TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Kesalahan part 2


__ADS_3

Cantika masuk ke dalam ruangan remang-remang dengan semua temannya. Suara bising yang sebenarnya tak asing di telinganya, kini malah membuat hatinya gusar. Wanita cantik itu begitu tak tenang berada di sana. Pikirannya tertuju pada wajah suaminya yang berkelebatan tak mau hilang seolah pria itu benar-benar muncul di sana.


"Gue balik aja deh, gak nyaman ada di sini." Ucap perempuan itu pada semua temannya saat baru saja duduk pada sofa di sebuah ruangan khusus yang terpisah, yang memang sengaja mereka pesan.


"Baru juga nyampe, masa mau balik lagi sih? Gak asik ahh." Ucap Rosa.


"Kenapa, kangen Mas Bewok ya?!" Goda Rubi.


"Gue gak enak hati sama Mas Anas. Kalo dia tahu gue ada di tempat kayak gini, mungkin dia bakalan ngamuk."


Gladis malah tertawa, "Kemana Cantika si pembangkang itu? Lo sekarang jadi penakut kayak gini."


Tiba-tiba seorang gadis menghampiri mereka. "Malam, semua. Gue boleh gabung kan?!"


Cantika menatapnya tajam dalam sekejap lalu memalingkan wajah. Dia masih kesal pada gadis yang baru saja muncul itu.


"Eca, kita seneng Lo bisa datang juga." Ucap Ariel lalu menyambutnya dengan ritual cipika-cipiki khas perempuan. Yang lain juga mengikuti, kecuali Cantika.


Eca duduk di sebelah Cantika, membuat perempuan itu mendengus kesal. Tahu nih cewek bakalan dateng juga, gue gak bakalan ikut ke sini. Bikin mood gue tambah ancur aja.


"Ika, gue sebenernya mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Gue nyesel udah bikin Lo putus sama Peter."


"Gak usah bahas itu, gak penting amat! Lagian gue udah lupa sama si playboy itu." Ucap Cantika ketus.


Kayaknya Cantika masih cinta sama Peter. Buktinya dia masih ngambek.


Namun perkiraan Eca sangat keliru. Ika memang masih kesal padanya, tapi itu bukanlah karena Peter. Lebih tepatnya karena persahabatan mereka yang telah dikhianati.


"Ika, Eca benar-benar tulus minta maaf. Lo harus kasih dia kesempatan. Lagian Lo kan udah bahagia sama Mas Anas, jadi lupain aja masalah kalian. Kita mulai lagi dari awal!" Tina berkomentar.


"Bener, Lo jangan ngambek mulu. Kita semua ini temen!" Ariel menambahkan.


Akhirnya Cantika pun mulai membuka lagi hatinya untuk memberi kesempatan pada Eca. "Gue maafin."


"Makasih, Lo emang baik." Gue janji bakalan nebus kesalahan gue! Eca memeluk Cantika dengan erat. Kini keduanya pun kembali dekat meski tidak seakrab dulu.


Waktu terus berputar. Meski dalam keadaan agak gusar, di sudut hatinya yang lain, Cantika mulai menikmati malam itu. Tertawa lepas bersama teman-temannya hingga dia lupa waktu.


"Cheers....!" Mereka bersulang lalu menenggak minuman keras, terkecuali Cantika. Dia tidak mau lagi mengkonsumsi barang haram tersebut.


"Ika, kenapa bengong aja? Mau gue ambilin jus buah?" Tanya Gladis sambil terbahak.


"Kalo gak kompak minum, berarti Lo gak hargain kita." Ariel menimpali.


"Ika, dikit aja gak apa-apa kali...Ini sebagai tanda kekompakan kita." Rosa ikut nimbrung.


Minum dikit aja gitu, biar mereka gak pada kesinggung? Kalo dikit kan, gak bikin gue mabok parah. Mas Anas pasti gak bakalan tahu.


Memang begitulah adanya. Disadari atau tidak, lingkungan itu sangat berpengaruh pada karakter seseorang. Maka seharusnya kita dapat memilih teman pergaulan yang positif.


Cantika menenggak air itu sedikit. Tak lama berselang, ingatannya kembali pada sosok suaminya. Astaga, dia belum menghubungi lagi pria itu! Secepat kilat dia mencari gawai dari tas barunya. Sial, HPku kenapa gak ada sih? Apa di klub malam ini ada tukang copet?


