TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
BCT


__ADS_3

Siang itu Bu Siti duduk bersebelahan dengan suaminya di sebuah sofa ruang tengah. Raut wajah mereka terlihat gusar penuh frustasi. Keadaan Mira yang belum kunjung membaik, membuat hati keduanya makin khawatir.


"Bu, bagaimana keadaannya saat ini? Apa Mira mau minum obat?" tanya Pak Yoga sambil menyesap kopinya.


Wanita itu membuang nafasnya kasar. Wajahnya yang sembab kembali dibanjiri air mata. "Mira sama sekali tidak mau minum obat. Dia selalu memanggil nama Anas. Terus menangis sampai akhirnya tertidur. Apa yang harus kita lakukan?"


"Anak kita tidak sakit. Dia terlalu frustasi karena laki-laki yang dia cintai, sudah menjadi milik wanita lain. Andai saja Mira memberi tahu kita tentang perasaannya, jauh sebelum Anas menikah. Pasti saat ini keadaannya tidak akan mengkhawatirkan seperti ini. Tapi mungkin semua belum terlambat jika sekarang Anas mau menikahinya. Pasti Mira akan segera sembuh."


Mata Bu Siti membulat sempurna. "Bapak masih saja berpikir begitu? Itu bukan ide yang baik."


"Bapak sudah membicarakan ini pada Anas. Tapi sepertinya dia tidak setuju dengan rencana ini."


"Tentu saja dia tidak setuju pada ide gila Bapak. Anas sudah menikah. Jangan sampai kita menghancurkan pernikahan orang hanya karena keegoisan kita. Kenapa Bapak sama sekali tidak memikirkan perasaan mereka? Ibu sebagai seorang perempuan, sangat paham bagaimana perasaan istrinya Anas. Dia pasti sangat terluka, Pak." Wanita itu agak teriak-teriak.


"Bapak bingung harus bagaimana. Bapak hanya mau anak kita sembuh. Kenapa Ibu malah lebih membela orang lain daripada anak sendiri?"


"Ibu tidak membela siapapun. Kita harus mencari cara yang lain untuk menyembuhkan Mira. Pak, bagaimana kalau kita masukkan dia ke Pondok pesantren? Ibu yakin jika itu adalah langkah yang tepat."


Pak Yoga terdiam dalam beberapa saat. Sebelum kembali bicara, pria itu menarik nafasnya panjang. "Ibu sepertinya benar. Kita akan bawa Mira ke pesantren jika Anas tidak bersedia menikahinya."


"Pak, bukannya Anas sudah menolak permintaan konyol itu?"


"Mungkin saja dia berubah pikiran."


Bu Siti geleng-geleng kepala. "Bapak masih saja ngarep. Meskipun mungkin dia bersedia, Ibu tidak akan setuju. Mira tidak boleh jadi pelakor, itu akan merusak reputasinya. Semua warga pasti akan mencemooh dan membencinya. Lagipula pernikahan poligami itu tidaklah mudah. Itu hanya akan menambah luka hatinya."


Namun rupanya pria itu masih berniat melanjutkan rencana A-nya. Malam ini dia akan kembali menemui Anas untuk meminta keputusan final darinya. Jika plan A gagal, maka dia akan memakai plan B yaitu memasukkan Mira ke pesantren seperti yang istrinya katakan.


***


Pak Yoga malam ini tengah duduk di ruang tengah bersebelahan dengan Anas. Cantika pun tak mau ketinggalan, dia ikut duduk di samping suaminya untuk mengawasi.


Tamu itu menatap Cantika dengan sungkan, lalu bicara sambil menunduk. "Maafkan saya karena kembali lagi kemari dan menggangu kalian. Saya ingin memastikan bagaimana keputusan kamu, Nas. Apakah kamu bersedia mengikuti rencana yang kita bicarakan kemarin malam?"


Cantika sudah sangat greget ingin memberi bogem mentah pada Si Pak Tua. Tangannya terkepal saking marahnya. Jika saja pria itu masih muda, maka dia akan menghajarnya habis-habisan. Saat seorang wanita murka, maka laki-laki pun akan tamat!


