TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Fakta tersembunyi


__ADS_3

Seorang pria sipit melajukan kendaraannya dengan kecepatan super tinggi. Saat tiba di sebuah villa di sekitar puncak, mobil mewah berwarna silver itu pun berhenti. Seorang satpam dengan sigap membuka pintu gerbang sambil mengangguk hormat. 


"Selamat pagi, Bos."


Tak ada sahutan dari si pria yang berada di dalam mobil. 


"Kayaknya si Bos lagi bad mood. Bawa mobilnya kenceng bener." Gumam si Satpam.


Si pria sipit yang tak lain adalah Peter, kini turun dari mobil. Menutup pintunya dengan keras. Sepertinya perkiraan Satpam itu benar adanya, bahwa saat ini Peter sedang dalam keadaan yang tidak senang.


Peter melangkah terburu-buru dengan tangan terkepal. Dadanya naik turun dan rahangnya mengeras. Matanya merah menyala penuh kilatan amarah.


Pria itu berdiri di depan pintu sebuah ruangan yang dijaga oleh 2 orang pria berotot. 


"Buka pintunya!" Teriak Peter.


"Baik, Bos." Salah seorang pria menuruti perintah atasannya itu.


Peter masuk ke kamar yang lebih cocok disebut sebagai gudang. Mata garangnya tertuju pada pria yang sedang meringkuk miring dalam keadaan terikat. Tanpa basa-basi lagi, dia menendang keras tubuh laki-laki itu.


"Heeemmmm…." Suara si pria yang terikat. Suara itu menunjukkan rasa sakit yang tertahan, sekaligus keinginan untuk berbicara yang terhalang oleh penutup mulut. 


Peter terus menghujaninya dengan tendangan dan pukulan. "Brengsek… Lo udah bikin kesalahan besar." Berteriak-teriak.


Dengan nafas ngos-ngosan, Peter kembali berbicara. Kali ini suaranya lebih pelan. "Gue benci banget sama Lo, cowok miskin. Beraninya Lo bikin cewek gue hamil."


"Bos, apa perlu kita sikat aja biar laki-laki itu musnah dari muka bumi?" Saran salah seorang anak buah Peter. 


"Dia harus tetap hidup biar bisa rasain lebih banyak siksaan dan kesakitan yang emang pantes dia dapat. Ambil kursi!"


Kedua pria berotot itu dengan sigap membawa sebuah kursi dan membersihkannya. Peter pun duduk dengan bersilang kaki. Dia menatap pria yang terkulai lemah di depannya dengan santai sambil menikmati rokok.


"Buka lakbannya biar dia bisa bicara!" Usai berkoar, dia menyesap rokok itu lalu mengepulkan asapnya ke depan.


Salah satu laki-laki bertubuh kekar itu menjalankan perintah Peter lalu kembali berdiri di sebelah bosnya.


"Hey, cowok miskin gak tahu diri. Lo udah bikin Cantika hamil. Itu adalah suatu kesalahan besar. Kira-kira hukuman apa yang cocok buat Lo?"


"Cantika, ha-hamil?" suaranya begitu lemah tapi masih dapat tertangkap oleh telinga Peter. Air matanya tumpah saat itu juga. Perasaannya campur aduk antara senang dan sedih. 


"Hehh, Nanas. Apa perlu gue hukum Lo lewat anak yang ada dalam perut Cantika? Kayaknya anak itu harus dimusnahkan. Gue gak mau ada sedikitpun bagian dari Lo, ada di dalam tubuh Cantika."


"Jangan, tolong jangan sakiti anakku!"


Peter tergelak, "Kasihan banget, Lo sampe nangis dan gak berdaya. Tapi gue seneng lihat Lo mohon-mohon kayak gitu."

__ADS_1


"Peter, ijinkan aku menemui istriku. Aku ingin memastikan sendiri apakah Cantika benar-benar sedang hamil."


"Gak usah, gue akan berbaik hati menggantikan posisi Lo." Tersenyum menyeringai lalu kembali bersuara. "Gue akan jadi ayah dari anak yang ada dalam kandungan Cantika. Gimana, ide itu bagus kan?! Dia emang gak cocok sama Lo, Nanas asem. Gue yang lebih pantes jadi suami Cantika."