Eca menyentuh pundak Cantika. "Ika, kenapa? Kayaknya Lo lagi bingung gitu."


"Gue mau nelpon Mas Anas tapi HP gue gak ada..." Jawabnya panik sambil terus mencari.


"Pake HP gue aja." Tawarnya. Sedangkan yang lain masih sibuk minum dan berjingkrak ria.


"Gue gak hapal nomernya. Duhh, gimana ini? Ca, jam berapa sekarang?" Masih berusaha mencari ponsel.


"Baru juga jam sepuluh." Bicara setelah melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


Cantika terlihat makin panik. Tangannya memegang kepala agar bisa berpikir. "Aduh, gue udah telat. Mas Anas pasti cemas atau mungkin marah." Dia berdiri dan menarik tangan Tina yang saat itu tengah asik tertawa. "Tin, tanggung jawab! Lo harus anterin gue pulang."


Tina malah terkesan tak peduli. Gadis itu masih cekikikan karena pengaruh minuman yang dia konsumsi. "Ntar aja, gue masih asik di sini."


"Nyebelin banget sih. Gue gak bisa hubungi Mas Anas jadi Lo mesti anterin gue pulang. Now!! " Ika makin murka.


"Gue aja yang anterin Lo pulang. Tapi tunggu bentar, gue mau ke toilet dulu!" Tawar Eca.


"Ok, buruan!" Cantika kembali duduk sambil menunggu.


Awal rencananya adalah menelpon suaminya tepat jam sembilan malam. Menyuruh Anas menjemputnya di rumah Tina, agar kebohongannya tidak terbongkar. Untung saja Eca bersedia mengantarnya pulang. Tapi tetap saja suaminya akan marah karena dirinya telat ke rumah.


***


Eca kini berada di dalam toilet. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah ponsel tipis berwarna biru kini ada di genggamannya.


"Maaf, Ika. Gue terpaksa ambil handphone Lo biar rencana ini berhasil." Dia meluncurkan benda itu ke dalam tempat sampah.


Tangannya kembali merogoh tas kecil dan mengeluarkan benda yang sama, namun kali ini miliknya. Dia mengutak-atik ponsel itu untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Bentar lagi gue anterin Cantika pulang. Ntar Lo samperin di Jalan XXX."


"........."


"Ini semua demi menebus kesalahan gue sama dia. Jadi Lo jangan sia-siakan kesempatan ini!"


"........."


"Ok, gue tutup telponnya."


Usai bicara, benda itu disimpan kembali ke dalam tas. Eca segera menghampiri Cantika. Keduanya pun pergi meninggalkan teman-teman yang lain, yang masih asik dengan dunia hura-hura mereka.


***


Mobil melaju cukup kencang namun pada saat di jalanan yang agak sepi dan remang, terpaksa harus berhenti karena ada beberapa motor yang menghadang.


"Ca, siapa mereka?" tanya Ika panik.


"Gue juga gak tahu, apa jangan-jangan begal?!" Perkataan itu makin membuat suasana tegang.


Sekitar empat orang pria turun dari motor. Sedangkan dua orang lagi menunggu di atas kendaraan. Salah satu dari mereka mengetuk kaca pintu mobil dengan keras.


"Keluar, para gadis!" Ucap pria berotot besar dengan senyum seringainya.


Kedua perempuan itu gemetaran dan saling memeluk.


"Gak, jangan buka Ca! Mereka pasti mau macem-macem." Ucap Cantika.


"Kalo mereka mau ambil mobil gue, itu gak masalah tapi kalo mereka ngincar kita, gimana?" Rengek Eca.


"Gak, amit-amit. Jangan sampe kayak gitu!" Dia segera merapal doa untuk meminta perlindungan dari Yang MahaKuasa.


Keempat laki-laki sangar itu semakin nekad. Mereka menggedor mobil dari depan, sisi kiri dan juga sisi kanannya dengan lebih keras.


"Keluar dari mobil atau kalian lebih memilih mati terbakar di dalam sana?!"


"Kami akan bakar mobil ini bersama kalian sekarang juga."


"Jangan main-main, kami bisa lebih kejam dari ini!"


Suara-suara mereka terdengar menyeramkan membuat nyali kedua wanita itu makin ciut.


"Ca, gimana ini? Maju salah mundur juga salah."


"Eca, mending Lo coba aja gerakin mobil ini lebih kenceng biar mereka pada minggir."


