TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Akhirnya...


__ADS_3

Esok paginya.


Semua orang berkumpul di meja makan untuk sarapan. Pak Permana duduk berdampingan dengan Bu Sofi dan Riri. Di hadapannya ada Cantika dan suaminya.


Anas menyunggingkan senyuman, merasakan kehangatan dalam keluarga istrinya. Namun di sudut hatinya yang lain, ada duka yang kembali menyembul. Ingatannya mundur pada kejadian di masa lalu ketika bersama keluarganya. Pria itu merindukan adik dan mendiang orangtuanya.


Cantika menyentuh punggung tangan suaminya. "Mas, kenapa malah bengong? Makanannya gak enak?"


Anas agak terhenyak, "Aku tidak apa-apa, makanannya enak kok." Dia memasukkan makanan itu ke mulutnya.


Cantika tersenyum tapi dalam hatinya dia merasa jika ada sesuatu pada suaminya. "Mas, apa kamu kangen keluargamu?" bisik perempuan itu.


Anas menoleh, "Iya."


Cantika menggenggam sebelah tangan suaminya. Senyuman dan sorot matanya menunjukkan kepedulian. Meski tanpa kata, Anas mengerti jika istrinya itu tengah memberinya dukungan dan kekuatan. Pria itu mengangguk pelan, seolah memberi tahu jika dia baik-baik saja.


Diam-diam ketiga orang di depan mereka, memperhatikan dengan seksama. Mereka tersenyum melihat kedekatan antara Cantika dan Anas. Ternyata meski dijodohkan, kedua insan itu dapat menjalani pernikahan dengan bahagia.


**


šŸ”„šŸ”„šŸ”„


Jam sepuluh pagi.


Cantika memanjakan tubuhnya di dalam bathup. Sudah lama sekali sejak menikah, dia tidak dapat melakukan hal tersebut. Iyalah, di rumah suaminya tidak ada bak mandi, mana mungkin dia berendam di dalam ember.


Anas saat itu masuk ke dalam sana dengan tergesa-gesa. Setelah mengeluarkan sebagian air kotor dari tubuhnya, dia menghampiri perempuan yang tengah asik berendam.


"Cantika, kenapa tidur di sini?" Anas menggoyangkan pundak istrinya.


Cantika mengerjapkan mata, "Bukan tidur, Mas. Aku terlalu relax ini…Mau gabung?"


Pria itu menautkan kedua alisnya, "Gabung gimana?"


Cantika tersenyum nakal. "Ayo sini ikut mandi. Kita berendam bersama, pasti romantis." Tangannya terulur menanti sambutan tangan suaminya.


"Ada-ada saja. Cepat bereskan ritual mandimu! Bukankah kita akan pulang sekarang?" Anas malah menjauh.


Bibir Cantika sudah maju beberapa mili. "Mas gak asik ahh. Aku malah dicuekin."


"Jangan merayuku, bukankah kamu sedang M? Kalau aku tidak bisa menahan inginĀ itu, bagaimana?"


"Ya, maaf. Aku lupa." Nyengir kuda. Padahal wanita itu terkekeh dalam hati, "Tenang, Mas. Bentar lagi aku kasih surprise."


Anas pun keluar dari kamar mandi. Cantika turun dari bathup menuju ruang berbilas. Dia menyelesaikan kegiatan bersih-bersih badan itu dengan cepat agar suaminya tidak menunggu terlalu lama.


**


Cantika yang hanya mengenakan bathrobe, kini menghampiri suaminya yang sedang menelpon. Pria itu terhenyak karena tangan mulus istrinya melingkar indah di pinggangnya. Anas menoleh sekilas lalu kembali fokus ke benda yang menempel di telinganya.


"Mas sebenarnya kangen banget sama kamu. Kapan kita bisa bertemu?"


Cantika melepas pelukannya. Bibirnya maju beberapa sentimeter. Rupanya wanita itu terusik dengan pembicaraan mesra suaminya dengan seseorang di telpon.


"Sudah dulu ya, Mas tutup telponnya. Nanti kita ngobrol lagi jika kamu tidak sibuk. Jangan lupa istirahat yang cukup, makan harus diperhatikan dan jangan lupa yang lima waktu!"


"…….."

__ADS_1


"Mas tahu, kamu sudah dewasa. Tapi tetap saja kamu seperti anak kecil yang lucu dan menggemaskan bagi Mas. Kamu itu adalah kesayangan Mas."


"……"


Cantika makin kesal. Kini tangannya bersilang di dada. Keberadaannya benar-benar diabaikan gara-gara orang di sebrang sana.


