TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Istri yang baik


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Saat ini Anas dan Cantika tinggal di rumah Pak Permana, setidaknya sampai rumah baru mereka selesai direnovasi. Bukan, lebih tepatnya dibangun kembali karena rumah yang terdahulu sudah hancur dan menyisakan sedikit rangka yang hangus.


"Cantika, aku sebenarnya tidak enak hati pada ayahmu. Beliau sudah begitu baik, mau membiayai biaya untuk rumah kita. Aku juga malu karena selama ini, aku belum mampu memberikan semua kelayakan untukmu. Kamu harus tinggal di rumah kecil dan itupun rumah peninggalan mendiang orang tuaku." Anas menundukkan wajah sendunya.


Cantika menggenggam tangan pria yang tengah duduk di sofa itu. "Mas, aku gak berpikir gitu. Aku yakin Papi juga sama. Kamu pikir kenapa Papi menikahkan aku denganmu? Aku rasa karena kamu adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Dan untuk masalah rumah, biarin aja. Itu bukan kamu yang minta. Kalo kamu nolak, Papi pasti akan sangat kecewa."


Anas menatap istrinya lekat. "Apa kamu bahagia hidup denganku?" Saat ini rasa rendah dirinya muncul lagi.


"Mas, aku sangat bahagia nikah sama kamu. Dan Papi juga sama, dia yang paling bahagia malah…" 


Keduanya saling melempar senyuman. Namun lagi-lagi pria itu menunduk. "Tapi, selama beberapa hari ini aku belum bisa memberikan nafkah padamu. Aku belum jualan lagi. Aku malu sama kamu dan Papi."


"Mas, kamu ini." Cantika meraup wajah suaminya agar mau bersitatap lagi. "Jangan pikirin itu, sekarang istirahat dulu! Mas, aku ke bawah dulu mau ambil makanan buat kamu."


Anas mengangguk pelan. Dia sebenarnya tidak enak hati jika harus menumpang hidup meskipun mertuanya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini dia belum bisa beraktivitas seperti biasanya.


Dalam beberapa menit, Cantika telah kembali untuk mengambilkan sarapan. Dia duduk di tempat semula dan menyimpan nampan di atas meja. Mengambil piring yang berisi makanan lalu menyuapkannya pada Anas.


"Aaa, makan yang banyak!"


"Biar aku saja. Aku tidak mau merepotkanmu terus." Ucap Anas hendak mengambil alat makan.


Cantika menggelengkan kepala, "Aku ini istrimu, jadi wajar kalo aku rawat kamu saat ini. Lagian aku gak ngerasa direpotin."


"Tapi aku bisa makan sendiri."


"Tapi aku mau suapin kamu. Aaaa…"


Akhirnya pria itu pun membuka mulutnya. Sambil mengunyah makanan, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang terus merekahkan senyuman.


"Kenapa liatin aku terus? Baru lihat cewek cakep, ya?!"


"Tidak, aku hanya ingat saat kita pertama bertemu. Kamu itu jutek, aku gak nyangka kalo kamu akan menerimaku secepat ini."


"Mas, apa alasan kamu mau nikahin aku selain karena Papi?" tanyanya sambil menyendokkan makanan.


"Karena Yang Diatas lah yang menginginkan kita menikah. Aku diberi petunjuk lewat mimpi." 


Cantika mengernyitkan dahi seraya memasukkan makanan ke mulut suaminya. "Mimpi itu kan bunga tidur, masa kamu percaya gitu aja."


Anas berbicara lagi usai menelan makanannya. "Tapi mimpi itu aku dapatkan setelah meminta petunjuk langsung lewat sholat dan doa. Dan ternyata keputusanku itu memang tepat. Kamu adalah istri yang baik. Kamu begitu tulus merawatku. Kamu juga mau menerima keadaanku yang banyak kekurangan ini. Terima kasih banyak, sayang." Anas tersenyum sambil memegang pundak istrinya.


"Sama-sama, sekarang makan lagi sampai habis."


"Kamu tidak makan?" 


"Nggak, ah. Aku mau diet, berat badanku naik banyak setelah nikah sama kamu." Ucapnya seraya kembali menyuapi namun mulut Anas belum mau menerima.


