
Jam tiga dini hari, Anas bangun dari tidurnya yang baru sebentar itu. Duduk menatap istrinya yang begitu pulas memeluk guling. Sudut bibirnya tersungging memperhatikan perempuan itu. Untuk malam ini Cantika tidur dengan aman dan tak membuatnya terlalu kerepotan. Hanya sedikit suara mengingaunya saja yang terdengar.
"Cantika, aku ke air dulu." Bisiknya dari kejauhan. Pria itu pun melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Usai sholat malam dan segala ritual keagamaan yang lain, Anas pergi ke dapur untuk membersihkan beras yang akan dia masak. Menyiapkan rempah-rempah sebagai bumbu untuk dihaluskan. Merebus telur dan banyak lagi kegiatan masak-masak yang memang sudah menjadi rutinitasnya.
Aktivitasnya terhenti sejenak saat adzan shubuh terdengar. Bergegas mengambil lagi air wudhu lalu sholat. Setelah itu, barulah dia kembali berkutat di dapur. Menggoreng kerupuk, membuat sambal, tempe kering dan telur balado sebagai pelengkap nasi kuning. Sebenarnya masih ada lagi beberapa menu yang dia buat.
Sedangkan di dalam kamar, Cantika perlahan membuka matanya. Telinganya terusik oleh suara tabrakan antara wajan dan spatula. Perutnya bergoyang ria setelah penciumannya menangkap wanginya masakan.
Cantika yakin jika pelaku masak-masak di pagi hari itu adalah suaminya. Dia segera bangkit dan melangkah menghampiri pria itu. Dia sungguh terkagum-kagum menyaksikan atraksi Anas yang begitu lihai dalam mengolah masakan.
Wisss, pinter bener suamiku ! Gue aja perempuan gak becus masak, tapi dia ahli banget kayaknya. Kerennnn, Chef Juna punya saingan nihhh !
Anas sekilas menoleh, "Kamu sudah bangun ?"
"Udah tahu nanya...nihhh mataku udah melek." Membulatkan kedua bola mata sambil menunjukkannya pada Anas.
Pria itu tertawa terbahak-bahak, "Aku cuma tanya lhooo, kenapa kesal begitu ?"
Sebenarnya ekspresi kesal itu ditunjukkan Cantika untuk menutupi rasa malunya yang sudah memperhatikan Anas. "Masak apa sih ?" mengalihkan pembicaraan.
"Ini tumis bihun untuk lauk pelengkap nasi kuning yang akan aku jual." Menggerakkan spatula.
"Itu telur sama tempe, masuk menu juga ?"
Anas menganggukkan kepalanya. Cantika ber-ohhhhh ria pertanda paham. Dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka.
"Tidak sekalian mandi ?" tanya Anas saat istrinya keluar dari kamar mandi.
"Ntar aja ahh, dingin...." bergidik.
"Nanti bau lhoooo..." godanya.
Cantika membaui ketiaknya sendiri, "Enak aja, aku gak bau badan. Meskipun seminggu gak mandi, aku tetep cantik dan wangi." Berkilah dengan pedenya.
Anas hanya manggut-manggut sambil mesem. Tangannya bergerak mengambil wadah besar untuk tumis bihun yang sudah matang.
__ADS_1
'"Ngeledek ya ?! Ihhh, pagi-pagi udah nyebelin !" Cantika mendelik lalu melangkah pergi ke dalam kamar.
Anas kali ini tersenyum seraya menggelengkan kepala. Lucu sekali...!
Jam setengah delapan pagi, semua dagangan Anas sudah tertata rapi di atas meja di teras rumah. Para emak dan gadis berkerumun untuk membeli. Suara mereka begitu ramai, membuat Cantika penasaran. Dia berdiri di dekat pintu untuk memperhatikan situasi.
"Mas aku beli tiga bungkus pake sambel yang banyak." Ucap salah seorang gadis.
"Nas, ibu mau dua bungkus aja gak pake sambel. Lauknya telor balado sama tempe."
"Ganteng, aku juga mau dong sebungkus aja komplit pake love." Salah seorang ibu nyengir. Yang lain ada yang tertawa, ada yang bersorak tidak suka.
"Ya, sebentar ya...sabar !" Ucap Anas sambil tersenyum. Dengan gesitnya dia melayani para pelanggan.
Cantika manyun sambil menyilangkan tangan di dadanya. Benar-benar tidak menyukai para pembeli yang begitu keganjenan pada suaminya. Dasar norak semuanya, pada kecentilan !
