TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Romansa cinta


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Cantika dan Anas menghadiri pesta pernikahan Mira yang diadakan di sebuah gedung. Si kecil Afkar tidak dibawa karena ada dalam asuhan Riri dan Bu Sofi. Kedua wanita itu yang memaksa untuk menjaga si bayi tampan agar Cantika dan Anas bisa leluasa ada di pesta tersebut.


"Mas, cowoknya orang mana sih?" tanya Cantika di sela-sela mengunyah.


"Katanya orang Lampung, mereka bertemu di pesantren."


"Emm, berarti si Mira bakalan dibawa pindah ke sana dong." Hehe.... aman.


"Mungkin, kurang tahu juga. Memang kenapa?"


"Cuma nanya aja kok."


Setelah selesai menyantap makanan mereka kembali melanjutkan pembicaraan.


"Mas, cantikan siapa aku sama Mira pas nikahan?"


Anas mengernyitkan dahi, "Kenapa tanya hal kayak gitu?"


"Tinggal jawab aja kok. Cantikan aku apa si Mira pas pake baju pengantin?" mulai kesal.


Pria itu menggaruk tengkuknya. Kadang kelakuan istrinya itu konyol. "Dua-duanya cantik. Kalian sama-sama cantik saat pakai baju pengantin." Tujuannya adalah tidak mau merendahkan manusia lain.


Cantika mendengus kesal, "Berarti kamu suka sama si Mira?"


Anas menepuk jidatnya sendiri. "Astaga sayang, bukan itu maksudku. Aku pikir semua wanita itu pasti cantik di hari pernikahan mereka karena dandanannya juga spesial."


Yang satu lemot, gagal fokus dan tidak peka. Yang satu lagi keras kepala dan suka berpikir macam-macam.


"Gini deh, menurutmu cantik aku atau Mira?" Masih saja kekeh. Untung tidak ada yang memperhatikan karena mereka duduk di belakang.


"Ohhh, ya jelas cantikan kamu sayang... Kamu itu kan istriku yang paling manis. Apalagi jika tersenyum, aku makin greget...." Baru sadar apa maksud istrinya. Tapi itu bukan hanya untuk meredam emosi Cantika, dia benar-benar jujur mengatakannya.


Cantika akhirnya diam setelah mendapat pujian itu.


"Ayo kita pulang, Mas. Aku kangen Afkar."


Anas menganggukkan kepala. Keduanya berdiri lalu berjalan ke arah pelaminan dimana pengantin berdiri. Setelah memasukkan amplop ke dalam wadah di sisi kursi pelaminan, Anas menyalami pengantin pria. Dilanjut kepada Mira tapi tanpa sentuhan langsung. Cantika melakukan hal yang sama.


"Makasih kalian sudah datang." Ucap Mira.


"Sama-sama." Anas tersenyum.


"Semoga samawa dan cepat punya anak. Jangan lupa bahagia, hehe..." ucap Cantika.


"Jangan dulu pulang, kita foto bareng!" ajak suami Mira.


Anas hanya mengangguk dan berdiri di samping Mira. Cantika manyun karena tak rela jika suaminya dekat-dekat wanita lain.


"Salah posisi, Mas harusnya berdiri dekat suaminya Mira. Aku di sini, kan jadi bagus tuh. Cewek sama cewek, cowok sama cowok." Cantika nyengir tak ikhlas.


Posisi pun berganti.


Cekrek... cekrek.... cekrek.... Setelah tiga kali cekrek, Anas dan Cantika pun pamit. Benar-benar pulang ke rumah.


**


"Mana Afkar, Mah?" tanya Cantika setibanya di rumah.


"Tidur di kamar sama Tantenya." Jawab Bu Sofi yang tengah asik berbalas pesan di ponselnya. Ekor matanya menunjuk ke arah ruangan di sebelah ruang tamu.


"Kami ke kamar dulu, Ma." Ucap Anas yang kemudian melangkah diikuti istrinya.


"Iya, Nak." Fokusnya kembali ke ponsel. Sejurus kemudian bibirnya merekah indah. Rupanya Pak Permana mengiriminya pesan yang romantis.


{Mama cantik, Papi jadi makin sayang sama kamu. I love you} Lengkap dengan emoji hati.


