
Karena belum juga bisa tidur, Anas mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengajak istrinya berbincang. Masih dengan posisi saling membelakangi, keduanya beradu suara.
"Cantika, kamu belum tidur ?"
"Belum, mas. Gak bisa tidur...." Meski sudah dibelai rambutnya, tapi dia belum bisa terpejam.
"Aku juga, tiap tidur denganmu aku susah menutup mata. Kamu memang pandai membuatku gusar. Cantika, kamu ingat tidak saat ulang tahunmu yang ke sepuluh, aku datang ke pestamu itu ?"
Cantika menautkan kedua alisnya, mencoba mengingat-ingat. "Masa ? Bentar, kalo waktu itu aku berumur sepuluh tahun, berarti kamu udah 23 tahun. Ngapain om-om ke pesta ulang tahun bocah ?"
Anas tertawa kecil, "Ya... sekedar hadir saja karena untuk menghargai papi. Selain itu untuk mewakili almarhum ayah ibuku. Biasanya mereka yang datang."
"Terus apa mas kasih kado ke aku ?"
"Ya, mungkin kado-ku paling jelek diantara yang lain. Terakhir kali aku kasih kado itu, boneka beruang yang ukurannya lumayan besar. Ada gambar hati di dadanya."
"Pangeran ? Aku kasih nama boneka beruang itu, Pangeran. Tiap malam ku peluk sambil tidur. Aku ngebayangin kalo suatu saat nanti boneka itu bener-bener hidup sebagai pangeran yang akan membawaku ke sebuah istana." Asik sekali dia bercerita. "Tapi kenapa papi bilang itu dari pak Akbar ?"
"Kamu masih ingat ayahku ?"
"Kalo wajahnya sih jelas gak...cuman di bayanganku pak Akbar itu orangnya baik soalnya papi ngasih tahunya begitu."
"Kamu juga baik, waktu pesta ulang tahun itu kamu memberikan aku baju papimu."
"Ohhh waktu bajumu basah kuyup karena kejahilan teman-temanku. Aku gak nyangka kalo itu kamu, hehehe...lucu juga ya sekarang kita udah jadi suami-istri."
Mereka terus berkicau sampai rasa kantuk pun melanda. Malam ini aman terkendali, Cantika terpejam dalam pelukan suaminya. Tidak ada bantal ataupun guling yang teronggok di atas lantai.
***
Pagi ini Cantika memulai kursus memasaknya di rumah. Dimulai dari hal dasar, yaitu memasak nasi. Di bawah bimbingan dan pengawasan Anas, wanita itu begitu serius belajar. Tekadnya begitu kuat ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya. Pelajaran berikutnya adalah memasak yang enteng-enteng saja. Menggoreng tahu dan tempe lalu telor ceplok.
"Wadawww, minyaknya kenapa ngamuk begini ?" Cantika bersembunyi di balik punggung Anas karena saat memasukkan tahu ke dalam wajan, minyak panas itu meletup-letup.
"Itu karena tahu yang kamu masukkan mengandung banyak air. Harusnya setelah direndam dalam larutan bumbu, tahunya ditiriskan dulu biar airnya turun. Baru masukkan ke dalam minyak panas. Minyaknya meletup-letup karena ketemu sama air dalam suhu yang panas. Lain kali lebih hati-hati !" Jelas Anas sambil mengambil alih pekerjaan.
"Begitu ya...susah-susah gampang juga. Tapi aku gak akan nyerah, demi suami terlove-ku." memeluk dari belakang sambil bersandar di punggung.
Anas tersenyum lebar seraya sebelah tangannya memegang tangan yang melingkar di pinggangnya. "Cantika, pagi-pagi kamu sudah merayuku."
"Gak ahhh bukan merayu. Ehhh, awas tuh gosong !"
"Tidak... sekarang coba kamu yang masak lagi !"
__ADS_1
"Udah aman kan ya ?! Minyaknya gak ngamuk lagi ?"
"Aman, sekarang lepasin aku dan lanjutkan kursus memasakmu !"
"Okkkk...."
Usai masak mereka sarapan sepiring berdua tanpa memakai sendok. Saling suap-suapan dengan mesranya. Tapi momen indah itu harus terhenti karena ada seseorang yang mengetuk pintu. Anas segera mencuci tangan lalu pergi ke depan untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum, mas."
"Waalaikumussalam, mari masuk Mir !"
Cantika segera berdiri dari duduknya, menatap tajam pada gadis berlesung pipi itu. Mau ngapain lagi sih nih cewek ? Nekad banget pengen ketemu suami orang. Awasss lo....gue tendang sampe Segitiga Bermuda biar gak bisa balik-balik lagi !
Mira sekilas menatap pada Cantika, lalu menunduk malu. Tapi rasa malunya itu lebih kecil dibanding rasa khawatirnya pada pria yang dia cinta. Dia ingin memastikan jika keadaan Anas baik-baik saja.
"Duduk Mir, mau sarapan ?" tawar Anas.
"Tidak usah, mas. Aku ke sini cuma mau lihat keadaanmu. Apa sekarang sudah baikan ?" masih berdiri.
Cantika yang nyambar menjawab, "Sudah dong...kan ada istrinya yang jagain. Malah kita barusan lagi makan bareng, suap-suapan. Nih...masih belum kelar." Dia menunjukkan piring yang masih berisi makanan lalu kembali duduk.
