
"Stop, jangan pernah sentuh My lovely husband!" Suara itu jelas mengundang perhatian semua orang yang ada di salon.
"Tapi kan saya cuma mau motong rambut." Seorang pegawai salon yang cantik dan seksi itu menjelaskan.
"Gak boleh, aku mau suamiku dilayani sama pegawai laki-laki." Bersikukuh dengan nada bicara lebih ketus.
Seorang pria yang tengah duduk, memegang lengannya. "Cantika, jangan marah-marah. Bicaranya biasa saja, Ok?!"
"Ok... Maaf..." Baru sadar jika sikapnya sedikit berlebihan. Entahlah, tekanan darahnya naik dengan cepat saat melihat pegawai wanita yang bohay itu. Sebenarnya takut jika suaminya main mata dan tertarik pada makhluk lain.
"Ada apa ini?" Sang pemilik salon menghampiri. "Cantika, aku pikir siapa. Ada apa say?"
"Ira, nggak sih. Aku cuma mau suamiku dilayani sama pegawai cowok, biar lebih bagus hehe..."
Ira manggut-manggut paham. Biar aman kali yaa, gue juga tahu. Posessif juga si Cantika.
"Ok, itu gak masalah. Vey, layani saja yang lain. Toni, kemari!"
Muncul sesosok pria jangkung berkulit hitam manis. "Iya, Kak Ira."
"Tolong layani mereka dengan baik!"
"Baik, Kak."
"Cantika, aku ke ruanganku dulu ya. Enjoy...." Dan jangan bikin keributan lagi!
"Ok, maaf merepotkan hehe..." nyengir malu.
Ira pun berlalu.
"Masnya mau dipotong rambut ya? Mau digimanain?" tanya Toni.
"Biasa ajalah, yang penting rapi." Jawab Anas.
"Mas, bewoknya sekalian dipangkas habis?"
"Iya."
"Ehh, jangan. Antepin aja bewoknya. Paling buat jadi tipis aja, jangan dihilangkan begitu saja." Itu bewok manja geli favoritku....
Toni mengangguk sambil tersenyum, sebenarnya merasa aneh dengan respon Cantika yang sedikit berlebihan. Teriakannya itu lhooo, membuat semua orang memperhatikan.
Cantika berdiri seperti seorang mandor, memastikan jika sang pegawai salon itu bekerja dengan baik sesuai keinginannya. Meskipun begitu, Toni berusaha seprofesional mungkin melakukan tugasnya.
Cantika tersenyum dan matanya berbinar-binar, melihat sosok Anas yang berdiri di depannya. Suaminya itu terlihat berkilauan dan lebih tampan.
"Mas jadi lebih segar dan terlihat lebih muda, makin ganteng."
Anas hanya nyengir malu sambil menggaruk sebelah alisnya.
Usai dari salon, mereka pergi ke sebuah restoran untuk mengisi perut yang sedari tadi berisik.
**
"Mommy kecewa sekali dengan sikapmu. Apa kamu tahu, gara-gara kegilaanmu sekarang perusahaan Daddy mengalami kegoncangan. Para investor menarik saham mereka dan reputasi keluarga kita sudah tercemar. Itu karena kamu, Peter." Nyonya Arata menatap putranya kesal.
"Pergi dari sini jika Mommy hanya mau memarahiku." Ucap pria itu dengan tatapan nanar.
"Peter, Mommy dan Daddy tidak bisa membantumu untuk keluar dari sini karena kasusmu terlalu berat. Dan jika kami melakukan itu maka kami akan lebih dihujat oleh orang-orang. Jadi Mommy harap, kamu jalani saja hukuman ini dengan sabar. Anggap saja ini pembelajaran agar kamu jadi lebih baik lagi ke depannya."
Peter menatap wanita itu tajam. "Apa kalian tidak pernah menyayangiku, putra kandung kalian?"
"Bukan seperti itu, kamu memang sudah salah. Mommy sadar mungkin kami selaku orangtuamu tidak becus mendidikmu. Kami tidak mengajarimu bahwa tidak semua yang kamu inginkan, harus kamu dapatkan."
Peter memalingkan wajahnya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk diceramahi.
