TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Suamiku jadi aneh


__ADS_3

Anas mengusap perut rata milik istrinya yang tengah berbaring di pangkuannya. "Sayang, kenapa kamu gak hamil lagi? Padahal kan aku udah berusaha menanamkan benih selama beberapa bulan ini. Apa tidak ada satupun yang berhasil jadi nyawa?"


"Ya gak mungkin jadi anaklah, kan aku udah dipasang alat pencegah kehamilan."


Anas terbelalak, "Kenapa kamu tidak pernah kasih tahu?"


"Mas gak pernah tanya." Cuek bebek padahal lawan bicaranya sudah agak terpancing.


"Cantika, kapan kamu memasang alat seperti itu?"


"Bukan aku yang pasang, tapi Dokter pas aku udah lahiran."


"Apa? Kenapa, untuk apa? Apa karena kamu saat itu siap-siap mau menikah lagi?"


Cantika bangkit dan menatap tajam pada pria bewok itu. "Maksud Mas apa? Aku juga gak tahu, tiba-tiba aku dipasang alat kayak gitu."


"Pokoknya alat itu harus dikeluarkan dari tubuhmu!" Tumben-tumbenan pria itu mudah marah. Mungkin karena cemburu jika mengingat pernikahan yang hampir saja terjadi antara istrinya dan si pria gila.


"Mas kenapa sih? Mendadak ngambek padahal cuma masalah sepele. Aku bukannya gak mau nurutin Mas. Aku cuma mikirin gimana nasib Afkar. Kalo aku gak pake alat pencegah kehamilan itu, terus aku hamil kan kasihan anak kita. Dia masih kecil, masih harus dikasih ASI juga."


Anas kini bungkam. Bukan masih marah tapi pikirannya kini sedang berusaha menepiskan hal-hal negatif yang akan merusak keharmonisan keluarganya. Mencoba menerima semuanya tanpa ragu dan amarah.


Cantika yang berpikir bahwa suaminya masih ngambek, kini memutuskan untuk tidur saja membelakangi suaminya. Selimut pun dia pakai sampai benar-benar menutup seluruh tubuhnya.


Anas mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa tiba-tiba dia jadi mudah tersulut emosi? Setan apa yang tadi merasukinya? Sepertinya dia harus banyak-banyak istighfar.


Astaghfirullahaladzim.... Harusnya aku tidak marah seperti ini!


Anas ikut berbaring miring menghadap istrinya. Tangannya bergerak membuka selimut yang menutupi kepala Cantika.


"Apaan sih? Jangan sentuh!" Cantika nyolot, tidak mau menampakkan wajah.


"Sayang, maaf...." Tangannya berhasil membuka selimut hingga menampakkan kepala istrinya.


Huuuhhh, maaf? Kalo aku ngambek, baru minta maaf. Kalo nggak, mungkin dia cuek aja.


Anas memeluk Cantika dari belakang. Bibirnya mengecup lembut kepala perempuan yang masih cemberut itu.


"Maafkan aku. Aku janji tidak akan paksa kamu untuk melepas alat itu."


"Mas, aku juga pengen punya anak lagi. Tapi bukan dalam waktu dekat. Mungkin paling cepat setelah Afkar berumur 2 tahun, baru aku akan lepas alat pencegah kehamilan ini." Nada bicaranya masih jutek.


"Iya, maaf. Aku mungkin terlalu maksa dan egois."


"Heeemmmm...."


Anas membalikkan tubuh Cantika agar mau menatapnya. Bibirnya mengabsen setiap inchi wajah jutek perempuan itu. Bukan untuk menggoda ataupun modus, hanya ingin mengekspresikan dan mencurahkan rasa cinta dan kasihnya. Lain halnya dengan yang dipikir dan dirasakan Cantika. Dia merasa bahwa suaminya itu memang sedang berusaha memancing saja, agar hatinya luluh.


Maunya menolak tapi ternyata tubuhnya berreaksi lain. Bagaimanapun juga, bulu bewok itu sudah mengusik sesuatu di dalam sana.


Sial, gak kuat kalo udah kayak gini. Merinding disko! Masa ngambek tapi diem-diem bae pas diono-ini? Gak konsisten.


Anas menempelkan kening mereka yang makin membuat Cantika meremang. Tarikan napas pria itu menyapu lembut wajahnya. "Sayang, aku mencintaimu. Maaf jika sikapku menyebalkan."


Cantika yang sebenarnya tidak terlalu marah itupun, semakin luluh. Cuma karena ego, dia memilih untuk bungkam. Anas yang awalnya tulus pun kini mulai terpengaruh oleh pikiran miring. Bibir tipis yang memanjang itu begitu menantang. Akhirnya dengan perlahan, dia mencicipinya.