"Kebetulan sekali, saya juga ingin membicarakan ini. Seperti kemarin, saat ini dan seterusnya pun saya tidak akan pernah menyanggupi permintaan Bapak untuk menikahi Mira. Saya sudah menikah dan saya sangat mencintai Cantika. Saya tidak mau menyakiti hatinya. Saya harap Bapak mengerti." Jelasnya sembari menggenggam erat tangan wanita yang ada di sebelahnya.


Pak Yoga menghembuskan nafasnya kasar. "Baik, Nas. Saya akan menghargai keputusanmu ini. Maaf karena saya sudah egois." Tanpa basa-basi lagi, pria itu pun pamit.


Cantika tersenyum puas penuh kemenangan. Memang itulah yang harusnya terjadi. "Baguslah kalo Bapak itu mau nyerah. Gila aja kalo misalnya kamu benar-benar nikahin si Mira. Cewek stress itu bukannya disuruh kawin, tapi kudu diruqiyah! Dasar ayah yang aneh dan b*go." Ucapnya sambil berdiri dan menyilangkan tangan di dadanya.


Warning! Di bawah ini adalah adegan rada hareudanggggg. Yang belum waktunya tahu, skipp aja!


Anas mend*dukkan wanita itu di pangkuannya. Mem*l*knya erat lalu menatapnya lekat. "Sudah, jangan ngambek lagi. Kan masalahnya sudah selesai."


"Tapi aku belum tenang sampai bener-bener yakin kalo cewek itu udah lupain kamu. Dia gak boleh cinta sama kamu, Mas. Aku gak suka!"


Cup! Sebuah kec*p*n mendarat di bibir yang monyong itu. "Jangan pedulikan perasaan yang lain, lihat saja hatiku! Cuma kamu yang ada di sana sampai kapanpun."


Hemmm, ini waktunya perang. Cantika tersenyum nakal sambil mengubah posisinya menjadi menghadap pria itu.


Mata mereka bersirobok. Dan jantung itu kini tengah berlari-lari. Pria itu menghapus jarak wajah mereka. Tangannya memegang tengkuk istrinya lalu menyerang bagian paling manis di sekitar wajah cantik itu. Perlahan dan begitu lembut.

__ADS_1


Sebelah tangannya berjalan-jalan ke daerah lain. Mengusap lembut wajah, telinga, l*her lalu turun ke bagian d*d* tanpa melepas pag*t*nnya. Dia berlama-lama di bagian yang terakhir itu. Tangannya perlahan me ra yap mem bu ka k*ncing baju. Setelah menemukan dua Ben Jo lan indah itu, tangannya mampir di sana dengan asiknya. C**man brutal masih berlangsung seiring gerakan tangannya yang mer*m*t dan memainkan puncaknya dengan jemari.


Kepala Anas miring agar dapat meraih benda kenyal itu menggunakan mu lut nya. Tubuh Cantika dibuat meng*j*ng tak karuan. Sen tu han itu membuatnya menggila. Dia tak kuasa menahan suara-suara syahdu untuk meluncur dari bibirnya. Suara yang akan membuat malu yang mendengar.


Mereka makin hilang akal. Saat ini dan di tempat ini juga, keduanya harus menuntaskan kebutuhan paling penting itu. Tidak peduli meskipun berlangsung di sebuah kursi dengan posisi seperti itu.


"Mas...." Bisik Cantika saat dirinya terkulai dalam sandaran d*da berbulu itu. Nafasnya masih belum teratur. "Asik tapi cape...."


Anas tergelak sambil mengusap kepala istrinya. "Kamu jujur sekali. Tidak bisa jika diam saja? Apa tidak malu berkata begitu?"


"Kenapa harus malu? Aku curhat ini...Jangan sering pake gaya kayak tadi, aku yang cape!"


"Baru saja satu kali ini, lagipula kamu yang punya inisiatif. Kamu itu lucu sekali. Kenapa membahasnya?" Pria itu masih tersenyum geli.


"Ini namanya komunikasi suami-istri agar tercapai kenyamanan dan ke pu as an!" Ucap Cantika sambil mencubit pipi berbulu suaminya.


