
Cantika malam ini harus sholat sendirian di rumah, karena Anas pergi ke masjid untuk mengajar anak-anak mengaji. Lepas waktu isya, wanita itu duduk di ruang tengah. Menunggu suaminya pulang sambil menonton TV.
"Gak ada acara yang seru. Males kalo harus nonton sinetron, pusing ahhh. Mending nonton kuis atau lawakan." Tangannya terus bergerak memencet tombol remote untuk mengganti channel. Ketika itu handphone miliknya bergetar. Dia segera menyimpan remote TV di atas meja, lalu mengambil alat yang masih bergetar itu dari sana.
Sebuah panggilan masuk atas nama ayahnya. Cantika meng-klik bagian layar berbentuk bulat dan berwarna hijau. Pembicaraan jarak jauh itu pun terhubung.
Usai saling bertanya kabar, obrolan pun berlanjut pada hal inti.
"Ika, Minggu depan Riri akan bertunangan. Kamu harus datang bersama suamimu!" Pinta Pak Permana.
"Bocah itu tunangan sama siapa?"
"Dia itu adikmu juga, kenapa memanggilnya begitu? Kamu akan hadir kan, di acara pertunangannya nanti?"
"Aku pikir-pikir dulu deh." Dia malas membahas ataupun disuruh terlibat dalam segala hal menyangkut adik tirinya.
"Jika kamu tidak datang, berarti kamu tidak menghargai Papi."
Cantika sejenak terdiam. Dia bukan berniat menolak permintaan ayahandanya, dia hanya tidak mau bertemu Bu Sofi dan juga Riri. Sampai saat ini masih ada sedikit ego di benaknya.
"Aku nanti bilang sama Mas Anas dulu."
"Usahakan datang! Papi sangat mengharapkan kehadiranmu."
"Hemmm. Udah dulu ya, Pi...Suamiku bentar lagi pulang dari Mesjid." Ucapnya datar.
Meski masih ingin banyak bicara dengan putrinya, Pak Permana mengakhiri obrolan mereka. Dia tidak mau mengganggu anak dan menantunya saat berduaan.
Tak lama kemudian, pintu diketuk dari luar. Cantika buru-buru membuka pintu karena tahu bahwa suara yang ia dengar adalah suara suaminya.
Seperti biasa, Anas mengucap salam sambil tersenyum manis. Cantika meng*c*p punggung tangannya. "Waalaikumussalam."
Pria itu menc**m kening istrinya dengan lembut namun cukup lama, membuat yang disentuh itu pun memejamkan mata. Terasa sekali ketulusan itu mengalir ke seluruh tubuh Cantika. Dia mengerjap ketika bibir suaminya terlepas dari dahinya. Mereka saling beradu pandang. Anas mendekatkan wajah mereka tapi istrinya menghindar.
"Tutup dulu pintunya, Mas!"
Anas nyengir sambil garuk-garuk kepala. "Aku lupa." Dia pun tidak hanya menutup pintu, tapi menguncinya juga.
__ADS_1
Pria itu terkesiap ketika sang istri mendorong tubuhnya hingga menempel di daun pintu. Cantika mengalungkan tangannya di leher Anas. "Lanjutkan!" bisiknya di telinga pria itu hingga membuat seluruh tubuh Anas dialiri gelenyar aneh yang mulai familiar pada keduanya.
"Kamu wanita yang agresif." Ucapnya sambil menatap dalam-dalam.
"Biarin, kamu itu suamiku. Gak akan dosa, kan?!" Tangannya jalan-jalan di area wajah brewokan yang menggemaskan itu.
"Cantika, aku ganti baju dulu."
Perempuan itu memanyunkan bibirnya sedikit. "Suasana udah romantis, tapi Mas merusaknya."
Anas tersenyum, "Cuma sebentar, masa begitu saja marah."
"Aku juga mau ganti baju." Atau....cuma ngelepasin doang?? Hihihi... Sepertinya muncul ide gila di otaknya.
"Malah ikut-ikutan."
Pria itu sama sekali tidak tahu apa yang direncanakan istrinya. Dia tidak menaruh curiga saat Cantika masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
Si cantik berinisiatif untuk membantu suaminya berganti pakaian. Tangan lentiknya bergerak pelan memb*ka kancing baju satu persatu.
"Cantika, biar aku saja yang melakukannya."
