
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gang. Seorang pria turun dengan membawa koper masuk ke dalam gang kecil tersebut, diikuti oleh seorang perempuan yang celingukan memperhatikan situasi sekitar.
"Heyyy, emang Lo tinggal dimana sih? Baru kali ini gue belusukan ke tempat kayak gini." Si wanita menatap heran tempat asing itu.
"Ikut saja, nanti kamu juga tahu." Pria itu tersenyum manis dan terus melangkah.
"Om, gue pikir Lo tinggal di komplek perumahan." Masih celingak-celinguk.
"Cantika, panggil saya Mas! Bukankah aneh jika memanggil Om pada suami sendiri ?!"
Perempuan itu mendesis, "Shhhh, diem. Terserah gue!"
Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, menyapa dengan ramah tapi juga menatap lekat pada si wanita.
"Maaf ya, Nas. Kami tidak hadir dalam pernikahanmu. Ada hal yang penting yang harus kami urus." Ucap salah seorang.
"Tidak apa-apa. Yang penting doanya saja." Anas membungkuk hormat.
"Mas Anas, jadi ini istri Mas?!"
"Wahhh, pengantin baru. Serasi sekali...."
"Pantesan kamu buru-buru nikah, perempuannya cantik begini..."
Cantika menatap mereka satu persatu dengan tidak suka. Dasar orang-orang norak! Serasi dari mananya?
Anas tersenyum ramah, "Ya, ibu-ibu. Ini Cantika, istri saya."
Emak-emak itu mengangguk. "Kamu beruntung sekali menikahi gadis secantik dan sebening ini."
Anas tetap tersenyum, "Kami permisi, kasihan istri saya harus istirahat."
"Ahhh, ya. Pengantin baru itu jangan dulu keluar kamar. Harus banyak istirahat agar tenaga terkumpul."
"Bukannya kalo banyak diam di kamar, tenaga malah habis. Tahu kan pengantin baru itu ngapain aja?"
Mereka cekikikan. Cantika tambah kesal dan tidak nyaman pada ibu-ibu itu. Menjijikkan!
__ADS_1
Anas tak menghiraukan candaan mereka. Dia melanjutkan langkahnya menuju rumah, diikuti istrinya yang berwajah masam.
"Permisi, bapak-bapak...." Ucap Anas saat melewati beberapa pria yang sedang berkumpul di warung.
"Ehhh, Anas. Duhhh pengantin baru...."
"Ini ya istrimu, cantik sekali..."
Tak jauh beda dari ibu-ibu tadi, mereka sedikit menggoda Anas dan Cantika.
"Duluan ya, permisi." Anas melangkah cepat. Istrinya yang mengekor di belakang kini menggerutu kesal. "Orang-orang itu semuanya nyebelin dan norak." Anas tidak menanggapi keluhan Cantika. Dia hanya sedikit mesem sambil menggelengkan kepala.
"Mira, kamu baik-baik saja?" tanya Anas ketika berpapasan dengan si gadis berlesung pipi. Ia bahkan menghentikan dulu langkahnya.
Mira menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah perempuan yang berdiri di samping Anas. Cantik sekali, pantas saja mas Anas bersedia menikahinya. Aku sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding perempuan itu.
Cantika menatapnya kesal karena untuk ke sekian kalinya dirinya menjadi pusat perhatian warga kampung itu. Nih lagi cewek yang satu, kenapa liatin gue ampe segitunya?
"Mira, kamu kemarin tidak datang di acara pernikahanku. Apa kamu sakit?" Anas kembali bertanya.
"Apa sekarang sudah baikan, kenapa malah ada di luar rumah ? Harusnya banyak istirahat agar cepat sembuh."
"Sudah sembuh, Mas. Jangan cemas !" tersenyum kelu. Inilah yang membuatku jatuh cinta padamu, mas. Ku mohon jangan lagi memberi perhatian seperti ini!
Cantika makin muak. Dia malah jadi kambing conge diantara kedua orang itu. "Udah ngobrolnya? Gue cape mau istirahat."
"Mira, kami permisi...." Tadinya dia ingin memperkenalkan istrinya pada temannya itu. Tapi berhubung Cantika sudah marah-marah, akhirnya niat itu dia urungkan. Mungkin lain waktu saja.
