TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Bumil jadi stress


__ADS_3

Anas dan Cantika saling pandang. Mereka duduk bersebelahan di tepi ranjang.


"Apa itu tadi?" Anas memegang perut istrinya.


"Nggak tahu, apa mungkin aku....?"


"Hamil? Apa tadi yang bergerak di perutmu adalah anak kita?" Anas menduga-duga.


"Mungkin iya mungkin tidak." Ekspresi wajahnya seperti orang yang shock.


"Apa kehamilan pertama seperti ini?"


"Kurasa iya. Tapi ini belum tentu. Mungkin saja yang bergerak itu adalah cacing di perutku." Tidak mau berharap banyak, biarlah waktu yang akan menjawab.


"Besok kita ke Dokter kandungan. Sekarang kita istirahat." Anas membaringkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Belum apa-apa tapi pria itu mesem-mesem sendiri. Sudah terbayang jika istrinya benar-benar hamil lagi. Dia akan jadi bapak untuk yang kedua kalinya. Banyak rancangan masa depan yang sudah memenuhi otaknya. Bahkan sederet nama anak laki-laki dan perempuan sudah menumpuk dalam pikirannya.


**


"Alhamdulillah, akhirnya kita punya anak lagi." Sorak Anas saat mengetahui jika istrinya benar-benar berbadan dua.


Cantika memukul pelan lengan suaminya agar bisa sedikit lebih tenang. Jangan sampai mempermalukan dirinya. Sedangkan sang Dokter wanita hanya tersenyum. Sudah biasa menghadapi reaksi dari para bapak-bapak. Bahkan ada yang sampai melakukan joget-joget di depannya. Anas masih mending, cuma berteriak-teriak, bersorak layaknya anak kecil yang berhasil memasukkan bola ke dalam gawang. Ya, meskipun sedikit membuat kotoran di telinga Bu Dokter jadi berhamburan.


"Kenapa baru periksa sekarang, Bu?" tanya Dokter itu.


"Itu karena saya tidak merasa sedang hamil. Gak pernah mual, muntah atau ngidam. Malah suami saya yang seperti itu. Dia muntah-muntah tiap pagi selama kurang lebih 2 bulan."


"Itu memang kadang terjadi pada beberapa pasangan. Tapi itu masih wajar. Malah bagus, suami Ibu bisa merasakan bagaimana beratnya jadi seorang wanita hamil."


Bagus apanya? Malah aku yang keder karena kelakuan Mas Anas. Pantesan aja dia jadi aneh dan menyebalkan.


Cantika hanya nyengir kuda. Biarlah uneg-uneg itu terpendam dalam hatinya.


Anas manggut-manggut meski sebenarnya belum paham. Mengapa istrinya yang hamil tapi dia yang ngidam.


Ohhh, mungkin biar adil. Tidak apa-apa kemarin aku muntah dan sakit, yang penting Cantika baik-baik saja.


**


Cantika dan Anas kini tengah berada di rumah Pak Permana. Semuanya berkumpul di ruang keluarga, kecuali Riri. Gadis itu sibuk bermain bersama keponakannya yang cubby.


"Cantika sedang hamil, Pih. Baru 4 bulan." Ucap Anas antusias.


Suami-istri yang sudah tak lagi muda itu pun langsung sumringah. Bahkan Bu Sofi memeluk Cantika sambil mengusap kepalanya. "Selamat, ya Nak. Mama ikut bahagia. Semoga semuanya lancar dan sehat."


Pak Permana tersenyum bangga. "Anas, terima kasih sudah memberi saya cucu lagi. Kamu memang hebat."


Pria itu memang benar. Serangan Anas memang tokcer. Baru beberapa bulan alat KB dikeluarkan, kini rahim Cantika sudah kembali diisi nyawa.


"Cantika, Afkar biar sama kami saja di sini. Nanti kamu kan pasti sibuk setelah lahiran." Tawar Bu Sofi.


"Nggak, ah. Aku gak mau ngerepotin." Tolak Cantika.

__ADS_1


"Kami senang ada Afkar di rumah ini. Suasana jadi lebih rame dan hangat. Apalagi Riri, dia senang sekali saat sama anakmu. Dia memang menginginkan punya adik." Ucap wanita yang wajahnya sedikit keriput itu.


"Tapi kami akan merasa kehilangan jika Afkar tinggal di sini. Mungkin jika sekali-kali menginap, boleh saja." Ucap Anas.


