
Seminggu kemudian.
Cantika sedang duduk di kursi ruang tamu bersebelahan dengan Gladis. Salah satu sahabatnya itu sengaja datang hanya ingin curhat.
"Ika, Rico ternyata selingkuh. Pantesan aja dia suka pulang telat, ternyata habis dari Kantor, dia langsung maen ke rumah cewek yang juga tetangganya." Merengek-rengek.
"Ahhh, tahu darimana? Jangan-jangan itu cuma gossip aja."
"Gue ada foto-foto mesra mereka berdua, dikirim sama temen gue yang juga tetangganya cewek itu."
"Kurang ajar laki Lo. Istri lagi hamil muda malah selingkuh." Cantika kini ikut murka.
"Pernah satu malam gue lihat punggung Rico penuh bekas kerokan. Pas ditanya, dia bilangnya habis dikerok sama temennya. Tapi gue gak percaya, dia pasti dikerokin sama cewek gatel itu." Bicara sambil mewek.
"Ckkkk, parah laki Lo." Dadanya ikut mendidih mendengarnya. Sebagai seorang perempuan, dia bisa merasakan apa yang temannya rasakan.
"Ika, pasti mereka bukan cuma main kerokan doang. Pasti mereka udah gituan juga. Huwaaaa….menjijikan." Tangisnya makin pecah.
"Arrrghhh, sebel gue dengernya."
"Apalagi gue sebagai istri yang tersakiti. Huwaaaa…kumenangis…." Gladis mengusap mata dan juga hidungnya dengan tissue.
"Dis, gue punya ide buat bikin tuh pelakor jera." Cantika berbisik di telinga temannya.
Gladis tersenyum dengan mata berbinar, kedua jempolnya diacungkan. "Kayaknya ide Lo bagus juga."
"Kita beraksi sekarang juga."
Cantika menemui suaminya yang sedang ada di kamar atas.
"Mas, aku mau anterin Gladis. Boleh ya?!"
"Ke rumahnya?"
Cantika mengangguk pelan. Namun dalam hatinya dia bermonolog, "Tapi sebelum ke rumah Gladis, aku mau ke rumah cewek gatel itu dulu."
"Jangan lama-lama, nanti sore harus sudah ada di rumah!"
"Siap, Mas. Makasih, I love you…" Sedikit kecupan di area bibir agar suaminya senang.
"Ingat, jangan berbuat ulah!"
"Iya, Mas. Assalamualaikum…" Mengecup punggung tangan lalu pergi.
"Waalaikumussalam…"
**
Cantika dan Gladis sudah ada di depan gerbang rumah perempuan yang kini dekat dengan Rico.
"Kalian siapa, ada urusan apa ke sini?" tanya Satpam pada kedua wanita cantik itu.
"Pak, kami mau ketemu sama Vira. Apa dia ada? Kebetulan kami adalah teman sekolahnya dulu waktu masih di SMP." Ucap Gladis dengan dibumbui kebohongan.
"Sebentar, saya minta konfirmasi dulu sama Nona Vira." Satpam itu hendak melenggang ke dalam pos tapi dicegah oleh Gladis.
"Pak, masa gak percaya sih sama kita?! Emang wajah kita kayak wajah penipu?" Perempuan itu menarik tangan Pak Satpam sambil memainkan matanya dengan manja dan sedikit nakal.
"Idihhh, Si Bapak senyumnya manis banget kayak gula jawa. Bapak pasti baru berumur 30an ya?!" Cantika ikut membual. Padahal dia sebenarnya ingin muntah. Jelas Mas Anas yang senyumnya paling manis! Dasar pria tua yang keGRan.
Pak Satpam menggaruk tengkuknya karena malu. "Saya sudah mau 50 tahun, sudah tua hehe…"
"Gak tua kok, Bapak masih keliatan ganteng dan muda. Gemes dehhh…" Gladis mencubit kedua pipi pria paruh baya itu.
Cantika sedikit melongo. Gila, Si Gladis nekad juga. Mau-maunya dia nyubit pipi peot tuh aki-aki.
Pria yang wajahnya kini sudah merah pun tersenyum. Tanpa pikir panjang lagi, dia mempersilakan kedua wanita itu untuk masuk ke rumah.
"Makasih, Pak ganteng. Jangan lupa save nomerku ya?!" Gladis mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum pada Satpam.
"Iya, pasti…." Pria itu cengengesan.
Cantika memukul pundak temannya agak keras. "Lo beneran kasih nomer sama dia?"
"He-em, tapi nomer pembantu gue."
Keduanya cekikikan sambil terus melangkah. Mereka disambut oleh seorang wanita yang merupakan pembantu di rumah tersebut. Si Bibi pelayan langsung percaya saja saat kedua wanita itu bilang bahwa mereka teman sekolah majikannya.
__ADS_1
"Sebentar, Nona-nona mau minum apa?" tanya wanita itu saat kedua tamu telah duduk.
"Boleh aku minta bubur singkong sama jus jengkol gak, Bi?" Celetuk Cantika yang membuat Gladis dan wanita itu melongo.