"Tadinya Mommy pikir kalo kamu itu beneran lumpuh. Mommy benci sama Cantika dan menyalahkannya atas kecelakaan itu. Dan untuk membalas perbuatannya, Mommy memaksa dia untuk menikah denganmu. Tapi ternyata kamu sudah menipu semua orang. Mommy menyesal karena sudah berbuat kasar pada Cantika dan keluarganya. Mommy malu sama mereka, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata maaf." Wanita itu kini sesenggukan.
"Ya gak usah minta maaf. Ngapain? Itu cuma bikin harga diri keluarga kita menjadi rendah."
"Kamu yang sudah membuat harga diri Mommy dan Daddy anjlok. Entahlah, gara-gara kamu pasti Daddy sebentar lagi akan bangkrut."
"Aku terus yang disalahin, mending Mommy pergi aja. Gak usah jenguk aku lagi! Anggap aja aku udah mati." Peter meledak-ledak sambil meninju meja di depannya.
Ibunya hanya terus menangis frustasi. Wanita itu tak pernah menduga jika tabiat asli putranya seburuk itu. Selama ini Peter selalu menampakkan sosok yang baik di hadapan kedua orangtuanya.
**
"Tolong... jambret...!" seorang gadis berteriak saat tasnya diambil paksa oleh maling.
Beberapa orang yang ada di tepi jalan pun berusaha untuk mengejar si penjahat.
__ADS_1
"Gue harus kabur, kalo nggak pasti gue mati dihajar massa." Gerutu seorang pria gondrong sambil berlari masuk ke sebuah gang kecil.
"Mau lari kemana kamu?" Sesosok laki-laki kekar menghadangnya.
Pencuri itu celingukan mencari jalan untuk kabur. Di belakangnya telah banyak warga yang bergerombol ingin menangkapnya. Dan di hadapannya ada si pria asing.
"Minggir, jangan ikut campur!" ucapnya sedikit ngos-ngosan.
Pria di depannya tersenyum menyeringai. Dia tahu persis jika laki-laki gondrong itu adalah seorang pencuri.
"Kembalikan tas itu ke pemiliknya. Kalau mau uang harus kerja, bukannya mengambil milik orang lain. Apa kamu tidak malu dengan orang yang fisiknya tidak sempurna atau orang yang sudah renta? Mereka masih sanggup bekerja dan tidak mau meminta-minta apalagi mencuri."
"Banyak bacot!" Pria itu berniat menendang tapi berhasil dihindari. Akhirnya mereka terlibat baku hantam.
"Kamu itu masih muda tapi sudah berani menjambret. Gunakan akal dan tenagamu untuk bekerja!" Meninju wajah dengan keras hingga si laki-laki gondrong terjengkang di atas jalan sempit itu.
Para warga mendekat dan langsung menangkap si pencuri. Gadis yang tadi menghampiri.
"Ini Nona, tas Anda."
"Makasih, ehhh bukannya kamu yang waktu itu menyelamatkan Mas Anas?"
Pria itu memindai wajah si perempuan yang memang terasa familiar. Meski tidak tahu namanya, tapi dia yakin jika gadis itu adalah salah satu keluarga Anas.
Sedangkan para warga tengah menghajar pencuri tadi secara brutal.
"Stop, jangan main hakim sendiri. Lebih baik bawa saja dia ke kantor polisi!" ucap si pria kekar.
Massa pun menggiring sang penjahat ke pihak berwajib. Tinggal gadis itu dan sang penolong yang ada di sana.
"Kamu saudaranya Anas?"
"Aku adik iparnya. Kamu beneran yang nolongin Mas Anas waktu itu kan?!"
"Bukan membantu sih, tapi aku merasa berkewajiban untuk membuat Anas kembali pada keluarganya."
"Aku Riri, kamu siapa?" mengulurkan tangan.
"Fabian." Menjabat tangan halus milik gadis itu.
Keduanya berjalan keluar dari gang sempit.
"Barangmu masih utuh?" tanya Fabian.
"Lain kali hati-hati, di jalan raya banyak pencuri!"
"Iya, kejadiannya cepat sekali. Aku sedang menyetop taksi, terus pria itu tiba-tiba muncul dan mengambil tasku. Untung aja ada kamu dan para warga."