"Mas ini gugup sekali. Relax dan enjoy aja...Aku gak akan macem-macem kok." Cuma satu macam sih yang pengen gue lakuin, mengg*da Mas Anas. Hehehe... ini gara-gara pesonanya yang kuat banget, bikin gak waras!
Dan wanita itu tetap melanjutkan kegiatan mulianya. Dia yang memulai semuanya. Sedangkan Anas pasrah saja, untuk apa dia menolak rezeki yang memang sudah jadi jatahnya itu?
Cantika tersenyum pada pria yang terl*ntang di atas tempat tidur. Perlahan dia pun merangkak ke sana. Ikut berbaring di sebelah suaminya.
"Cantika, kamu ingin mer*yuku?"
"Hemmm, sekaligus ingin memberi latihan. Nanti kamu praktekkan besok malam, atau...besok pagi?!" Senyumnya makin nakal.
Cantika memang memiliki pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan suaminya dalam urusan r*nj*ng. Itu dia dapatkan dari curhatan teman-temannya dulu. Selain itu, dia juga pernah beberapa kali menonton video tak senonoh bersama mereka. Tapi untuk prakteknya, Cantika benar-benar melakukannya hanya dengan Anas.
Dan mereka pun mengulang kegiatan candu yang telah menjadi rutinitas sehari-hari. Kali ini malah terasa lebih spesial bagi Anas. Dia merasa benar-benar puas dengan servis yang diberikan istrinya.
***
__ADS_1
Cantika menatap sambil membelai pipi suaminya yang sudah terlelap. Ia meng*c*p bibir pria itu sebentar. Senyumnya tersungging saat mengingat kekonyolannya tadi.
"Gue emang gila, nyosor duluan. Malu gak? Iyalah, masa nggak! Tapi itu semua demi membuat Mas Anas senang. Malu dikit gak masalah, nanti juga lama-lama terbiasa." Dia bergumam lalu cekikikan sendiri. Untung saja suaminya tidak terbangun.
Saat itu ponselnya bergetar. Dia bangkit untuk mengambil benda itu yang diletakkan di atas lemari plastik.
Cantika mengernyit, "Nomor siapa sih? Ahhh, biarin ajalah." Dia menolak panggilan telpon tersebut. Tak butuh waktu lama, ponsel kembali bergetar. Rupanya si pemilik nomor asing itu belum mau menyerah. Sudah beberapa kali di-reject tetap saja ngotot menghubungi.
Akhirnya Cantika pun menerima telpon tersebut karena takut jika ada hal yang penting.
"Halo, siapa ini?"
"Halo, Cantika. Apa kabar? Senang bisa denger suara sexy-mu ini."
Cantika kaget saat mendengar suara yang dia kenal itu. "Peter? Dari mana Lo tahu nomor gue?"
Pria di sebrang sana tergelak, "Gak usah dipikirin, yang penting kita bisa ngobrol banyak!"
"Gue gak mau ngomong sama Lo. Bye...!"
"Tunggu...ada yang harus aku kasih tahu."
Cantika terdiam. Peter tahu jika mantan kekasihnya itu cukup penasaran dengan apa yang ingin dia katakan.
"Aku akan bertunangan sama Riri, adik tirimu. Aku harap kamu bisa hadir."
What? Jadi bocah itu mau tunangan sama Si Playboy ini? Kenapa kesannya terburu-buru?
"Sayang, kenapa diam? Kamu jeolus?" Pria itu tertawa puas.
"Enak aja, gue sama sekali gak cemburu. Gue cuma heran aja kenapa kalian bisa tiba-tiba bertunangan."
"Kamu marah gitu berarti emang gak suka denger aku tunangan sama cewek lain, apalagi cewek itu adalah adik tiri yang kamu benci."
"Gue gak cemburu...!!! Dasar cowok gila..." Usai berteriak-teriak, dia menutup pembicaraan. Nomor asing dari pria tak asing itu pun segera diblokir. Ponselnya dimatikan lalu disimpan di tempat semula.
Cantika kembali berbaring di tempat tidur. Pikirannya masih tertuju pada adik tirinya. Entah kenapa tiba-tiba dia mencemaskan Riri? Meski dia tidak menyukai gadis itu, tapi dia tidak tega jika membiarkannya bersama dengan pria brengs*k seperti Peter.
__ADS_1