"Mana ada makanan kayak gitu?!" Perempuan di sebelahnya berbisik-bisik.
"Dis, bukannya Lo tadi ngomong pengen itu?! Bi, maaf. Temen saya ini emang lagi ngidam yang aneh."
Gladis kini paham jika saat ini temannya tengah membual demi menjalankan rencana mereka. Dia menatap bibi itu dengan memelas. "Iya, Bi. Kayaknya enak banget deh makan bubur singkong terus minumnya jus jengkol. Pasti nanti anakku akan terhindar dari penyakit cacingan. Tapi kalo misalnya gak kesampaian saat ini juga, pasti anakku ileran pas gedenya." Uweeee…jijik banget gue bayanginnya.
Wanita yang tengah berdiri itu menatap iba pada Gladis yang kini sedang mengusap perutnya. Dia selain polos juga memang baik hati. Meski baru pertama kali bertemu kedua tamu aneh itu, dia merasa tidak enak hati jika harus menolak permintaan konyol tersebut. Lupa sudah peringatan dari majikannya, bahwa jangan sampai ada yang mengganggu istirahatnya.
"Sebentar ya, Non. Saya mau beli dulu singkong sama jengkolnya."
Cantika dan Gladis mengangguk. Setelah wanita itu pergi, keduanya cekikikan.
"Gak nyangka, ternyata pembantu sama satpam cewek gatel itu sama pinternya hihihi…" ucap Gladis.
"Ayo kita beraksi." Cantika menunjuk lantai atas dengan matanya. Dia merasa jika saat ini Vira ada di sana.
Keduanya melangkah menaiki anak tangga.
"Kira-kira dimana cewek itu?" tanya Gladis gemas dengan berbisik.
"Gak tahu." Cantika juga berbisik. "Dis, kayaknya di kamar ini ada orang."
Mereka berhenti tepat di sebuah pintu kamar. Cantika menempelkan telinganya di sana. "Suaranya pelan, gak jelas." Masih berbisik-bisik.
Kini giliran Gladis yang menguping. Cantika memperhatikan situasi, takut ada orang yang memergoki. Keduanya menyingkir dan bersembunyi di bawah meja, di samping kamar. Entah meja untuk apa itu, sampai ada di sana?
Pintu terbuka seiring suara cekikikan dari kedua orang yang baru keluar dari kamar.
"Sayang, kamu nakal. Aku masih kangen, kenapa mau pulang?" suara seorang wanita.
"Cuma bentar kok, lagian aku pulangnya ke rumah Papa, kan deket. Aku mau ambil beberapa bajuku di sana, buat nginep di rumahmu malam ini." Seorang pria berbicara sambil memeluk wanita itu.
Gladis nampak murka. Wajahnya merah padam. "Ika, itu pasti Rico. Katanya ke Kantor tapi malah di sini." Berbisik di telinga temannya. Cantika hanya merespon dengan menempelkan telunjuk di bibir.
"Sayang, kalo istrimu marah gimana? Dia pasti curiga."
Gladis sudah tak tahan lagi ingin segera melabrak keduanya. Dia keluar dari persembunyian diikuti Cantika. Rico dan Vira terkejut bukan main.
"Gladis? Sejak kapan kamu ada di sini?" Rico nyaris berteriak.
"Sejak kapan Lo suka ke rumah cewek gatel ini?" Gladis menatap suaminya tajam.
"Gue bukan cewek gatel, Rico sendiri yang dengan senang hati main ke sini." Vira mencoba berkilah.
"Kalo Lo gak kegatelan mana mungkin berduaan di kamar sama laki orang?" Cantika ikut berkoar-koar.
Gladis merogoh sesuatu dari dalam tas kecilnya, lalu membuka bungkusan plastik berisi cabe keriting merah yang telah diulek. Sambel itu dibalurkan ke wajah Vira sambil sebelah tangannya menjambak rambut perempuan itu.
"Dasar pelakor, Lo gak laku ya sampe harus gaet suami gue?!"
"Aaaaaaaaa…panas…" Teriak Vira.
"Gladis, apa kamu sudah gila? Kalo Vira kenapa-napa gimana?" Rico berteriak.
Cantika berkacak pinggang dan menatap pria itu dengan garang. "Heyyy, Lo yang udah gila karena tega selingkuh padahal istri Lo lagi hamil. Dasar gak punya hati."
"Kenapa Lo ikut campur?" Pria itu menatap Ika tak kalah tajam.
Sedangkan Gladis masih terus menyerang si pelakor tanpa ampun. Vira kini bahkan menangis sambil memohon agar Gladis melepaskan dirinya.
"Nih, rasain. Hati gue jauh lebih panas dan perih dibanding ini. Dasar pelakor, cewek gatel!!"
"Aaaa…Mbak, maaf. Aku gak akan lagi deketin Mas Rico."
"Dis, kita pulang sekarang. Gerakan anti pelakor-nya udahan dulu. Gue gak mau telat pulang." Cantika memegang tangan temannya.
"Bentar, gue belum puas." Gladis belum mau melepaskan perempuan itu.
