TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Miss understanding.


__ADS_3

Siang itu usai sholat dan makan, Anas menggusur istrinya ke tempat tidur. Mereka cekikikan bersama layaknya para bocah yang tengah asik bermain. Cantika tertawa geli saat tubuhnya dikelitiki jari suaminya.


"Mas, geli...ampunnn."


"Minta ampun yang benar, baru aku lepaskan." Gerakan tangannya masih belum berhenti meski istrinya sudah seperti cacing kepanasan.


"Ampun sayangggg."


"Belum benar!"


"Hahaha, geli...Mas ampun. Nanti aku kasih hadiah kalo Mas berhenti kelitikin aku."


Tangannya refleks berhenti setelah mendengar itu. "Hem, hadiah apa?" Senyum menyeringai yang begitu nakal. Dia meng*k*ng wanita itu dengan membuat pagar di sisi kiri dan kanannya menggunakan tangan.


Dada Cantika masih naik turun bekas tadi tertawa lama, ditambah sikap suaminya yang terkesan memancing. Dengan senyum s*xy-nya, dia berusaha balas merayu pria itu. Sengaja menggigit bibir bawahnya sendiri untuk lebih membangkitkan sesuatu dari dalam diri suaminya.


"Sayang, jangan lakukan apapun. Kamu diam saja sudah sangat menarik, apalagi jika bersikap mengg*da seperti itu." Anas menghapus jarak wajah mereka. Bahkan b*b*r mereka saling bersentuhan ketika berbicara. Cantika dibuatnya terpejam dan lebih ngos-ngosan.


Dalam sekejap kedua belahan yang dapat mengeluarkan suara itu pun beradu. Saling menyentuh, mengecap dan menggelitik.


Di siang bolong itu kedua insan malah asik main perang-perangan. Cuaca panas sama sekali tak jadi soal. Mereka begitu larut dalam dunia indah yang membuat melayang.


Anas telentang di samping istrinya ketika aksi asik itu berakhir. Dia tersenyum lebar seiring perasaannya yang bahagia.


"Makasih sayang, aku mencintaimu." Ucapnya dengan sedikit tersengal sambil mem*luk dan meng*c*p kening wanita di sampingnya.


Cantika membalas pelukannya. Menempelkan tub*h mereka yang sama-sama dipenuhi peluh ken*km*tan. "Sama-sama, sayang. Aku juga cinta.....banget sama kamu."


Keduanya terlelap dalam waktu kurang lebih setengah jam, untuk merehatkan tubuh yang lelah.


***


"Indah banget ya jadi pengantin baru, segalanya barengan. Makan bareng, tidur bareng bahkan mandi pun bareng. Dan sekarang ganti baju pun bareng. Tahu enak gini, dari dulu aja aku nikah." Celoteh Cantika sembari menyisir rambut basahnya.


"Nikah sama Peter?" tanya pria yang berdiri di sebelahnya.


Wanita itu menoleh, "Ya gak tahu juga. Mas kenapa malah nyebut namanya sih? Aku gak suka denger nama Si Playboy itu disebut." Monyong lima senti.


"Kenapa malah kamu yang sewot? Apa jangan-jangan kamu sebenarnya masih suka sama dia? Benci itu kadang datang setelah cinta yang terlalu besar."


Cantika mencebik kesal, dia nyerocos sambil menyisir rambut lagi. "Aku udah gak suka sama dia, Mas. Jangan bahas lagi! Gak penting amat."


Anas memeluknya dari belakang. Pria itu menyandarkan dagu berbulunya di curuk leher si cantik. "Aku tahu, aku percaya sama kamu." Usai bicara dia meng*c*p telinga dan leher jenjang milik wanita itu, membuat bulu kuduk meremang.


Dia memutar pinggang ramping Cantika agar berhadapan dengannya. Tersenyum manis menatap wajah merah merona yang tertunduk itu.


"Cantika, kenapa tiap hari kamu terlihat makin cantik dan menggemaskan?" Sebelah tangannya mengusap rambut basah itu, sedangkan sebelah lagi memegang dagu lancip istrinya agar mau bersitatap.


"Gombal ahh." Wanita itu tersipu malu.


"I love you...." Bisik pria itu sambil menempelkan kening mereka. Tangannya melingkar di pinggang dengan kokoh.


