TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Khawatir.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju pasar, Anas tak henti tersenyum. Sambil menggerakkan kendaraan roda duanya, pria itu membayangkan adegan manis tadi sebelum berangkat. Cantika mencium punggung tangannya tanpa diperintah. Bukankah itu sangat romantis ?


Ada apa dengannya ? Baru dua hari saja menikahi wanita itu, tapi dunianya seolah berubah. Gubuk reotnya serasa bagaikan istana megah. Kesepiannya berganti kehangatan. Dan hatinya, selalu berbunga-bunga. Ada saja rasa yang membuatnya senang dan bersemangat. Apa sebahagia ini jika sudah menikah ? Atau lebih tepatnya, seindah inikah orang yang tengah dimabuk asmara ? Benarkah Anas telah jatuh cinta pada istrinya itu ?


Sampai di tempat tujuan, Anas memarkirkan motornya terlebih dahulu. Masuk ke dalam pasar dan menghampiri para pedagang langganannya. Berburu barang-barang kebutuhan seperti beras, minyak, bumbu dapur dan lain-lain. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, bahan-bahan tersebut juga untuk modalnya berdagang. Rencananya besok pagi dia akan mulai lagi berjualan nasi kuning.


Usai berbelanja, dia kembali menghampiri kendaraannya. Menaruh semua barang belanjaan ke atas motor, dibantu oleh seorang pria. "Terima kasih, Pak." Ucapnya sambil memberikan sejumlah uang kepada kuli panggul itu. "Sama-sama," jawab pria yang umurnya lebih tua dari Anas.


Sebelum meninggalkan pasar, Anas tersenyum pada tukang parkir dan memberinya ongkos. "Terima kasih, mas. Saya duluan ya..."


"Yooo, hati-hati mas Anas !" melambai sambil tersenyum.


Anas lagi-lagi mesem menyusuri jalanan yang telah ramai oleh kendaraan. Dia bersemangat sekali saat akan pulang menuju rumahnya. Mungkin di sana telah ada bidadari cantik yang menunggunya, itulah alasannya !


Ketika baru setengah perjalanan, di jalanan yang agak sepi, tiba-tiba dua buah motor menghadang di depan. Terpaksa Anas menghentikan laju kendaraannya. Empat orang pria bertubuh besar turun dari dua motor tersebut. Berjalan menghampirinya dengan tatapan seram.


"Kalian siapa ya, kenapa menghalangi perjalanan saya ?" tanya Anas.


"Lo yang namanya Anas Malik, menantunya Pak Permana ?" salah seorang pria balik bertanya.


"Ya, benar. Ada apa memangnya ?"


"Kita di sini cuma mau ngasih hadiah atas pernikahan lo sama putrinya Pak Permana." Tersenyum menyeringai. Dia menatap ketiga temannya, memberi kode.


Keempat pria kekar berhelm itu menatap Anas dengan senyum sangar. Salah seorang menarik kerah jaket milik pria polos itu. Memaksanya turun dari motor.


"Apa sebenarnya yang kalian mau ?" menatap mereka bergantian, tak ada rasa takut sedikitpun.


"Kita cuma mau olahraga sedikit." Usai bicara, salah seorang pria langsung melayangkan bogem mentah namun berhasil dihindari. Anas memegang tangan terkepal itu, lalu memelintirnya ke belakang punggung si pria asing.


Dua pria lain menyerang ingin memukul Anas, untunglah dia berhasil menghindar. Tapi satu lagi menyerangnya dari belakang. Memukul punggung Anas dengan keras hingga tersungkur. Ketiga pria di depannya menendang dan meninjunya berkali-kali. Akhirnya Anas pun kewalahan menghadapi mereka. Dia tak mampu lagi mengatasi. Tak ada orang yang membantunya. Selain karena jalanan tersebut memang agak sepi, jikapun mungkin ada orang yang lewat, belum tentu berani melerai.


***


Usai mandi juga berdandan sewangi dan secantik mungkin, Cantika duduk di teras rumah untuk menunggu kepulangan suaminya. Sudah dua jam lebih Anas keluar rumah, tapi belum juga nongol. Tak dapat dipungkiri jika ada rasa cemas yang melanda hati Cantika.

__ADS_1


"Ihhh, kok lama sih ? Kemana dulu, apa pasarnya jauh banget ? Mau dihubungi aku gak tahu nomer handphonenya. Ahh bodoh banget, kontak suami aja gak punya. Harusnya aku minta nomernya, jadi kalo ada apa-apa bisa telpon."


