
"Emmmmm......" Cantika mengejan sekuat tenaga.
"Terus, Bu. Sedikit lagi bayinya keluar." Dokter yang menangani persalinan itu terus memberi aba-aba dan semangat.
"Emmm....." Meski terasa perih dan agak sakit di bagian inti tubuhnya, dia tetap berusaha untuk mengejan. Peluh membanjiri tubuhnya yang mulai letih.
Tak lama berselang, terdengar suara tangisan bayi memenuhi seisi ruangan. Cantika memejamkan matanya yang bercucuran air. Rasa haru dan duka menguasai hatinya.
Setelah dibersihkan, bayi itu ditelungkupkan ke dada ibunya.
Mas.... ini anak kita.
Cantika sesenggukan sambil menatap anaknya. Bayi mungil yang tampan itu begitu mengiris hatinya. Sungguh malang nasib anak yang tubuhnya terlihat masih rapuh itu, tak ada sosok ayah yang berdiri menyaksikan kehadirannya di dunia ini.
**
Cantika duduk bersandar di ranjang Rumah Sakit, di ruangan berbeda. Pak Permana menggendong cucunya sambil mengumandangkan adzan dan Iqamah di telinga kiri dan kanan bayi itu. Bu Sofi dan Riri duduk di tepi ranjang sambil berusaha menghibur Cantika yang tengah menangis tersedu-sedu.
"Andai Mas Anas masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia dengan kelahiran anaknya. Dialah yang akan melafazkan adzan dan iqamah pada bayiku." Dada dan bahunya naik turun dan berguncang seiring tangisnya yang makin pecah.
"Sabarlah, tenang saja. Kami semua akan selalu ada untukmu dan anakmu." Bu Sofi memeluk anak tirinya itu.
Pak Permana memberikan bayi itu pada istrinya.
"Cantika, Peter sekarang sedang ada di ruang operasi. Tulang ekornya patah akibat terjatuh dari tangga." Ucap pria paruh baya itu.
Semua orang terbelalak.
"Papih, itu semua gara-gara aku. Aku yang bikin dia jatuh dari tangga." Cantika terlihat shock.
"Kak, jangan pikirkan itu! Kakak gak bermaksud bikin dia celaka." Bela Riri.
"Mas, kenapa bicarakan ini? Cantika baru saja melahirkan, jangan sampai dia stress." Bu Sofi bicara ketus pada suaminya. Dia mengkhawatirkan kondisi Cantika.
"Maaf, Nak. Papi keceplosan karena terlalu kalut." Pria itu memang takut jika ayah dari Peter akan menuntut Cantika atas kecelakaan tanpa disengaja tersebut. Bagaimana jika laki-laki sipit berdarah Jepang itu, melaporkan putrinya ke pihak berwajib? Dia tidak tega meski hanya membayangkan jika Cantika masuk ke dalam tahanan. Bagaimana nasib cucunya nanti?
**
Pak Permana menjenguk Peter pada keesokan harinya. Kebetulan si pria sipit sudah sadar. Di sana ada pula Tuan dan Nyonya Arata tengah mendampingi putra tunggal mereka. Bahkan wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu, kini memeluk Peter sambil sesenggukan.
"Peter, Mommy akan minta Daddy untuk bawa kamu ke luar negeri. Kamu pasti akan cepat sembuh jika melakukan pengobatan di sana."
"Mommy, aku gak mau jadi laki-laki yang cacad. Aku ngerasa gak berguna. Aku yakin gak akan ada yang mau hidup denganku nantinya." Peter berteriak-teriak frustasi.
Tuan Arata hanya mengusap wajahnya. Laki-laki itu terlihat begitu tertekan. Sedangkan Pak Permana kini tertunduk malu, merasa bersalah dan juga takut.
"Dokter bilang bahwa Peter akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya. Tidak bisa lagi disembuhkan." Ucap ayah si pria sipit sambil memijat pangkal hidungnya.
Pak Permana terbelalak. Wanita yang tadi memeluk Peter, kini menatap tajam ke arahnya. Bahkan kini menghampiri dan memukulnya bertubi-tubi.
"Ini semua salah anakmu yang sok jual mahal itu. Anakku cuma mau menolongnya tapi dia malah mencelakai Peter. Lihat sekarang kondisinya! Putraku tidak bisa lagi berjalan. Anakmu harus bertanggung jawab!"
