TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Double Honeymoon


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Semua orang berkumpul di ruang keluarga, kecuali Riri dan Fabian. Pasangan suami-istri yang baru seminggu menikah itu, mengasingkan diri di dalam kamar. Afkar bermain bersama Bibi pelayan.


"Papih punya tiket ke Lombok untuk 4 orang. Rencananya Papi mau berikan pada kalian dan Riri juga suaminya. Pergilah berbulan madu!" ucap Pak Permana.


Cantika melongo sambil mengusap perut buncitnya. "Bulan madu? Itu udah lewat buat aku sama Mas Anas. Papi ada-ada saja."


"Anggap saja ini sebagai liburan untuk kalian. Afkar jangan dibawa, biar sama Papi saja."


"Pergi saja, anggap ini baby moon untuk si kecil. Kalian jangan cemaskan Afkar, kami akan menjaganya dengan baik. Masa tidak percaya?" Bu Sofi menimpali.


"Bukan gitu, sih. Aku gak mau ngerepotin."


"Kalau nggak mau, Papi sedih lho..." Pak Permana sengaja memasang wajah murung.


"Gimana, Mas?" Cantika bertanya pada pria di sebelahnya.


"Kayaknya seru jika kita liburan di sana. Lombok adalah salah satu destinasi wisata yang aku impikan. Pantainya, pemandangannya, makanannya....."


Lho-lho...... Kenapa si pria bewok berubah jadi lebay begitu? Malah sekarang lebih berani mengungkapkan kemauannya, padahal dulu selalu tidak enakan. Apakah ini pengaruh dari hormon papa ngidam?


"Nah, Anas mau pergi tuh. Berarti tiket ini fix untuk kalian dan juga Riri serta suaminya." Ucap Bu Sofi antusias.


"Iya Mah, Pih makasih banyak." Anas berucap dengan bibir melengkung selebar-lebarnya.


Cantika nurut saja karena melihat suaminya begitu semangat. Dia juga memang butuh menyegarkan otak, bukan?!


**


Dua sejoli kini tengah asik beradu patukan di dekat pintu kamar. Hawa keduanya terlalu panas hingga tak memikirkan untuk menutup pintu terlebih dahulu. Sudah terlalu lama mereka menggoyangkan lidah, rasa kebas tak jadi masalah yang penting ASIK.


Ketika derap langkah kaki seseorang terdengar, Riri refleks menghempas kepala Fabian hingga tabrakan dengan tembok.


"Astaga, kenapa kasar begitu?" Pekiknya sambil memegangi belakang kepala.


"Maaf, gak sengaja." Mengusap-usap kepala Fabian.


"Non, maaf. Dipanggil sama Nyonya ke ruang keluarga." Ucap Bibi pelayan.


"Iya, Bi. Kami akan kesana." Aduh, apa Bibi melihatku sedang ci*man?


"Baik, saya permisi." Bibi pun berlalu.


Riri menutupi wajah merahnya dengan kedua tangan. "Malu-maluin. Harusnya tadi tutup dulu pintunya!" Mungkin itu karma karena dirinya pernah memergoki Cantika dan Anas dalam situasi yang sama.


"Oh, jadi kamu mendorongku karena takut kepergok sama Bibi? Kamu tega." Wajah Fabian masih masam.


"Maaf, aku benar-benar gak sengaja."


Cup... cup.... Riri mengabsen semua area wajah suaminya dengan bibir, tentunya agar tidak ngambek lagi.


"Ayo cepat, mereka sudah menunggu kita!" Ajak Riri.


Fabian akhirnya mesem saat tangannya ditarik sang istri menuju ruang keluarga. Seru juga saat pura-pura marah, dia akan mendapatkan reward menggelitik dari perempuan itu.


**


Lombok jam 20.00

__ADS_1


Ini adalah malam pertama kedua pasangan suami-istri berada di sana. Yang satu pengantin baru, satunya lagi pengantin buluk. Mereka bermalam di sebuah villa dekat pantai. Menempati kamar yang bersebelahan.