"Love you too..." Ucap Cantika sambil tersenyum.


Dan kali ini lagi-lagi bibir itu saling bertabrakan dengan indah. Tangan Anas berpindah ke tengkuk istrinya, mencengkramnya seolah takut pagutan itu terlepas. Sebelah tangan yang lain merayap kemana-mana.


Cantika tanpa sadar, menjatuhkan sisir yang dia pegang. Menempelkan kedua tangannya di pinggang Anas. Menikmati setiap s*nt*han manis itu untuk ke sekian kalinya.

__ADS_1


Keduanya memang sudah sama-sama kecanduan pada hal itu, seperti tak pernah lelah apalagi bosan.


Setelah aktivitas asik itu semakin dalam dan membahayakan, tiba-tiba terdengar suara pria dari luar rumah. Terrrrpaksa, mereka harus menghentikan permainan.


Anas merapikan kemeja dan rambutnya lalu bergegas menemui tamu. Tak jauh beda, Cantika pun menutup resleting bajunya yang terdapat di bagian d*d*. Dia juga menyisir rambutnya yang acak-acakan. Perempuan itu melangkah karena penasaran dengan tamu yang datang.


Terlihat Anas berdiri di ambang pintu. Pria itu tengah mengobrol serius dengan tamunya. Tak lama berselang, Anas masuk lagi ke rumah karena tamu itu pun telah pergi.


"Siapa Mas, kenapa gak diajak ke rumah?"


"Itu Pak Yoga, ayahnya Mira. Beliau menyuruhku ke rumahnya untuk menemui Mira. Katanya..." Tak melanjutkan perkataan karena dipotong oleh cerocosan istrinya.


"Kenapa Bapak itu nyuruh kamu temui Mira? Dasar gak punya sopan santun dan perasaan. Dia pasti tahu kalo kamu udah punya istri, tapi kenapa masih mau jodoh-jodohin kamu sama anaknya?" Tak dapat menahan amarah.


"Cantika, tenanglah. Dengar dulu, Pak Yoga minta aku ke rumah untuk men..." Lagi-lagi perkataannya terpotong.


"Kamu diem aja di rumah. Biar aku yang temui cewek itu. Aku bakal kasih dia pelajaran."


Cantika bergegas melangkah meskipun sebenarnya dia tidak tahu dimana rumah Mira. Yang penting maju dulu, nanti bisa tanya-tanya soal lokasinya, setelah itu langsung labrak! Begitulah yang ada di otak wanita itu.


Anas tak tinggal diam, dia berdiri di hadapan istrinya sambil memegang kedua pundak. "Sayang, Mira sedang sakit keras. Pak Yoga memberi tahu ini karena aku adalah salah satu temannya. Dia meminta kita menjenguk Mira. Sudah seminggu ini dia tidak mau makan ataupun keluar rumah. Pak Yoga berharap kita bisa membujuk Mira."


"Kita? Mas aja kali...gak mungkin aku juga diajak."


"Sama saja, aku dan kamu sudah jadi satu. Mengerti?"


Cantika tersenyum malu-malu. Aku dan kamu satu. Ahhh so sweet...


Wanita itu memang kadang suka bersikap konyol seperti anak-anak. Harus diberi pujian agar hatinya luluh. Tapi percayalah, bahwa apa yang Anas katakan adalah sebuah ketulusan.


***


Pria yang sudah beruban banyak itu, mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk. Sepasang suami-istri kini tengah berdampingan, menatap pada si empunya rumah.


"Bagaimana keadaan Mira? Sebenarnya sakit apa, sudah dibawa ke Dokter belum?" tanya Anas seperti tidak sabar ingin segera mendapat jawaban.


Cantika mendelik kesal. Dia tidak suka saat suaminya itu mencemaskan keadaan wanita lain. Khawatir banget sama si Mira, kayak cewek itu bentar lagi mau mati aja. Alahhhh palingan cuma demam biasa, atau gara-gara diet ketat jadi sakit parah. Atau jangan-jangan cewek gatel itu cuma caper aja? Norak amat!


"Mira sudah seminggu ini kerjaannya hanya berdiam diri di kamar. Tidak mau beraktivitas seperti biasanya. Makan pun sama sekali tidak mau." Jelas Pak Yoga.


"Mandi mau gak?" celetuk Ika.