"Badanmu masih bagus tidak perlu diet. Jangan terlalu berlebihan, nanti kamu sakit." 


"Aku gak nyaman, Mas. Kamu gak usah takut, aku biasa ngelakuinnya. Lagian perutku udah diisi telur sama alpukat tadi."

__ADS_1


**


Cantika membuka perban pada telapak kaki kanan suaminya. Setelah membersihkannya terlebih dahulu, ia mengoleskan salep pada luka itu dengan sangat hati-hati. 


"Mas, lukamu udah agak kering. Tapi apa masih sakit?" 


"Tidak sakit. Itu karena aku dirawat oleh istri yang baik dan cantik sepertimu."


Cantika tersipu-sipu. "Ahhh, aku jadi malu. Tapi emang sih aku ini cantik. Kalo baik….belum dehh kayaknya."


Drrtt…drtt…! Ponsel milik Anas bergetar. Pria itu segera mengambilnya dari atas nakas.


"Siapa Mas? Kok kayak yang bingung gitu." Tanya Cantika sambil terus mengoleskan salep.


"Tidak tahu, nomer baru. Angkat tidak ya?"


"Jangan dehh, takutnya si Mira lagi yang hubungi kamu." Bibirnya sudah memanjang beberapa mili.


Anas menyimpan lagi benda itu di tempat semula demi menjaga perasaan istrinya. Cantika menyimpan obat lalu mencuci tangan. Dia duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan suaminya.


Drrtt…drtt…! Ponsel kembali bergetar. 


"Ishhhh, Mas. Kenapa gak matiin aja handphonenya?" Wanita itu mulai geram. 


"Tapi kan yang penting aku tidak menjawabnya."


Cantika mencebik kesal lalu mengambil benda itu. "Ok, biar aku aja yang jawab. Aku juga pengen tahu nomer siapa ini? Awas ya kalo emang beneran si Mira, aku bakalan teriakin dia biar budeg sekalian."


Anas cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya yang menurutnya konyol tapi menggemaskan.


"Hehh, siapa Lo? Berani-beraninya nelpon suami gue." Benar saja, kali ini dia teriak-teriak kencang. Pasti sekarang orang yang menelpon itu telinganya sudah hancur.


"Ika, kenapa Lo teriak-teriak gitu? Suara Lo bikin telinga gue rusak. Ini gue, Gladis."


"Gladis? Ngapain Lo hubungi laki gue? Darimana Lo dapet nomer ini?" Masih ngambek.


"Gue dapet nomernya dari adik tiri Lo. Gue sebenernya pengen ngomong sama Lo, bukan sama Mas Anas. Karena Lo gak ada handphone, jadi gue hubungi laki Lo. Gue mau curhat…." Gadis di sebrang sana merengek-rengek seperti bocah. 


"Ohhh, bentar."


Cantika berbicara pada suaminya. "Mas, ini temenku. Gladis, yang waktu itu ketemu di pesta tunangannya Riri. Dia mau curhat, boleh gak?"


Anas mengangguk. Perempuan itu kembali berbincang dengan si penelpon.


"Lo kenapa?" 


"Ika, gue….positif."


Cantika mengernyit, "Hehh? Positif apaan? Lo gak kena AIDS kan?!"


"Gak, amit-amit. Bukan itu, gak nyambung banget ihh. Gue positif hamil." Jawabnya gemas.


Cantika membelalak, "Apa? Lo hamil, siapa bapaknya?"

__ADS_1


"Syuttt, jangan kencang-kencang ngomongnya. Gue malu sama laki Lo. Ika, gue gak tahu bapaknya yang mana. Gue bingung mesti minta tanggung jawab sama cowok yang mana. Tolongin gue…" Kini gadis itu menangis.


"Astaga, Lo sih pake having fun sebelum nikah, sama banyak cowok pula. Jadi gini kan sekarang. Mendingan Lo…bla…bla..bla…" Cantika berusaha memberi pencerahan pada temannya itu. 


Setelah satu jam beradu gigi lewat pesawat telpon, pembicaraan pun berakhir. Benda pipih itu ditaruh kembali di atas nakas.