"Dis, udah. Kalo kamu kayak gini terus, aku bakalan laporin kamu ke polisi karena udah melakukan kekerasan pada Vira." Rico mencoba melerai.
"Gue yang akan laporin kalian berdua karena udah berbuat mesum." Gladis tak mau kalah.
Cantika menarik tangan temannya secara paksa. "Dis, udah. Lagian tuh cewek pasti udah kesakitan banget. Masalah laki Lo, jangan terlalu dipikirin. Kalo Rico masih juga selingkuh, Lo tendang aja dia ke laut. Masih banyak cowok lebih baik yang mau nikahin Lo." Mencoba menenangkan sekaligus memanas-manasi pria bernama Rico.
__ADS_1
Akhirnya Gladis pun mau melepaskan Vira. Dia dan Cantika segera pergi dari rumah itu. Mereka berpapasan dengan si bibi pelayan yang baru saja membeli singkong dan jengkol.
"Nona pada mau kemana? Ini saya baru mau bikinin bubur dan jus aneh pesanan Nona."
"Bibi kasih aja nanti buat Vira. Katanya tadi dia juga mau makan itu. Kita pamit, ya Bi…." Cantika melambaikan tangan.
Dia bersama temannya pergi dari tempat itu dengan menaiki taxi.
**
Selama perjalanan menuju rumah, Gladis tak henti menangis. Cantika terus berusaha menenangkannya.
"Rico tega banget, dia malah lebih pilih cewek itu dibanding gue. Huwaaaa…."
"Biarin aja, Dis. Lo gak usah pedulikan mereka lagi. Lo harus cuekin Rico, biar dia ngerasa bersalah. Mudah-mudahan aja laki Lo bisa sadar."
"Makasih udah nemenin gue labrak tuh cewek, gue jadi sedikit lega karena udah meluapkan beban."
Gladis turun dari taxi saat tiba di depan rumahnya. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Cantika yang masih duduk di dalam taxi.
Setengah jam kemudian, mobil itu pun berhenti di depan gang. Cantika segera turun lalu melangkah tergesa ke dalam gang tersebut.
Tok… tok…
"Assalamualaikum… Mas…"
"Waalaikumussalam…"
Pintu terbuka. Cantika mencium tangan suaminya lalu masuk ke dalam rumah.
"Aku gak telat pulang, kan?!" Cantika nyengir kuda.
"Telat lima menit." Jawab Anas agak jutek.
"Maaf, Mas." Kecup wajah dimana-mana untuk meluluhkan kejudesan suaminya.
"Duduk, aku ingin tahu apa saja yang tadi kamu lakukan. Katakan dengan jujur!" Anas menarik tangan istrinya agar mau duduk di sofa bersamanya.
"Emmm… aku tadi…" Ragu-ragu.
"Jangan ada yang ditutupi. Apa kamu ketemu sama laki-laki lain?"
"Gini, Mas… Aku tadi sama Gladis bla…bla….bla…" Cantika menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat.
Anas geleng-geleng kepala, "Astagfirullah….kenapa kamu malah memberi ide gila seperti itu? Harusnya kamu bikin temanmu lebih tenang, bukannya malah ngomporin!"
"Bukan ngomporin, aku cuma mau belain temenku. Cewek gatel itu kudu dikasih pelajaran." Ucap Cantika meledak-ledak.
"Kenapa malah kamu yang ngambek? Aku bukan suami temenmu yang selingkuh itu."
"Awas aja ya, kalo kamu kayak gitu! Bukan cuma cewek pelakor yang akan aku ubek-ubek wajahnya pake sambel, tapi kamu juga. Aku bakalan balurin cabe yang banyak ke bewokmu biar rontok sekalian." Ucap Cantika dengan mata merah menyala, membuat suaminya ngeri.
"Astaga, sayang. Kenapa pikiranmu seburuk itu? Aku gak akan pernah selingkuh! Kamu jangan bawa koper dong."
Cantika mendelik, "Siapa yang bawa koper?"
"Kamu jangan baper, bawa koper hehe..."
"Ishhhh, gak lucu." Membuang muka.
"Lagipula kenapa juga kamu mesti ikutan emosi sama aku yang gak tahu apapun? Hayoo... Mending sekarang kamu mandi biar pikiran dan hatimu lebih fresh."
Iya juga ya, kasihan my baby hubby kalo jadi sasaran emosiku.
"Mas, maaf. Aku kebawa perasaan. Mas.... Aku mau mandi tapi dimandiin...." Bergelayut manja.
"Imbalannya apa?"
"Everything for you, my soul dan my body." Bisiknya manja.
"Ok..." Anas mengangkat tubuh istrinya menuju lantai atas.
Keduanya masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan segala hal yang menyenangkan.
Note:
Kisah bekas kerokan di punggung Rico dan labrak pelakor pake dibalurin cabe ulek adalah kisah nyata dari seseorang yang sengaja saya curahkan ke dalam isi novel ini. Semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil dari sini. Makasih udah selalu support 🤗🤗
__ADS_1