"Maaf, maafkanlah putri saya. Dia tidak sengaja melakukan itu."
"Mau sengaja mau tidak, yang jelas dia sudah membuat anakku celaka." Makin geram.
"Mommy, jangan salahkan Cantika! Dia bukan perempuan yang jahat. Saat itu aku yang maksa dan bikin dia terganggu. Aku yakin kalo Cantika gak ada maksud bikin aku kayak gini." Ucap Peter.
"Gak bisa, dia tetap harus tanggung jawab! Mommy akan bawa kasus ini ke kantor polisi."
Pak Permana terlihat shock. Wajahnya memelas dan telapak tangannya saling menempel. "Tolong jangan lakukan itu! Cantika baru saja melahirkan, anaknya sangat membutuhkan keha...."
"Saya tidak peduli, yang jelas anakmu harus menebus semua kesalahannya!"
"Momm, aku sangat mencintai Cantika. Jangan pernah bikin dia terluka!" Peter berteriak-teriak.
"Momm, tenanglah. Nanti kita bicarakan lagi saat suasana lebih tenang." Bujuk Tuan Arata.
Wanita itu terlihat berpikir sejenak, kemudian kembali bicara. "Ok, karena anakku menyukai anakmu, maka aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tapi dengan satu syarat. Cantika harus menikah dengan Peter. Inilah yang patut didapatkan putraku setelah berkorban terlalu banyak."
Pak Permana nyaris menganga. Kenapa masalahnya jadi serumit ini?
"Momm, jangan ngomong kayak gitu! Aku gak mau bikin Cantika gak nyaman. Dia baru saja selesai melahirkan. Lagipula mana mungkin dia mau nikah sama cowok lumpuh kayak aku. Jangankan sekarang, saat aku baik-baik aja, Cantika selalu nolak untuk aku jadikan istri." Peter menundukkan kepalanya.
"Justru karena itu, Cantika harus menikah denganmu. Pokoknya dia harus tanggung jawab! Jika tidak, maka siap-siaplah hidup di dalam penjara." Wanita itu bersikeras dengan pemikirannya.
"Tenanglah, Momm. Jangan gegabah dalam bertindak!" Suaminya berusaha menenangkan.
"Gak bisa, aku gak bisa tenang saat ini. Kenapa Daddy malah bela dia?"
Pria sipit paruh baya itu menatap lekat pada rekan bisnisnya. "Pak Permana, Anda lebih baik pulang saja. Suasana saat ini masih tegang."
__ADS_1
"Saya harap kalian semua bisa memaafkan Cantika. Saya permisi."
Pak Permana pun pergi dari ruangan itu. Kepalanya kini terasa berdenyut hebat. Bagaimana jika ibunya Peter benar-benar merealisasikan ancamannya?
Seminggu berlalu.
Suasana kini lebih aman. Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari pihak keluarga Peter. Mungkin saja mereka sudah berlapang dada melupakan kejadian itu.
Cantika kini tengah memberikan ASI untuk Afkar, sang buah hati. Bibirnya tersenyum lebar memperhatikan anak itu.
"Anak Mami yang tampan, kamu doyan banget mimi. Ini udah satu jam lebih lhoo, apa mulutmu gak cape? Mami aja pegel banget."
Tak lama kemudian, si kecil pun terlelap. Cantika menciumnya lalu menidurkannya di atas kasur. "Selamat tidur, sayang." Ucapnya seraya mengelus pipi mungil itu. Ia pun duduk di tepi ranjang.
Saat itu Riri muncul. "Kak, Afkar udah bobo ya?! Ahhh, padahal tadinya aku pengen gendong dia."
"Baru aja tidur. Kayaknya dia ngantuk setelah mimi terlalu banyak. Kekenyangan mungkin, he...."
"Boleh aku cium?"
"Pelan-pelan, jangan sampai Afkar bangun!"
Riri mengecup kedua pipi tembem anak itu. "Anak ganteng, lucu, imut banget.... gemes...." tangannya seperti ingin mencubit si kecil.
"Udah, stop. Nanti anakku bangun lagi."
Riri nyengir, "Maaf, habisnya Afkar gemesin banget. Pantes aja kalo sekarang Kakak jadi banyak senyum."
"Iya, dia adalah salah satu penyemangat hidup Kakak."
Tok.... tok....
