
Cantika begitu gusar saat di dalam mobil. Dia ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Beberapa kali dia protes pada si pengemudi agar menambah kecepatan mobil yang mereka naiki.
"Lo bisa gak bawa mobil ini lebih cepet? Gue berasa naik odong-odong tahu, gak nyampe-nyampe!"
"Diem, Ika. Gue udah bawa mobil ini dalam batas normal. Kalo terlalu ngebut bahaya, gue takut kecelakaan. Mana belum kawin lagi..."
"Belum kawin tapi Lo kan pernah ngerasain begituan. Jadi gak usah penasaran!"
"Resehhh Lo, meski gue udah blong, tetep aja gue pengen nikah suatu saat nanti." Lama-lama Rubi merasa kesal pada temannya itu.
Tak lama berselang, ponsel milik gadis itu berbunyi. "Ika, tolong angkat dong. Gue gak bisa fokus nyetir kalo sambil telponan."
Cantika pun menuruti permintaan temannya. Dia mensetting agar suaranya keras dan dapat didengar Rubi.
"Halo, Ma. Ada apa?" Tanya gadis itu pada orang di sebrang sana.
"Rubi, Papa masuk ICU, penyakit ginjalnya kambuh. Kamu harus segera ke Rumah Sakit sekarang!"
Cittt...! Mobil pun berhenti.
Gadis itu shock saat mendengar berita itu. Semakin panik ketika ibunya menangis sesenggukan.
Cantika menyimpan kembali ponsel itu ke dalam tas temannya saat telpon itu terputus. Dia menatap Rubi yang masih membuntang. "Rubi, Lo harus ke Rumah Sakit secepatnya! Biar gue anterin. Bahaya kalo menyetir saat suasana hati Lo lagi gak tenang."
Akhirnya mereka bertukar posisi. Cantika segera menggerakkan kendaraan itu menuju Rumah Sakit tempat ayah Rubi dirawat.
***
Usai mengantar Rubi, Cantika pun pamit. Dia tidak bisa menjenguk ayah temannya karena tidak diijinkan oleh Dokter. Tapi setidaknya dia sudah berusaha menenangkan hati Rubi dan Bu Ratna. Itu sedikit membuatnya lega.
"Tante, Rubi, aku pamit pulang." Ucapnya.
"Ika, sorry gue gak jadi anterin Lo." Rubi berkata lirih dengan wajah yang sembab.
"Gak apa-apa, gue bisa pulang sendiri."
"Hati-hati di jalan, Cantika. Makasih udah anterin Rubi ke sini." Bu Ratna menepuk pundak Cantika.
"Ya, Tante." Dia tersenyum dan beranjak dari duduknya. "Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam..." Rubi dan ibunya menjawab serentak.
Cantika pun perlahan menghilang dari pandangan mereka. Sebenarnya dia tak langsung pulang, singgah dulu di sebuah mushola Rumah Sakit tersebut.
***
Saat ini Cantika baru selesai sholat Maghrib. Dia menghampiri seorang wanita yang sedang duduk di pojok musholla sambil mengutak-atik ponsel.
"Mbak, boleh pinjem charger? HPku lowbat. Aku harus segera menelpon suamiku." Pintanya.
"Silahkan, Mbak." Dia mencabut charger dari ponselnya.
Cantika mengambil benda yang masih terhubung dengan colokan listrik itu lalu menancapkannya ke handphone. Setelah menunggu beberapa menit, ponsel itu pun hidup kembali. Dia segera menelpon suaminya.
"Cantika, kamu ada dimana? Dari tadi aku hubungi tapi nomormu tidak aktif." Suara Anas terdengar begitu panik.
"Maaf, Mas...HPku lowbat. Ini juga pinjem charger punya orang. Aku sekarang ada di mushola Rumah Sakit."
__ADS_1
"Rumah Sakit mana? Tunggu di sana, aku akan menjemput."
"Aku ada di Rumah Sakit Harapan Kita. Tapi jaraknya jauh banget dari rumah."
"Tidak masalah, tunggu di sana. Aku sekarang juga berangkat." Telpon ditutup.
Mas Anas kayaknya marah. Gimana ini?
Cantika gusar saat ini. Apa yang harus dia lakukan jika suaminya memang benar-benar murka?
"Mbak, gak lagi buru-buru?" tanya Cantika pada wanita yang masih memegang ponsel.
"Tenang aja, Mbak. Aku emang di sini sedang nunggu adzan isya. Sekalian mau sholat biar gak bolak-balik lagi." Usai bicara, dia menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Makasih banget Mbak. Aku jadi bisa hubungi suamiku."
"Sama-sama." Jawabnya sambil tersenyum.
Waktu terus berjalan. Usai sholat isya, Cantika melirik ponselnya. Belum ada tanda-tanda suaminya menghubungi. Pasti Mas Anas masih ada di jalan.
Setelah lama menunggu, akhirnya benda itu bergetar. Secepat kilat dia memencet tombol hijau pada layar ponsel.
"Mas, udah dimana?"
"Di depan Rumah Sakit, kamu?" Pria itu balik bertanya.
"Masih di mushola. Tunggu di sana, aku akan temui Mas secepatnya!"
"Ya, hati-hati. Jangan berlari nanti kamu jatuh!"
Cantika menyimpan ponsel itu ke dalam tas sembari tersenyum. Dia senang karena suaminya begitu perhatian meski untuk hal-hal kecil.
