
Anas makan dengan perlahan karena sudut bibirnya terasa sakit dan perih ketika terbuka. Sesekali dia memeganginya tanpa meringis. Badannya pun serasa remuk karena tadi pria-pria kekar itu menendang dan menginjak seluruh tubuhnya, kecuali tangan. Untung saja alat vitalnya tidak diserang juga.
"Kira-kira siapa mereka, apa kamu punya musuh ?" tanya Cantika.
"Aku merasa tidak bermusuhan dengan siapapun. Aku sama sekali tidak tahu siapa mereka."
"Tapi gak mungkin kamu diserang tanpa alasan. Apa jangan-jangan mereka yang menganggap kamu sebagai musuh ?"
"Tidak tahu, mungkin salah sasaran. Mereka mengira aku musuhnya." Anas sengaja tidak memberi tahu jika pengeroyokan itu ada kaitannya dengan istrinya. Dia tidak mau Cantika sampai kepikiran masalah ini.
"Lain kali jangan lagi pergi ke pasar, belanja di kios saja !" sewot.
"Kenapa, kamu takut aku terluka lagi ?"
"Ya iyalah, kalo kamu terluka begini kan aku yang repot. Harus ngasih obat, dan...itu tuhhh mukamu gak enak dipandang mata kalo pada penyok begitu !" memalingkan wajahnya.
"Tapi aku senang, karena mukaku lebam-lebam, kamu jadi perhatian padaku." Tersenyum manis.
Cantika mendelik, "Anehhhh, kamu hobi nyengir mulu. Kalo aku marah tetep aja mesem-mesem."
"Kamu lucu jika marah, menggemaskan dan manis."
"Anehhhh..." berpaling lagi agar ekspresi senangnya bisa disembunyikan. Dia tersenyum karena dibilang manis.
"Cantik, ayo makan lagi ! Dari tadi bicara terus."
Wajah perempuan itu tambah merona, tersipu malu mendapat pujian dari suaminya. Dia pun melanjutkan sarapannya.
Selesai makan, Anas beranjak dari duduknya.
"Heyyyy, mau ngapain ? Ayo duduk lagi, kamu gak boleh banyak bergerak ! Biar aku yang beresin semuanya."
"Tidak apa-apa, aku masih kuat." Tangannya hendak mengambil peralatan makan yang kotor namun istrinya mendahului.
"Aku bilang diem, bandel banget sihh !" melangkah cepat ke arah dapur.
Anas akhirnya duduk lagi. Cantika belum kembali. Terdengar suara tongtreng piring dan gelas dari kamar mandi. Perempuan itu sedang belajar mencuci peralatan bekas makan tadi.
Anas segera menghampiri, "Kamu tidak usah repot mengerjakannya. Nanti biar aku yang mencuci semua piring dan gelas itu."
"Diem, terserah aku ! Kamu mendingan pergi aja tidur, pusing kalo keseringan liat mukamu itu !" malah sewot. Dia bicara tanpa bersitatap karena posisinya tengah berjongkok membelakangi suaminya.
__ADS_1
Anas sudah pasti tersenyum, "Memang kamu bisa melakukannya ?"
"Ya bisalah, tinggal cuci doang."
"Baiklah, terima kasih. Hati-hati nanti ada yang pecah, jangan sampai tanganmu terluka !" ucapnya sambil berlalu.
"Hemmm, bawelll." Berteriak kesal padahal diam-diam tersenyum karena senang mendapat perhatian dari om bewok. Bukan om bewok Cantika, tapi mas Anas ! "Mas, mas Anas suamiku yang sexy dan baik hati..." dia tertawa geli mendengar ucapannya sendiri.
Setelah lamanya berkutat dengan pekerjaan itu, Cantika kembali ke ruang tengah. Anas tidak ada di sana. Pria itu muncul dari balik pintu kamar.
"Cantika, ada satu buah bungkusan plastik kecil di dalam lemari, buka isinya dan pakailah !"
Cantika mengernyit, "Bungkusan apa ?"
"Lihat saja nanti !" melangkah lalu duduk di kursi.
Perempuan itu menatapnya agak lama, lalu segera masuk ke kamar. Mengambil bungkusan tersebut dan membukanya.
"Baju apa ini ?" memegang satu stel pakaian gamis lengkap dengan kerudung instannya. Meski ragu dia tetap mencoba memakainya demi menuruti perintah Anas.
Cantika pergi menghadap sang raja untuk laporan dan meminta pendapatnya, atau....untuk protes ?
"Maksudnya apa aku disuruh pake baju ini ?"
Meski dengan kesal, Cantika kembali lagi ke kamar dan memakai kerudung itu. Segera berjalan ke ruang tengah.