Ya ampun, fix gue nyerah!


Cantika membalas kehangatan itu dengan menggebu, membuat suasana jadi panas.


**


Dua tahun pergantian kalender Masehi. Di pagi buta begini, Anas berlari kecil masuk ke kamar mandi. Pria itu memuntahkan semua isi perutnya.


Cantika mengerjap karena terganggu dengan suara muntah-muntah suaminya. Dia pun menghampiri si pria bewok.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa? Apa masuk angin?" tanya Cantika seraya memijat tengkuk suaminya.


"Mungkin." Jawabnya singkat sambil menyandarkan punggung di tembok.


"Wajahmu pucat banget." Memasang ekspresi cemas.


Cantika memapah suaminya menuju ranjang. Menyelimuti pria itu lalu duduk di sebelahnya. Kembali memijit tapi kali ini di area pelipis dan kening.


"Mau aku kerokin?"


Anas menggeleng, "Tidak usah, aku tidak terbiasa dikerok. Rasanya sakit dan tidak nyaman."


"Aku buatin minuman jahe biar perut Mas hangat. Sebentar!"


Cantika beranjak dari sana menuju dapur. Dalam beberapa menit dia sudah kembali. Dengan sigap tangannya membantu Anas untuk duduk. Minuman herbal itupun segera diberikan pada sang suami.


"Mas tidur lagi, istirahat biar cepet sembuh." Mencium kening Anas sambil memeluk. Tangannya yang lain mengusap rambut. Sudah seperti seorang ibu yang tengah mengeloni anaknya.


**


Dua bulan sudah Anas sakit. Tiap pagi muntah-muntah, meriang dan hilang napsu makan. Bahkan selama itu pula istrinya hanya beberapa kali dijamah. Pak Permana sampai mengirim pelayan untuk membantu membereskan rumah dan menjaga Afkar. Dia tidak mau putrinya sampai ikut sakit juga, jika itu terjadi maka siapa yang akan menjaga Anas?


Tapi saat ini Anas sudah kembali pulih. Bahkan tidak ada sisa-sisa bekas orang sakit di wajahnya. Pria itu kembali sumringah dan segar meski tubuhnya kelihatan agak kurusan. Malah istrinya yang terlihat makin montok dan berisi, meskipun lelah menjaga sang suami.


Namun tetap saja ada yang aneh pada diri si pria bewok. Sikapnya kadang agak manja dan menyebalkan. Contohnya hari ini saat makan siang.


"Sayang, kenapa nasinya keras sekali? Kayaknya kurang air." Protesnya.


"Perasaan biasanya segitu. Pas aja menurutku. Gak terlalu keras ataupun kelewat lembek." Jelas Cantika sambil menyuapi anaknya.


"Nanti tambah air lagi kalo masak nasi."


"Iya, Mas."


Esok siangnya.


"Itu udah lembek, Mas." Ucap Cantika sambil mengunyah makanan.


"Besok tambah air lagi."


"Iya." Mulai kesal.


Dan besoknya.....


"Kenapa sih, Mas? Itu udah lembek banget nasinya. Kenapa Mas bilang kurang air?" Giliran Cantika yang protes.


"Masih kurang dikit lagi airnya. Besok harus lebih lembek daripada ini."


Astaga, kenapa gak sekalian aja minta dibikinin bubur? Apa Mas Anas sengaja pengen kerjai aku?


Cantika mendelik kesal pada pria yang acuh itu. Dirinya sudah terbakar emosi tapi suaminya malah datar-datar saja. Meskipun begitu, dia menuruti perintah Anas untuk memasak nasi yang super lembek.


Dan besoknya lagi....


"Nah, ini baru pas." Anas dengan lahap memakan nasi yang sudah seperti bubur itu.


Sedangkan Cantika hanya makan buah dan sop saja. Mana mau dia memakan nasi benyek itu. Menjijikan, kalau bubur itu beda lagi!


**


Anas menatap istrinya lekat. Cantika saat itu tengah memoles wajahnya di cermin.


"Kenapa Mas liatin aku kayak gitu?" tanyanya sambil tersipu-sipu.


"Kamu mau kemana kok malam-malam menor gitu?"

__ADS_1


Cantika yang mulanya tersenyum pun berubah jutek karena melihat ekspresi wajah suaminya yang masam lewat cermin.


"Biasanya kan gini. Kenapa, apa Mas gak suka? Udah bosen sama aku?" Memang sekarang sudah biasa dandan sebelum melayani sang suami. Baru nanti cuci muka sebelum tidur, itupun jika tidak kelelahan atau malas.


