
Pulang dari pasar, pasangan pengantin baru itu berbagi tugas rumah. Cantika kebagian mencuci pakaian. Mas Anas berkutat dalam urusan dapur.
Pria itu sesekali menengok ke kamar mandi di sela-sela memasak. Memperhatikan istrinya yang begitu serius mencuci baju. Dia mengusap tengkuknya saat melihat underwear miliknya dipegang Cantika. Wajahnya merah karena malu. Akhirnya dia lebih memilih untuk fokus saja pada wajan dan spatula.
Sedangkan wanita cantik itu tengah bergidik karena tangannya menyentuh kain dalaman tersebut. Malu dan juga geli saat mencucinya. Mungkin gini ya perasaan Mas Anas waktu nyuci daleman punya gue?!
Cantika pergi ke belakang rumah setelah acara cuci bajunya selesai. Dia menjemur satu persatu pakaian itu. Dia kembali nyengir geli ketika menyentuh daleman suaminya. Otaknya membayangkan yang aneh-aneh. "Ihhh...CD-nya lebar sesuai isinya yang gede." Seluruh tubuhnya terasa merinding ketika bayangan jorok itu berkelebat. Sejurus kemudian, dia malah tersipu malu. Wajahnya merah merona mengingat adegan panasnya dengan pria itu.
Cantika masih mesem malu-malu ketika berjalan melewati Anas yang tengah merampungkan masakannya.
Dia sedikit berdehem, "Mas, punyamu besar ya...?!"
Anas menoleh dengan wajah merah, "Maksudmu?"
"Itu...celana mas ukurannya besar-besar." Cantika nyengir sambil mengacungkan jempolnya. Dia memang ingin menggoda suaminya.
Anas membuang mukanya yang sudah seperti kepiting rebus. Dia tidak mampu membalas perkataan istrinya yang terkesan vulgar. Malu atuh euyyy!
Cantika masuk ke kamar mandi. Kemudian wanita itu bergerak lagi untuk membersihkan rumah. Dan suaminya, mencuci peralatan dapur yang kotor bekas memasak tadi.
Setelah semua pekerjaan beres, keduanya duduk di ruang tengah sambil bercuap-cuap ria. Dengan nakalnya, Cantika duduk di pangkuan suaminya. Tangannya melingkar di leher pria itu. Mata mereka saling bertemu.
"Ayo praktekkan apa yang udah aku ajarin, kiss me please...!" Wanita itu benar-benar menantang untuk mengajak perang.
"Kamu suka main pancing rupanya. Tapi itu bagus, aku suka gayamu." Tersenyum menyeringai sambil mendekatkan wajah mereka.
Sedikit lagi bibir-bibir itu tabrakan jika saja tidak ada seorang perempuan yang mengetuk pintu. Cantika segera pindah ke kursi. Anas bergerak membuka pintu.
"Assalamualaikum, Anas. Belum jualan lagi? Ibu tadinya mau beli nasi kuning."
"Waalaikumussalam. Inshaa Allah besok saya jualan lagi." Jawabnya ramah.
"Ditunggu ya...kalo gitu saya permisi. Assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam..."
__ADS_1
Anas menutup sekaligus mengunci pintu itu. Dia menghampiri istrinya yang tengah cemberut.
"Kamu ngambek lagi, cemburu atau kesal karena ibu itu mengganggu kita?"
"Dua-duanya..." menjawab ketus.
Anas tersenyum lalu tanpa terduga, dia mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam ruang produksi anak. Membaringkan wanita itu di atas tempat tidur dengan hati-hati. Dia tersenyum menatap wajah merah Cantika yang berada di b*w*hnya.
"Kamu pikir aku tidak bisa melakukan itu dengan lebih menantang? Aku bisa belajar dengan cepat untuk membuatmu lebih puas." Usai bicara, pria itu menyerang istrinya dimulai dari area wajah. Temponya tetap lembut meski makin lama makin tergesa dan ganas.
Akhirnya mereka pun berperang keringat hingga mencapai puncak. Tidak bisa dipungkiri jika hal itu telah menjadi candu bagi keduanya. Itu normal untuk pasangan pengantin baru, bukan?!
***
Malam ini cuaca begitu dingin. Hujan cukup deras mengguyur seluruh perkampungan. Orang-orang tidak ada yang berkeliaran di luar. Mereka lebih suka diam di rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga. Begitu juga dengan Anas dan istrinya.