"Kebetulan saja aku ada di gang tadi, habis main ke rumah teman. Oh ya, memangnya kamu mau kemana?"
"Mau pulang ke rumah."
"Dimana alamatnya?"
"Di jalan bla bla bla..."
"Kebetulan aku juga mau lewat ke sana. Mau ikut? Tapi cuma naik motor, bukan mobil mewah." Pria itu tersenyum.
Riri ikut nyengir. "Aku sih gak masalah mau naik motor juga. Tapi apa gak ngerepotin kalo aku nebeng?"
"Tentu saja tidak. Ayo...!"
Mereka berjalan sedikit menuju bengkel. Fabian mengambil motornya yang baru selesai diperbaiki.
"Ayo naik!" ajaknya setelah lebih dulu menaiki kendaraan roda duanya.
Riri duduk di jok belakang dengan posisi miring. Sebelumnya, dia memakai helm terlebih dahulu. Motor pun melaju dengan kecepatan sedang.
Sampai di depan gerbang rumah yang dituju. Motor gede itu berhenti. Gadis cantik itu turun perlahan, melepas helm lalu mengembalikannya pada Fabian.
"Mas, makasih udah anterin aku pulang. Mau mampir dulu?"
"Lain kali saja, salam buat Anas dan keluargamu."
"Mas, boleh minta nomer telpon?" Riri menutup mulutnya yang tidak tahu aturan itu. Kenapa dia bisa keceplosan? Sungguh tidak tahu malu.
"Boleh." Pria itu tersenyum manis. Ternyata sikapnya tidak seseram penampilannya. Meski tubuhnya kekar dan bertatto tapi hatinya begitu lembut.
"Berapa nomernya?" bersiap mengetik.
"083xxxxxxxxx" sebut pria itu dengan lancar tanpa melihat ponselnya. Sepertinya dia memang hafal di luar kepala.
__ADS_1
"Ok, aku udah save dan kirim chat juga. Nanti save nomerku." Tersenyum lalu menyimpan ponsel ke dalam tas.
"Cepat masuk, aku pamit sekarang!"
"Hati-hati, Mas!" melambaikan tangan sambil tersenyum manis. Matanya tak beralih hingga laki-laki kekar itu menghilang bersama motornya.
Entahlah, sejak pertama kali melihat Fabian, dia memang sudah merasa tertarik pada pria itu. Mungkin karena Fabian punya sikap pemberani dan juga macho. Selain itu wajahnya juga cukup tampan, hatinya juga baik. Apa salahnya jika Riri menyukai laki-laki seperti itu?
**
Malam ini turun hujan lebat. Cuaca terasa lebih dingin menembus kulit. Cantika baru selesai menyusui anaknya saat Anas muncul. Pria itu membawa dua cangkir teh hangat beserta kudapan. Setelah menyimpan semuanya di atas nakas, dia pun mengambil Afkar dari pangkuan ibunya.
"Sudah miminya?" tanya Anas pada bayi kecilnya sambil menimang-nimang.
Sementara Cantika kini tengah menyesap teh lalu menguyah makanan yang dibawa suaminya barusan.
"Afkar sayang, anak ayah yang tampan. Kamu kelak harus jadi anak yang shaleh."
"Aamiin..." ucap Cantika.
Anas terus mengoceh sembari menimang anaknya hingga akhirnya bayi itu pun terlelap. "Anak ayah sudah bobo."
"Bukan anak ayah, tapi Papi! Aku sebenarnya dari awal maunya kita dipanggil Mami Papi." Protes wanita yang masih ngemil itu.
"Tapi aku lebih nyaman dipanggil Ayah. Ayah bunda, itu lebih enak didengar." Anas menidurkan anaknya dengan hati-hati. Dia pun ikut duduk di tepi ranjang.
"Mami sama Papi ahhh, lebih keren." Masih saja bersikeras.
"Coba deh resapi, akan lebih nyaman dan enak didengar jika kita berdua dipanggil Ayah dan Bunda." Ucapnya setelah menyeruput teh.
Cantika terus menjejali mulutnya dengan makanan sembari mencoba mencerna perkataan suaminya. Mami Papi.... Ayah Bunda.... Hemmm
Anas hanya tersenyum. Kadang istrinya itu bisa terlalu serius untuk memikirkan hal yang ringan.
