TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Menikah.


__ADS_3

Seminggu berlalu. Saat ini di sebuah gedung pernikahan.


Cantika menatap wajahnya di depan cermin. Marah dan sedih berbaur di dadanya. Dalam pikirannya, saat ini ayah dan ibu tiri juga adik tirinya pasti sedang tertawa bahagia karena dia akan segera menikah. Itu artinya beban mereka akan hilang. Cantika merasa terbuang dan tak diinginkan.


Perlahan dia menyeka air matanya, tersenyum sinis menatap bayangannya sendiri. "Berbahagialah Cantika! Lo sebentar lagi akan pergi dari rumah itu. Gak ada lagi orang-orang munafik yang akan mencemari mata Lo." Namun lagi-lagi bulir bening itu terurai. Ingatannya tertuju pada sosok mendiang ibunya. "Aku kangen Mami, aku kangen...."


Anak mana yang tidak akan teringat pada ibunya sendiri di saat akan memulai hidup baru? Terlepas dari terpaksa atau tidaknya melaksanakan pernikahan ini, dia pasti membutuhkan sosok lembut itu.


Sedangkan di ruangan tempat ijab kabul akan digelar, telah duduk sang calon pria. Menundukkan kepalanya selama menunggu kedatangan calon mempelai wanita. Perasaanya kacau tak menentu. Sesekali dia memainkan jemarinya sendiri untuk mengusir rasa gugup. Namun makin lama ketenangannya kian memudar.


Jantungnya memompa begitu cepat, ketika sang pembawa acara memanggil calon pengantinnya untuk hadir. Dia belum berani mengalihkan pandangannya dari bawah.


Sedangkan sang mempelai wanita saat ini berjalan pelan didampingi Bu Sofi dan Riri. Wajahnya terlihat agak masam. Bahkan sebagian tamu berbisik-bisik mengenai ini.


"Baru kali ini saya lihat mempelai wanita berwajah jutek."


"Cantik sekali, sayangnya judessss."


"Jangan-jangan dia terpaksa dengan pernikahannya."


Bu Sofi yang tidak sengaja mendengar, merasa tidak enak hati. Dia tidak suka jika ada yang menjelek-jelekkan putri sambungnya.


"Cantika, senyumlah sedikit! Para tamu barusan membicarakan kamu." Bisik ibu peri.


"Gue gak peduli!" jawabnya ketus.


Sementara adik tirinya hanya terdiam, percuma jika dia ikut bicara. Pasti Cantika tidak akan pernah mau mendengarkan.


"Selamat, rencana kalian sukses besar. Gak ada lagi yang merepotkan kalian." Tersenyum sinis.


Bu Sofi dan anaknya tak dapat berkata lagi karena tugas mereka mengantar sang pengantin wanita, telah usai. Keduanya diam di belakang pengantin.


Cantika duduk di sebelah calon suaminya. Anas perlahan menoleh sekilas, hatinya berdesir saat menangkap sosok indah yang ada di sebelahnya. Walau dilihat sedikit dari samping, tapi sangat jelas jika pengantinnya begitu mempesona. Debaran itu pun kian menguat, seolah ingin mendobrak dadanya.


Rangkaian acara terus berlanjut. Kini saatnya Anas memegang tangan penghulu untuk mengucap ijab kabul. Pria itu menutup matanya sejenak sambil mengambil nafas, sebelum bersuara. Bismillahirrahmanirrahim..... Dalam satu tarikan nafas, sang pengantin pria berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Para saksi serempak mengatakan SAH. Kedua insan beda latar belakang dan karakter itu pun telah resmi menjadi pasangan suami-istri, baik di mata agama maupun negara.


Cantika menitikkan air mata, bukan haru! Itu adalah ungkapan rasa sedihnya. Saat ini tak ada sosok ibu yang mampu menenangkan hatinya. Ragu, kenapa mulai menghantuinya? Benarkah keputusannya untuk menerima perjodohan ini? Kenapa dia terlalu terburu-buru mengambil langkah? Tapi, bukankah percuma saja semua disesali? Dia sudah resmi jadi istri pria asing itu.