Usai sholat isya, mereka rebahan di kasur sambil berpelukan.
"Cantika, sudah beberapa hari ini kamu tidur dengan tenang."
"He-em, terus...?"
Cantika mencebik kesal, "Mana aku tahu, Mas. Itu di luar kendaliku. Tapi mungkin jika suasana hatiku selalu happy, aku akan tidur dengan manis." Kini sudut bibirnya tersungging. Tersenyum menggoda sambil membelai wajah suaminya.
"Memang apa yang membuatmu senang?" Pria itu juga tak mau kalah, dia pun mengusap wajah si cantik.
"Simple aja sih. Aku akan selalu happy kalo bersama kamu terus."
"Aku juga. Cantika...." Anas menatapnya dengan dalam.
"Ya...." Jantungnya memacu sangat kencang. Kira-kira apa yang akan dikatakan suaminya? Apakah pria itu ingin meminta jatah lagi?
"Cantika, aku mau....ke kamar kecil dulu." Pria itu turun dari ranjang.
Sedangkan istrinya melongo. "Kirain mau begituan lagi...Ini emang gue yang ngeres kali ya?!"
__ADS_1
Cantika bangun dan mengambil ponsel milik Anas. Dia penasaran ingin mengutak-atik benda yang tidak memakai sandi itu. Apa suaminya menyimpan nomor gadis lain?
"Mira? Hemmm, biar gue blokir nomer cewek reseh ini! Gawat kalo dia ngerayu laki gue."
Senyumnya merekah tapi tak lama berselang, mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna. Dia menyaksikan video dirinya yang pecicilan saat tidur. Jadi mas Anas diem-diem udah ngerekam gue?
Wanita itu mendelik kepada suaminya yang baru saja duduk di tepi ranjang. "Mas, kenapa kamu mengabadikan momen paling memalukan waktu aku tidur?" Menyodorkan ponsel ke pria itu.
Anas mengambil dan menatap layar handphonenya. Dia tertawa kecil saat kembali menyaksikan video itu. "Kamu lucu sekali..."
Cantika memukul-mukul lengan Anas sambil mengeluarkan protes. "Kamu gak ada kerjaan ya?! Buat apa kamu ngerekam video itu?"
Pria itu malah tertawa lebih kencang. "Kamu lucu jadi aku rekam saja. Lagipula kamu harus tahu bagaimana kelakuanmu saat tidur pecicilan."
"Kamu gak share video ini ke orang lain, kan?!"
"Tentu saja tidak. Ini hanya untuk hiburanku, bukan untuk konsumsi publik."
"Hapus!" Memerintah dengan galaknya.
"Kenapa dihapus? Ini lucu tahu?!"
"Pokoknya hapus, kalo gak aku bakalan ngambek! Jangan harap bisa tidur di kasur!"
Melihat raut wajah menyeramkan istrinya, Anas pun segera menghapus video itu. Dia menyimpan ponselnya di atas lemari pakaian.
Pria itu kembali menghampiri istrinya. Dia menggenggam erat tangan halus milik Cantika.
"Maaf, jangan marah! Kalo marah kamu seperti angry bird." Dia sedikit menahan tawa.
Tentu saja Cantika tambah kesal. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bibirnya masih monyong.
Anas segera memeluknya agar amarah wanita itu reda. Tapi istrinya itu belum mau bicara lagi. Akhirnya dia berinisiatif untuk menc**m pipi kanan Cantika.
"Sayang....istriku yang paling cantik dan baik. Maafkan suamimu ini, jangan ngambek lagi! Sayang, aku benar-benar mencintai kamu." Bisiknya di telinga Cantika.
__ADS_1
Perempuan itu pun perlahan menyunggingkan senyum. Bukan hanya karena dipanggil sayang dan dipuji seperti itu, tapi perkataan Anas yang begitu lembut benar-benar sudah meluluhkan hatinya. Apalagi kini pipi berbulu suaminya menempel di pipinya. Itu telah mengalirkan tegangan listrik yang hebat pada sekujur tubuhnya.
Anas terus merayunya bukan hanya dengan ucapan, tapi juga dengan sentuhan lembut nan memabukkan. Dan akhirnya mereka pun saling memberi kehangatan di malam yang dingin itu. Suara syahdu mereka berlomba dengan suara derasnya air hujan. Benar-benar momen yang indah dan romantis.