
Usai dinner romantis ala rakyat jelata, Cantika pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka. Saat hendak ke kamar tidur, sekilas dia melirik pada suaminya yang masih duduk menonton TV.
"Wadawww...." Dia memegang keningnya yang barusan mencium pintu kamar. Busyettt, gue ampe kejedot ! Ini gara-gara mata gue yang mulai jelalatan.
Anas menoleh, "Kenapa ?"
Cantika menggelengkan kepalanya dan buru-buru masuk. Malu-maluin banget !
Dia membuka lemari untuk mengambil baju tidur. Setelah berganti pakaian, Cantika pergi lagi ke ruang tengah.
Anas menatapnya tanpa berkedip, ketika Cantika berjalan lalu duduk di sebelah pria itu. Baju tidur Cantika kelewat terbuka bagi Anas. Panjangnya di atas lutut, tanpa lengan dan juga kainnya tipis. Tapi perempuan itu santai saja, karena sudah terbiasa memakai pakaian seperti itu.
Anas mendadak kesusahan menelan salivanya sendiri. Tubuhnya gemetaran dan dadanya meletup-letup. Bahkan dahinya sedikit berkeringat dingin. Bagaimana pun juga, dia belum pernah berpengalaman dengan seorang wanita. Apalagi wanita cantik dan s*xy seperti Cantika.
Kenapa dia ? Apa ada yang aneh dari penampilan gue, ampe dia buang muka kayak gitu ?
"Kenapa ?" tanya Cantika penasaran.
"Tidak....tidak apa-apa."
"Bohong, kenapa kamu kayak menghindar gitu ? Apa ada yang aneh dari penampilanku ?" menggoyangkan bahu laki-laki itu.
Anas menggeleng cepat. Jantungnya kini hampir meledak. Sentuhan itu membuatnya merinding. Cantika berdiri di depannya dengan berkacak pinggang. "Heyyy, ngomong dong ! Kenapa buang muka kayak gitu, aku aneh apa kamu yang ngerasa gak suka kalo aku duduk di sana ?"
Anas mendongak, "Tidak, bukan begitu. Sungguh...!"
"Baguslah, terus kenapa ?" mengibaskan rambutnya ke belakang.
Anas makin gemetaran karena istrinya itu terlihat lebih cantik lagi dari sebelumnya. Dia bergegas ke kamar mandi. "A...aku mau ke air dulu."
Cantika mengernyit, "Ke air, apa maksudnya ke kamar mandi ?" Dia kembali duduk dan mengambil remote TV dari atas meja. Mengganti channel-nya pada salah satu acara kuis.
__ADS_1
Anas kembali dibuat tak nyaman saat melihat istrinya duduk santai dengan menyilangkan kaki. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu masuk ke dalam kamar.
Astaghfirullah.....ini benar-benar ujian yang berat. Makhluk bernama perempuan itu memang tidak bisa dianggap remeh. Bisa membuat kaum laki-laki menjadi lemah.
Setelah lima belas menit lamanya, Anas keluar dari kamar itu. Dia membawa karpet, bantal dan juga selimut. Berdiri di dekat istrinya tanpa menatap.
"Sebaiknya kamu pindah ke kamar. Aku mau istirahat."
Cantika menoleh, "Ohhh, sorry. Aku juga emang mau tidur sih, ngantuk." Nyengir. Padahal masih ingin menonton kuis di TV. Tapi dia tidak mau sampai mengganggu waktu istirahat suaminya.
Cantika beranjak dari duduknya, "Good night ! Sampai jumpa besok !" Usai bicara, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Upsiii, gue keceplosan. Norak banget !
"Selamat malam, jangan lupa berdoa sebelum tidur. Kunci pintunya agar tidak ada yang diam-diam masuk ke sana, jendelanya juga cek lagi, takut belum dikunci !"
"Ok..." Sedetail itu ?
"Satu lagi, jika nanti kamu mendengar aku mengetuk pintu, jangan coba-coba membukanya !"
"Bahaya ! Sekarang cepat masuk kamar dan kunci pintunya !" Masih menghindari bersitatap. Jangan sampai kamu membiarkan aku masuk ke kamar dan berbuat yang aneh-aneh !
Meski bingung, Cantika buru-buru menuruti perintah suaminya. Takut juga saat mendengar kata Bahaya.