"Ya, ok sayang. Terserah kamu saja." Anas memeluknya erat. Tak lama setelahnya, mereka pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


***


Masih permainan membara!!!


Seorang gadis tengah celingukan di dalam sebuah ruangan. Bukan karena takjub dengan design dan ukurannya, dia merasa begitu canggung karena berada di dalam kamar seorang pria. Entah kenapa jantungnya berdegup hebat?


Matanya tertuju pada sebuah foto besar yang ada di dinding atas tempat tidur. Gambar sang pemilik kamar yang tengah berfose sexy dengan bert*lanj*ng dada. Mendadak dia kesusahan bernafas dan wajahnya memerah. Selain karena malu, juga karena ada suatu reaksi aneh pada seluruh tubuhnya.


Gadis itu terhenyak tatkala si pria dalam foto tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Kak Peter, kamu bikin aku kaget." Pekiknya sambil menoleh.


Riri menggeleng cepat, "Nggak ada yang aku lamunin." Matanya beredar kemana-mana karena telah berkata bohong. Sebenarnya dia memang sempat berpikir macam-macam barusan.


Pria itu berbisik di daun telinganya. "Aku bisa bikin khayalanmu jadi nyata."


Bulu kuduk gadis itu berdiri akibat sapuan nafas hangat yang keluar lewat hidung dan mulut Peter. Dadanya makin meledak-ledak. Dia nyaris ambruk saat tubuhnya berputar menjadi berhadapan dengan kekasihnya. Sendi-sendinya serasa lemas dan bergetar.


Peter menyeringai melihat gadis itu mulai terpengaruh. Dia melanjutkan aksinya dengan menc**m bibir merah itu sambil menempelkan bodi mereka.


Riri serasa melayang saat pagutan itu makin menuntut. Gadis itu sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Dia sama sekali tak protes ketika tiba-tiba Peter memindahkannya ke atas kasur. Bahkan gadis itu begitu pasrah atas apa yang akan terjadi nanti.


Mendapat sambutan hangat itu tentu saja si pria begitu bersemangat untuk menjelajahi setiap inchi pahatan indah milik tunangannya.


Malam terlarang itu menjadi malam yang indah bagi mereka. Bermula dari sent*han lembut lalu berakhir dengan teriakan setan yang memabukkan.


Riri sama sekali tidak menyesali perbuatannya itu. Dia malah terlihat bahagia. Sedangkan Peter, wajahnya kini agak masam. Laki-laki itu kecewa karena ternyata tunangannya sudah tidak suci lagi. Dia pikir gadis baik seperti Riri, tentu belum mengenal hal begituan. Tapi ternyata dugaannya salah. Memang sangat benar jika penampilan itu kadang tidak mencerminkan kepribadian seseorang.


Ternyata Riri tidak sepolos yang dia kira. Gadis itu begitu menyambutnya. Sangat berbeda dengan Cantika. Wanita itu menolak keras saat Peter mencoba merayu untuk berhubungan layaknya pasangan yang telah sah. Cantika hanya memberi ijin untuk mengeksplor bagian wajah saja. Hal itulah yang membuat Peter selalu penasaran pada mantan kekasihnya tersebut.


Riri bener-bener ngebosenin. Gue kurang suka sama cewek gampangan. Gue lebih suka sama Cantika. Dia itu bikin gue ngerasa tertantang untuk memilikinya.


Dan lagi, pikirannya selalu tertuju pada si mantan terindah. Gejolaknya untuk kembali merajut asmara dengan si cantik, semakin menggebu-gebu.


***


Pagi yang riweuhhhh bagi seorang istri yang belum lihai memasak. Dari tadi dia berteriak saat minyak meletup-letup nyaris mengenai wajahnya jika saja dia tidak menghindar. Sungguh ramai sekali keadaan di dapur padahal hanya Cantika sendirian yang berkutat di sana. Tapi malah terdengar seperti dua orang yang tengah duel mulut.

__ADS_1


"Aaaa, ngajak ribut nih ayam. Udah masuk minyak panas tetap aja ngerepotin. Aaaa, sial minyaknya juga ikutan ngajak perang!" Wanita itu berteriak-teriak sambil menjauh dari kompor.