Cantika dan Anas baru saja berbaring di ranjang. Berbincang santai sambil mengelus-elus perut berisi nyawa itu. Tiba-tiba perhatian keduanya teralihkan pada suara-suara yang begitu mengganggu, dari kamar sebelah. Siapa lagi pelakunya jika bukan pasangan suami-istri yang sedang panas-panasnya itu.


Anas dan Cantika saling tatap dengan kikuk dan wajah merah merona. Sumpah, polusi suara itu makin lama makin jelas terdengar. Suara lenguhan dan rintihan berubah jadi teriakan kecil penuh kehangatan. Membuat yang mendengar ikut gerah.


"Kita tidur saja, anggap tidak ada suara apapun!" Cantika nyengir malu. Kenapa dia ikut tersipu-sipu padahal yang melakukan adegan hot itu adalah Riri dan Fabian?


"Mana bisa begitu? Memangnya kamu tidak terpengaruh mendengar kemesraan mereka?"


Glek....! Tiba-tiba tenggorokan Cantika terasa seret. Dia tahu pasti bahwa suaminya ingin mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh pengantin baru di kamar sebelah.


Anas memegang wajahnya dan menatapnya penuh arti, Ingin!


"Aku tahu kalau kamu juga mau. Jangan sok tegang begitu seperti anak perawan. Tenang saja, aku akan melakukannya dengan super hati-hati."


Dan akhirnya malam itu bukan hanya malam untuk pasangan pengantin baru, tapi juga milik suami-istri yang sudah senior.


**


Pagi hari saat sarapan.


Di ruang makan, kedua pasangan itu duduk manis. Sama-sama sumringah dan semangat. Bahkan begitu kompak saling suap-suapan. Jika dilihat malah seperti sedang adu pamer kemesraan. Tapi sebenarnya tidak, itu hanya murni ekspresi mereka.


Lain halnya dengan seorang wanita paruh baya yang merupakan pelayan di villa itu. Dari tadi dia menatap aneh pada keempat orang tersebut. Kenapa leher semuanya pada merah-merah? Kompak sekali. Sepertinya tadi malam ada pergulatan hebat.


Keterkejutan Bibi tidak hanya sampai di situ. Saat membereskan kamar, dia pun menganga karena kedua ruangan berdekatan itu, sangat berantakan seperti baru saja terkena banjir lokal.


Meskipun orangtua itu dapat mengira-ngira, tetap saja kaget pada kedua pasangan yang hiperaktif itu. Sebenarnya Bibi tidak terlalu mempermasalahkannya, hanya saja ada rasa kikuk dan malu.


**


Si pria bewok memeluk pinggang istrinya yang kini lebar kemana-mana. Perut besar itu diusapnya lembut.


"Sayang, apa kamu bahagia?" tanyanya sambil menyandarkan dagu di ceruk leher Cantika.


"Kamu tanya aku atau anak kita?"


"Kamu aja."


"Ok, aku saat ini sangat-sangat bahagia." Tersenyum lebar.


"Berarti si kecil juga bahagia, jika ibunya bahagia."


"Sepertinya mereka juga merasakan hal yang sama." Tatapan mata ibu hamil itu tertuju pada pasangan yang tengah bermain air.


Mata Anas pun ikut beralih pada Fabian dan Riri. "Iya, aku harap mereka selamanya seperti itu."


Cantika berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Anas.


"Jodoh itu misteri. Kita gak pernah tahu siapa orang yang akan jadi teman hidup. Dulu gak pernah sedikitpun aku menyangka, bahwa aku akan menikah sama laki-laki bewokan kayak kamu. Seleraku itu tadinya sama cowok-cowok ganteng kayak oppa-oppa Korea."


"Pantesan kamu suka sama Peter. Terus kenapa sekarang malah betah sama aku?" Berubah jutek.


"Itu dulu. Tapi setelah kita nikah, seleraku jadi berubah. Aku jadi suka sama cowok bewokan, sederhana dan baik sepertimu."


"Nggak nyesel nikah sama aku?"


"Nyesel sih sebenernya....." Cantika memalingkan muka.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pergi saja ke kamar." Kirain mau pergi ke planet Mars!


Anas hendak melangkah namun segera dicegah. Cantika kini memegang wajah berbulunya.