"Non, ada yang mau ketemu." Suara dari luar kamar.
"Bentar, Kak. Biar aku samperin."
Riri melangkah menuju pintu kamar. Bibi pelayan membungkuk sopan sambil berbicara. "Ada tamu yang ingin menjenguk Nona Cantika."
"Siapa, Bi?"
"Nyonya Arata. Sekarang lagi nunggu di ruang tamu."
"Ok, nanti aku samperin."
"Ri, apa dia kesini mau marahin Kakak atas kecelakaan yang menimpa Peter?"
Raut wajah keduanya sama-sama panik. Bahkan Cantika lebih shock.
"Gak tahu, Kak. Mending aku suruh dia pulang aja deh."
"Jangan, biarin aja dia kemari. Aku belum minta maaf secara langsung padanya. Mungkin ini waktu yang tepat. Atau mending Kakak aja yang turun ke bawah."
"Jangan, Kakak tunggu aja di sini! Kakak kan baru habis lahiran, jangan banyak kesana-kemari."
Riri meninggalkan kamar itu untuk menemui mantan calon mertuanya. Nyonya Arata tersenyum tipis agak sinis. Riri masih berdiri di hadapannya.
"Tante, apa kabar?"
"Saya ke sini ingin bertemu Kakakmu." Sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan itu.
"Saya tahu, mari Tan."
Keduanya melangkah pelan menuju kamar Cantika.
"Maaf, saya lancang masuk ke kamarmu." Ucap wanita berkulit putih bersih saat menghampiri sang pemilik kamar. Dia berdiri di hadapan Cantika yang duduk di tepi ranjang.
"Gak apa-apa, Tan. Apa kabar?"
"Kamu pikir saya akan baik-baik saja di saat seperti ini? Putra saya selalu murung karena kakinya lumpuh." Jawabnya sinis.
"Maaf, saya gak bermaksud mencelakai Peter." Cantika tertunduk.
Nyonya angkuh itu menatap bayi yang terlelap di sana. "Jadi ini anakmu?"
"Iya."
"Tante, kita duduk di sofa saja." Ajak Riri.
"Gak usah." Tolak wanita itu ketus.
"Tante, aku benar-benar minta maaf atas kecelakaan itu. Aku gak ada maksud untuk bikin Peter celaka." Cantika masih menunduk penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Si Nyonya menyilangkan tangan di dada. "Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu dengan cara menikahi putraku. Kamu tahu kenapa? karena tidak akan ada yang mau menjadi istrinya di saat keadaannya lumpuh begitu. Selain itu, Peter juga mencintaimu." Memalingkan wajah.
Cantika mendongak dengan mata terbelalak. "Itu gak mungkin, Tante."
Riri sama terkejutnya. "Tante kenapa memperumit masalah ini? Lagipula Kak Cantika gak sengaja melakukan itu."
"Saya tidak bicara denganmu. Cantika, dengar. Kalo kamu tidak mau menjadi istri Peter, maka saya akan melanjutkan kasus ini ke jalur hukum." Tatapannya penuh intimidasi.
"Tante, tolong jangan lakukan itu! Gimana nasib anakku kalo aku masuk ke penjara?"
"Berarti kamu harus menikah dengan putraku. Jika tidak, kamu akan menyesal! Ingat, saya tidak pernah main-main! Saya tunggu jawabanmu secepatnya. Jika besok kamu belum juga memberi keputusan, maka saya anggap kamu menolak. Itu artinya kamu lebih memilih tinggal di tahanan daripada mengurus bayi mungilmu."
Wanita itu pergi dari sana. Riri duduk di sebelah kakak tirinya.
"Kak, gak usah dengerin omongan wanita itu. Dia sama gilanya dengan Kak Peter. Kalo benar dia mau bawa ini ke jalur hukum, biarin aja. Papi pasti akan mencari pengacara terbaik untuk menangani kasus ini."
"Nggak, Ri. Kakak emang salah meskipun gak sengaja. Tetap aja Kakak akan masuk ke dalam penjara. Gimana ini?" Menangis sesenggukan.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Lagi-lagi si bibi pelayan memanggil. Kali ini suaranya lebih panik, bahkan dia menerobos masuk tanpa menunggu sahutan dari dalam kamar.
"Non, ada 2 orang polisi datang. Mereka cari Nona Cantika. Gimana ini, apa ini ada hubungannya sama kecelakaan waktu itu?"
