
Pada dini hari itu, Anas tersenyum sambil menatap wajah tenang milik istrinya yang masih terlelap. Tangannya bergerak mengusap kepala perempuan itu. Senyumnya melebar tatkala ingatannya kembali pada pergelutan mereka semalam. Antara malu dan juga bahagia. Dia memang mengharapkannya tapi tidak menyangka akan secepat ini Cantika menerima dirinya. Jodoh itu memang sebuah misteri, tidak pernah sedikitpun dia berpikir akan menikahi wanita judes itu.
Anas meng*c*p pipi dan kening Cantika, membuat istrinya itu mengerjapkan mata. Dengan senyum manis, perempuan itu menatap Anas. Tanpa diperintah, dia menjelajahi semua area wajah suaminya.
"Nih, aku ajarin cara kissing yang bener biar kamu gak kaku."
Anas mengernyitkan dahi dan langsung terkesiap ketika bagian bawah hidungnya diserobot oleh wanita itu. Jika untuk c**man saja, Cantika cukup lihai melakukannya.
Pria itu dibuat terhanyut dan perlahan mulai dapat menyesuaikan gerakan lincah istrinya. Dia menatap Cantika dengan begitu sayu ketika pagutan mereka terlepas. Dadanya? Jangan ditanya lagi! Kali ini perasaanya begitu meletup-letup. Tangannya bergerilya mengusap makhluk indah yang setia memeluknya. Nafasnya tak beraturan.
"Cantika, boleh aku melakukannya lagi?" tanyanya dengan suara lembut.
Ahhhh....malu!
Wajah wanita itu berubah menjadi merona. Jantungnya mengamuk.
"Tapi pelan-pelan ya....Mas." Jawabnya malu-malu.
Anas menganggukan kepala. Dia memang akan melakukan itu dengan lembut agar istrinya merasa nyaman.
Padahal semalam pun dia menyentuh Cantika secara pelan dan hati-hati. Tapi berhubung tubuh istrinya masih dalam tahap adaptasi, maka Cantika meminta temponya lebih pelan lagi dari yang pertama kali mereka lakukan.
***
Usai istirahat selama satu setengah jam lebih, Anas membuka matanya. Lagi-lagi senyum itu tersungging saat dia menatap istrinya yang bersembunyi di dadanya. Anas nyaris tidak percaya jika dia sudah menengok Cantika selama dua kali. Apa itu termasuk normal? Dia tidak tahu berapa intensitas hubungan suami-istri yang baiknya dilakukan. Tapi selama mereka menjalaninya dengan senang hati, itu tidak masalah bukan?!
Anas menc**m kening Cantika lalu menggoyangkan bahunya. "Cantika, sebentar lagi masuk waktu shubuh. Kita harus mandi."
Cantika menggeleng dan malah menelusup lebih dalam ke dada pria itu. Pelukannya lebih dieratkan. "Nanti aja, aku masih mau tidur."
"Tapi kita harus mandi besar!"
"Dingin ahhh, males. Mending tidur aja..." Dia sama sekali tidak mau membuka mata apalagi bangun.
"Kalau begitu, aku akan siapkan air hangat untukmu. Aku mandi duluan ya?!"
"Hemmm..."
Anas segera turun dari ranjang lalu mengambil handuk. Berjalan ke dapur untuk memasak air. Sambil menunggu panas, dia masuk ke kamar mandi untuk menimba air sekalian membersihkan badan.
***
Anas sudah rapi mengenakan baju koko. Pria itu berdiri di dekat ranjang.
__ADS_1
"Cantika, bangun! Cepat mandi, sebentar lagi adzan. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."
"Ahhh, males..."
"Jangan malas, masa waktu melakukan itu kamu begitu semangat, tapi saat harus beberesih malas-malasan. Kita wajib mandi besar jika sudah berhubungan badan!"
"Bawelll, dingin tahu?! Aku masih mau bobo." Dia malah menyelimuti seluruh tubuhnya sampai benar-benar tidak terlihat.
"Sayang, kan aku sudah menyiapkan air hangat. Kamu tinggal mandi saja, tidak akan lama. Kalo kamu mau mandi, aku akan ajak kamu jalan-jalan."
Setelah mendengar kata sayang dan jalan-jalan, akhirnya Cantika mau bangun. Dia tersenyum menatap suaminya.
"Ok, aku mau mandi tapi bener ya nanti kita jalan-jalan?!"
"Tapi pake motor bututku."
"Gak apa-apa, asal sama kamu meski diajak jalan kaki kayak waktu itu, aku mau." Matanya berbinar-binar.
"Tahu doa mandi junub ?"
Cantika mengernyit, "Apa maksudnya ?"