Cantika memeluk suaminya. Anas bertanya tentang pembicaraan barusan. Cantika menjelaskan semuanya, bukan karena dia tidak bisa menjaga rahasia. Namun itu semua karena dia hanya ingin memastikan bahwa pendapat yang dia berikan pada Gladis tidaklah keliru. Lagipula tipe pria seperti suaminya dapat dipercaya.


"Memang benar, sekarang ini jaman sudah semakin canggih. Temanmu harus mencari tahu siapa ayah biologis dari anak yang sedang dia kandung lewat test DNA. Setelah itu bicarakan baik-baik, minta pertanggungjawaban dari laki-laki tersebut. Semoga saja mereka bisa segera menikah. Kasihan anaknya jika harus lahir tanpa sosok seorang ayah." Jelas Anas memberikan komentar.


"Ya, aku juga harap Gladis bisa melewati masalah ini dengan baik." 


"Cantika, aku salut sama kamu. Kamu bisa menjaga kehormatanmu meski dikelilingi pergaulan yang tidak sehat." Anas mengusap rambut hitam istrinya.


"Aku udah janji sama mendiang Mami buat menghadiahkan mahkotaku sama laki-laki yang emang punya hak. Selain itu, aku takut kena penyakit AIDS kalo ngelakuin itu. Ihh, ngeri." Ucapnya sambil bergidikan.


Pria itu mengecup kening istrinya lalu mengusap lagi rambut indah yang tergerai itu. "Istriku ini memang sangat baik, aku beruntung jadi suamimu."


"Aku yang beruntung punya suami baik dan bewokan kayak kamu, Mas. Suami sexy, I love you…." 


Perempuan itu menc**m pipi suaminya dengan gemas, yang langsung disambut dengan kecupan dimana-mana.


"Aku juga sangat mencintaimu," ucap Anas.


Setelah itu, keduanya pergi ke Balkon untuk sekedar berjemur dan menghirup udara yang masih pagi.


**


Sebulan berlalu…


Cantika mematut diri di depan cermin. Perempuan itu terlihat begitu elegan dengan gaun panjang berwarna putih dengan sedikit renda di ujung gaun dan mansetnya. Rambut hitam sebahunya dibiarkan tergerai begitu saja dengan sedikit dibuat bergelombang di bagian ujungnya. Polesan wajahnya tidak berlebihan namun membuat kecantikannya terpancar lebih kuat.


Anas yang telah selesai bersiap, kini menatapnya lekat. Dia memeluk wanita itu dari belakang.


"Mas, gimana? Penampilanku gak norak, kan?!" tanyanya sambil terus memandang dirinya di kaca.


"Kamu selalu cantik meski saat baru bangun tidur." Anas menyandarkan dagunya di curuk leher Cantika.


"Aku tahu itu, tapi gimana penampilanku kali ini?"


"Bidadari pun kalah dengan kecantikanmu. Tapi itu membuatku tidak rela membiarkanmu keluar rumah dan memperlihatkan keindahan ini pada pria lain. Tubuhmu hanya milikku. Kecantikanmu cuma untukku. Harusnya kalo keluar rumah, kamu harus menutup semuanya. Jangan berdandan berlebihan yang bisa membuat laki-laki lain tertarik."


Cantika mengembuskan nafasnya kasar. "Mas, aku tahu apa maksudmu. Tapi, aku belum siap. Lagian meski aku gak dandan sekalipun, tetep aja cantik, hehe."


"Kapan kamu siap? Itu adalah suatu kewajiban, sama seperti yang lima waktu."


Cantika memutar badannya lalu memegang kedua pundak suaminya. "Mas, aku tahu. Tapi belum sekarang, aku masih perlu waktu lagi. Sekarang ayo kita berangkat, keburu make-up ku luntur."


Meski agak berat hati, Anas pun merelakan istrinya berpenampilan seperti itu. Tapi setidaknya, kali ini lebih tertutup dibandingkan saat kemarin-kemarin.


Keduanya berangkat menggunakan mobil Pak Permana, diantar oleh sopir menuju pesta pernikahan Gladis di salah satu hotel mewah.


Note:

__ADS_1


Maaf sekali para readers, aku sekarang telat up nya karena ada beberapa kendala di dunia nyata. Makasih udah selalu support 🤗🤗🤗


__ADS_2