
Pagi buta Anas sudah berkutat di dapur, menyiapkan bahan masakan untuk jualan. Setelah itu, dia beres-beres rumah. Mencuci piring dan baju-baju yang kotor.
Cantika hendak membantunya dengan mengambil sapu untuk membersihkan lantai, tapi Anas melarang.
"Kamu temani saja anak kita, aku bisa melakukan semuanya sendiri. Kamu tahu kan bahwa aku biasa beres-beres." Ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi kamu nanti pasti cape, Mas. Lagian Afkar masih bobo."
Anas mengambil sapu itu dari pegangan istrinya. "Kamu itu tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat. Aku takut kamu turun bero."
"Turun bero apa?" kedua alisnya saling bertautan.
"Nanti rahimmu turun, pernah dengar prolaps uteri?"
Cantika menggeleng cepat. Mana tahu dia soal begituan. Tapi kenapa suaminya itu punya pengetahuan tentang hal tersebut?
"Intinya kamu jangan melakukan apalagi membawa yang berat-berat. Aku tidak mau rahimmu, atau tubuhmu bagian manapun kenapa-napa. Sekarang masuk lagi ke kamar, istirahat. Biar aku yang handle semua." Cerocosnya tanpa jeda penuh kekhawatiran.
"Iya, Mas." Cantika menuruti perintah suaminya. Ia masuk ke kamar sebelah ruang tamu. Sekarang di ruangan itulah tempatnya tidur, agar tidak bolak-balik naik-turun tangga. Seperti kata Mas Anas, takut turun bero!
Saat Anas menjemur pakaian, Cantika melangkah ke teras rumah. Ada beberapa pembeli yang sudah menunggu.
"Nasi kuningnya tiga bungkus, komplit gak pake sambel."
"Saya dua bungkus aja, sambelnya yang banyak pake telor sama bihun."
"Bentar ya ibu-ibu." Cantika dengan ramahnya melayani mereka tidak seperti sebelum-sebelumnya. Itu karena para pembeli itu bersikap sopan dan tidak nyinyir apalagi kecentilan. Hey, Cantika juga manusia. Dia akan baik pada yang bersikap baik. Salah satu prinsipnya adalah, Anda sopan saya segan! Itu pun jika moodnya sedang bagus.
Cantika kembali ke dalam kamar setelah selesai melayani pembeli. Tadinya ingin menyodokkan makanan ke dalam piring, tapi keburu anaknya menangis.
Tangannya bergerak mengambil sang anak dari box bayi. Afkar segera diberi ASI.
Anas muncul lalu duduk di sebelah istrinya, di tepi ranjang.
"Sayang, kamu sudah laper?"
"Sedikit, Mas."
"Mau makan apa? Mau aku belikan sesuatu? Mungkin kamu bosen makan nasi kuning?"
"Gak usah beli apa-apa. Aku mau nasi kuning aja. Lauknya pake ayam, telor, bihun sama tempe. Pake sambel dikit."
Waduh, katanya lapar sedikit tapi maunya makan yang banyak. Dasar Cantika..... Tapi itu mungkin pengaruh dari proses pemberian ASI eksklusif. Seberapa besar pun makanan yang masuk, pasti akan disedot sama dede bayi.
Anas beranjak untuk mengambil makanan lalu kembali ke tempat semula. Tangannya memegang sendok bersiap menyuapi istrinya.
"Aaaa..." Pria itu membuka mulutnya lebar-lebar padahal yang akan makan adalah istrinya.
Seperti anak kecil yang penurut, Cantika melakukan permintaan suaminya. Buat apa juga menolak, toh dia memang sudah lapar.
Sementara sang anak masih betah mengambil sari-sari makanan melalui daging kenyal ibunya. Cantika sedang isi ulang, langsung disedot oleh si kecil Afkar.
Anas menjeda gerakannya karena ada beberapa pembeli yang datang. Secepat kilat dia kembali setelah selesai melayani mereka. Berniat melanjutkan menyuapi sang istri, tapi ternyata piring itu sudah ludes.
Wooow, Anas kagum sekaligus heran karena Cantika sanggup menghabiskan sepiring penuh makanan itu. Padahal biasanya harus dihabiskan berdua dengannya. Tapi tak apalah, dia mengerti jika ibu menyusui harus banyak mengkonsumsi makanan.