{Mama juga sayang Papi, love you too}


Mari kita tinggalkan kelebayan mereka! Fokus lagi pada pasangan yang lebih muda.


Cantika dan Anas berganti pakaian dengan yang lebih santai. Kini keduanya duduk di sofa kamar.


"Mas, aku mau lihat anak kita dulu." Ingin beranjak.


Anas menggenggam tangannya. "Tunggu, duduk di sini. Nanti pasti Riri akan ngasih tahu jika Afkar bangun atau nangis."


"Ada apa? Serius gitu."


"Aku kangen sama kamu." Anas menatapnya lekat.


"Kangen? Masa?" Senang, malu tapi juga heran. Keduanya tinggal satu atap, sekasur malah. Kenapa suaminya bertingkah seolah baru bertemu setelah bertahun lamanya?


"Entahlah, aku kangen banget sama kamu meskipun kita selalu bersama. Apa aku ini berlebihan?" Anas memeluk erat tubuh istrinya.


"Sedikit lebay tapi aku suka."


Mungkin maksud Anas adalah selalu ingin berdekatan dengan Cantika. Bersama setiap detik pun mungkin tidak akan mampu memuaskan perasaannya.


"Aku makin cinta sama kamu, Cantika." Empat mata itu saling memindai.


"Aku juga, Mas."


Terdengar basi jika sampai di telinga orang lain. Tapi bagi mereka, benar-benar menghanyutkan.

__ADS_1


Di ruangan lain di rumah tersebut.


Riri tengah tersenyum pada layar kamera ponselnya. Gadis itu sepertinya tengah asik melakukan video call dengan seseorang.


"Aku lagi di rumah Mas Anas." ucapnya.


"Ohh... sedang apa?" tanya pria di sebrang sana.


"Sedang nungguin bayinya Kak Cantika. Mas ke sini aja, apa gak kangen sama Mas Anas?" Kangen sama aku nggak?


"Kangen Anas? Ada-ada saja. Aku memang mau bertemu dengannya. Tapi apa tidak akan mengganggu?"


"Nggak dong, Mas Bian. Aku share lokasi rumahnya, Mas langsung ke sini aja!" Mode maksa.


"Gimana ya?"


"Ayolah, Mas. Anggap aja kami keluarga sendiri. Mas Anas pasti senang kalo Mas mau silaturahmi." Bujuk terus.....


"Iya, Ok."


"Gitu dong.... Aku tunggu ya, hati-hati di jalan!"


"I... iya...." Baru kali ini berurusan dengan gadis pemaksa.


Panggilan video itu pun selesai. Riri segera merapikan penampilannya, padahal belum tahu kapan yang ditunggunya tiba.


Entahlah, kali ini sikapnya jadi lebih berani pada seorang pria. Dia benar-benar sudah kesengsem akan pesona si laki-laki kekar bertatto itu.


"Oa...... oa....." Sudah bisa ditebak suara siapa itu. Tidak mungkin suara cicak-cicak di dinding ataupun suara nyamuk-nyamuk nakal.


Riri segera mengais bayi kecil itu lalu membawanya ke kamar atas.


"Kak, Afkar kayaknya haus." Tak ada sahutan dari dalam kamar. Kaki gadis itu mendorong pintu yang sepertinya tidak tertutup sempurna. Mungkin mereka sedang bobo siang atau di kamar mandi.


"Astaga...!" Riri segera keluar lagi dari kamar itu setelah menyaksikan adegan tidak senonoh yang mencemari matanya.


Kenapa mereka ceroboh banget, kalo mau bermesraan harusnya kunci pintu dulu?! Aku juga yang bego, main selonong masuk aja ke kamar orang tanpa ijin. Astaga, jantungku hampir aja copot.


Sementara itu, bayi kecil yang ia gendong kini tengah menelusup ke ketiaknya seperti mencari sesuatu. Afkar memang berhenti menangis tapi mulutnya celamitan mencari sumber makanan.


Cantika dan Anas merapikan tampilan mereka yang sudah acak-acakan karena saling serang. Terpaksa mereka menjeda kegiatan adu patuk-mematuk itu karena kedatangan Riri yang mendadak.


Anas masih duduk di sofa sedangkan istrinya bangkit keluar dari kamar.


"Ehemmm, Ri. Siniin Afkarnya!" berdehem untuk mengusir canggung dan malu.