"Oh, maaf mengganggu."
"Mira, duduk dulu. Ikutlah makan dengan kami !"
"Tidak, mas gak usah."
"Ayo cepat cicipi masakan istriku !" Anas bermaksud ingin mengakrabkan mereka. Dia buru-buru ke dapur mengambil piring lalu memberikannya pada Mira. Karena terus dipaksa, gadis itu pun mengambil sedikit makanan ke piring itu.
Cantika mendelik kesal pada kedua orang itu, Yang satu cewek kegatelan, satunya lagi cowok bego yang terlalu ramah. Nyebelin !
"Mas...nih aku suapi lagi. Makan yang banyak kan kamu harus benar-benar sembuh kalo mau kasih papi seorang Cu...Cu..." Menekankan kata terakhir sambil mendelik pada gadis yang duduk di sebelahnya.
Pria itu mengedip-ngedipkan kedua matanya, memberi kode agar Cantika diam. Namun istrinya tak peduli.
Mira mendadak susah bernafas. Dadanya dipenuhi sesak saat mendengar perkataan Cantika. Cemburu ? tentu saja dia merasa cemburu dan sakit hati.
Cantika terus memanas-manasi gadis itu. Dia menyuapi Anas hingga piringnya bersih tak ada sisa makanan. Dia masuk ke kamar mandi untuk cuci tangan. Saat hendak melangkah ke ruang tengah, dia melihat Mira tengah asik tersenyum sambil berbincang dengan suaminya. Tuh cewek emang kegatelan, gue kerjain juga biar kebakaran tuhh otaknya !
Cantika menggosok-gosok leher putihnya dengan jemari. Sesekali mencubitnya sampai kulit mulusnya menjadi kemerahan. Bukan cuma satu, dia membuat empat tanda merah di dua sisi lehernya. Kulitnya termasuk yang sensitif, digaruk sedikit saja bisa memerah.
Setelah yakin penampilannya meyakinkan, dia kembali duduk di tengah-tengah Anas dan Mira.
__ADS_1
"Mas, maaf. Kamu bisa ke depan sebentar gak ? Aku kayaknya pengen jajan yang pedas-pedas gitu." Memasang wajah seimut mungkin.
Anas segera beranjak dari duduknya. "Mira, temani dulu Cantika di sini. Aku mau ke depan sebentar. Kalian ngobrol saja biar akrab."
Meski enggan tapi akhirnya gadis berlesung pipi itu menyanggupi. Entah kenapa dia susah untuk menolak pria itu ?
Anas pergi meninggalkan mereka berdua. Dengan begitu Cantika bisa leluasa beraksi.
"Adik ipar, makan yang banyak. Jangan bengong aja !"
"Kenapa memanggilku adik ipar ?"
"Mas Anas pernah bilang kalo kamu udah kayak adik baginya. So...aku berarti harus mengganggap mu adik juga, meskipun aku tahu umurmu jauh lebih tua sihhh."
Mira tertunduk pilu. Jadi selama ini dia yang memang sudah salah paham. Kebaikan Anas ternyata tidak lebih dari kasih sayang seorang kakak pada adiknya sendiri.
Mira pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan dan sedikit meluapkan kesedihannya di sana. Setelah beberapa saat dia kembali ke ruang tengah. Cantika tersenyum puas melihat wajah sembab milik gadis itu. Pasti udah mewekk, makanya jangan terlalu berharap sama cowok beristri ! Lo mesti tahu kalo gue adalah salah satu cewek pembasmi pelakor ! Hama dilarang merusak rumah tangga Cantika dan Anas !
"Aku pamit..."
"Ehhh, tunggu adik ipar. Aku masih mau curhat dikit soal mas Anas." Gue yakin lo penasaran dan gak mungkin pergi dengan melewatkan informasi tentang laki gue.
Mira akhirnya duduk lagi di sebelah Cantika. "Curhat apa ?"
Cantika tersenyum menyeringai, "Ternyata ya...Mas Anas itu ganas. Ini coba lihat leherku memar-memar karena disedot terus sama bibirnya mas Anas. Ihh geli dehhh jadi malu..."
Mira berkaca-kaca melihat banyak cap merah pada leher Cantika. Dia percaya jika itu adalah kiss mark yang dilakukan Anas pada istrinya. Cukup, dia tidak sanggup lagi melihat kemesraan mereka ! Tanpa permisi dulu, gadis itu pergi dari sana.
Cantika tertawa terbahak-bahak. "Rasain lo cewek gatel ! Makanya jaga jarak sama suami orang ! Belajarlah menghargai gue sebagai istri mas Anas ! Adik iparku polos banget sihhh."
Anas saat itu muncul dengan menjinjing sebuah kantung plastik. "Cantika, kenapa kamu tertawa begitu ? Mana Mira ?"
"Dia udah pulang, kebelet pengen ke kamar kecil kali." Dia masih tertawa-tawa.
"Kenapa ketawa ?" masih penasaran.
"Tadi ada tikus kabur gara-gara aku tempeleng pake sapu."
Anas mengernyitkan dahi, "Anehhhh dan tidak lucu. Ehhh, itu lehermu kenapa ?"
Cantika memegangi lehernya lalu mengusap-usap area itu. "Gak penting, jangan cemas !"
Mereka duduk di kursi kayu itu. Dalam hati Cantika, dia masih tertawa karena telah berhasil mengusir hama dari rumahnya.
__ADS_1