***
Cantika tetap berlari meski Anas sudah memperingatkannya. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan suaminya itu. Kini dia berdiri tepat di dekat Anas dengan tersenyum. Nafasnya ngos-ngosan seiring dadanya yang naik turun.
"Sudah ku bilang jangan berlari!"
"Aku pengen cepet-cepet liat wajah Mas." Masih nyengir kuda.
"Cepat naik, ini sudah malam. Perjalanan kita sangat jauh." Ucap Anas agak ketus.
"Ya..." Cantika menunduk karena merasa tidak enak hati sudah membuat suaminya marah.
Dia naik ke atas motor dengan perlahan-lahan. Tangannya sengaja memegang jok motor karena sungkan jika harus menyentuh pria yang terlihat kesal itu.
"Pegangan yang kuat, biar kamu tidak jatuh. Aku harus ngebut agar sampai di rumah lebih cepat."
"Iya...." Di saat seperti itu dia hanya bisa manggut-manggut saja. Aura suaminya berubah jadi gelap saat sedang murka.
Ketika tangan Cantika melingkar di pinggangnya, Anas pun melajukan si kuda besi. Wanita itu sudah begitu kuat memeluknya sambil menutup mata. Tapi ternyata, motor itu bergerak dalam kecepatan normal.
Cantika mengerjapkan mata. Ehhh, segini aja yang dia bilang ngebut? Aku kira tadinya mau bawa motor ini kayak Valentino Rossi. Tukang ojeg aja lebih cepat dari ini.
Perempuan itu berdehem sebelum bicara. Dia memutuskan untuk memecah kekakuan diantara mereka dengan cara berceloteh terlebih dulu.
"Mas, kamu ngambek? Maaf, aku gak sengaja...Tadinya aku pas tadi sore mau hubungi kamu, tapi handphone-ku keburu mati."
__ADS_1
Anas belum merespon. Cantika terus mengoceh karena dia merasa perlu memberi penjelasan.
"Aku diantar sama Rubi, salah satu temanku. Tapi pas di perjalanan, ibunya menelpon dan menyuruhnya pergi ke Rumah Sakit karena ayahnya dirawat di sana. Karena khawatir Rubi menyetir pas pikirannya kacau, jadi aku yang membawa mobil itu dan mengantarnya ke Rumah Sakit yang tadi." Dia berteriak-teriak agar suaminya bisa mendengar.
Ahhhh, bego banget! Mana mungkin dia dengar. Ntar aja deh di rumah jelasinnya.
Anas memang tidak bisa mendengar perkataan istrinya dengan jelas. Namun dia mesem sendiri saat Cantika berteriak-teriak. Begitu menggemaskan!
***
Anas tiba-tiba menghentikan motornya di tepi jalan. Cantika celingukan karena ternyata perjalanan mereka belum berakhir.
"Kenapa berhenti? Masih jauh kan, dari rumah kita?"
"Cepat turun dari motorku!" Pria itu masih terlihat menakutkan.
"Ma..maksud Mas?"
"Aku bilang turun, Cantika!"
"Mas mau tinggalin aku di tepi jalan, malam-malam begini?"
"Turun sekarang!"
Cantika memanyunkan bibirnya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dia segera turun dari motor itu. "Ya udah, aku turun. Paling-paling ada preman ganteng yang nyulik aku." Dasar gak punya perasaan. Buat apa dia jemput ke Rumah Sakit kalo akhirnya gue ditelantarkan?
Wanita itu melepas helm dari kepalanya. Dia berjalan perlahan sambil berurai air mata.
"Cantika, mau kemana?" tanya Anas.
"Gak usah tanya-tanya!" menjawab ketus.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? Aku cuma minta agar kamu turun dari motor."
Cantika menghentikan langkahnya. Bener juga sih... Dia menoleh ke belakang.
Suaminya tersenyum dari jarak yang tidak terlalu dekat. "Kita makan dulu, aku lapar."
"Hah?" Dia melongo karena prasangkanya tidak benar. Ohhh iya, itu ada tukang nasi goreng. "Jadi Mas tadi nyuruh aku turun karena mau ngajak makan di situ?" tanyanya dengan nyengir malu sambil mendekat.
"Memang apa yang kamu pikirkan?"
"Tadinya aku pikir kamu mau ninggalin aku di sini."
Anas mengacak-acak rambut istrinya, lalu mengusap bulir bening yang lolos ke wajah cantik itu. "Dasar cengeng!"
"Ini gara-gara kamu yang ngomongnya judes banget. Aku kan mikirnya kamu lagi ngambek."
"Ya, maaf. Aku cuma mau sedikit menggodamu."
"Tapi aku jadinya bete dan ketakutan gara-gara auramu itu serem banget." Tetap saja bibirnya monyong.
Anas menggenggam tangannya, "Maaf, ayo kita pesan nasi goreng dulu. Perutku sudah berdemo dari tadi."
Usai makan malam, mereka kembali naik motor untuk melanjutkan perjalanan. Cantika memeluk erat pinggang suaminya sambil tersenyum. Romantis juga jalan-jalan begini sama suami. Semuanya terasa indah kalo ada Mas Anas.
Anas pun merasakan hal yang sama. Rasa khawatir dan kesalnya, berganti menjadi bahagia. Malam itu bagaikan kencan yang tidak disengaja bagi mereka.
__ADS_1