Pak Permana menepuk pundak putrinya sambil berbisik. "Ika, pegang tangan suamimu!" Cantika menoleh sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. Dengan ragu, dia meraih tangan itu dan mengec*pnya.


Untuk ke sekian kalinya, hati Anas berdesir. Dengan gemetaran dia memegang kepala Cantika dan meng*c*p keningnya. Dadanya makin bergejolak. Matanya tak dapat berkedip dan berpaling dari perempuan yang sudah halal untuknya itu.


Ika memalingkan wajahnya karena tidak nyaman dipandang seperti itu. "Lo gak pernah liat cewek cakep selama ini ? Jangan liatin gue kayak gitu !" berkata pelan.

__ADS_1


Anas sedikit menyunggingkan senyum, Aku baru saja melihatnya! Bidadari yang sangat cantik, tapi sayangnya sombong!


Sepasang pengantin sungkem pada Pak Permana dan Bu Sofi. Kedua orang tua itu menangis haru saat memeluk putri mereka.


"Nak, Mama harap pernikahan kalian bahagia." Ucap Bu Sofi di telinga anak tirinya.


"Lo gak usah pura-pura baik lagi ! Gue enek liatnya." Berbisik.


Deg ! Hati wanita paruh baya itu serasa teriris. Sampai kapan anak sambungnya akan berpikiran buruk ? Padahal dirinya tulus menyayangi Cantika.


Riri menc**m tangan kakak tirinya. "Kak, selamat ! Semoga kakak selalu bahagia."


Ika memasang wajah ketus, "Gak cape apa ? Lo sama ibu peri gak ada bedanya. Pinter akting!"


Riri menundukkan wajahnya. Sudah terlalu sering dia dan ibunya mendapat perkataan buruk dari Cantika. Namun, dia tidak mau membalas. Biarkan saja Tuhan yang akan menegur Cantika agar kembali ke jalan yang benar.


Pak Permana memeluk menantunya, "Terima kasih, Nas. Kamu sudah mau memenuhi permintaan saya. Saya titip Cantika, bimbinglah dan bahagiakanlah dia! Banyaklah bersabar saat mendidiknya!"


"Saya akan usahakan, Pak!" ucap Anas.


Pak Permana tersenyum sambil mengangguk. Dia yakin jika menantu laki-lakinya itu dapat bertanggung jawab.


***


Jantung keduanya berdebaran ketika adegan saling peluk dan saling pandang. Mendadak tubuh mereka seolah membeku. Wajah mereka begitu dekat. Bahkan, dapat merasakan hembusan nafas dan detak jantung masing-masing.


Anas baru pertama kali bersentuhan seakrab ini dengan seorang wanita. Wajar jika saat ini tangannya yang melingkar di pinggang ramping istrinya, begitu gemetaran. Apalagi ketika tangan halus Cantika memegang tengkuk dan dadanya, hampir saja Anas pingsan.


Cantika sama-sama gugup dan berdebar-debar. Meski dia sudah pernah berpelukan dengan seorang pria, tapi kali ini rasanya lain. Lebih grogi dan aneh.


Waktu berputar dengan semestinya. Selesai acara, pengantin diboyong ke sebuah hotel. Saat ini mereka sudah ada di salah satu kamar. Cantika segera rebahan di kasur begitu masuk ke sana. Sedangkan Anas, membereskan barang-barang lalu masuk ke kamar mandi.


Selang lima belas menit, pria itu keluar. Bergegas ke ruang ganti untuk berpakaian. Kemudian menghampiri Cantika yang tengah duduk di sofa sambil menenggak minuman.


Anas mengambil botol di atas meja dan membauinya. "Kamu minum air haram ini?"


Perempuan itu memandangnya tak peduli, "Bukan urusan lo, siniin minuman gue!"


"Tidak akan!" membawa botol itu ke dalam kamar mandi.


Cantika menyusul dengan murka, "Lo mau kemanain minuman itu? Balikin!"


Anas tak menggubris. Dia segera menumpahkan air itu dan membuang botolnya ke tempat sampah.

__ADS_1


Cantika menganga lalu menatap pria itu dengan tajam. "Kenapa Lo buang minuman itu? Udah gue bilang kalo ini bukan urusan Lo, jangan ikut campur!" teriak-teriak.