"Coba lihat wajahku, lebih pantas dipanggil Ayah atau Papi?"
"Iya sih, lebih cocok dipanggil Ayah aja. Ok deh, aku setuju kita dipanggil Ayah Bunda."
Anas manggut-manggut sembari mengusap kepala istrinya. Cantika masuk ke kamar mandi untuk membersihkan mulut dan wajahnya, kebiasaan sebelum tidur.
Anas berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Hatinya tak henti bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama anak dan istrinya. Bukankah Tuhan itu sangat baik?! Manusia tidak akan diberi ujian melebihi batas kemampuannya. Setelah kesusahan pasti akan ada kemudahan. Setelah duka pasti akan ada suka. Itulah yang dia yakini.
"Mas...." Cantika ikut berbaring dan memeluk Anas.
"Cantika, besok kita kembali ke rumah. Aku kangen rumah kita. Aku juga malu jika harus terus menumpang di sini."
"Aku terserah kamu saja. Yang penting kamu udah beneran sehat."
"Aku tidak sakit kok. Aku ingin cepat-cepat berjualan lagi. Kamu tahu, selama dikurung di penjara bawah tanah, selain kamu dan anak kita, aku juga selalu kangen bikin nasi kuning. Kangen jualan dan bertemu ibu-ibu yang berisik itu." Nyengir mencoba menggoda.
"Ngapain kangen sama emak-emak reseh itu? Nyebelin banget sihh." Manyun semanyun-manyunnya. Tangannya memukul bahu Anas agak keras.
Anas tergelak, "Bercanda sayang. Aku cuma mau cepat-cepat jualan lagi biar bisa kasih nafkah sama kamu. Kita kan sudah punya Afkar, jadi tanggung jawabku makin besar."
"Iya, aku tahu. Tapi jangan terlalu memaksakan diri kalo Mas belum pulih benar."
"Aku bilang aku tidak sakit. Kalo aku sakit, mana mungkin aku bisa memberimu nafkah batin."
Mendengar kata nafkah batin, membuat Cantika tersipu malu. Otaknya langsung konek ke hal begituan. Maklumlah, terlalu lama mereka berpisah. Rasa rindu itu pasti belum terpuaskan begitu saja. Harus selalu diisi ulang setiap hari.
"Mas, nanti aja pikirin jualannya. Mending kasih aku nafkah batin lagi kayak kemarin malam." Tersenyum nakal sambil membelai dada suaminya.
Anas mensejajarkan wajah mereka lalu menempelkan kening. "Apa kamu sangat merindukan aku, sayang?"
Cantika mengangguk pelan. "Sangat...."
Anas tersenyum lalu menempelkan bibir mereka. Jika sudah seperti itu, maka tak dapat terelakkan lagi akan ada perebutan oksigen yang sangat sengit. Saling mematuk dan meliuk-liukkan lidah.
Anas duduk untuk mengusir lembaran kain yang menempel di tubuhnya dan pasangannya. Cantika pasrah saja karena itulah yang dia inginkan. Meski rasa sakit dan ngilu belum hilang, tapi gelora itu jauh lebih kuat menyengat seluruh tubuhnya.
Anas sudah bersiap untuk memainkan tongkat bisbolnya. Tenang saja, dia adalah pria yang lembut. Dia tahu benar jika gerakannya harus dibuat sepelan mungkin agar tidak menyakiti istri kesayangannya.
"Sudah siap?"
Cantika menggangguk, wajahnya merah merona dan matanya begitu sayu. Banyak tanya, Bang. Dari tadi aku udah stand by. Ihhh gemes.....
Dan akhirnya peleburan itu pun terjadi. Untunglah si kecil Afkar tertidur begitu lelap, hingga tak ada gangguan.
Note:
Mohon maaf karena sekarang novel ini telat update. Tapi bukan berarti Author akan berhenti di tengah jalan. Saya akan tetap lanjut hingga cerita ini benar-benar tamat. Mohon sedikit bersabar karena saya memang tidak bisa up tiap hari seperti sebelumnya.
__ADS_1
Terima kasih banyak masih mau mensupport karyaku yang belum famous ini. Kalian adalah penyemangatku🤗🤗🤗