Anas dan Pak Yoga menatapnya heran dengan sekilas. Dalam situasi seperti itu, bagaimana bisa dia bercanda?


"Aku serius nanya, kenapa emang?" Dia benar-benar penasaran.


Pak Yoga kembali berbicara. "Jangankan mandi, Nak. Sepertinya dia bahkan tidak mau beranjak dari tempat tidur dalam jarak sesenti pun."


Ya bener, berarti gak mandi-mandi. Ihhh jorok banget. Pasti badannya bau tuhhh! Cantika bergidikan jijik.


Anas sama sekali tak terpengaruh. Dia saat ini tengah cemas pada teman yang sudah dianggapnya seperti adik itu. Dia tetap diam menunggu Pak Yoga melanjutkan pembicaraan.


"Mira sama sekali tidak mau bertemu saya ataupun ibu dan adiknya. Dia selalu mengunci pintu. Terpaksa kami mendobrak agar bisa melihatnya. Mira juga tidak mau makan walau ibunya membujuk. Saat ada Dokter yang datang, dia berteriak-teriak agar kami mengusir Dokter itu."


"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Anas.


"Saat ini dia masih belum mau meninggalkan kamarnya. Selalu diam di tempat tidur kadang sambil nangis atau marah-marah. Bahkan sesekali, anak itu memanggil-manggil namamu Nas. Makanya Bapak minta supaya kamu kemari untuk menjenguknya. Mungkin Mira sedang ada masalah, apa dia pernah bercerita padamu?" Pak Yoga sebenarnya tidak enak hati pada istrinya Anas. Dia yakin jika perkataannya dapat mengusik Cantika. Tapi ini semua demi putrinya.

__ADS_1


Anas membuntang, sama sekali tak mengerti dan begitu terkejut mendengar penuturan pria itu. Sedangkan wanita di sebelahnya kini sudah memasang wajah murka. Sumpah, gue bakalan tonjok nih orang kalo misalnya dia bukan bapak-bapak yang udah tua!


"Mas Anas...." Mira tiba-tiba saja keluar dari kamar lalu menghambur kepada pria yang ia sebut. Memeluk erat Anas tanpa peduli pada orang-orang di sekitarnya. Dia tak dapat melihat yang lain, entah itu ayah atau ibunya apalagi Cantika. Fokus matanya hanya tertuju pada pria yang ia cintai.


Pak Yoga menghampiri untuk melepaskan anaknya dari si pria yang telah beristri. "Nak, apa yang kamu lakukan?"


Bu Siti yang sedari tadi menunggu anaknya di dalam kamar, kini sudah berdiri di samping Mira. "Mira, jangan seperti ini! Sadarlah...." Air matanya mengalir begitu saja.


Tapi sepertinya hanya suara dan wajah Anas yang mampu masuk dalam segala indera penglihatan dan pendengaran Mira.


"Apa yang Lo lakuin? Lepasin suami gue!" Cantika ikut berdiri untuk memisahkan wanita itu dari suaminya.


Anas pun sekuat tenaga menghempas gadis itu. "Mira, istighfar!" bentaknya.


Namun si gadis berlesung pipi tidak mau mendengar. Dia malah menangis tersedu-sedu. "Mas, aku ingin selalu ada bersamamu. Jangan pergi!"


"Mira...!!!" Suara Anas terdengar sampai ke rumah tetangga sekitar. Hal itu mengundang kerumunan di depan rumah Pak Yoga. Pria itu benar-benar telah murka. Mira sampai terjengkang di atas lantai karena sikapnya. Anas terpaksa harus melakukan cara kasar agar gadis itu tak berbuat semaunya.


Pak Yoga dan istrinya membantu putrinya untuk bangkit. Pria itu bahkan berurai air mata karena melihat Mira yang makin seperti orang tidak waras. Dia juga tak enak hati pada Anas dan istrinya.


"Maafkan Mira, dia pasti melakukan ini dengan tidak sadar." Ucap Pak Yoga sambil menunduk.


Cantika menatap ketiga orang itu dengan tajam, apalagi saat matanya beralih pada si gadis yang masih menangis, darahnya langsung mendidih. "Apa maksud Lo meluk-meluk suami gue? Lo sadar gak sih, Mas Anas itu udah punya istri? Jangan pura-pura bego! Gue kira Lo sakit demam, tahunya stress karena tergila-gila sama suami gue. Dasar ce..."