"Saya sekarang sudah sah jadi suamimu. Saya jelas harus ikut campur dalam segala hal. Kamu adalah tanggung jawab saya di dunia dan akhirat." Menatap tak kalah tajam.


Perempuan itu pergi dengan amarah yang masih meletup-letup. "So alim Lo !" menggerutu sambil melangkah pergi.


Anas menyusul istrinya yang hendak keluar dari kamar. Takut wanita itu pergi dalam keadaan tidak stabil.


"Jangan pergi! Ini sudah malam." Berdiri menghalangi di balik pintu.


"Minggir, gue mau keluar! Bete gue di sini. Lo itu ternyata gak jauh beda sama Papi. Selalu ngatur-ngatur, tahu gini gue gak bakalan mau nikah sama Lo !" Tadinya dia pikir seorang Anas hanyalah pria biasa yang lemah. Dia tentu dengan mudah mengendalikannya. Namun dugaannya salah, pria itu adalah pria yang tidak bisa diajak kompromi.


"Saya akan mengikatmu di kamar ini jika terus membangkang!" Itu hanyalah gertakan saja.


Cantika tertawa sambil berkacak pinggang, "Gue gak takut...."


"Saya serius. Setelah kamu terikat dan tak bisa kemana-mana, saya akan melakukan sesuatu yang memang sudah jadi kewajiban sebagai seorang suami." Terus melangkah ke depan hingga perempuan itu mundur untuk menghindar. "Lo mau ngapain, jangan macem-macem?!" mulai panik. Anas terus maju dengan senyum seringainya, "Saya akan memberikan nafkah batin untukmu!"


Cowok gila! Dia tidak sepolos yang gue pikir.


Ika terus mundur ke belakang dengan gemetaran. Setelah mendengar perkataan itu, nyalinya menciut. Dia sama sekali tidak menginginkan diberi nafkah batin oleh suaminya. Bagaimana pun juga, pernikahan itu hanyalah status baginya.


"Ok, gue gak bakal kemana-mana. Tapi Lo jangan macem-macem!"


"Benarkah?" masih terus melangkah.


"Janji, gue sumpah gak akan kabur. Tapi Lo jangan berani nyentuh gue tanpa ijin!"


Anas menghentikan langkahnya. Menatap gadis itu. "Baiklah, saya akan lepaskan kamu. Tapi jika kamu berani membantah lagi maka saya benar-benar akan meminta hak sebagai seorang suami!"


Cantika merinding mendengar perkataan pria itu. Kenapa mendadak suaminya terlihat menyeramkan? "Ok, gue bakal nurut. Sekarang jauh-jauh sana, gue mau tidur!" cepat-cepat naik ke atas kasur lalu menyelimuti dirinya sendiri hingga hanya rambutnya saja yang terlihat.


Anas tersenyum geli. Ternyata triknya berhasil. Dia sudah tahu apa kelemahan Cantika. Itu mungkin akan dia jadikan senjata saat membimbing istrinya itu.


"Kamu belum mandi dan ganti baju. Kamu juga belum makan." Ucap Anas masih berdiri menatap perempuan itu.


"Gak perlu. Gue ngantuk, jangan ganggu!" suara di balik selimut.


"Baik, saya juga mau istirahat. Selamat malam!" Pergi ke sofa dan membereskan gelas bekas minuman istrinya. Baru setelah itu, dia merebahkan tubuh.


Cantika mengusap dadanya. Lega rasanya mengetahui pria itu tidur di tempat lain. Setidaknya dia masih aman. Tapi gimana kalo dia tiba-tiba cari kesempatan saat gue tidur?


Tidak, Cantika tidak boleh terlelap! Dia jangan sampai lengah. Tunggu sampai Anas benar-benar sudah tidur pulas. Mungkin dia bisa melarikan diri dalam sekejap hanya untuk menghirup udara segar malam ini. Tapi rupanya, malah dia duluan yang pergi ke alam mimpi. Mungkin tubuhnya sudah lelah dan ingin istirahat.

__ADS_1


__ADS_2