Bletak bletak! Anggap saja suara minyak yang bercipratan berlomba untuk keluar dari wajan. Beberapa ada yang meluncur tepat di lengan Cantika. Untung saja dia memalingkan wajah saat membalikkan sebagian ayam yang tengah digoreng. Jika tidak, maka wajah mulusnya akan terkena juga.


Cantika meninggalkan dapur sambil meringis dan mengumpat kesal. Dia bergegas mengambil sebuah helm dan jaket. Dengan secepat kilat dia kembali ke dapur setelah memakai kedua benda itu.


"Ok, gue siap perang!" Teriaknya penuh semangat.


Cantika melanjutkan lagi memasak ayam dan menu yang lain. Saat itu Anas yang baru datang dari Pasar, menghampirinya.


Pria itu tergelak, "Cantika, kamu mau kemana sudah pakai helm dan jaket?"


"Gak kemana-mana, aku pake ini biar terlindung dari cipratan minyak." Usai mematikan kompor, dia kembali ke kamar untuk melepas jaket dan helm.


Anas geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh istrinya. "Dia mau masak apa mau naik motor? Ada-ada saja, menggemaskan!"


Pria itu menaruh barang belanjaan ke dalam lemari pendingin. Setelah itu berjalan ke halaman rumah untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal.


Cantika merapikan dapur yang berantakan bekas memasak tadi. Kemudian wanita itu menghampiri suaminya yang ada di dalam kamar tidur. Dia berdiri memperhatikan Anas yang tengah mengutak-atik sesuatu.


"Mas lagi ngapain? Itu apa?"


"Aku sedang menyusun lemari baju untukmu. Jadi kamu bisa memindahkan pakaian yang ada di koper, ke dalam sini." Tangannya terus bergerak merakit barang yang dia pegang.


Cantika manggut-manggut paham. "Ohhh. Makasih sayang....Kamu yang paling baik sejagat raya." Usai bicara, dia berjongkok dan menyosor pipi suaminya.


Anas menoleh, "Ini masih pagi, jangan menggodaku!"


"Bukan menggoda, cuma mau kasih hadiah kecil aja. Gantian!" Wanita itu menyodorkan pipinya.


Dengan senang hati Anas menyambutnya. Dia bukan hanya memberi sentuhan di pipi, melainkan pada seluruh area muka.


Setelah lumayan lama berc**man, mereka menghentikan gerakan indah itu. Ada sesuatu yang lain yang harus segera dipenuhi yaitu perut. Keduanya sama-sama kerubukan karena rasa lapar telah melanda.


"Mas, makan dulu yuk! Laperrr..." Ajak Cantika.


"Aku juga laper. Nanti setelah makan dan istirahat sebentar, kita lanjutkan yang tadi!" Ucap Anas sambil tersenyum nakal.


Cantika memukul lengan suaminya dengan pelan. "Mas doyan banget sih sama BCT."


Anas mengernyit, "BCT, apa itu?"


"Ber Cin Ta..." Jelas Cantika penuh penekanan sambil mencubit pipi suaminya.


Anas memegang tangan itu. Matanya tertuju pada luka bakar yang ada di sana. "Apa luka ini kena minyak panas? Sudah dikasih obat belum?" tanyanya panik.


"Belum, Mas."


Anas segera mengambil salep lalu mengoleskannya di bagian tangan Cantika yang terluka. Gerakannya begitu hati-hati diselingi mulutnya yang meniup-niup luka tersebut.


"Lain kali hati-hati, tutup wajannya saat masak agar minyaknya tidak mengenai tubuhmu!" Ucapnya dengan nada cemas.


Cantika mesem sendiri melihat suaminya yang begitu perhatian. Benar-benar romantis dan indah. Dia makin bahagia menjadi istri dari seorang Anas Malik. Meski kehidupannya kini tidak semewah di rumah ayahnya, tapi hatinya seperti mendapat sesuatu paling berharga yang ada di dunia ini. Anas selalu memberinya kasih sayang. Mungkin Cantika adalah salah satu wanita paling beruntung di dunia karena mempunyai suami sebaik Anas.

__ADS_1


__ADS_2