Malah adik tirinya yang terlihat lebih malu setelah memergoki Cantika berc**man hot dengan Anas.


"Afkar pasti haus, Kak. Aku ke bawah lagi, ya?!" Buru-buru kabur.


**


Ting... nong....


Riri langsung berdiri dari duduknya setelah mendengar bunyi bel. Ia begitu semangat membuka pintu. Senyumnya hilang saat melihat sosok di depannya.


"Papi?" Aku pikir Mas Fabian.


Pak Permana tersenyum, "Kenapa kamu cemberut, gak suka Papi dateng?"


Riri menggeleng pelan. Pak Permana pun masuk ke dalam rumah lalu duduk di sebelah istrinya.


"Mas." Bu Sofi mencium punggung tangan suaminya.


"Mama...." Pak Permana mengecup kening wanita paruh baya itu sekejap.


Riri memanyunkan bibirnya melihat adegan manis pasangan yang sudah tidak muda itu. Jiwa jomblonya meronta-ronta. Ditambah lagi laki-laki yang dia tunggu belum muncul juga, membuat moodnya hancur. Oh ya, catat juga saat tadi dia memergoki Cantika dan Anas. Lengkap sudah deritanya sebagai seorang single.


Apa Mas Fabian emang gak jadi dateng?


Beberapa kali dia mengecek ponselnya. Tak ada chat balasan dari pria itu. Padahal sudah banyak pesan yang dia kirim. Menanyakan dimana posisi Fabian, apa dia jadi datang, dan banyak lagi.


Sampai akhirnya terdengar lagi bunyi bel. Riri cepat-cepat memeriksa dan jeng.... jeng....


"Assalamualaikum, maaf. Apa ini rumahnya Bu guru Anjani?" tanya seorang pria.


Riri memasang wajah kesal. "Bukan."


"Oohh, maaf. Dimana ya rumahnya?"


"Nggak tahu, Mas. Tanya sama warga lain aja!"


"Maaf, permisi." Laki-laki asing itu pun pergi.


Ya ampun, rasanya Riri ingin menonjok wajah cengengesan pria itu. Tapi bukankah itu keterlaluan? Kenapa dirinya jadi mudah marah? Hey, sadar. Kamu itu cewek yang ramah dan kalem. Jangan keluar jalur jadi cewek nyebelin!


Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kakinya melangkah lemah menuju kamar di sebelah ruang tamu.


"Riri, kamu kenapa? Ada yang sedang kamu tunggu?" tanya ibunya yang memang sudah merasakan jika gadis itu bertingkah agak aneh.


"Nggak, Mah..." sahutnya dari dalam kamar.


Pak Permana dan Bu Sofi saling tatap, sama-sama mengedikkan bahu.


Beberapa waktu berlalu...

__ADS_1


"Riri, Mama sama Papi mau keluar sebentar. Apa kamu mau ikut atau masih betah di sini?" tanya Bu Sofi.


"Aku di sini aja, males kemana-mana." Apalagi kalo harus jadi kambing conge diantara kalian.


Riri tahu benar jika saat ini kedua orangtuanya akan pergi berkencan, sekedar makan dan belanja di Mall. Biasanya kadang dia pun ikut untuk nimbrung berburu tas atau baju baru. Tapi kali ini moodnya amblas, membuatnya mager.


"Ya sudah, kami berangkat sekarang. Nanti kami ke sini lagi untuk menjemputmu." Tawar Pak Permana.


"Ya...." menjawab malas.


Pasangan yang masih hangat di usia yang tak lagi muda itu pun pergi.


**


Ting nong.... Ting neng.... Ting nung...


Bunyi bel saja jadi berubah-ubah saking terlalu lama dipencet. Riri sebenarnya mendengar tapi malas untuk bergerak, takut kecewa jika yang datang bukan yang dia harapkan.


"Assalamualaikum....."


Riri menajamkan pendengarannya saat menangkap suara yang cukup familiar di telinganya.


Senyumnya kini kembali mengembang. Secepat kilat dia melangkah ke arah pintu. Sebelum membukanya, terlebih dulu dia merapikan penampilannya.


"Assalamualaikum." Sekali lagi tamu itu mengucap salam saat bertemu sang gadis.


"Waalaikumussalam, masuk Mas!"


Laki-laki berotot besar itu pun melangkah dan duduk di sofa.