"Baiklah, Assalamualaikum." Ucap Anas. Dia memutus panggilan telpon setelah mendapat jawaban dari ucapan salamnya.


Pria itu memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Cantika menatapnya tajam masih dengan bersidekap.


"Siapa itu? Kayaknya penting banget. Cewek ya? Perasaan kok mesra banget kamu ngomongnya."


Anas nyengir, "Itu telpon dari salah satu orang terpenting di hidupku."


Mata perempuan itu melotot, nyaris saja bola mata kecoklatan itu keluar dari tempatnya. "Telpon dari Mira? Perasaan udah aku blok deh, nomernya. Apa kamu buka lagi blokirannya, atau dia kasih nomer baru?"


"Bukan, ini telpon dari…"


Cantika merogoh saku celana suaminya agar mendapatkan barang yang dia inginkan.


"Cantika, kamu mau apa?"


"Diem, Mas. Aku mau cek HPmu. Hemmm, kita lihat siapa yang barusan telponan sama kamu."


Anas menyugar rambutnya dengan kasar. "Aku tidak bicara dengan perempuan. Jika tidak percaya, telpon saja nomer itu!"


Cantika mengernyit, "Namanya Ardan, apa ini nama samaran? Kamu kasih nama laki-laki padahal nomornya si Mira." Menatap tajam lebih selidik.


"Ardan, kamu ingat nama itu? Aku pernah menyebutnya beberapa kali. Jika kamu memperhatikan, kamu pasti tidak akan lupa siapa Ardan itu."


Cantika memutar-mutar otaknya. Ardan, Ardan….Dia memang tidak asing dengan nama itu. Setelah semenit berlalu….


Wanita itu nyengir malu sambil menyimpan ponsel itu ke tempat semula. Tangannya dilingkarkan lagi tapi kali ini ke bagian leher suaminya.


"Aku tentu aja ingat siapa Ardan. Dia itu adikmu, kan?! Hehe, maaf. Aku jadi lupa saking cemburu tadi."


Anas geleng-geleng kepala menatap istri konyolnya. "Lain kali jangan dulu main marah. Aku ingatkan lagi, seorang Anas Malik adalah tipe pria setia pada pasangannya. Kamu jangan cemas!"


Kini wanita itu mengelus dada Anas. "He-em, maaf."


"Cepat ganti baju! Penampilanmu ini membahayakan jantungku."


šŸ”„šŸ”„šŸ”„


Cantika makin agresif. Dia menyisir hidung, bibir dan leher suaminya dengan telunjuk. Anas menangkap tangan nakal itu.


"Stop, sayang. Apa kamu sengaja ingin menggoda sekaligus menghukumku?"


Cantika menyeringai dan menempelkan kening mereka. Dia berbisik dengan suara mendayu penuh daya pikat. "Aku cuma mau bikin kamu seneng, Mas. Diem dan nikmatin aja!"


Sentuhan itu begitu ajaib, mampu membuat seluruh tubuh Anas merespon. Matanya tak berkedip saat Cantika menyingkap bathrobe hingga teronggok di atas lantai. Semua lekuk tubuh indah itu terpampang jelas.


Anas kesusahan menelan salivanya sendiri, saat pandangannya tertuju pada bagian kembar dan inti yang sangat dia sukai. Matanya terpejam merasai jemari lentik Ika melerai kancing kemejanya satu persatu, lalu menari di bagian d*d*nya. Darahnya berdesir hebat ketika b*bir mereka beradu sementara tangan masing-masing saling menjamah.


Anas mengerjap dan melepas pagutan itu ketika tiba-tiba kesadarannya muncul. "Jangan lanjutkan, ini tidak benar! Kita tidak bisa melakukan itu saat kamu se..."


Mulut pria itu dibungkam oleh tangan istrinya. "Aku udah steril, si tamu itu udah pergi."

__ADS_1


Anas mengernyit, "Perasaan bulan kemarin lebih lama dari ini. Apa kamu yakin sudah beres M-nya? Coba cek lagi, takutnya masih ada." Pria itu terlihat panik.Ā 


Cantika tergelak, "Udah beres, Mas."


"Kenapa lebih cepat dari bulan kemarin?" Masih saja penasaran karena untuk berjaga-jaga. Siapa yang tahu jika nanti saat akan menuju pelabuhannya, si tamu merah itu muncul lagi.


"Mana aku tahu. Kamu harusnya seneng, bukannya panik."


"Tapi yakin udah steril kan?!"