"Kamu memang laki-laki gila, Peter. Aku menyesal pernah berpikiran baik tentangmu." Teriak dengan tenaga yang tersisa.


Peter makin terbahak-bahak. "Gue gak peduli. Yang penting gue bisa miliki Cantika kayak dulu."


"Brengsek kamu!!!" Berontak sebisanya. 


Peter beranjak dari duduknya. "Kalian berdua, urus dia jangan sampai kabur. Satu lagi, hajar pria itu hingga pingsan. Ingat, hanya sampai pingsan. Jangan biarkan dia mati dengan mudah. Masih banyak pertunjukan yang harus dia lihat." Usai bicara, pria itu pun pergi.


Dua orang anak buah Peter menghampiri pria yang tak lain adalah Anas. Ya, selama ini si pria bewok memang masih hidup. Kematiannya sengaja direkayasa untuk melancarkan niat Peter yang ingin kembali pada Cantika. Sebenarnya pria yang dikubur itu adalah jenazah orang lain.


Kejadiannya kurang lebih seperti berikut:


Saat Anas dalam perjalanan ke pasar, dia dihadang oleh beberapa pria yang merupakan orang suruhan Peter. Dia dibawa dan disembunyikan ke villa pribadi milik si playboy. Di lain sisi, ada seseorang yang sengaja disiapkan untuk menggantikan posisi Anas sebagai mayat. Orang malang itu adalah salah satu anak buah Peter yang sudah tidak lagi berguna. 


Semua diatur sedemikian rupa agar nampak seperti kecelakaan tunggal dan polisi mengira bahwa jenazah yang mereka temukan adalah Anas. Dan Dokter yang menangani proses autopsi itu sudah bekerja sama dengan Peter agar memberi informasi yang palsu. Dan di tempat gelap itulah kini Anas berada. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia masih hidup di dunia ini.


Peter kembali lagi ke ruangan itu lalu berjongkok di depan rivalnya. "Oh, ya. Ada satu kabar lagi. Ardan ada di rumah Lo. Enaknya gue apain dia?"


Mata Anas terbelalak, "Ardan? Jangan sampai kamu mengganggunya. Dia sama sekali tidak ada urusan apapun denganmu."


"Untuk sementara iya, tapi siapa yang jamin kalo adik Lo juga tertarik sama Cantika?"


"Tapi gue tetap harus waspada. Gue gak mau ada Anas ke-2 yang jadi penghalang hubungan gue sama Cantika." Pria itu berdiri lalu pergi lagi tanpa mengindahkan teriakan Anas.


"Dasar laki-laki tidak waras. Kamu harusnya ada di Rumah Sakit Jiwa."


Tak lama berselang, para pria berotot yang dari tadi berdiri, kini menendang perut dan kaki Anas secara brutal. Terakhir bagian wajah dan dadanya yang diserang hingga tak sadarkan diri. Anas terpejam dalam keadaan babak belur dan berdarah.


Sekarang kedua orang suruhan Peter, mengambil obat untuk diberikan kepada Anas. Tujuannya agar pria itu tidak segera mati seperti perintah bos mereka. Si playboy lebih senang jika Anas hidup menderita daripada mati dengan mudah. Itu akan membuat kepuasannya jadi lebih besar berkali-kali lipat.


**


Esok pagi di rumah kediaman Anas. Ardan tengah berpamitan pada semua orang. Hari ini dia harus segera pulang karena istrinya tiba-tiba mengalami pendarahan yang menyebabkan keguguran.


"Ardan, hati-hati. Aku doakan agar istrimu cepat sembuh." Ucap Cantika.


"Makasih, Mbak." Jawabnya dengan wajah sembab. Baru saja ditinggal oleh sosok kakaknya, kali ini dia pun harus kehilangan calon anak yang masih ada dalam kandungan istrinya.


Pak Permana dan Bu Sofi sengaja mengantarkan Ardan hingga ke Bandara. Sedangkan yang lainnya tetap berada di rumah itu.