Setelah memastikan pintu kamar dan jendela sudah terkunci, dia rebahan di kasur. "Wait, dia mau tidur dimana ? Gak mungkin di kursi kayu itu." Bangkit dari tidurnya lalu pergi ke ruang tengah.
"Kamu tidur di lantai cuma pake karpet itu ?"
Anas yang baru selesai menghamparkan karpet di lantai bawah TV, menoleh ke arahnya. "Ya..." segera berpaling lagi. Tangannya masih bergerak untuk menyimpan bantal di karpet itu.
"Maaf..... gara-gara kehadiranku di rumah ini, kamu jadi kesusahan."
"Tidak, jangan berpikir begitu ! Aku tidak apa-apa, kamu kembali ke kamar dan cepat tidur !" Anas merebahkan tubuhnya setelah menyelimuti dirinya sendiri.
__ADS_1
Cantika masih berdiri di sana dengan menundukkan kepala. Sungguh dia tidak enak hati jika membiarkan pria itu tidur di sana. Haruskah dia mengajaknya tidur bersama di kamar ? Bukankah mereka suami-istri ? Ya ampun, memikirkannya saja membuat jantungnya memompa begitu kencang.
Serba salah, ini gara-gara rumah Anas yang kelewat sempit. Atau....karena Cantika yang belum sepenuhnya mau menerima pernikahan ini ? Karena keegoisannya, pria itu harus banyak kesusahan.
"Ji...jika mau, kamu bo...boleh tidur ber...bersamaku !" Tubuhnya mendadak menggigil dan suaranya gelagapan.
Mendengar itu, jantung Anas seolah ingin meledak. Tidur bersama ! Itulah yang jadi fokusnya. Hanya tidur, tapi apakah dia bisa melakukannya ? Bukankah malah dia tidak akan bisa terlelap jika berduaan dengan perempuan itu ? Bukannya Anas tidak mau, dia hanya tidak ingin memaksakan istrinya untuk secepat itu menerimanya. Tapi bukankah Cantika sendiri yang memintanya ? Itu berarti dia sudah mendapat ijin.
"Kenapa diam ?"
"Apa tidak apa-apa jika kita tidur sekamar ?" masih berbaring.
"I...itu jika kamu mau, aku cuma gak tega kalo kamu tidur di sini."
Anas berdehem sebelum bicara, "Baiklah, aku tidur di kamar."
Dag-dig-dug....dada Cantika makin berdebaran. Apa ini keputusan yang tepat ? Bagaimana jika pria itu berbuat nakal ? Mungkin tidak, saat malam kemarin waktu di hotel saja, dirinya masih aman. Anas sama sekali tidak berani macam-macam. Kalau pun ya, bukankah itu wajar ? Mereka adalah pasangan yang sah. Heyyyy, otak Cantika mulai miring ! No, Cantika ! Lo kan lagi M. Gak boleh begituan ! "Siapa yang mau begituan ? Dasar otak m*sum !" gumam-gumam pelan, mengutuki kebodohannya sendiri.
Keduanya berjalan sangat pelan memasuki kamar. Ini benar-benar mendebarkan, seolah akan masuk ke dalam ruang pengadilan.
Anas menghamparkan karpet yang dipegangnya ke lantai dekat ranjang. Menyimpan bantal di sana.
"Mau tidur di situ ? Sama aja kayak tadi, ngapain pindah kalo masih tidur di atas karpet ?"
"Lalu aku harus bagaimana ?" duduk di atas karpet.
"Ahhh, bingung gue...maksudku, terserah kamulah." Segera naik ke atas kasur. Berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya sampai benar-benar tidak terlihat sehelai rambut pun. Maksud gue nyuruh pindah ke kamar, biar bisa tidur di kasur. Biar gak kedinginan dan badannya pada sakit. Kalo masih tidur di atas karpet, ngapain pindah ? Serahhh ahhh, pusing gue !
Anas berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Sesekali matanya melirik ke arah ranjang di sebelah kanannya. Kenapa istrinya terlihat agak marah saat dia memutuskan untuk tidur di atas karpet ? Apa Cantika sudah mulai menerimanya ? Atau seperti yang perempuan itu katakan, hanya tidak tega padanya !
Bukannya tidak mau satu kasur dengan si cantik, tapi ternyata dia belum seberani itu untuk lebih berdekatan dengan istrinya.
__ADS_1