__ADS_1
Dan lihatlah saat ini, tubuh istrinya terlihat makin berisi dan montok. Apalagi di bagian yang disedot Afkar, membuat pikiran Anas melenceng jika menatapnya terlalu dalam.
Pria yang bewoknya terlihat agak tipis itu pun memilih untuk ke dapur. Jangan sampai pikiran kotornya merasuki. Lebih baik minum yang banyak untuk menetralisir racun dalam otaknya.
**
Anas duduk di bangku teras rumah ketika dua orang mendekat. Dia tersenyum, bangkit saat tahu siapa yang datang.
"Mas Anas." Seorang pria memeluknya erat sambil terisak-isak.
"Ardan, akhirnya kita bertemu setelah sekian lama. Mas kangen sama kamu." Anas gemetaran saat bicara karena menahan tangisnya. Akan tetapi matanya tak dapat berbohong, bulir bening itu lolos ke wajahnya.
"Aku bahagia dengar kabar bahwa Mas masih hidup."
Pelukan pun terurai.
"Mari kita masuk!" Ajak Anas pada sepasang suami-istri itu.
Ardan beserta istrinya duduk di ruang tamu, Anas membawa minuman dan banyak makanan untuk mereka.
"Mas, kami bukan tamu. Jangan repot-repot begitu!" ucap wanita yang baru saja bersuara itu, dengan sopan.
"Tidak apa-apa, Mas tidak merasa direpotkan."
Cantika yang ketiduran ketika menunggu bayinya, kini mendadak bangun setelah mendengar suara seorang wanita asing di rumahnya. Spontan dia bangkit dan melangkah ke ruang tamu.
Ohh, tidak bisa. Dia tidak akan membiarkan ada hama lagi dalam rumah tangganya! Dasar suudzan! Padahal wanita yang dia pikir hama adalah adik ipar suaminya, adik iparnya juga bukan?!
Wajah yang kusut karena murka pun seketika menghilang saat melihat tamu itu ternyata bukan hanya seorang perempuan.
Ohhhh, kayaknya itu istrinya Ardan.
"Ba-baik." Aneh, itulah kesan pertama adik ipar pada istri Anas. Agak berlebihan tapi kayaknya baik sih, istrinya Mas Anas ini.
Cantika ikut duduk di sebelah suaminya, berhadapan dengan pasangan adik ipar.
"Ardan, apa kabar? Apa ini istrimu? Cantik dan manis. Serasi sekali." Cantika mengatakannya dengan jujur.
"Alhamdulillah, baik. Kenalkan Mbak, ini istri saya. Namanya Kannaya, panggil saja Naya." Ardan tersenyum ramah. "Nay, ini Mbak Cantika. Istrinya Mas Anas."
Kedua wanita itu saling lempar senyum sambil mengangguk. Tidak usah lagi berjabatan tangan karena tadi sudah saling berpelukan seperti dua Teletubbies yang imut.
**
Usai makan malam bersama, semua orang yang ada di rumah Anas kini tengah mengobrol santai di ruang tamu. Ardan menggendong keponakannya sambil berceloteh mengajak main meskipun bayi itu tidak mungkin mengerti. Kannaya memperhatikan tingkah suaminya itu. Diam-diam hatinya sedikit teriris saat mengingat calon anaknya yang tiada saat masih dalam kandungan. Andai wanita itu tidak mengalami keguguran, pasti saat ini bayinya sudah sebesar Afkar.
Mas Ardan emang suka banget sama anak-anak. Pasti dia sangat menginginkan untuk segera punya anak sendiri. Semoga aja aku cepat hamil lagi.
"Mas, aku juga mau gendong dede bayi. Sini....!" Pinta Kannaya.
Cantika dan Anas hanya tersenyum. Bahagia karena banyak yang menyayangi Afkar.
**
Ardan dan Kannaya hanya tinggal selama beberapa hari saja di rumah Anas. Pagi ini mereka berangkat ke Bandara diantar oleh sopir Pak Permana. Seluruh keluarga pun ikut menyertai, termasuk orangtua dan adik tiri Cantika.
__ADS_1
Usai peluk dan ucap perpisahan yang berat, akhirnya Ardan beserta istrinya pun pamit. Sebentar lagi pesawat mereka akan meluncur.
Rombongan keluarga pun meninggalkan Bandara dan masuk ke dalam mobil. Cantika dan Anas ikut pulang ke rumah Pak Permana, sekedar mampir.