Keadaan terus berlanjut hingga datang lagi rombongan bidadari yang lain. Mereka tak jauh beda dari pembeli yang tadi. Sedikit menggoda dan mencari perhatian Anas.
"Aduh...udah ganteng, rajin, jago masak lagi. Sholeh pula.... benar-benar suami idaman." Celetuk emak berdaster biru. "Coba kalo Anas belum nikah, saya pasti jodohkan dengan anak saya. Pasti bahagia punya menantu seperti kamu."
Cantika berdehem keras, menatap tajam pada si ibu barusan yang bicaranya tanpa disaring dulu.
Pembeli yang lain hanya cekikikan menertawakan ibu tadi. Anas sekilas menoleh pada istrinya yang masih berwajah seram. Pria itu nyengir, tapi istrinya malah masuk ke ruang tengah dengan cemberut.
"Mas, yang tadi pasti istrinya. Cantik sekali ya ?! Orang kota ya mas ?!" ucap seorang gadis belia.
"Ya...."
"Kayaknya istri mas kesal karena banyak pembeli yang menggoda, kecuali saya tentunya. Mungkin cemburu." Cengir gadis itu.
"Anak kecil tahu cemburu segala. Ini nasinya, sebungkus saja ?" menyodorkan kantong plastik kecil.
"Hehehe, ya mas. Ini uangnya..."
"Makasih..." Gadis itu pun pergi, dialah pembeli terakhir yang Anas layani.
Pria itu menghampiri istrinya yang duduk di kursi ruang tamu, atau....ruang serba guna. Masih dengan bibir manyun dan tangan bersilang, Cantika menatap sebal pada layar televisi. Rasanya dia ingin melemparkan TV itu ke kepala suaminya, agar lebih peka.
__ADS_1
"Kamu marah padaku atau pada mereka ?"
"Apa maksudmu ?" pura-pura tidak paham.
"Kamu kesal karena para pembeli bercanda denganku ?" masih berdiri.
"Ngapain aku kesal sama ibu-ibu yang keganjenan itu ?" tidak mau menatap.
"Itu...kamu marah, cemburu ?"
Cantika menatapnya murka, "Hehh, gak usah kepedean ! Siapa yang jeolus ? Aku cuma gak suka sama sikap mereka yang kurang sopan dan ngomongnya gak pake dipikir dulu. Kamu juga, harusnya jangan terlalu ramah ! Cengar-cengir mulu so kegantengan. Norak banget !" memalingkan wajah.
"Maaf, tapi kamu cuma salah paham. Mereka tidak serius, aku biasa bercanda seperti ini dengan mereka. Cantika, kamu mau mencoba nasi kuning buatanku ?"
"Ogahhhh..."
Anas tersenyum lalu melangkah ke teras untuk mengambilkan nasi kuning lengkap dengan semua lauknya dalam sebuah piring besar. Menyimpannya di atas meja yang berhadapan dengan istrinya.
"Makan dulu, kalau kurang bicara saja padaku."
Cantika masih cuek tak bicara apapun. Anas pergi ke dapur untuk mengambil secangkir air teh hangat dan menaruhnya di sebelah piring besar tadi.
"Ini airnya, aku ke teras lagi. Sepertinya ada pembeli yang datang."
Setelah suaminya pergi, Cantika menatap piringnya yang berisi banyak makanan. Air liurnya nyaris menetes. Makanan itu benar-benar menggiurkan baginya. Perlahan-lahan dia menyuapkan sedikit ke mulutnya. Mencoba semua yang ada di dalam piring. Telur balado, bihun dan tempe juga nasi kuningnya begitu memanjakan lidah Cantika.
"Enak banget nihhh, bisa-bisa gue jadi gendut kalo kelamaan makan masakannya." Bicara pelan sambil mengunyah.
"Enak tidak, kamu suka ?" Kemunculan Anas yang mendadak membuat Cantika hampir tersedak. Dia segera minum air untuk menenggelamkan makanan ke dalam perutnya.
"Aku laper, lagian mubajir juga kalo gak dimakan." Menunduk malu.
"Kamu benar, habiskan makanan itu !"
"Tapi ini kebanyakan kalo harus aku habiskan sendirian, perutku nanti meledak."
Anas duduk di sebelahnya lalu membuka mulutnya, "Aaaa, aku bantu habiskan. Sayang kalau harus dibuang." Pria itu mulai berani.
__ADS_1
Meski awalnya malu-malu, akhirnya Cantika menuruti permintaan suaminya. Memang itu juga yang dia inginkan.