"Cantika!" Anas membentak keras hingga membuat istrinya langsung bungkam. Cantika begitu shock melihat suaminya melotot dengan mata merah dan dada yang naik turun. Sebegitu marahkah pria itu padanya? Sedih bercampur kecewa dan takut melihat kemurkaan Anas yang baru pertama kali dia saksikan.


Cantika seketika itu juga bercucuran air mata. Dia berlari meninggalkan rumah itu, tak peduli jika suaminya memanggil.


"Pak, kita bawa saja Mira ke kamar lagi. Cepat panggil Dokter untuk memeriksanya!" Bu Siti terlihat begitu panik. Pikirannya begitu kalut hingga tak terlalu memperhatikan ketegangan antara Anas dan istrinya. Yang dia pikirkan hanyalah anaknya yang saat ini sedang meraung-raung makin tak terkendali.


Anas memijit pelipisnya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa akan seperti ini kejadiannya. Dia segera pamit pada Pak Yoga. "Pak, saya harus pulang sekarang. Permisi." Dia buru-buru berlari menyusul istrinya.


"Mas, jangan pergi!!!" Teriak Mira. Kedua orang tuanya memegangi gadis itu agar tak berlari mengejar Anas. Beberapa warga masuk ke rumah itu untuk membantu pemilik rumah menenangkan Mira. Sedangkan warga lain masih anteng menyaksikan tontonan gratis dan seru yang ada di depan mata mereka. Bahkan ada yang sambil berbisik-bisik mengumpat Mira dan keluarganya.


***


Anas terus-menerus menggedor pintu kamar karena istrinya tak kunjung mau membukanya. "Cantika, maafkan aku. Buka pintunya!" Tak ada suara yang menyaut. Wanita itu tengah menangis tersedu-sedu di atas ranjang. Pintu digedor lagi lebih keras. "Buka pintunya, kumohon!"


Anas akhirnya terduduk lesu di balik pintu. Tangannya memegangi kepala sambil menunduk frustasi. Sungguh dia sangat menyesal karena tidak dapat mengontrol diri. Pria itu merasa sangat bersalah. Dia telah begitu jahat karena berani membentak istrinya di depan orang lain. Pantas saja jika Cantika marah dan terluka.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih. "Aku tidak sengaja berbuat kasar. Cantika, maafkan aku. Aku tidak ada niat sedikitpun untuk menyakiti hatimu." Dia terus bicara karena yakin jika istrinya pasti dapat mendengar meski tak mau menjawab. "Aku siap menerima hukuman apapun untuk menebus kesalahanku. Sayang, bicaralah....ku mohon!" Anas kembali lagi berdiri dan mengetuk pintu.


Di dalam sana, Cantika tengah telungkup sambil memeluk bantal yang telah basah oleh air matanya. Hatinya benar-benar terkoyak setelah diperlukan kasar oleh Anas. Suaminya itu benar-benar menakutkan saat sedang murka.


Bukan hanya malu dan kecewa, harga dirinya juga sudah terusik. Pria itu membentaknya di depan Mira. Apakah Anas lebih memilih wanita itu dibanding istrinya sendiri?


Kamu jahat banget Mas. Kamu segitu marahnya saat aku memarahi Mira. Padahal pas aku diganggu Peter, kamu masih bisa tenang. Apa sebenarnya aku ini tidak berarti bagimu?


Anas masih berusaha meluluhkan hatinya. "Sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon buka pintunya, aku ingin memelukmu."


"Dasar suami gak peka...Kenapa mesti nunggu dulu istrinya nangis baru minta maaf?" Akhirnya teriakan pertama pun membludak.


"Maaf, aku memang salah. Aku sangat menyesal."


"Bohong! Sana peluk teman tercinta kamu itu. Gak usah pedulikan aku!"


"Kamu salah paham, sayang. Aku...makanya ijinkan dulu aku masuk. Nanti aku jelaskan semuanya."

__ADS_1


Cantika mengusap air matanya lalu melangkah ke arah pintu. Dia sudah tidak tahan lagi. Egonya harus dikesampingkan demi kelangsungan hidupnya. Ya, Cantika harus segera membuka pintu itu!


__ADS_2