"Hemmm, aku udah pake...." menggeram kesal.
Anas tersenyum menatapnya dengan dalam. Baju itu benar-benar pas di tubuh istrinya. Itu versinya, versi Cantika lain lagi.
"Baju ini untukku ? Terlalu kegedean dan longgar. Aku jadi kayak emak-emak yang tubuhnya melar." Protes.
"Itu kan katamu, menurutku tidak. Kamu terlihat lebih cantik dan anggun dengan pakaian itu. Sungguh..."
Cantika menunduk malu, dari tatapan pria itu sepertinya memang benar. Anas tidak berbohong, benar-benar terpesona padanya. Berarti dia memang cantik meski memakai gamis itu.
"Tapi, aku bukan anak pesantrenan ataupun ibu-ibu pengajian. Untuk apa aku berpenampilan kayak gini ?" masih protes.
"Pakai itu untuk besok sore, aku mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah ini. Selamatan pernikahan kita. Aku sama sekali tidak mengadakan hajatan atau pesta di sini, jadi sebagai rasa syukurku atas pernikahan kita, aku mengundang beberapa tetangga dan anak yatim untuk mengaji bersama."
Cantika manggut-manggut tanda mengerti. "Padahal gak usah ampe beli baju segala, sayang gak bakalan kepake."
__ADS_1
"Siapa bilang ? Itu bisa dipakai sehari-hari, bagus untuk menutup aurat."
"Ahhh, pasti panas dan ribet juga. Males pakenya !"
"Sekarang simpan dulu di keranjang cucian yang ada di kamar mandi, nanti sore aku bersihkan biar besok kamu bisa memakainya !" senyum lagi, senyum lagi....
"Serah kamu dehhh, pusing." Garuk-garuk kepala sambil berlalu. Ehhh tadi dia bilang kalo acara syukuran itu sebagai rasa syukurnya atas pernikahan kami. Apa itu artinya....dia emang bahagia udah nikahin gue ? Cantika tersipu malu lagi. Ternyata suaminya itu adalah tipe pria yang menyenangkan. Begitu menghargai dan memperhatikannya. Itulah arti romantis yang sesungguhnya. Tak perlu bunga mawar ataupun bunga Bank untuk membuatnya bahagia.
***
Sore itu di sebuah cafe, teman-teman Cantika tengah nongkrong dan bergosip ria ataupun curhat masalah pria. Mereka cekikikan tak jelas untuk hal yang sama sekali tidak lucu. Atau merengek ketika curhat pada temannya perihal pacar yang selingkuh. Banyak membuang waktu.
"Rubi, telpon Cantika ! Bilang kalo kita nungguin dari tadi." Ucap salah seorang gadis.
Rubi segera menurutinya. Panggilan terhubung.
"Ika, kita lagi ngumpul di cafe biasa. Lo bisa ke sini sekarang, kan ?!"
"Sorry, gue gak bisa keluar sore ini. Lagi males nihhh." Padahal dia tak tega meninggalkan suaminya.
"Ahhh gak asik lo. Ehhh, lo terlalu banyak maen pengantenan kali...jadi letih dan lesu. Jadi males dehhh, hahaha." Gadis yang lain tertawa karena handphone diset dengan loud speaker.
"Ngaco lo....udah ahhh gue mau mandi dulu. Bye...." mengakhiri obrolan.
Mereka masih tertawa-tawa. Membayangkan jika Cantika benar-benar sudah over dosis berbulan madu. Di meja lain, seorang pria tengah menguping pembicaraan mereka.
"Wahhh, si Ika mantap benerr. Lagi doyan-doyannya hahaha."
"Iya, apalagi suaminya itu lumayan ganteng dan sexy juga lho. Bewokan gitu pasti badannya dipenuhi bulu-bulu manja. Wihhhh bikin geli..."
"Pantesan si Ika gak keluar-keluar rumah, disiksa terus..."
"Pengen dong disiksa sama cowok berbulu..."
"Gue ada kenalan cowok berbulu lebih sexy daripada suaminya Cantika." Ucap Rubi.
"Siapa ? Kenalin dong..." para gadis serempak bicara.
"Namanya Mon-key !" tertawa terbahak-bahak.
"Ahhh, sial. Monyet maksud lo...."
__ADS_1
"Ogahhhh...buat lo aja Rubi, gue masih normal kali..."
Mereka terus tertawa-tawa membahas hal yang menurut mereka menarik. Sementara si pria penguping itu masih memasang telinganya agar tidak kehilangan informasi yang mungkin akan dia dapatkan lagi dari celotehan para gadis itu.