"Gue takut!"


"Lo minggir, biar gue aja yang nyetir."


Mereka berganti posisi. Cantika mulai menghidupkan mesin namun salah seorang laki-laki di luar sana, menyemburkan bensin pada badan mobil.


"Kalian maju sedikit saja, mobil ini akan langsung terbakar!" Teriak pria itu penuh keyakinan.


Cantika mengurungkan niatnya untuk melajukan kendaraan itu. Tubuhnya kini tambah gemetaran. Apalagi gadis yang ada di sampingnya. Kini Eca bahkan sudah banjir air mata.


Ya Tuhan, maafin aku. Mungkin ini karma karena aku udah durhaka sama Mas Anas. Gimana ini? Mas....mungkin kita gak akan ketemu lagi. Maafkan istrimu yang kurang ajar ini! Wait....no! Mungkin aja ada keajaiban. Semoga ada yang nolongin.


Pikiran Cantika berputar-putar.


"Ika, gue gak mau mati sekarang." Gadis itu memeluk erat.


"Gue juga kalo bisa nawar, gak mau mati dulu. Gue belum punya anak!"


Para pria di luar sana kini bahkan memukul badan mobil dengan tongkat besi. "Keluar sekarang! atau....kalian mati konyol di sini."


Kedua wanita itu segera turun dari mobil. Mereka saling merangkul dengan tubuh menggigil. Semua laki-laki sangar itu tertawa puas. Beberapa dari mereka naik ke dalam mobil tapi belum beranjak dari sana. Salah satu dari mereka memindai tubuh gemetaran kedua wanita itu.


"Jack, bawa yang pake gaun hitam itu ke dalam mobil! Kayaknya asik buat diajak main-main." Ucapnya sambil menyeringai.


Cantika dan Eca saling pandang karena ketakutan. Kali ini apa yang diinginkan para pria itu? Dan kenapa mereka memilih untuk membawa Cantika?


"Stop, don't touch me! Dasar br*ngsek!" Umpat Cantika saat tangannya ditarik untuk masuk ke mobil. Sekuat tenaga dia melepaskan diri, dibantu oleh Eca.


Para pria itu terus menarik Cantika. Namun tiba-tiba aksi itu berhenti saat dua buah mobil berhenti tepat di sana. Sekitar enam orang turun dari dua kendaraan mewah tersebut, salah satunya adalah Si Playboy.


Akhirnya terjadi baku hantam antara si pengendara mobil dengan si pengendara motor. Cantika dan Eca menepi ke tempat lebih aman yang agak jauh dari sana. Mereka sesekali berteriak-teriak ketakutan menyaksikan adegan pukul-pukulan itu.


"Ca, hubungi polisi!" Ucap Cantika.


"HP gue ada di dalam mobil."

__ADS_1


"Ahhh, Peter awas!" Pekik Cantika saat melihat salah satu pria akan menusukkan benda tajam ke perut Peter.


Peter berhasil menghindar namun lengannya terkoyak benda tajam tersebut hingga mengeluarkan banyak cairan berwarna merah pekat. Tapi pergulatan masih tetap berlangsung. Meski dalam keadaan terluka, Peter tetap berjuang melumpuhkan para preman itu. Dan untungnya Peter dan temannya berhasil mengalahkan mereka. Para laki-laki sangar itu lari tunggang-langgang dengan motor mereka. Beberapa orang tergeletak tak berdaya di atas aspal.


Peter menghampiri kedua wanita itu diikuti yang lain.


"Cantika, kamu gak apa-apa kan?!" tanya Peter dengan cemas.


"Gue gak kenapa-napa. Itu tangan Lo berdarah." Jawab Cantika gemetaran karena melihat cairan merah masih bercucuran dari lengan pria itu.


"Jangan pikirkan ini, yang penting kamu selamat. Kalian darimana dan mau kemana?"


Kali ini Eca yang angkat bicara. "Kita habis dari klub, gue mau anterin Cantika pulang ke rumah suaminya tapi keburu dihadang para begal itu."


"Biar gue yang anterin kalian pulang. Ntar mobil Lo gue urus sekalian."


Peter lalu berbicara pada teman-temannya. Setelah itu sekitar empat orang masuk ke dalam satu mobil dan meninggalkan lokasi.


"Kalian ikut gue ke mobil sekarang!" Ajak Peter.


