TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Aku kangen, Mas


__ADS_3

Hari ini Cantika telah berada di dalam rumah Anas. Ia sengaja ke sana agar dapat mengobati sedikit rasa rindunya pada mendiang suaminya itu.


Matanya menyapu seluruh sudut ruangan tanpa ada sedikitpun yang terlewat. Setiap benda yang dia lihat semakin menghidupkan bayangan kebersamaannya dengan Anas. Tangannya merayap menyentuh sofa lalu beralih ke tempat tidur yang biasa dipakainya bersama pria itu.


"Mas, aku kangen…" ucapnya lirih sambil memejamkan matanya yang meneteskan air.


Cantika berbaring miring di kasur itu, tangannya masih mengelus tempat kosong di sisinya yang biasa ditiduri Anas. Sungguh saat ini dadanya makin sesak dan perih.


"Aku kangen kamu, Mas…" Selalu saja kalimat itu yang terlontar dari mulutnya.


Setelah cukup lama menangis di sana, dia pun bangkit. Dengan langkah kaki yang pelan, Cantika turun ke lantai bawah menuju dapur. Menatap lekat semua benda yang ada di ruangan itu. Di sanalah biasanya Anas berkutat memasak banyak makanan untuk kemudian dijajakan di teras rumah. 


Lagi-lagi mata bengkaknya mengeluarkan air. Kini dia menangis sambil terduduk lesu. Kerinduannya kian memuncak. Riri yang baru saja muncul, menghampirinya. Gadis itu berjongkok untuk mensejajarkan diri.


"Kak, kenapa gak bilang dulu kalo mau ke sini? Aku khawatir kalo Kakak pergi sendirian, mana gak dianter sopir lagi." Nada bicaranya rendah.


Cantika enggan menjawab karena dadanya terasa sesak dan mulutnya seolah terkunci. Hanya isak tangisnya yang terdengar.


"Kak, aku beli cupcake. Kita makan bareng ya?"


Kakak tirinya masih bungkam.


"Kakak harus jaga kesehatan karena sekarang ada nyawa yang hidup di dalam tubuh Kakak."


Cantika menatap Riri. Perkataan itu seolah menamparnya. Harusnya dia tidak egois berlarut dalam kesedihan secara berlebihan hingga melupakan calon anaknya.


Riri membantu kakaknya berdiri lalu memapahnya menuju ruang tamu. Mereka duduk bersebelahan di sofa. Riri membuka kotak makanan yang ada di atas meja.


"Nah, Kakak mau yang mana? Ini cupcake-nya ada yang rasa coklat, keju, mocca sama matcha."


Cantika mengambil satu kue rasa mocca. "Yang ini aja, makasih." Perlahan dia memasukkan makanan itu ke mulutnya.


"Nah, aku mau yang matcha." Gadis itu makan dengan lahap. Sepertinya begitu menikmati sensasi rasa kue tersebut.


Sedangkan Cantika tidak terlalu menikmatinya. Selain karena hatinya masih belum tenang, itu juga diakibatkan oleh ***** makannya yang memang buruk selama ngidam. Tapi untung saja kue itu bisa meluncur ke perutnya dengan selamat meski terasa hambar. Setidaknya makanan itu tidak keluar lagi dari tubuhnya.


"Ri, aku mau mengunjungi makam Mas Anas dulu." Ucap Cantika setelah menghabiskan kuenya.


"Aku ikut."


Setelah minum keduanya berjalan menuju tempat tersebut. 


**


Selama menyusuri jalanan menuju pemakaman, mata Cantika tak henti mengeluarkan bulir bening. Meski diusap dengan tissue, tetap saja wajahnya kembali sembab. Jika saja tidak memakai kaca mata hitam, maka mata bengkaknya akan terlihat jelas.


Pikirannya lagi-lagi tertuju pada kenangan bersama suaminya. Inilah tempat pertama yang dia kunjungi saat baru pindah ke kampung ini. Langkahnya terhenti ketika sampai di danau kecil.


"Kenapa Kak, cape atau pusing?" tanya Riri pada perempuan yang kini tengah berjongkok menghadap danau. Tapi dia tahu bahwa jawabannya salah setelah mendengar tangis Cantika yang begitu memilukan.


"Mas Anas pernah bawa aku ke sini. Kami duduk berdua menatap danau." Ucapnya agak tersendat. Dia duduk di tempat yang sama saat dengan suaminya. Riri ikut duduk di sebelahnya.


