnaz pun pamit pergi ke toilet. Saat itulah, Dokter keluar dari ruang UGD. Pak Arfan dan istrinya berdiri mendekat. Bi Salma tetap di tempatnya.
"Bagaimana anak saya, Dok? Dia baik-baik saja kan?!" tanya Bu Arfan.
Dokter menundukkan kepalanya sekilas. Dia menghembuskan nafasnya kasar sebelum berbicara.
"Pasien mengalami keracunan yang menyebabkan pernafasan dan jantungnya tidak normal."
Kedua orang tua itu saling tatap, sama-sama tidak mengerti.
"Keracunan apa? Bagaimana bisa itu terjadi, Dok?" tanya Pak Arfan.
"Sepertinya pasien mengkonsumsi racun itu dari makanan atau minuman yang masuk ke tubuhnya."
"Apa maksud Dokter, ada yang sengaja memberi racun pada anak kami?" Lagi-lagi Pak Arfan bersuara.
"Mungkin kurang lebih seperti itu, kecuali jika pasien yang sengaja mengkonsumsinya."
Seorang perawat keluar dari ruangan tertutup itu dengan ekspresi panik. Dokter kembali masuk ke sana. Hal itu membuat semua orang makin cemas dan bahkan frustasi.
Selang 10 menit, Dokter keluar lagi.
"Maaf, pasien tidak bisa lagi bertahan. Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Yang Diatas berkehendak lain."
Bu Arfan terduduk lesu di atas lantai. Wanita itu tentu saja tidak mau mendengar kabar buruk tersebut. Tangisnya kembali pecah. Pak Arfan dan Bi Salma berusaha menenangkan meski sebenarnya mereka pun sama terguncangnya.
Di sisi lain, Syahnaz yang bersembunyi di balik tembok, tengah tersenyum puas mengetahui jika Eca sudah tidak bernyawa. Itu berarti rencana gilanya berhasil.
Wanita berhati iblis itu pun segera pergi ke Bandara menaiki taxi yang dia pesan. Setelah melakukan kejahatan itu, dia harus secepatnya bersembunyi ke luar negeri.
**
__ADS_1
Cantika membuntang saat mendengar kabar duka yang terlontar dari mulut Gladis lewat sambungan telepon. Matanya yang melotot kosong, mengeluarkan banyak tetesan bulir bening. Bahkan tubuhnya kini lemas serasa tak bertulang.
"Eca, gak mungkin…." Tangisnya pun tak bisa dibendung.
Anas memeluk istrinya yang kini terduduk lesu di atas sofa. "Sayang, ada apa?"
"Eca meninggal, Mas. Eca…." Air mata itu makin bercucuran membanjiri wajahnya.
"Inalillahiwainailaihirojiun…." Pria itu mengusap kepala istrinya agar lebih tenang.
"Kenapa dia pergi secepat ini? Padahal kami baru aja kembali dekat."
"Ini semua sudah takdir. Kamu harus tenang, doakan dia agar mendapat tempat yang baik di sisiNya. Sekarang lebih baik kita bersiap untuk menghadiri pemakamannya."
Usai berganti pakaian, keduanya pun pergi menuju pemakaman tempat jenazah Eca akan dikebumikan.
**
Sore itu, banyak orang yang datang ke pemakaman. Keluarga, tetangga dan sahabat Eca hadir di sana untuk mengantar gadis itu menuju ke pembaringan terakhir.
Suara tangis terdengar memenuhi seisi bumi. Salah satu suara itu berasal dari si cantik yang kini tengah berdiri menatap pekuburan. Di sampingnya, berdiri pria bewok yang tak henti merangkul pundaknya.
"Cantika, kamu boleh bersedih tapi jangan lupa untuk memberi doa pada almarhumah."
Perempuan itu mengangguk pelan. Dia berdoa di dalam hati sebisanya. Setelah agak tenang dan bisa mengendalikan diri, Cantika memeluk Bu Arfan.
"Tante, aku pamit sekarang. Tante yang sabar, doakan terus Eca agar dapet tempat yang baik di sana."
"Makasih, Ka. Maafkan Eca jika seandainya punya salah sama kamu." Ucapnya sambil tersedu.
Cantika mengangguk sambil mengusap pipi wanita itu. "Eca itu baik, gak punya salah apapun sama aku."
Kini giliran Gladis dan Tina yang memeluk Bu Arfan. Teman yang lain sudah pulang terlebih dahulu.
Anas menyalami Pak Arfan sambil mengucap bela sungkawa. Dia pun pergi meninggalkan pemakaman tersebut bersama istrinya.
Saat baru beberapa langkah, mereka berpapasan dengan seorang pria berkacamata dan berbaju serba hitam. Pria itu tak lain adalah Peter.
"Kalian baru dari pemakaman Eca? Aku juga mau ke sana. Kalo tadi gak macet, pasti aku gak bakalan telat." Ucap si pria berwajah oriental.
"Tidak apa-apa, kamu langsung saja ke sana. Kami duluan." Anas memapah istrinya yang kini terlihat tidak fokus dan lesu. Pikiran perempuan itu masih tertuju pada mendiang sahabatnya.
"Iya, hati-hati!" Pria itu sedikit tersenyum. Tapi wajahnya berubah kecut ketika pasangan suami-istri itu telah pergi.
"Harusnya gue yang meluk Cantika saat lagi suasana duka kayak gini. Tapi sabarlah Peter, ini belum waktunya!"
Pria itu melanjutkan langkahnya. Dia menyalami kedua orang tua Eca.
"Maaf Om, Tante. Saya telat datangnya. Tadi jalanan macet banget."
Pak Arfan merespon, "Tidak apa-apa, Peter. Makasih sudah datang."
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Eca yang mendadak ini."
"Terima kasih, Peter."
Setelah beberapa lama berada di sana, si pria bermata sipit pun pamit meninggalkan kedua orang tua itu, yang masih betah meratapi kuburan anak mereka.
Peter melangkah cepat menuju mobilnya. Dia duduk di belakang karena ada sopir yang melajukan kendaraannya.
"Jalan, Pak. Kita langsung ke kantor Daddy."
"Baik, Tuan."
Selama perjalanan, Peter terlihat mesem sendiri. Berita duka atas kepergian Eca benar-benar membuatnya senang. Akhirnya salah satu kerikil kecil yang akan menghalangi rencananya, kini telah terhapus dari dunia ini.
Trik gue berhasil juga. Gak sia-sia gue biayain cewek gila itu buat kabur ke luar negri.
Peter secara tidak langsung ikut andil dalam upaya menyingkirkan Eca. Dialah yang sudah menghubungi Syahnaz dan mengompori gadis itu untuk berbuat kriminal. Pria itu tahu benar jika si gadis tidak waras, mempunyai dendam kesumat pada Eca. Dia memanfaatkan celah itu untuk memanas-manasi Syahnaz bahkan memberi ide gila untuk meracuni salah satu sahabat Cantika tersebut.
Semua aman karena gak ada satupun bukti kalo gue ada hubungannya sama kematian Eca. Pasti Syahnaz yang akan diburu sama Polisi. Kalaupun suatu saat dia berhasil ditangkap, gue tetep aman. Cewek gila itu satu-satunya pelaku tunggal atas pelenyapan Eca. Ini yang gue sebut keuntungan dari berteman dengan musuh dari musuh.
__ADS_1
Peter memang pria licik. Dia memanfaatkan Syahnaz untuk melancarkan niatnya, tanpa harus repot-repot terjun secara langsung. Pria itu sama gilanya dengan si gadis bermuka dua.