TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Rumah baru


__ADS_3

Cantika dan Anas tiba di ballroom sebuah hotel, dimana pesta pernikahan Gladis digelar. Keduanya berjalan bergandengan tangan lalu duduk di kursi yang menghadap ke tempat dimana pasangan pengantin berada.


Si pengantin laki-laki kini tengah mengucap kalimat yang akan mengesahkan hubungan pernikahannya. Sekarang dia dan Gladis telah resmi menjadi pasangan suami-istri. Keduanya saling menyematkan cincin dibumbui dengan kecupan di kening dan punggung tangan. Usai menandatangani dokumen penting pernikahan, mereka tersenyum pada para tamu undangan seraya memperlihatkan buku nikah. Kemudian, Gladis dan suaminya sungkem pada orangtua kedua belah pihak.


Cantika tersenyum menyaksikan ritual demi ritual itu. Dia sesekali melirik pada pria di sebelahnya.


"Mas, aku jadi ingat waktu kita nikah. Kayaknya kita gak semesra dan sebahagia mereka."


Anas menoleh, "Aku tahu kamu tidak bahagia saat itu, tapi apa kamu tahu jika aku merasa senang waktu kita menikah?"


"Gak tahu, emang iya gitu?"


"Iya, meski pengantin wanitaku selalu jutek, tapi entah kenapa aku merasa bahagia saat itu."


Cantika terkekeh, "Maaf, Mas. Aku emang belum bisa nerima kamu waktu itu. Mas tahu gak, Mama Sofi udah kasih tahu aku biar gak judes di saat hari pernikahan kita, soalnya ada beberapa tamu undangan yang pada nyinyir komentarin aku. Tapi akunya malah gak peduli. Mungkin cuma aku pengantin yang berwajah serem di abad ini."


"Terjudes tapi tercantik." Ucap Anas sambil tersenyum.


Cantika tersipu-sipu, wajahnya memerah. "Ahhhh, bisa aja. Tapi itu emang fakta sihhh, hehehe…"


Acara demi acara berlangsung lancar. Saat ini pengantin tengah asik berfoto ria. Bahkan sesekali mereka mengambil gambar bersama keluarga dan sahabat. Tidak terkecuali Cantika, dia dan temannya yang lain ikut berfoto dengan pengantin wanita. 


Perempuan-perempuan heboh itu kini sedang tersenyum pada kamera dengan gaya bebas dan centilnya. Tapi lain halnya dengan Cantika, ini pertama kalinya dia bersikap kalem saat sedang ber-selfie bareng. Rupanya dia merasa malu pada suaminya yang berdiri memperhatikan. Setelah itu, dia segera menghampiri Anas.


"Cantika, bisa kita pulang sekarang? Sudah lama kita di sini. Apa kamu mau terus di sini sampai acaranya selesai?"


"Nggak dong, aku juga mau pulang sekarang kok."


Ketika itu Eca menghampiri keduanya. "Ika, Mas…aku sebenarnya mau ngomong hal yang penting." Ucapnya sambil celingukan karena takut ada yang memata-matai atau mendengarnya.


"Ada apa emang? Bikin penasaran dan deg-degan aja." Tanya Cantika.


"Ini penting banget, please…Kita bertiga harus bicara saat ini juga. Tapi sebelum itu, kita harus pindah dulu ke tempat yang lebih sepi."


Cantika dan Anas saling bertatapan, sama-sama menanyakan pendapat. Ika mengerakkan alisnya ke atas ke bawah. "Gimana, Mas?" Itulah perkataan yang akan muncul jika saja dia buka suara.


Anas hanya mengangguk. Akhirnya mereka bertiga pindah ke pojok ruangan yang agak sepi, berbicara dalam posisi berdiri dengan Cantika yang berada di tengah-tengah.


"Kalian sebaiknya jangan mudah percaya sama Peter. Meskipun dia udah nolong Mas Anas dalam kebakaran itu, tapi kalian harus tetap hati-hati sama cowok licik macam dia." Ucap Eca setelah sebelumnya celingukan lagi.

__ADS_1


"Jelasin semuanya, sebenarnya hal apa yang belum gue tahu?!" tanya Cantika penasaran.