"Ri, Mas Anas duduk di tempatmu saat ini." 


Riri menatapnya iba. Cantika masih berceloteh meski suaranya terbata-bata. "Waktu itu aku pengen jalan-jalan, dia malah ajak aku ke sini. Tapi ternyata tempatnya enak juga. Pulangnya aku digendong sama Mas Anas. Dia emang laki-laki yang baik dan romantis." Tersenyum kelu lalu tersedu.


Riri mengusap pipinya sendiri karena ikut merasakan kepedihan hati kakaknya.

__ADS_1


"Aku sayang dan cinta banget sama dia. Aku menyukai kesederhanaan dan kebaikan hatinya. Aku kangen Mas Anas, Ri…."


"Kak, bukannya kita mau ke kuburan Mas Anas?" Riri memegang bahu wanita itu.


Cantika mengangguk kemudian bangkit yang diikuti oleh gadis di sampingnya.


"Kak, aku lupa. Kita gak bawa air sama bunga." Riri menepuk jidatnya sendiri.


Cantika apalagi, dia sama sekali tidak mengingatnya. Pikirannya terlalu kacau. Tapi tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalanya.


"Ri, kamu beli airnya di warung itu. Kakak mau ambil bunganya dari sini aja."


Riri menuruti perintahnya. Dia berjalan menuju sebuah warung kecil yang ada di tepi jalan menuju danau. Cantika memetik beberapa jenis bunga yang ada di sekitar tempat tersebut.


"Ini, Kak. Aku sengaja minta kantong plastik buat wadah bunga itu." Ucap Riri saat kembali dari warung. Sebelah tangannya menyodorkan plastik hitam dan sebelah lagi memegang botol air mineral berukuran besar.


Cantika mengambilnya lalu memasukkan bunga ke dalam sana. "Makasih, Ri."


Keduanya pun kembali melangkah menuju ke pemakaman. 


**


Usai merapal doa serta menaburkan bunga dan air di makam Anas, Cantika mengusap nisan itu dengan lembut.


"Mas, aku hamil. Ada darah dagingmu yang bersemayam di tubuhku. Kamu pasti bahagia dengan berita ini. Aku janji akan selalu merawat dan menjaganya." Cantika tersenyum meski wajahnya dibanjiri air mata.


Riri merangkul lalu mengusap pundaknya. Ada sedikit lega dalam hatinya karena melihat Cantika yang sepertinya sudah mulai bisa menerima kenyataan.


**


Pak Permana dan istrinya kembali menginap di rumah Anas karena Cantika masih ingin tinggal di sana. Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang tamu.


"Aku mau nasi kuning, Ma." Jawabnya sambil termenung dengan mata berkaca-kaca.


Bu Sofi dan suaminya juga Riri saling pandang. Mereka tahu persis jika menu tersebut bukanlah karena keinginan dari si ibu hamil, melainkan karena Cantika merindukan sosok suaminya.


"Ika, bukannya gak mau. Tapi jujur, Mama gak bisa bikin nasi kuning. Kita beli aja ya?!" Ucap Bu Sofi merasa tidak enak hati.


"Beli dimana, sekarang udah malem? Biasanya pagi-pagi ada yang jualan nasi kuning kayak gitu." Pak Permana ikut nimbrung.


Riri memegang tangan kakak tirinya, "Kak, makan yang lain aja ya? Kakak mau apa selain itu?" Berhubung Cantika terlihat bingung dan juga sedih, akhirnya gadis itu kembali bicara dengan sedikit tersenyum. "Kak, coba tanya Dede bayinya pengen makan apa?!"


Cantika mengusap perutnya sambil menunduk. "Gak tahu mau makan apa."


"Mama bikinin nasi goreng aja ya?!" Bu Sofi bangkit dari duduknya.


Cantika mengangguk pelan. Saat itu terdengar suara ketukan pintu. Riri berjalan untuk membukanya. Matanya terbelalak saat melihat sosok pria yang berdiri menghadapnya.


"Kak Peter?" 


Pria itu tersenyum dengan tatapan tidak peduli. "Cantika ada?"


Riri mencelos mendengar pertanyaan tersebut. "Tentu saja, gak mungkin dia mau ketemu aku." Ucapnya dalam hati.


"Apa kakakmu yang cantik itu ada di dalam?" tanyanya dengan suara lebih pelan.


"A-ada." Jawabnya agak terbata.