"Lagian kalian ini kenapa? Riri mau punya adik, berarti tugas Mama dan Papi yang mengabulkan. Afkar itu anak kami." Goda Cantika.


"Isshh, kamu ini. Kami sudah tidak muda. Masa mau punya anak lagi." Ucap Bu Sofi.


"Mah, Riri itu pantasnya punya suami dan anak. Bukannya malah mau punya adik, haha...." Pak Permana tertawa kecil.


"Mas benar, tapi kayaknya anak itu sama sekali tidak tertarik untuk menikah. Makin hari makin cuek sama laki-laki."


"Apa perlu Papi carikan jodoh untuknya?"


"Mama belum tahu." Bu Sofi terlihat agak sendu. Bagaimanapun juga dia merasa cemas akan putri satu-satunya. Sudah terlalu lama Riri menyembunyikan senyumannya.


Riri muncul lalu duduk di sebelah ibunya. "Aku belum mau menikah."


"Kami tidak akan memaksa. Terserah kamu saja." Bu Sofi memegang tangan anaknya.


Cantika dan Anas tidak berkomentar meskipun mereka tahu apa yang Riri rasakan. Gadis itu telah menceritakan semuanya kepada sang kakak sambung. Kejadian memalukan dan menyakitkan saat Riri tahu status asli Fabian. Mungkin kenangan itu masih membekas di hatinya. Atau bahkan rasa cinta itu belum benar-benar musnah.


**


Mendengar ibunya hamil, Afkar mendadak jadi agak manja. Dia memang tidak begitu mengerti apa arti hamil. Tapi dia tahu pasti bahwa sebentar lagi akan punya adik. Itu sedikit mengusik hatinya. Ada rasa takut tersisihkan dan kehilangan kasih sayang orang tua. Anak itu memang baru berumur 2 setengah tahun, tapi sikapnya bisa jauh lebih dewasa dibanding anak seumurannya.


"Afkar bobo sama Ayah saja." Maksudnya di sisi, biar Anas berada di tengah-tengah agar aman. Dia takut Afkar tanpa sengaja menendang perut sang Bunda.


"Ok, gak apa-apa. Bunda malah senang. Ayo kita bobo!" Cantika mencium kening putranya itu.


Tanpa lama-lama, ibu dan anak itu pun terlelap. Lain halnya dengan Anas. Dia masih tersenyum memperhatikan keluarga kecilnya. Dikecup dan diusapnya kepala Afkar dan Cantika secara bergantian. Tak lupa si kecil yang masih bersembunyi di dalam rahim pun, ia sapa dengan bisikan dan kecupan juga.


"Selamat malam, sayang. Ayah tidak sabar ingin segera menimangmu."


Tanpa terduga, perut itu sedikit berkedut. Mungkin si kecil juga ingin menyapa ayahnya. Anas makin antusias. Kini ia tahu bagaimana rasanya mendampingi istri yang tengah hamil. Berbagai rasa bahagia menumpuk di dadanya. Melahirkan rasa haru berselimut syukur. Dia sangat beruntung karena Tuhan memberi kesempatan dan kepercayaan lagi untuk membesarkan seorang anak.


Esoknya di meja makan.


Afkar tiba-tiba merajuk karena ingin makan ayam panggang. Cantika selembut mungkin menenangkannya, tapi tetap saja keukeh.


"Sayang, nanti sore ya. Ini kan masih pagi, belum ada yang jual. Nanti kita makan di restoran."


"Mau sekarang pokoknya!"


"Ayah juga mau, Bun. Kayaknya enak tuh makan ayam panggang pagi-pagi begini."


Makin geramlah Cantika. Kenapa suaminya malah ikut-ikutan merajuk? Harusnya pria itu membantunya membujuk Afkar.


"Tapi mau beli dimana? Ini masih pagi."


"Bunda bikin aja sendiri." Ucap Anas sambil mengunyah gorengan.

__ADS_1


"Jangan, nanti malah gak bisa dimakan. Pasti gak enak." Cegah si bocil. Dia tahu persis bahwa masakan ibunya tidak terlalu enak.


"Kalo gitu suruh Ayah saja yang masak!" Gerutu Cantika sebal.


"Aku sedang malas, sayang." Anas malah terlihat cuek saja.


Cantika bangkit dari duduknya sambil menatap kedua orang itu dengan tajam. Ingin memarahi Afkar, jelas itu tidak mungkin. Anak itu masih kecil, belum tahu mana yang baik dan buruk. Nah sedangkan ayahnya, rasanya Cantika ingin memukul kepala Anas dengan vase bunga agar otaknya kembali normal dan menjadi suami siaga seperti sebelumnya.


