TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Suamiku sakit.


__ADS_3

Cantika mengerjapkan mata di pagi hari. Sosok yang pertama kali dia lihat adalah pria bewokan yang masih terlelap sambil memeluk pinggangnya. Sudut bibirnya tersungging, matanya tak henti menatap pria itu. Hatinya dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Bahagia, sangat....! Sama sekali tidak menyangka jika dalam waktu yang singkat, dia akan mencintai pria bernama Anas.


Tangan halusnya mengusap pipi suaminya. Senyumnya sirna berganti ekspresi terkejut saat merasakan jika ada yang berbeda pada Anas. Cantika menempelkan telapak tangannya pada kening suaminya. "Panas banget. Pantesan jam segini dia masih tidur." Dia duduk lalu menyelimuti Anas sampai ke leher. Setelah itu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Bergerak ke dapur untuk mengambil air hangat. Masuk lagi ke kamar tidur dan mencari kain untuk mengompres.


Cantika berjalan tergesa menghampiri suaminya. Duduk di tepi ranjang dan menyimpan wadah berisi air hangat di pangkuannya karena tak ada meja. Dengan sigap tangannya memasukkan handuk kecil ke dalam air hangat, lalu menempelkannya pada kening Anas. Saat kompresan terasa dingin, dia mencelupkan lagi handuk itu agar menjadi hangat. Menempelkan lagi pada kening pria itu. Hal tersebut berulang hingga beberapa kali.


"Gimana ini ? Panasnya belum turun-turun." Perasaannya makin gusar dipenuhi kekhawatiran. Dia memutuskan untuk menghubungi Dokter keluarganya agar segera datang ke rumah itu.


Setelah lama menunggu, Dokter itu pun muncul. Cantika berdiri memperhatikan dengan perasaan tak karuan.


"Dok, gimana keadaan suamiku ?"


"Cantika, apa suamimu akhir-akhir ini sering kecapean ?"


"Dia emang tiap hari sibuk. Beres-beres rumah, masak terus jualan."


"Hah, beres-beres rumah ? Emang kamu ngapain aja sampai suamimu yang mengerjakannya ?"


"Ehmmm, itu dia yang terlalu baik. Aku sama sekali gak nyuruh."


Dokter bernama Bram itu geleng-geleng kepala. Dia adalah teman Cantika saat kecil. Meski tidak seumuran tapi keduanya cukup akrab karena selain teman, Bram adalah tetangganya.


"Cantika, harusnya kamu yang beres-beres rumah. Kasihan dia kalau harus menghandle semuanya."


"Iya, aku tahu...Tapi suamiku beneran gak apa-apa kan ?!"


"Tidak ada masalah, dia hanya perlu istirahat beberapa hari. Aku sudah menyuntikkan vitamin barusan, dan ini resep obat yang harus kamu dapatkan." Memberikan secarik kertas dan segera diambil Cantika.


"Makasih, sorry ngerepotin."


"Gak apa-apa, aku pamit pulang sekarang Jaga suamimu dengan baik !"


Cantika menganggukkan kepalanya lalu melangkah di belakang Dokter Bram. Dia hanya mengantar sampai ke teras.


"Dok, hati-hati di jalan !"


"Ya.... Assalamualaikum." Dokter itu pun melangkah cepat meninggalkan tempat itu.


"Waalaikumussalam," Jawabnya. "Bu.....maaf saya mau tanya." Cantika agak berteriak seraya menghampiri seorang wanita paruh baya yang lewat di depan rumah.


Wanita tersebut menghentikan langkahnya, "Ada apa ?"

__ADS_1


"Apotek di daerah sini ada di sebelah mana, ya ?"


"Ada di dekat gang di depan, sebelah grosir. Emang kenapa ?"


"Saya mau beli obat untuk mas Anas."


"Anas sakit ? Sebaiknya kamu temani saja dia, biar ibu yang beli obatnya."


"Jangan Bu, saya gak mau ngerepotin."


"Tidak apa-apa, mana resepnya ? Kebetulan ibu juga mau ke depan. Kamu jaga saja Anas, nanti ibu antarkan obatnya ke sini." Ucapnya dengan ramah.


Meski tidak enak hati tapi Cantika menerima bantuan ibu itu. Dia memang tidak boleh meninggalkan suaminya sendirian di rumah dalam keadaan sakit.


"Ini Bu, terima kasih sebelumnya. Maaf saya jadi merepotkan." Menyodorkan kertas berisi resep dokter.


"Sama-sama. Anas juga selama ini sudah banyak membantu saya, jadi wajar jika saya membantunya juga."


"Bu, saya lupa. Saya ambil dulu uangnya di dalam." Hendak melangkah namun dicegah oleh ibu itu.


"Nanti saja, biar dari ibu dulu uangnya. Sebaiknya kamu segera masuk ke dalam."


"Sama-sama." Wanita itu pun melangkah.