Mira mengangguk, menatap kepergian pria itu dengan pilu. Kisah cintanya benar-benar sudah kandas. Ini waktunya untuk berusaha melupakan perasaannya pada Anas.
***
Cantika melongo saat tiba di depan rumah kecil milik suaminya. Benar-benar jauh sekali dari yang dia bayangkan. Ok, dia tahu jika Anas bukankah pria tajir melintir. Tapi tadinya dia kira, laki-laki itu punya rumah sederhana di daerah yang steril. OMG, gue gak nyangka ternyata dia tinggal di daerah perkampungan dan kumuh seperti ini!
Padahal suasana di sana tidak sekumuh yang Cantika pikir. Rumah Anas begitu terawat dan bersih walaupun memang sempit. Bahkan di depan rumah, terdapat beberapa tanaman yang sengaja dipelihara pria itu. Hanya saja, bagi Cantika suasana seperti itu sangatlah tidak nyaman.
"Ayo, masuk!" Ajak Anas sambil menyeret koper.
__ADS_1
Perempuan itu perlahan melangkah. Celingukan lagi saat di dalam rumah. Ruang tengah itu begitu sempit. Hanya ada beberapa kursi kayu dan sebuah meja di sana. Ada TV ukuran 14 inci bertengger di dinding depan kursi.
Dia kembali terkejut saat masuk ke dalam kamar yang ukurannya lebih kecil dari ruang tamu. Hanya ada satu kasur ukuran sedang di sana. Lemari pakaian kecil dan kaca besar di sebelahnya. Gak ada ruang ganti ataupun meja rias. Kamar ini bahkan jauh lebih buruk daripada kamar pembantu gue di rumah papi.
"Simpan pakaianmu di lemari. Nanti jika mau tidur, pakai saja kasurku ! Biar aku tidur di luar." Ucap Anas.
"Emmm, kamar mandi dimana?"
"Ikut saya!" melangkah ke luar kamar menuju ruangan di sebelahnya. Sebelum ke kamar mandi, mereka melewati dapur terlebih dahulu.
"Ya ampun, model rumah lo terinspirasi dari mana sih? Ruangannya sempit semua, susunannya gak rapi. Mau ke kamar mandi aja kudu lewat dapur dulu." Kesal.
"Istriku, belajarlah bersyukur! Di luar sana masih banyak orang-orang yang tidur di kolong jembatan atau di emperan toko." Tersenyum manis.
Cantika mendelik, "Udah sana, gue mau ke kamar mandi!"
"Saya tahu." Pergi dengan senyuman.
"Heehhh, gue kesel tapi dia cengar-cengir aja. Kadang sikapnya aneh..." Usai bicara, dia langsung masuk ke sana.
Sejurus kemudian dia berteriak-teriak. "Mana airnya ini?"
Anas menghampiri dan berdiri di balik pintu. "Kenapa?"
Cantika membuka pintu, "Gak ada air." Cemberut.
"Siapa bilang? Kamu lihat kan, di dalam ada sumur. Kamu harus ambil air dari sana!"
"What ? Maksud Lo, gue harus nimba dulu? Gue gak bisa!" teriak-teriak.
"Baiklah, biar saya yang melakukannya." Anas masuk ke kamar mandi. Setelah mengisi bak dan beberapa ember, dia keluar lagi. "Silahkan, Nona! Saya permisi dulu!" Seperti biasa, dia pergi dengan senyum manisnya.
"So manis..." Cantika buru-buru masuk. Sudah sedari tadi dia menahan diri untuk membuang air yang ada dalam tubuhnya.
Setelah selesai, dia kembali ke kamarnya. Sedangkan Anas sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan makan siang. Perempuan itu menoleh sekilas pada pria yang tengah memasak. Rajin banget tuh cowok!
Cantika telentang di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Di sinilah dia berada. Di rumah sempit di kampung bersama suami yang norak. Kenapa dia bisa gegabah mengambil keputusan untuk menikah, hanya karena ingin keluar dari rumahnya? Padahal jika mau menghindari bertemu ibu dan adik tirinya, dia bisa saja keluyuran sepanjang hari dan pulang larut malam, seperti biasanya. Tidak perlu sampai harus menikah seperti ini. Mungkin salahnya sendiri karena sudah terbawa emosi. Tapi percuma saja dia menyesali semuanya. Toh pada kenyataannya, dia sudah resmi menjadi istri dari Om bewokan itu.
__ADS_1