Tenanglah, Cantika! Kamu harus sabar demi anak yang sedang kamu kandung. Jangan marah-marah juga di depan Afkar. Itu tidak baik.


Cantika mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Sarapanku udah selesai. Aku mau kembali ke kamar." Ucapnya sambil berlalu menuju kamar di sebelah ruang tamu.


Astaga, Cantika lebih baik ngidam layaknya wanita normal. Ngidam dialihkan pada suaminya malah membuatnya sakit kepala. Anas jadi manja dan menyebalkan. Malang sekali nasibnya, saat hamil pertama harus dilalui tanpa suami. Dan kini saat ada Anas, pria itu malah membuatnya naik darah. Tapi jika disuruh memilih momen mana, jelas kehamilan kali ini yang lebih dia syukuri. Meskipun Anas membuatnya stress, tapi dia bahagia karena suaminya itu ada bersamanya. Lebih baik selalu marah-marah daripada mewek.


Tapi tetap saja aku mau Mas Anas yang normal. Apa aku jedotin aja kepalanya ke tembok biar sadar? Ah, ntar Mas Anas malah jadi amnesia. Ya udahlah, yang penting dia masih sayang keluarga.


Akhirnya pasrah saja dengan keadaan.


Tiba-tiba dia teringat pada Bibi di rumah ayahnya. Kenapa tidak kepikiran dari tadi? Masalah ayam panggang itu akan selesai di tangan sang pelayan.


**


Siang hari pesanan ayam panggang itu baru tiba di rumah Anas. Sang sopir pun langsung pamit usai mengantar makanan itu.


Ketiga orang sudah duduk manis di ruang makan.


"Nah, Afkar. Ini dia ayam panggang yang kamu mau. Cepat makan biar pipi bakpau kamu makin menggembung!" Cantika mencubit pipi chubby anaknya sambil tersenyum. Sedangkan si bocil malah monyong, tak suka pipinya jadi bahan bully-an. Menurut anak kecil itu, dia adalah anak yang paling imut dan ganteng sekampung.


Anas dengan semangat melahap makanan itu. Tapi wajah sumringahnya berubah jadi kecut saat mencicipi rasa ayam panggang itu.


"Kenapa masih bau amis, bikin enek? Aku jadi malas makannya."


"Masa? Bibi itu pinter masak lho. Apa karena lagi riweuh, masaknya jadi gak fokus?" Cantika mencoba merasai makanan itu. Sungguh tidak ada yang aneh, malah rasa makanan itu luar biasa. Menari-nari di lidahnya. Pasti yang tidak beres itu adalah alat pengecap milik suaminya. Maklumlah, suami ngidam!


"Aku juga udah nggak mau makan itu." Afkar malah ikut-ikutan.


Cantika memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Kenapa dua makhluk itu kini menyerangnya bersamaan? Astaga, ujian apakah ini?


"Afkar, tadi katanya mau ayam panggang. Kenapa sekarang gak mau?" Mencoba bersikap lembut meski dadanya terbakar.


"Itu tadi pagi, sekarang udah nggak." Jawab bocil tanpa dosa itu.


Makin ngebul tuh kepala Cantika. Jika amarah itu bisa divisualisasikan, maka akan keluar asap tebal dari lubang telinga dan hidungnya. Matanya merah padam dan menyalak. Tangannya terkepal erat dan dadanya ngos-ngosan, mungkin lelah menahan panasnya amarah.


Astaga, kenapa anak itu malah terlihat mendukung ayahnya? Kenapa kalian bersekongkol ingin membuatku gila?


Tatapan runcing dihunuskan pada sang suami yang cuek bebek. Masih saja nyerocos protes akan rasa dari ayam panggang itu.


"Diam...! Kalau kalian nggak mau, biar aku aja yang habiskan makanan ini." Sedikit teriak sambil berdiri.


Anas langsung kabur membawa anaknya agar perang tidak makin parah. Cantika kembali duduk lalu menyabet makanan itu hingga benar-benar habis. Lapar, enak campur marah menjadikannya serakus itu. Ayam panggang seekor utuh, hanya diicip sedikit oleh Anas dan Afkar, dia lahap dengan nasi sepiring besar.

__ADS_1


Bagus, Cantika. Ibu hamil memang harus banyak makan! Hehe.....


__ADS_2