"Aku nyesel, kenapa gak dari dulu aja aku nikah sama Mas? Aku sangat beruntung punya suami sebaik Mas Anas."


Karena bibir Anas masih monyong, maka Cantika mengecupnya sebentar untuk mengusir setan-setan yang ingin merusak keharmonisan rumah tangganya.


Dan benar saja, pria bewok itu langsung lumer. Keduanya pun duduk di sebuah bangku yang menghadap langsung ke arah pantai. Debur ombak dan hembusan angin yang lembut, membuat suasana makin indah.


Sedangkan Riri dan Fabian sudah tidak ada lagi di sana. Mereka telah kembali ke dalam villa. Langsung masuk ke dalam kamar yang dijamin pasti tidak akan ada yang menggangu aktivitas kesukaan mereka.


**


Matahari sudah pulang, digantikan oleh sinar bulan dan bintang-bintang yang bergelantungan di langit. Pemandangan indah itu tak terlewatkan oleh Cantika dan Anas. Mereka duduk di balkon sambil berpelukan. Tak lupa, susu hangat dan camilan menemani.


Usai video call dengan Afkar dan nenek-kakeknya, mereka kembali berbincang.


"Kayaknya anak itu udah gak rewel lagi. Mungkin sekarang udah bisa menerima kehadiran adiknya." Ucap Anas.


"Sekarang tinggal Mas. Kapan mau berubah kayak dulu lagi?"


"Apa maksudmu? Aku masih seperti yang dulu."


"Tapi Mas sekarang jadi banyak ngambek dan manja. Jadi nyebelin." Cemberut.


"Masa? Itu cuma perasaanmu."


"Ckkkk, terserah." Tak peduli.


"Gini aja, aku minta maaf jika seandainya ngelakuin hal yang kamu tidak suka. Yang jelas, aku gak pernah ada sedikitpun niat untuk membuatmu terluka."


"Hemmm, kita bobo yuk! Aku cape."


Anas memapah istrinya menuju ranjang. Keduanya berbaring saling berpelukan.


"Ahhh.....!" Suara dari kamar sebelah.


Sial, mereka main perang lagi. Kenapa waktunya selalu pas begini? Tahu mereka sedang begituan, aku gak akan ajak Mas Anas tidur.


Anas menggerayang sesukanya. "Sayang.... jangan dulu bobo. Aku mau jenguk si kecil."


"Nggak ah aku lagi males. Cape karena tadi banyak jalan." Cantika membelakangi suaminya.


"Baiklah, biar aku pijit kakimu. Kamu tidur saja duluan!"


Anas dengan telaten, menggerakkan tangannya di sekitar betis istrinya. Sebenarnya kasihan juga pada bumil itu. Tapi suara dari kamar sebelah masih mengintimidasi. Pikiran dan tubuh pria itu pun makin panas.


Cantika yang ingin istirahat malah tak dapat tidur. Suara-suara itu membuatnya kesal sekaligus mau.


"Heyyy, kenapa mijitnya malah ke sana?" Protes bumil saat tangan suaminya pindah ke area pegunungan kembar.


"Sayang, ini bagus katanya untuk mencegah penyakit pada anumu." Berusaha berbicara tenang meski di bawah sana sedang ngamuk ingin keluar dari sarangnya.


"Modus ahhh!"


Anas tak menggubris. Dia tetap melanjutkan aksinya, malah kali ini turun ke area lebih sensitif. Bermain-main di sana dengan lincah sambil sesekali menyerang area wajah istrinya. Mau tidak mau akhirnya Cantika pun mau! Gerakan tangan nakal itu berhasil mengubrak-abrik geloranya.


Dan akhirnya malam kedua di Lombok, kembali jadi malam yang panjang bagi kedua pasutri itu. Memang benar judulnya, double honeymoon! Baik pengantin baru ataupun pengantin senior, sama-sama merasakan indahnya cinta dalam kebersamaan dibalut kehangatan.

__ADS_1


Makasih sudah selalu menyimak sampai sejauh ini. Siap-siap, kita akan bertemu lagi di final episode 🤗


__ADS_2