Cantika masuk lagi ke dalam kamar dan duduk di sebelah suaminya. Menatap pria itu dengan penuh kecemasan. Mengusap rambut acak-acakan milik Anas dengan perlahan. "Mas, kamu sakit gara-gara aku. Maaf...Lain kali biar aku yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, aku juga akan membantumu menyiapkan dagangan."


Anas sedikit membuka matanya, tatapannya begitu sayu. "Kamu sudah makan ?" ucapnya lemah.


"Belum, gimana aku bisa makan saat keadaanmu sakit begini." Saat sakit pun dia masih bisa memikirkan perutku. "Mas, aku beli bubur dulu sebentar. Perutmu kan harus diisi sebelum minum obat." Anas mengangguk pelan.


***


Mira berpapasan dengan seorang wanita paruh baya saat hendak membeli bubur. Mereka sedikit saling menyapa.


"Mau kemana Bu, sepertinya tergesa-gesa begitu ?" tanya si gadis berlesung pipi.


"Mir, ibu mau ke depan sekalian mau ke apotek."


"Emang siapa yang sakit ?"


"Ohhh, ini sebenarnya ibu mau beli resep obat punya Anas. Ibu kasihan kalau membiarkan istrinya pergi ke apotek sedangkan Anas sendirian di rumah."

__ADS_1


Mas Anas sakit ? Aku harus menjenguknya !


"Bu, biar saya saja yang membeli obat itu. Kebetulan saya juga ada perlu sama mas Anas."


Akhirnya ibu itu menyetujui permintaan gadis itu. Usai membeli obat di Apotek, Mira pergi ke warung kecil yang menjual bubur ayam. Membeli satu porsi buburnya saja dan dua porsi bubur komplit.


Gadis itu melangkah lagi menuju rumah Anas. Meski dia tahu jika saat ini pria itu telah beristri, tapi perasaannya begitu kuat mendorongnya untuk menemui Anas. Dia begitu cemas saat mengetahui jika pria yang dia cintai sedang sakit.


Mira mengetuk pintu sambil mengucap salam. Tak ada jawaban dari dalam. Dia memutuskan untuk membuka pintu tersebut lalu masuk dengan perlahan. Tak ada siapa-siapa di ruang tengah. Apa mungkin Anas tidur sendirian di dalam kamar ? Dari tadi dia tidak melihat Cantika ada di sana. Tak ada juga suara dari wanita itu.


Mira membuka pintu kamar sedikit, Ternyata mas Anas memang ada di sini. Kemana istrinya, bukankah harusnya dia menunggu suami yang sedang sakit ?!


Mira pergi ke dapur untuk menyimpan bubur yang dia bawa ke dalam mangkok. Perasaannya membuat gadis itu tak sadar jika sikapnya sudah melewati batas. Saat hendak masuk ke kamar, langkahnya terhenti. Cantika berdiri menatapnya dengan tajam.


"Wait, mau ngapain lo di rumah ini ?"


"Aku....cuma mau memberi mas Anas bubur dan juga obat." Menunduk malu.


Cantika mendekat, "Thank's a lot for your attention, tapi sebenernya gak usah repot-repot. Kan ada aku sebagai istrinya yang akan selalu menjaga Mas Anas. Mending lo pulang aja gihhh...! Dan bubur itu bawa sekalian, gue udah beli di depan." Menunjukkan kantong plastik yang dia pegang.


"Maaf, kalau begitu saya permisi. Tapi buburnya makan saja, sayang kalo dibuang."


"Siapa yang nyuruh lo ngebuang makanan itu ? Gue bilang bawa aja ke rumah lo, percuma juga disimpen di sini. Gue udah beli dua porsi bubur, itu pasti gak akan kemakan. Lo bawa aja, kasih ke siapa kek..." makin jutek.


"Baik, saya permisi. Obatnya ada di atas meja." Menunjuk ke meja di ruang tengah dengan jarinya.


"Itu obatnya berapa ? biar gue ganti."


"Tidak usah diganti, saya ikhlas kok."


"No...! Gue gak mau ngerepotin lo terlalu banyak. Jadi berapa harga semua obat itu ?"


"Semuanya sekian...." menyebutkan nominalnya.


Cantika mengambil uang dari dompetnya lalu menyodorkan pada gadis itu. "Ok, makasih. Lain kali jangan nyelonong masuk ke rumah orang tanpa ijin !"


"Ya, maaf..." Mira buru-buru pergi dari rumah itu dengan perasaan campur aduk. Malu dan juga sakit hati. Bukankah itu memang akibat dari kesalahannya sendiri ?


Cantika begitu kesal pada gadis bernama Mira. Darimana dia tahu kalo mas Anas sakit ? Ehhmm, pasti dari ibu yang tadi !


Dia semakin yakin jika Mira memang menyukai suaminya. Gadis itu begitu peduli dan perhatian pada Anas. Tapi Cantika tentu saja tidak akan membiarkan ada hama di dalam pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2