Cantika termenung di sofa. Kali ini potret hidup suaminya sudah pergi. Dia tak bisa lagi memandang wajah iparnya untuk meluapkan kerinduan terhadap sosok Anas. Meski posisi suaminya tidak akan pernah tergantikan, tapi ada sedikit rasa lega jika sudah melihat wajah bewokan yang juga dimiliki adik iparnya.

__ADS_1


Riri duduk di sebelah kakak tirinya. "Kak, mau aku pesenin makanan atau apapun yang lagi Kakak pengen?"


Cantika menggeleng pelan. Tatapannya tertuju ke bawah.


"Ok…" Ucap Riri.


"Ri, kasihan Ardan dan istrinya yang harus kehilangan anak mereka. Itu pasti sangat menyakitkan."


"Iya, tapi semua itu udah takdir. Gak mungkin bisa dihindari."


Cantika menganggukan kepala. Dia berbicara tanpa bersuara, "Semua orang punya cerita dan kesedihan masing-masing. Tidak ada satu manusia pun yang hidupnya sempurna. Setiap jiwa pasti akan diuji lewat berbagai masalah. Semoga aja ke depannya, aku bisa lebih baik dari ini."


Riri mengutak-atik ponselnya. Dia membuka salah satu aplikasi belanja online. Matanya berbinar-binar melihat berbagai produk pakaian wanita. Gadis itu memperlihatkan beberapa gambar baju hamil pada Cantika.


"Kak, yang ini lucu warnanya. Pasti bagus kalo Kakak yang pake."


Cantika hanya tersenyum tipis tanpa memberikan komentar.


"Morning everyone…" Mendadak muncul seorang pria yang sama sekali tidak penting.


Cantika tidak sedikitpun menoleh. Lain halnya dengan Riri, dia menatap tajam pria tersebut.


Tanpa tahu malu, si tamu tak sopan itu duduk di hadapan Cantika. "Ika, kamu baik-baik aja? Udah sarapan belum?"


Riri yang angkat suara. "Kak Cantika udah sarapan. Jangan sok perhatian kayak gitu!" Entahlah, makin kesini gadis itu makin berani bersikap jutek. Mungkinkah itu karena rasa bencinya yang makin besar pada Peter?


"Cantika, kita jalan-jalan yuk biar kamu gak jenuh dan kembali ceria." Peter belum mau menyerah.


"Kak Cantika harus banyak istirahat. Jadi tolong jangan ganggu."


Peter menatap gadis itu tajam. "Riri, sialan. Lo malah makin ngelunjak. Untung aja gue gak jadi nikah sama cewek reseh kayak Lo." Perkataan itulah yang akan dia lontarkan jika saja tidak ada Cantika di sana.


 Cantika menutup mulutnya dengan tangan sambil setengah berlari menuju kamar mandi. Riri dapat memprediksi adegan apa selanjutnya yang akan diperankan oleh kakak tirinya itu. Peter tak mau ketinggalan, dia ikut menyusul dan berjalan di belakang mantan tunangannya.


Pintu toilet ditutup oleh Riri saat dia berhasil masuk ke sana. Seperti kemarin, dia dengan tulus memijit tengkuk Cantika saat kakaknya itu muntah-muntah.


"Uwooo…uwooo…"


Suara itu membuat Peter bergidik jijik. Dia sedikit menjauh dari tempatnya berdiri. Baru kali ini dia mendengar langsung suara muntahan khas ibu hamil. "Menjijikan. Apa semua wanita hamil seperti ini?" Bergumam pelan.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka. Muncul Cantika dan Riri. Peter masih berdiri di tempat semula. Dia merasa jijik jika harus berdekatan dengan ibu hamil yang habis muntah-muntah.


"Ika, aku pulang dulu ya?!" Ucap pria bermata sipit. Cantika hanya mengangguk pelan. Dia bahkan tidak meliriknya sedikitpun.


Riri menatapnya tajam, "Ya udah, sana!" Mengibaskan tangan. "Dasar cemen, baru gitu aja kabur." Gerutunya dalam hati.

__ADS_1


Pria sipit itu buru-buru pergi dengan masih bergidikan. Sedangkan Riri saat ini tengah memapah si ibu hamil menuju kamar tidur. Cantika memang harus segera rebahan di kasur untuk beristirahat.


__ADS_2