"Bukan seperti itu, hanya saja aku risih melihat kamu dandan. Mending gak usah pakai make-up."


Cantika malah sengaja mempertebal riasannya. Keki, BT dan kesal pada suaminya yang kini jadi bawel dan bermulut lemes.


"Astaga, kenapa malah tambah menor? Kamu jadi seperti ondel-ondel." Pekik Anas saat menatap wajah istrinya secara langsung.


Mata Cantika nyaris keluar dari tempatnya. "Apa? Mas bilang aku kayak ondel-ondel? Ok, aku ngerti sekarang kalo Mas emang beneran bosan sama aku. Mulai saat ini kita tidur di kamar terpisah. Aku mending tidur sama Afkar."


Cantika segera angkat kaki dan menutup pintu dengan keras. Anas sampai jantungan karena suara itu.


Cantika terus komat-kamit sambil berjalan menuju kamar bawah. Matanya sudah mengembun. Enak saja Anas berkata seperti tadi. Apa karena kini dia sudah tidak cantik dan langsing lagi seperti dulu?


Sedangkan si Om Bewok kini tengah mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tahu bahwa perkataannya sudah membuat Cantika marah. Ia pun bangkit untuk menyusul sang istri. Tapi terlambat, pintu kamar sudah dikunci.


"Sayang, buka pintunya! Maafkan aku." Anas berkata sambil terus mengetuk pintu.


Cantika tentu saja bungkam. Saat ini tengah menangis sambil berbaring menghadap anaknya yang pulas.


"Sayang, maaf. Mulutku ini memang tidak bisa dijaga."


Dasar aneh. Sembuh dari sakit malah jadi nyebelin. Apa kebanyakan minum obat, dia jadi kayak gitu?


"Cantika, aku gak akan larang kamu tidur sama Afkar. Tapi tolong maafkan aku. Kadang-kadang aku tidak bisa mengontrol diri."


"Bunda......" Si kecil terbangun karena mendengar ayahnya berisik.


Cantika segera mengusap rambut anak itu. "Ini Bunda, sayang. Bobo lagi, ya?!"


"Nggak mau, Bunda gak boleh tidur di sini. Tidur sama ayah saja. Aku mau sendiri, aku sudah besar." Ucap anak yang pintar bicara itu.


Astaga, kenapa anak ini sama-sama nyebelin kayak ayahnya?


"Sayang, tapi Bunda mau bobo sama Afkar. Bunda kangen....."


"Sayang, apa Afkar bangun?" suara dari luar.


"Mas pergi aja, berisik!" Cantika memonyongkan bibirnya.


"Bunda pergi aja sama Ayah. Aku mau bobo lagi." Afkar bersikukuh.


"Malam ini aja, ya?!" memelas.


Afkar menggelengkan kepala. Cantika memutar bola matanya jenuh. Ya ampun anak ini keras kepala sekali. Masa ibunya sendiri diusir. Anak yang aneh!


Terpaksa Cantika turun dari ranjang. "Maaf, Bunda udah ganggu tidurmu." Usai mengecup kening anaknya, dia pun melangkah menuju pintu.


Saat pintu terbuka, nampaklah sosok suaminya yang tengah nyengir onta. Tambah kesal deh perasaan Cantika. Dia kira pria itu sudah kembali ke kamar.


"Kenapa, Afkar mengusirmu?" Anas jelas sekali menahan tawanya.


Cantika makin geram. Tanpa berkata-kata, ia melangkah menuju kamar atas. Anas segera menyusul. Saat di depan pintu, pria itu memeluk istrinya dari belakang.


"Sayang, tolong jangan marah!"


"Ckkkk, Mas yang bikin aku naik darah. Kenapa sekarang Mas jadi nyebelin? Apa jangan-jangan Mas udah punya cewek idaman lain?" tuduhnya tanpa berpikir.


"Tentu saja, tidak. Kamu tetap jadi satu-satunya di hatiku dan hidupku. Maaf jika sikapku membuatmu terluka."


"Minta maaf itu gampang. Tapi apakah kamu benar-benar tulus?"


"Sayang, aku tahu aku salah meskipun tanpa sengaja. Tapi tolong maafkan aku!"

__ADS_1


Gak sengaja apaan? Dasar suami aneh!


Tiba-tiba sesuatu berhasil mencuri perhatian mereka. Keduanya sama-sama bengong setelah merasakan ada pergerakan di dalam perut Cantika meski hanya sesaat. Ada makhluk apakah di dalam sana?


__ADS_2