Dia beranjak dari duduknya. Berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan perasaan gusar. "Jangan sampai dia kenapa-kenapa. Kalo ada yang nyulik gimana ? Amit-amit....gue gak mau jadi janda !"


Cantika segera menghambur ke halaman rumah ketika suara motor butut itu mendekat. Anas telah kembali. Pria itu turun dari kendaraannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Cantika sungkem. "Kenapa lama, emang jauh pasarnya ?"


"Aku ada urusan sebentar." Anas memanggul dua karung beras sekaligus. "Tolong buka pintunya !"


Cantika melangkah cepat untuk menuruti perintah suaminya. Anas masuk dengan langkah pelan menuju dapur. Dia kembali lagi membawa barang-barang yang lain dari motor. Istrinya tentu saja membantu.


Setelah itu, Cantika mengambilkan air minum untuk suaminya yang duduk di ruang tengah. Perempuan itu benar-benar bertingkah seperti istri yang baik. Dia ikut duduk di sebelah Anas.


Pria itu membuka helm dan meletakkannya di atas meja. Mengambil gelas berisi air dan meminumnya.


"Astaga, wajahmu kenapa bonyok begitu ?" membelalak.


"Tidak apa-apa." Jawabnya santai sambil meletakkan kembali gelas.


Terlihat sekali jika Cantika sedang cemas. Bahkan tangannya sedikit gemetaran saat mengusapkan obat. Matanya pun berkaca-kaca. Anas tak merasakan lagi sakit ketika melihat wajah istrinya. Dia senang karena Cantika cemas dan perhatian padanya.


"Kenapa sampai bonyok-bonyok ?" bernada kesal namun penuh kekhawatiran.


"Ada beberapa pria yang menghajar ku. Aku sama sekali tidak mengenal mereka."


"Apa ? Terus kamu melawan ?"


"Ya, aku berusaha melindungi diri sendiri."


"Bodoh, mestinya kabur aja daripada benyok begini ! Jangan so jagoan !" menekan agak keras bagian luka itu.


"Awww, pelan-pelan. Perih juga rasanya."

__ADS_1


"Lain kali hati-hati, jangan meladeni orang-orang gila seperti mereka ! Aneh, apa tidak ada yang menolong ?" masih bergerak mengobati.


"Jalanan sedang sepi."


"Untung aja kamu masih bisa bernafas. Jika tidak, ihhh amit-amit...!" Sudut matanya makin penuh dengan air.


"Jika aku mati, apa kamu akan menangis ?" menatap lekat.


Deg ! Itu sungguh perkataan yang mengerikan. Cantika tidak mau membayangkannya lebih jauh. Ditinggal ke pasar saja, sudah membuatnya mondar-mandir di teras rumah dengan gusar. Apalagi jika harus....ah, tidak ! Cantika tidak boleh berpikir begitu !


"Kenapa kamu menangis, apa kamu mengkhawatirkan aku ?"


Cantika mengusap bulir bening yang lolos dari matanya. "Siapa yang nangis ? Aku kelilipan debu...."


Anas tersenyum manis. Dia tahu benar jika perempuan itu berbohong. Cantika memang mencemaskan keadaannya.


"Terima kasih sudah mau peduli padaku."


"Gak usah bilang makasih, aku cuma gak tega liat kamu bonyok-bonyok gini. Wajahmu yang pas-pasan jadi kelihatan lebih jelek." Berdiri dan menyimpan kotak obat ke dalam kamar tidur.


Anas semakin melebarkan senyumnya. Kata-kata pedas dari mulut istrinya malah terdengar manis. Rasanya kejadian pengeroyokan itu sama sekali tidak mengusik kebahagiaannya.


Cantika pergi ke dapur mengambil dua piring dan makanan yang tadi pagi dibelinya. Meletakkannya di atas meja.


"Aku tadi beli apa ini namanya, kupat tahu kalo gak salah." Menaruh makanan di atas piring.


"Kamu belum sarapan ?" tanya Anas.


"Belum, sengaja nunggu kamu biar kita makan bareng. Makan sendiri itu gak enak."


"Suapi aku, ya ?!" cengir Anas.


Cantika memicingkan mata, "Perasaan tanganmu gak bonyok dehhh. Masih bisa berfungsi dengan normal."


Anas tertawa kecil, "Aku bercanda...."

__ADS_1


Cantika memanyunkan bibirnya. Padahal tadinya dia akan menuruti keinginan pria itu. Tapi ternyata cuma bercanda. Ya sudah tidak jadi !


Andai Cantika tahu bahwa sebenarnya Anas memang ingin disuapi. Pria itu masih sedikit malu-malu untuk mengakuinya.


__ADS_2