Riri dan Cantika saling tatap. Mereka sama-sama bingung dan takut. Bagaimana jika ibunya Peter benar-benar melaksanakan ancamannya? Jika iya, cepat sekali dia bertindak.
"Kakak tunggu aja di sini, biar aku yang temui mereka."
Riri dan bibi pelayan turun ke bawah. Kedua polisi pun mengutarakan maksud kedatangan mereka. Ternyata benar saja, Cantika-lah yang ingin mereka temui.
Riri berusaha menutupi keberadaan kakak tirinya, tapi tentu saja para polisi itu tidak percaya begitu saja. Akhirnya mereka memaksa masuk ke dalam kamar.
"Benar ini kamarnya?" tanya seorang polisi berkulit sawo matang.
Riri dan Bibi pelayan hanya menundukkan kepala. Mereka sebenarnya enggan memberikan informasi. Tapi polisi-polisi itu tidak bisa diajak kompromi.
"Nona Cantika, buka pintunya. Kami tahu bahwa Anda ada di dalam." Suara dari polisi bertubuh besar.
Karena tak kunjung dibuka, akhirnya pintu pun didobrak. Riri dan bibi pelayan kini gemetaran. Mereka takut jika para polisi menangkap Cantika.
"Jangan bawa saya. Saya punya bayi, Pak." Cantika memeluk erat anaknya sambil bercucuran air mata. Dia berdiri di dekat ranjangnya.
"Maaf, Nona. Anda harus ikut kami untuk pemeriksaan. Ada banyak pertanyaan yang harus Anda jelaskan."
Duhhh, Papi sama Mama kok belum pulang juga sih? Apa macet ya? Aku yakin mereka sedang on the way ke sini, setelah aku kasih tahu kalo ada polisi yang cari Kak Cantika.
Riri tak mampu menyembunyikan rasa gelisahnya. Bibi pelayan pun sama, dia tak henti mengucap doa dalam hati agar semuanya baik-baik saja.
"Ikut kami ke kantor polisi sekarang juga, Nona!" Polisi tetap bersikukuh.
"Jangan, Pak. Saya gak mau...!" Cantika makin tersedu.
Tanpa terduga, Nyonya Arata muncul lagi. Rupanya wanita itu belum pulang. Dia sengaja menunggu para polisi di luar rumah ini.
"Sebentar, Pak. Boleh saya bicara dengannya?" tanya wanita berkacamata hitam itu.
"Silahkan, Nyonya. Tapi jangan terlalu lama."
Wanita itu mendekat dan berbisik. "Cantika, kamu sudah yakin bahwa saya tidak main-main?"
"Tolong, Tante. Aku gak mau ikut mereka." Cantika memelas.
Si Nyonya arogan tersenyum menyeringai. "Apa keputusanmu?"
"Aku....."
"Ok, saya tidak akan menghalangi polisi untuk membawamu."
"Baik, Tante. Aku bersedia menikah sama Peter."
Riri melongo, tak dapat berkata apa-apa. Dia pun bingung harus bagaimana jika ada di posisi seperti itu.
Nyonya Arata mendekat ke arah polisi. "Maaf, saya akan mencabut kasus ini. Kami akan menyelesaikannya secara kekeluargaan."
"Kalo begitu, kami permisi. Nona, maaf jika kami sudah membuat Anda tidak nyaman.
Para polisi itu pun pergi. Si Nyonya licik tersenyum penuh kemenangan. Triknya benar-benar berhasil. Kedua penegak hukum yang tidak bertanggung jawab itu memang begitu berjasa baginya. Mereka bisa dengan mudah dikendalikan hanya demi uang.
"Calon menantu, tenanglah. Saya tidak akan terburu-buru. Pernikahan kalian akan dilaksanakan sebulan lagi. Tapi sebelum itu, tolong tanda tangani berkas perjanjian ini." Menyodorkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya.
Cantika memberikan anaknya pada Riri. Dia mengambil kertas itu. Membacanya sebentar karena si Nyonya tak mau lagi menunggu lama.
"Tanda tangan sekarang atau saya panggil lagi polisi tadi."
__ADS_1
Cantika segera menuruti permintaannya. Dia tidak bisa berpikir cermat. Yang ada dalam otaknya adalah anaknya saja. Dia harus bebas dari kasus ini agar tidak terpisah dari si kecil.