"Mas mau minum apa?"


"Sebenarnya tidak usah merepotkan."


"Nggak kok. Aku buatin jus jeruk mau?"


"Terserah saja, terima kasih."


Gadis itu begitu semangat pergi ke dapur. Ia buru-buru kembali dengan membawa nampan berisi minuman dan kue kering. Masih tersenyum, tangannya bergerak menyimpan nampan di atas meja. Dia pun ikut duduk di sebelah Fabian dengan berjarak kurang lebih satu meter.


"Anasnya mana?"


"Ohhh, ada di kamar atas. Nanti aja aku panggilkan soalnya takut ganggu." Takut memergoki lagi yang aneh-aneh. Selain itu takut orang lain mengganggu kebersamaannya dengan Fabian.


"Boleh aku minum jusnya?"


"Boleh dong. Makan juga kuenya."


Fabian menyeruput minuman segar berwarna oranye itu sampai habis. Haus apa doyan?


Cukup lama mereka saling berbincang, berbagi cerita ringan ataupun sedikit curhat.


Tap tap tap. Derap langkah kaki Anas yang berjalan menghampiri. Pria itu menjabat tangan tamu dadakannya sembari tersenyum ramah.


"Fabian, apa kabar?" duduk di hadapan tamu. Ekspresinya terlihat seperti bingung.


"Baik."


"Aku gak nyangka kamu bisa datang ke sini."


"Sebenarnya aku yang ajak." Riri nyengir.


Anas menatap keduanya bergantian. "Apa kalian sudah saling berkenalan?" Dia tahu benar jika kedua orang itu sama sekali tidak mengenal. Dan sekarang malah terlihat akrab.


"Iya, kenalan tanpa disengaja." Ucap Fabian.


Riri dan teman prianya itu menceritakan awal mula kejadian yang membuat mereka dekat. Anas hanya manggut-manggut paham.


Obrolan pun berlanjut seru hanya diantara kedua pria tersebut. Sedangkan Riri hanya jadi pendengar saja. Tapi biarkanlah, itung-itung dia bisa menggali sedikit informasi mengenai si pria kekar.


Ohhh, jadi Mas Fabian lagi nyari kerjaan ya?


Riri memutar otak untuk bisa membantu laki-laki itu. Tapi dia belum tahu harus bagaimana. Jika minta bantuan ayah tirinya untuk dimasukkan ke perusahaan, rasanya tidak mungkin. Lihatlah penampilan Fabian yang seperti preman, maaf karena dia memang mantan preman. Tubuh kekarnya tidak masalah, tapi tatto yang menempel pada lengan dan leher pria itu yang jadi masalahnya. Tidak cocok sekali jadi seorang pegawai maupun sekuriti.


"Tapi kalo jadi sopir pribadi atau semacam bodyguard, mungkin masih bisa." Ahaaa, itulah kini isi kepala gadis itu. Tapi dia tidak mengatakan hal tersebut. Biarlah nanti dia akan berusaha membicarakannya dengan Pak Permana. Semoga saja bapak sambungnya itu menyetujui.


**


Malam yang gelap dan dingin, tapi tetap hangat bagi pasangan suami-istri yang makin hari makin nempel saja. Cantika berbaring di p*ha suaminya. Anas duduk tersenyum sambil membelai lembut kepala wanita itu.


"Aku rasa Riri menyukai Fabian." Ucap Anas.


"Masa?"


"Dari ekspresi dan gesture tubuhnya saat berdekatan dengan Fabian, terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tatapan matanya berbeda."


"Mas perhatian banget sama Riri." Nada bicaranya terlihat tidak suka.


"Bukan seperti itu. Kami bertiga kan sempat ngobrol, aku tidak sengaja menangkap sesuatu yang beda antara Fabian dan adikmu. Mereka sepertinya sedang pdkt mungkin."


"Ya udah biarin aja, aku gak khawatir karena Fabian itu orangnya baik meskipun mantan anak buahnya si gila."


"Aku juga sih. Kita lihat saja ke depannya seperti apa."


Cantika menarik kepala suaminya agar mendekat. "BCT" bisiknya membuat tubuh meremang.

__ADS_1


Jika kode sudah dilemparkan, maka Anas tinggal menangkapnya. Malam yang hangat pun berubah jadi panas namun mengasikan.


__ADS_2