Cantika menundukkan kepalanya. Saat ini dia benar-benar bimbang. Tak enak rasanya jika harus bersama dengan mantan kekasihnya, merasa bersalah pada sang suami. Tapi bukankah dia tidak berniat selingkuh? Ini keadaannya darurat. Dia memang harus menerima bantuan Peter sekali lagi.


Meski ragu akhirnya Cantika masuk ke dalam mobil. Awalnya dia hendak naik ke kursi di bagian belakang, namun diserobot oleh teman Peter. Terpaksa Cantika duduk di depan bersebelahan dengan mantannya itu.


Sebelum menghidupkan mesin mobil, Peter sedikit merobek kemeja bajunya. "Cantika, bisa bantu aku? Ikatkan ini pada bagian lukaku!" Dia menyodorkan secarik kain tersebut.


Cantika mengambilnya lalu melakukan apa yang dimintai laki-laki itu. Dia nyengir ngeri saat melilitkan kain ke lengan Peter. Sedangkan Si Playboy kini tengah tersenyum kegirangan. Dia begitu senang diperlakukan manis seperti itu.


Cantika segera memalingkan wajahnya saat pria itu menatapnya lekat. "Udah selesai, bisa kita jalan sekarang?"


Peter tersenyum," Ya, ok." Mobil pun melaju.


Sedangkan kedua orang yang duduk di kursi belakang, hanya diam saja memperhatikan.


Mereka emang serasi. Eca bergumam sendiri. Saat ini dia sedikit lega karena bisa mendekatkan Peter dan Cantika. Setidaknya rasa bersalahnya sudah berkurang.


***


Anas melajukan motornya kesana-kemari tak tentu arah. Pria itu mencari keberadaan istrinya. Ini sudah hampir tengah malam tapi tak ada kabar sedikitpun dari Cantika. Mau bertanya pun pada siapa? Beribu kali dirinya menelpon, tetap saja tak ada jawaban dari sang istri.


Tadinya dia ingin bertanya pada mertuanya. Tapi jika itu dia lakukan, maka Pak Permana akan ikut khawatir atau bahkan memarahi Cantika.


Ini salahnya karena telah memberi ijin pada istrinya untuk keluar malam. Selain itu, harusnya dia meminta alamatnya agar dapat langsung meluncur ke lokasi tanpa harus pusing-pusing.


Setelah lama mengitari jalanan, akhirnya Anas memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Siapa tahu istrinya sudah pulang ke sana.


Motor butut itu berhenti tepat di sebuah gang yang bersebelahan dengan gang menuju kediamannya. Matanya menangkap sosok yang tak asing. Dia melihat seorang wanita tengah berbincang dengan seorang pria. Bukankah itu Cantika? Dengan siapa istrinya bicara?


***


Cantika sengaja minta turun di gang yang bersebelahan dengan gang menuju rumah suaminya. Dia takut jika suatu saat Peter akan nekad menemuinya di rumah Anas.


"Suamimu orang sini?" tanya Peter setelah menghentikan mobilnya.


"Ya, gue turun sekarang." Cantika melepas sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya. Sebelum turun, dia bicara lagi namun tertuju pada gadis yang duduk di belakang. "Eca, gue duluan."


"Ya, hati-hati Ika! See you! "


"Hati-hati, Cantika!" Pria di sebelah Eca ikut bicara.


Cantika tak merespon, dia segera turun dari mobil mewah itu. Peter buru-buru menyusul mantan kekasihnya tersebut.


"Mau aku anterin sampe rumah?"


"Gak usah, nanti gue dikira selingkuh lagi, sama tetangga yang julid!" Jawab Cantika ketus.


"Kalo gitu kamu hati-hati!"


"Peter, makasih udah nolongin gue." Ucapnya sambil menunduk.


"Sama-sama, aku seneng bisa ngelakuin sesuatu buat kamu." Pria itu menggenggam tangan Cantika namun segera dihempas.


"Jangan berani nyentuh perempuan yang udah bersuami! Ntar kalo ada yang liat, bakal jadi fitnah."


"Maaf, aku gak sengaja. Ini refleks aja." Ucapnya sambil nyengir.


"Udah buruan pergi!"


"Kamu aja duluan."


"Gak ah, Lo aja duluan!" Kalo gue duluan yang jalan, Lo bakalan tahu dimana gue tinggal.

__ADS_1


Akhirnya Peter kembali masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, kendaraan itu pun meluncur.


__ADS_2