__ADS_1


"Boleh masuk, kan?!"


Riri mengangguk lalu melangkah diikuti Peter. Pak Permana menoleh sedangkan Cantika masih menunduk, sama sekali tidak menyadari kedatangan mantan kekasihnya.


"Malam, Om. Maaf, aku dateng malam-malam begini. Tadinya aku ke rumah Om, tapi satpam bilang kalian ada di sini." Peter menjabat tangan Pak Permana yang kini tengah berdiri menyambutnya.


"Malam, Peter. Silahkan duduk." Ucapnya sambil kembali ke posisi semula.


"Makasih, Om." Peter berhadapan dengan Cantika yang tengah termenung.


Riri pergi ke dapur untuk menyusul ibunya sekaligus menghindari pria itu.


"Cantika, apa kabar?" Tak ada suara sahutan.


Pak Permana menepuk pundak putrinya. "Ika, Peter menanyakan kabarmu."


Cantika terhenyak, "Peter?" Usai menoleh pada ayahnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah pria di hadapannya. "Sejak kapan kamu di sini?"


"Baru aja. Apa kabar?"


"Baik." Kembali menunduk.


Peter berbincang dengan Pak Permana karena Cantika lebih memilih diam. 


Bu Sofi muncul ketika kegiatan memasaknya selesai. Senyumnya sirna saat melihat tamu tak diundang itu. Bagaimanapun juga dia masih kesal pada mantan tunangan putrinya.


"Cantika, nasi gorengnya sudah jadi." 


"Ah, kebetulan sekali. Peter, mari ikut makan!" Ajak Pak Permana.


Bu Sofi berkata dengan ketus, "Sepertinya gak akan cukup. Mama cuma bikin 4 porsi untuk kita. Mama gak tahu bakalan ada tamu penting yang akan kemari."


Peter tersenyum, "Gak apa-apa, Tante. Aku udah makan di rumah." Padahal dalam hati dia merasa kesal. "Riri dan ibunya sama-sama bikin gue enek. Tapi gak masalah, yang penting Papi Permana masih bisa gue manfaatin."


Bu Sofi berjalan ke arah dapur terlebih dahulu, tak mau lagi melihat wajah mantan calon menantunya. 


"Maafkan atas sikap istri saya, dia sebenarnya baik cuma saat ini mungkin sedang agak bad mood." Pak Permana menatap laki-laki di depannya. 


"Gak apa-apa, Om. Santai aja."


"Cantika, cepat makan dulu! Mama dan Riri sudah menunggu di meja makan. Papi mau di sini sebentar, ngobrol sama Peter."


Saat Cantika berdiri, terdengar lagi suara ketukan pintu. "Biar aku yang buka." Cantika berkata pada ayahnya yang hendak bangkit dari duduk. 


Ceklek….! Pintu terbuka dan menampakkan sesosok wajah yang membuat Cantika membuntang dalam sejenak. Air mata lolos begitu saja ke pipinya. Perlahan kakinya makin mendekat kepada orang yang baru saja muncul itu. Tangannya memegang pipi berbulu dari pria yang berdiri menatapnya.


"Mas, akhirnya kamu pulang." Menatap lekat lalu memeluk tubuh yang ada di hadapannya dengan begitu erat. "Mas Anas, aku kangen kamu. Aku tahu kalo sebenernya kamu masih hidup. Darimana aja kamu selama ini?" 


Semua orang yang ada di dalam rumah pun menghampiri setelah mendengar suara isak tangis Cantika. Semuanya memasang wajah bingung. 


"Mas Anas, aku sangat mencintaimu." Cantika masih sesenggukan, tangannya makin erat memeluk.


Riri dan ibunya saling tatap. Pak Permana memperhatikan sosok pria yang tengah dipeluk putrinya. "Ya Allah, wajahnya benar-benar mirip. Apakah dia memang Anas?" Pria paruh baya itu berspekulasi tanpa bersuara.


Peter mengepalkan tangannya. Kini rasa bingung dan marah menyatu di benaknya. "Gimana mungkin cowok miskin itu ada di sini?" Mengumpat kesal dalam hati. 


Sedangkan Cantika belum mau melepaskan laki-laki itu. Dia terlalu merindukan sosok suaminya.

__ADS_1


Apakah laki-laki yang dipeluk Cantika adalah Anas? Atau mungkin itu hanya ilusinya saja?


__ADS_2