
Pak Permana membawa menantu laki-lakinya ke Rumah Sakit, sepulang dari kantor polisi. Itu karena dia ingin memastikan keadaan dari suami putrinya.
Anas beruntung karena tidak ada luka yang serius, baik pada tubuh bagian luar maupun dalam. Hanya saja pria itu kekurangan gizi dan cairan.
Cantika duduk menghadapnya. Matanya berkaca-kaca dan tangannya menggenggam erat tangan Anas. Wanita itu begitu terenyuh melihat sosok suaminya yang berantakan dan tidak terurus.
"Mas, kamu kurus banget. Apa si gila gak kasih kamu makan? Apa dia juga menyiksamu?"
"Iya, Peter menyiksa tubuhku. Tapi yang paling tersakiti adalah hatiku. Aku tersiksa saat tidak bisa bersamamu. Apalagi saat tahu jika kamu sedang hamil. Rasanya aku ingin segera memelukmu, mengusap perutmu dan menyapa anak kita. Tapi pria licik itu tidak membiarkanku bebas. Untungnya, salah satu anak buahnya berbaik hati menolongku. Ini adalah pertolongan dari Allah, yang tidak disangka-sangka."
"Mas, kamu pasti selama ini menderita. Maaf, karena aku malah mau nikah sama dia. Aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Cantika kini bercucuran air mata.
Anas bangkit dari rebahannya, lalu duduk sambil mengusap kepala istrinya. "Aku tahu bahwa Peter melakukan banyak kelicikan agar bisa nikah sama kamu. Ini bukan salahmu, Cantika."
Pak Permana dan Bu Sofi muncul.
"Anas, mari kita pulang! Dokter bilang jika kamu tidak perlu dirawat." Ajak pria paruh baya itu.
"Papi yakin? Tapi kan Mas Anas kondisinya belum stabil." Tanya Cantika.
"Anas hanya perlu diberi asupan nutrisi yang baik. Untuk luka-lukanya, bisa diobati sendiri di rumah. Dokter juga sudah memberi vitamin dan semua obat-obatan yang diperlukan suamimu." Bu Sofi menambahkan.
"Aku tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir!" ucap si pria bewok.
"Tapi kamu harus mendapatkan perawatan ekstra."
"Aku kangen suasana rumah. Aku juga ingin memeluk anakku." Anas tersenyum tapi raut wajahnya menyiratkan ada tangis yang tertahan.
Cantika mengangguk seraya air matanya yang masih terus membanjiri wajahnya.
**
Sesampainya di rumah Pak Permana.
Anas segera mengambil Afkar dari baby sitter. Dia terus menghujani anak itu dengan jutaan kecupan. Air matanya tumpah seiring rasa rindunya yang membuncah.
"Nak, ini ayah..." ucapnya sambil sesenggukan.
Semua orang yang ada di sana ikut terlarut dalam keharuan. Bayi mungil itu tiba-tiba menangis, Cantika segera memangkunya.
"Mungkin dia haus."
Perempuan itu naik ke kamar atas diikuti oleh suaminya.
"Mas mandi dulu, aku mau kasih ASI buat Afkar." Titah Cantika yang saat ini duduk di tepi ranjang.
"Sebentar, aku masih kangen sama kalian." Ikut duduk di sebelah istrinya.
Lagi-lagi mata pria itu berair menganak sungai. Tangannya merangkul pundak Cantika dan dagunya bersandar di atas kepala wanita itu.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu di saat-saat yang paling sulit. Aku tidak ada saat kamu ngidam, mual, hamil besar dan melahirkan. Kamu pasti sangat tersiksa."
"Kamu adalah separuh dari nyawaku, Mas. Semenjak kamu gak ada, hidupku rasanya hampa. Untung saja ada anak kita yang membuatku mampu bertahan hingga sekarang." Ikut menangis.
"Tapi Alhamdulillah, sekarang kita sudah kembali berkumpul. Sayang, siapa yang memberi nama anak kita?" tanya Anas.
"Aku. Mas tahu nggak, arti nama anak kita itu apa?"
"Apa?" balik tanya.
Keduanya saling tatap.
"Afkar itu artinya orang yang bijak. Makanya aku kasih nama itu."
__ADS_1
"Pintar juga istriku." Tersenyum sambil mengusap kepala.
"Cari di g*ogle sihhh, hehehe.... Aku mana tahu yang kayak gituan. Mas, buruan mandi dulu. Kita makan bareng!"