Ā Cantika mencebik, "Ishh, kamu ini bawel banget. Ayo buktikan sendiri!" Usai bicara, dia mendorong tubuh pria itu hingga telentang di atas tempat tidur. Dengan garangnya, dia menyerang pria itu habis-habisan.


Anas makin dibuat gila oleh sentuhan nakal tapi manis itu. Berkali-kali dia mengeluarkan suara-suara aneh saking terhipnotis oleh permainan istrinya yang makin lihai.


Pria itu membalikkan keadaan. Dia menguk*ng istrinya dengan nafas memburu. Cantika tersengal-sengal ketika melihat ke alat tempur suaminya yang seolah hidup. Entah sejak kapan kain penutup yang melekat pada bagian bawah Anas menghilang?


Cantika merem-melek saat bulu pipi itu menggesek wajahnya. Tubuhnya lemas ketika bagian bawah hidungnya dilahap dengan lembut tapi makin lama makin brutal. Sengatan listrik mengalir makin kuat ke seluruh badannya karena kini b*bir suaminya jalan-jalan di area leher jenjangnya sementara tangannya mampir di bagian si kembar.


"Mas....!" Suara yang terdengar begitu er*tis.Ā 


Cantika menekan kepala suaminya agar lebih dalam masuk ke bukit double-nya.


"Sayang...." Lagi-lagi kata tersebut terdengar berbeda, lebih menantang.


Ketika pikiran mereka sudah berhamburan entah kemana, Anas bersiap memulai ritual penuh peluh itu.


Tangan Cantika berpegangan pada lengan yang ada di sisi kiri dan kanan kepalanya. Tubuhnya mengg*lin jang hebat dengan wajahnya yang menggeleng kesana-kemari saking merasakan puncak kehangatan yang begitu tiada tara.


"Sayang...aku mencintaimu...." Ucap Anas dan Cantika nyaris bersamaan saat mereka telah mengeluarkan sesuatu dari dalam inti itu.


Anas berbaring di sebelah istrinya dengan nafas yang masih belum stabil. Pria itu seperti habis berlari keliling gunung. Tak lama berselang, bibirnya tersungging. Akhirnya, beban dalam dada dan otaknya sudah hilang, setidaknya untuk hari ini.Ā 


**


Usai mandi dan makan siang bersama, Cantika pamit pada Pak Permana yang saat itu ada di ruang keluarga.


"Papi, jaga kesehatan dan jangan telat makan!" Ucap Cantika setelah memeluk ayahnya dengan cukup lama.


"Iya, makasih. Papi senang diperhatikan seperti ini."


Cantika kini memeluk Bu Sofi. "Mama, aku titip Papi! Kalo Papi gak mau makan, suapi aja Ma....Papi itu kadang emang suka modus." Yang lainnya tertawa kecil.


"Jangan khawatir, Mama sudah punya trik khusus agar Papimu mau makan tepat waktu." Ucap Bu Sofi sambil tersenyum.


"Kak, sering mainlah ke rumah biar aku ada temen curhat lagi!" Ucap Riri.


"Kita lihat aja ntar," Jawabnya sambil tersenyum dan memeluk gadis itu.


Sedangkan Anas menyalami dan memeluk Pak Permana. Pria itu hanya menangkupkan telapak tangannya saat berhadapan dengan Bu Sofi dan putrinya.


Cantika dan Anas pun pergi meninggalkan rumah itu.


Note:


Kali ini kesibukan Author bertambah, selain rutinitas harian emak-emak, Senin sampai Sabtu harus bimbing 2 anak sekolah. Terus terang aja, hal itu bikin tenaga dan pikiranku jadi terkuras. Mau tidak mau pasti ngaruh sama kinerjaku bikin bab baru. Jadi mohon maaf jika mungkin novel ini telat update nya.


Maaf juga belum bisa mampir ke novel para author yang kece. Aku saat ini buka NT cuma buat up sama lihat notifikasi pesan. Inshaa Allah aku nanti nongol lagi 😁

__ADS_1


Terima kasih banyak pada kalian semua yang sudah menyimak dan support Author. Jangan lupa untuk kasih like, favorit, rate atau vote dan gift jika kalian berkenan. Silahkan juga untuk berkomentar atau kasih kritik dan saran kalian, entah itu mengenai isi cerita atau cara penulisan agar menambah pengetahuan Author, tapi harus dengan cara yang sopan dan tidak nyelekit😁


Ambil positifnya, hempaskan yang negatifnya dari cerita ini! Sampai jumpa di bab selanjutnya šŸ¤—


__ADS_2