"Mandi junub itu adalah mandi besar, mandi yang wajib dilakukan setelah kita berhubungan intim. Tujuannya adalah membersihkan kita dari hadas besar, agar tubuh kita suci saat melakukan sholat. Jika belum tahu doanya, bacakan saja niat sebisamu. Aku punya buku kumpulan doa, nanti kamu hafalkan ! Sekarang cepat mandi sebelum airnya keburu dingin."
"Mas kayak ustadz aja, suka ceramah. Aku masih pusing ini denger penjelasan kamu. Otakku masih belum konek."
"Ok, nanti aku usahain buat menghafal doa-doa itu." Meski agak malas tapi Cantika mau menerima dan melaksanakan perintah suaminya.
***
Jam tujuh pagi, Anas mengajak istrinya jalan-jalan. Tahukah kalian kemana pria itu membawa Cantika?
Cantika melongo saat suaminya memarkirkan motor di sebuah parkiran pasar tradisional. OMG....Laki gue unik banget, masa ngajak jalan-jalan ke pasar sih. Dia mau kencan apa belanja?
"Apa gak salah? Kamu ajak aku ke tempat kayak gini?"
"Tidak, aku memang berencana ke sini. Selain untuk sedikit belanja keperluan dapur, aku juga ada perlu dengan salah satu teman."
Cantika nyengir jijik melihat keadaan pasar yang begitu berantakan. Bahkan kini hidungnya ditutupi dengan kedua telapak tangan. Tahu gini, aku mending diem aja di rumah.
"Mau ikut ke dalam atau menunggu di sini?"
"Ikut, tapi beliin masker dulu! Di sini bau banget...."
__ADS_1
Anas tentu saja menuruti kemauan istrinya itu. Pria itu berjalan di depan diikuti Cantika. Mampir dulu di sebuah warung untuk membeli masker.
Ampunnn deh, udah dimasker aja baunya masih menyengat. Tapi ini lebih baik daripada gak sama sekali.
Keduanya berjalan lagi menuju tempat kios yang letaknya berada cukup jauh di dalam pasar. Cantika berjinjit ketika melangkahkan kakinya di jalanan yang becek. Sumpah, gue gak bakalan pernah mau ke tempat menjijikan ini kalo gak dijebak sama Mas Anas!
Anas menoleh pada istrinya yang ternyata tertinggal cukup jauh di belakang. Cantika merengek-rengek, "Kencan model apa nih? Apa gak ada tempat yang lebih enakan dikit?"
Anas mendekat ke arahnya, lalu menuntunnya untuk berjalan. "Maaf, aku beneran ada urusan kemari. Tidak akan lama kok."
Tiba di kios tersebut, Anas menghampiri seorang pria seumurannya. Sedangkan Cantika berdiri menunggunya.
Setelah sedikit basa-basi, pria pemilik kios memberi Anas sejumlah uang. "Ini hasil kerja kerasmu waktu itu. Maaf baru ngasih lagi, jualanku lagi sepi. Ngomong-ngomong, apa wanita itu istrimu? Cantik sekali..."
"Ya, dia istriku. De, makasih ini..." mengambil uang tersebut.
"Sama-sama...."
Sedangkan Cantika masih berdiri cemberut. Dia bahkan tidak mau duduk dulu di sebuah kursi plastik yang ada di dalam kios.
Setelah itu keduanya berbelanja bahan makanan keperluan dapur.
***
Akhirnya Cantika bisa bernafas lega karena telah meninggalkan pasar itu. Kini dia tengah asik duduk di jok belakang motor sambil melilitkan tangannya pada pinggang Anas.
Kendaraan roda dua itu berhenti tepat di sebuah tenda di pinggir jalan. Anas mengajak istrinya sarapan di sana. Meski awalnya ragu, tapi Cantika mulai menikmati jajanan murah itu. Ternyata meski tempatnya tidak mewah, tapi makanannya tak kalah lezat dari restoran.
Usai makan, mereka berbincang santai.
"Kamu nge-prank aku. Malah ajak jalan-jalan ke pasar, mending kalo tempatnya bersih." Protes wanita itu.
"Maaf, kan aku sudah bilang aku ada urusan sebentar."
"Urusan apa emang selain belanja?"
"Aku mengambil upah, lumayanlah untuk jajan kamu."
"Upah apa? Aku gak ngerti."
"Itu sebagian upahku selama dua minggu sebagai kuli panggul. Bayaran pertama, aku pake untuk tambahan mas kawin."
Mata Cantika membulat sempurna. "Apa? Kamu jadi kuli panggul?"
__ADS_1
Anas mengangguk pelan. "Iya, setelah rencana pernikahan kita ditentukan, aku mencari pemasukan lain untuk biayanya. Setelah jualan, aku pergi ke pasar tadi."
Cantika menatapnya lekat. Ternyata pria yang dia nikahi benar-benar pekerja keras. Dia bangga karena memiliki suami yang tidak gengsi menyentuh pekerjaan berat seperti itu. Yang penting halal ya Bang....I love you full dahhhh.