Anas mengangguk lalu mengecup kening istrinya. Si kecil pun tak ketinggalan mendapat jatah dari sang ayah. Pria itu pun pergi ke kamar mandi.
**
Di ruang makan.
Cantika begitu semangat menyuapkan makanan ke mulut suaminya. Bahkan saat Anas menolak, dia tetap saja memaksa.
"Sudah cukup, aku sudah kenyang." Ucap pria bewok sambil memegang perutnya yang terasa begah.
"Sayang, kamu harus makan yang banyak. Aaaa....!" mendekatkan sendok berisi makanan ke mulut tertutup itu.
"Satu suap saja." Terpaksa membuka mulut lagi.
"Dua suap lagi, aaa...."
Anas menggeleng cepat. "Aku sudah tidak sanggup lagi."
Pak Permana dan yang lainnya tersenyum lebar. Sungguh inilah adegan yang membuat mereka lega. Akhirnya kebahagiaan itu kembali terpancar dari wajah Cantika.
**
Malam hari.
Si kecil Afkar kini ada dalam pangkuan ayahnya. Cantika duduk tersenyum di tepi ranjang, memperhatikan mereka.
"Mas, bukannya Afkar udah bobo? Kenapa masih diajak ngomong?"
"Sudah, tapi aku masih ingin bicara banyak sama dia." Bicara sambil menimang-nimang. "Sayang ayah...."
Anas menoleh. Dia tersenyum melihat istrinya menyeringai nakal. Pria itu bergerak menidurkan anaknya ke tempat tidur bayi, di sebelah kanan ranjang.
"Baiklah, jagoan ayah. Bobo yang nyenyak. Sekarang giliran ibumu yang mau ditimang manja."
Dia naik ke atas kasur, duduk berhadapan dengan istrinya. Dua pasang mata itu saling bertemu. Senyum keduanya merekah indah. Cantika memeluk suaminya begitu erat.
"Mas, aku kangen. Aku cinta banget sama kamu."
"Aku juga sangat merindukanmu, istriku. Wanita yang paling aku cintai." Ucapnya sambil mengusap kepala.
"Aku bahagia.....banget, karena ternyata kamu masih hidup. Untung aja kamu datang tepat waktu buat gagalin rencana Peter. Maaf, aku gak ada maksud buat khianati kamu." Masih berpelukan.
"Ini semua berkat bantuan dari Fabian, anak buah sekaligus orang kepercayaan Peter. Dia juga memberiku informasi yang banyak tentang kejahatan pria itu."
Cantika melepas pelukannya lalu menatap suaminya penuh tanya. "Maksud Mas? Emang si gila itu udah ngelakuin apa aja?"
"Ternyata dia adalah dalang dari kebakaran rumah kita. Selain itu, dia juga ikut andil dalam rencana pelenyapan Eca, meskipun tidak secara langsung."
"Benar-benar pria gila. Aku gak nyangka kalo dia sejahat itu. Aku nyesel banget, aku bodoh karena udah anggap dia laki-laki yang baik. Tapi ternyata orang macam dia gak pernah berubah, bahkan lebih parah." Ada kemarahan dan kekecewaan dari sorot matanya.
"Aku juga tidak menyangka jika dia seperti itu. Tapi semuanya sudah lewat. Peter sudah berada di tempat yang seharusnya. Dan kita sudah kembali bersama."
"Mas, kamu mau maafin aku?" tanyanya sambil menatap lekat.
"Kamu gak salah apa-apa, gak ada yang harus dimaafkan. Sekarang mari kita mulai lagi kehidupan yang baru. Kamu, aku dan anak kita. Dan.... calon adik-adik Afkar." Meraup wajah cantik istrinya.
Cantika terbelalak, "Adik-adik buat Afkar? Tapi kan dia masih kecil banget. Umurnya aja baru sebulan setengah."
Anas tergelak sambil mengacak-acak rambut wanita itu. "Kamu shock banget padahal aku cuma bercanda. Tapi emang sih, suatu saat nanti kita harus kasih adik buat Afkar."
__ADS_1
"Mas, kamu bikin aku kaget. Bekas lahiran yang pertama aja masih ngilu dalam ingatanku. Aku agak ngeri kalo ngebayangin harus hamil dan melahirkan lagi dalam waktu dekat. Tapi kalo nanti setelah Afkar agak besaran, bolehlah kita kasih dia adik." Nyerocos kesal tapi akhirnya nyengir.