Dalam perjalanan.
Riri duduk di kursi belakang. Di depannya ada sang mama dan ayah tirinya. Gadis itu menghela napasnya dalam-dalam sebelum berbicara. Sebenarnya sudah jauh-jauh hari ingin membahas sesuatu, tapi baru bisa punya kesempatan dan keberanian saat ini.
"Papi, boleh aku minta sopir pribadi?" tanyanya ragu.
"Selama ini kan emang ada sopir?" Pak Permana keheranan.
"Maksudku, sopir khusus untukku. Sekalian jadiin bodyguard biar aku ada yang jagain kalo pergi kemana-mana. Aku ini kan cewek. Takut ada yang jahatin kayak waktu itu. Aku dijambret untung aja ditolongin sama Mas Fabian."
"Siapa dia?" Mama Sofi penasaran.
"Fabian yang nolongin Anas kabur dari si Peter bukan?" Pak Permana meminta kepastian.
"Iya, Pih. Dia orangnya baik banget."
"Kenapa kamu mau dia jadi bodyguard?" Bu Sofi terlihat agak kurang nyaman.
"Mas Fabian sedang nyari kerjaan. Kasihan.... Lagian aku juga emang butuh sopir pribadi sekaligus yang bisa jagain aku."
"Baiklah, Papi setuju saja. Dia sudah menolong Anas, sudah sewajarnya jika kita menolong dia di saat kesusahan."
"Tapi, Mas.... Tetap saja dia itu orang asing. Mama memang menghargai kebaikannya, tapi kita tetap harus hati-hati!" Ada gurat kecemasan yang nampak pada wajah wanita yang sudah keriput itu.
"Ma, Mas Fabian itu beneran orang baik." Riri tak mau ibunya memandang buruk pada pria yang dia sukai.
"Sudahlah, Papi rasa Riri benar. Mama saja yang terlalu khawatir." Bela Pak Permana.
"Tapi kamu jangan terlalu dekat dengannya. Harus hati-hati!" Dan jangan sembarangan memberikan hati!
Bu Sofi memang selalu cemas jika Riri berurusan dengan laki-laki, semenjak pertunangan dengan Peter gagal. Intinya wanita itu tidak mau melihat anaknya kembali terluka. Dan saat ini dia bisa menebak jika Riri tengah dilanda demam asmara. Instingnya begitu tajam sebagai seorang ibu.
"Iya, Ma.... Riri tahu." Lain di mulut lain di hati. Justru tujuan menjadikan Fabian sebagai sopir pribadinya adalah agar mereka menjadi lebih akrab. Sangat bertentangan dengan petuah dari sang mama.
Sedangkan di mobil lain.
Cantika dan Anas duduk di kursi belakang. Kemudi ada di bawah kendali sang sopir.
"Kasihan banget ya Mas, istrinya Ardan. Belum bisa punya anak karena waktu itu keguguran. Aku bisa bayangin gimana perasaannya."
"Itu sudah takdir, semoga saja mereka segera diberi kepercayaan lagi untuk mempunyai keturunan." Ucap Anas yang sedari tadi memangku anaknya.
"Alhamdulillah kita dikasih anaknya cepat. Sayangnya waktu itu aku harus sendirian melewati masa-masa ngidam dan melahirkan."
Bila teringat hal paling pahit itu, mata Cantika selalu mengembun. Anas pun tak jauh beda. Hanya saja selain sedih, dia pun merasa begitu bersalah karena tidak bisa menemani istrinya itu.
"Maaf." Anas hanya mengucap satu kata tersebut dengan lirih.
Cantika mengusap pipinya dengan lembut seraya tersenyum. "Bukan salahmu."
"Semoga saja aku bisa diberi kesempatan untuk menebusnya nanti jika kamu sudah hamil lagi."
__ADS_1
"Heh? Iya, mungkin saja. Kita liat aja nanti!" nyengir tapi pikirannya agak terganggu. Bukan karena tidak mau, tapi belum siap untuk saat ini jika harus kembali punya anak. Kasihan si kecil Afkar jika harus terabaikan jika punya adik.
Tapi sepertinya Cantika tidak perlu cemas. Saat ini rahimnya ditanam alat pencegah kehamilan oleh Dokter pasca melahirkan waktu itu. Jadi masih aman.