"Apa boleh aku menyentuh kamu?"
Cantika membeku saat Anas kembali meraup wajahnya sambil melemparkan tatapan yang dalam. Debaran jantungnya kini berantakan tidak normal. Bukan pertama kalinya tapi tetap saja membuatnya gugup.
"Mas, bukannya kamu emang sedang menyentuhku?" pura-pura tidak mengerti.
Anas mengecup kening istrinya dengan lembut dan cukup lama. "Apa boleh aku meminta hakku?" menempelkan kening mereka.
Dag... Dig... Dug... Astaga, jantung gue rasanya mau kabur. Kenapa gini ya, padahal kan bukan pertama kalinya Mas Anas nyentuh gue?
"Tapi pelan-pelan, Mas." Jawabnya pelan dengan wajah yang merah merona.
Seluruh tubuh Cantika meremang tatkala merasakan deru napas suaminya, menyapu area bawah hidung. Matanya terpejam seiring gelenyar hebat yang mengaliri seluruh pori-pori kulit tubuhnya.
Dan setelah sekian lama, akhirnya kedua gumpalan daging yang dapat bersuara itu pun menyatu. Kembali saling berbagi napas dan kenikmatan. Jemari tangan mereka saling menyapa semua area sensitif.
Anas merebahkan Cantika dengan hati-hati. Tangannya merapikan rambut yang menghalangi wajah cantik itu.
"Lama tidak bertemu, kamu terlihat jauh lebih cantik." Ucapnya pelan sambil terus memandangi keindahan yang ada di bawah.
Cantika hanya tersenyum malu-malu. Dadanya makin berdebaran karena gerakan pria itu makin berbahaya. Tapi dia sangat menyukainya.
"Oe...... oe...." sayangnya si kecil Afkar tidak menyukai hal tersebut. Anak itu tiba-tiba menangis.
Terpaksa orangtua baru itu harus menghentikan kegiatan mereka. Meskipun sedikit gendok, tapi keduanya sama sekali tidak kesal. Anas bahkan dengan senang hati memangku anaknya. Cantika kembali tersenyum melihat kebahagiaan pria itu.
"Anak ayah, kenapa nangis?"
"Mas, mungkin dia mau mimi. Kasih ke aku!"
Anas duduk di dekat istrinya lalu memberikan bayi itu.
Setelah satu jam berlalu, barulah Afkar kembali terlelap dan dipindah ke tempat tidurnya. Sementara pasangan itu, tentu saja melanjutkan lagi aktivitas mereka. Hahayyyy, aseekkk....
Anas dan istrinya berbaring di tempat tidur empuk itu dengan posisi berhadapan. Cantika cekikikan mengingat kejadian tadi.
"Kenapa ketawa, apa ada yang aneh dan lucu?" tanya Anas heran.
"Aduhhh, kita tadi udah gerah banget ehhhh tuh bocah malah bangun. Untungnya kita masih pake baju, jadi gak riweuh banget sih." Masih tertawa kecil.
Anas mengernyit, "Apa itu lucu? menurutku biasa saja...."
Cantika memeluk erat suaminya. Tangannya memainkan rambut gondrong milik si bewok.
"Mas, besok ke salon ya?! Kamu harus potong rambut biar keliatan lebih rapi dan segar."
"Baiklah, sayang. Aku juga tidak nyaman dengan rambut panjang, seperti Tarzan saja."
"Iya, sih mirip hehe... Ok, Tarzan ganteng mari kita teruskan yang tadi!" tersenyum nakal.
Tanpa menunggu lama, mereka kembali saling memberi kehangatan dan kenikm*tan melalui berbagai s*ntuhan.
Ayo percepat Mas Anas, sebelum si kecil nangis lagi😁
Cantika: Woyyy jangan gitu Thor, gue masih ngilu😩
Anas: Tenang aja, sayang... Aku gak akan dengar kata Author. Aku bakalan pelan-pelan aja🤗
Dan di saat pasangan itu mulai buka-bukaan terpaksa Author minggat🏃🏃🏃
Untuk semua yang udah mampir dan support, makasih banget yang sebesar-besarnya buat kalian. Udah gitu aja, sok lempar komentar dan sarannya ☺️ Ditunggu....
__ADS_1