"Jadi sebenarnya Peter yang udah sengaja bikin rum…"


"Hai, kalian lagi ngobrol apa? Kayaknya serius banget." Tiba-tiba si pria sipit yang tengah disebut namanya, muncul di sana membuat jantung Eca nyaris copot.


"Pe…ter…?" Eca terbelalak dan tubuhnya menggigil serta berkeringat dingin. Dia seperti melihat setan saat ini. 


"Kenapa Lo kaget banget liat gue, Ca?" Peter tersenyum menyeringai, membuat gadis itu lebih ketakutan. 


"Eca, ntar aja deh kita ngobrolnya. Gue tiba-tiba kebelet pengen ke toilet." Ucap Cantika sambil berlalu. 


"Gue juga mau ikut." Eca hendak menyusul tapi tangannya ditarik oleh si pria sipit.


"Bentar, gue mau ngomong." Peter menatapnya tajam masih menyeringai.


"Saya permisi dulu," ucap Anas karena tidak ingin mengganggu mereka berdua. Pria itu sama sekali tidak mengetahui situasi yang sebenarnya. Dia menyusul istrinya dan menunggu di depan toilet.


Eca makin gemetaran saat tangan si pria sipit mencengkram kuat lengannya. "Lepasin gue!" Mencoba melepaskan diri tapi tidak berhasil.


"Apa yang tadi Lo bilang sama mereka? Apa Lo mau ngejelek-jelekin gue di depan Cantika?"


"Bukan, gue mau kasih tahu kebenarannya sama Ika dan Mas Anas, bahwa kebakaran itu adalah salah satu rencana Lo. Mereka harus tahu semuanya!" Entah dari mana datangnya keberanian itu, hingga membuatnya menantang si pria licik. Mungkin dia sudah enek dengan kepura-puraan laki-laki itu.


"Gue gak punya bukti apapun, tapi gue yakin kalo Lo ada di balik semua ini. Sekarang lepasin sebelum gue teriak!"


"Gue lepasin kali ini, tapi kalo Lo macam-macam lagi, gue akan bertindak nekad."


Eca segera pergi menyusul Cantika ke toilet setelah terlepas dari si pria licik. Namun dia kalah cepat, ternyata orang yang dicarinya sudah pergi.


"Apa Ika udah pulang?" Dia bergumam sendiri saat keluar dari toilet.


"Kenapa, Lo masih pengen ngomong sama Cantika? Dia sama cowok itu udah pulang barusan." Ucap Peter sambil menyeringai.


"Lo ikutin gue? Dasar gak waras!"


Pria itu tergelak, "Mulai sekarang Lo harus bersikap hati-hati, jangan sampai bikin gue terusik! Inget, my eyes on you!" Ucapnya sambil menunjuk mata gadis itu dengan kedua jemarinya. "Gue gak main-main, jadi Lo harus tutup mulut biar nyawa Lo selamet."


Peter pun berlalu. Eca terduduk lesu di tembok sebelah toilet. Pikirannya kini kalang-kabut. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dia sangat ketakutan akan ancaman Peter. Tapi di lain sisi, dia harus segera mengungkap kejahatan pria itu pada temannya.

__ADS_1


**


Esok harinya.


Anas dan Cantika sudah ada di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Bangunan dua lantai bercat putih orange dengan taman kecil di depannya. Di dalamnya terdapat satu kamar tidur plus kamar mandi di lantai atas. Di lantai bawah ada lagi satu kamar tidur, satu kamar mandi terpisah, dapur dan ruang tamu.


"Wahhh, Papi baik banget sama kita. Rumah ini jadi lebih gede." Cantika berbinar-binar menatap seluruh bangunan baru itu.


"Iya, Papi terlalu baik. Aku jadi makin malu sama beliau." Anas terlihat agak murung. Bukan karena dia tidak bersyukur atas pemberian ayah mertuanya, melainkan karena merasa rendah diri karena harusnya rumah untuk istrinya adalah hasil dari keringatnya sendiri. Sebagai seorang laki-laki dan seorang suami, dia merasa tidak berguna.


Cantika memeluk suaminya itu, "Mas, Papi udah anggap kamu kayak anaknya sendiri, jadi wajar aja kalo dia sayang juga sama kamu. Makanya dia kasih kita rumah ini."


"Tapi aku merasa tidak berguna, harusnya aku yang kasih kamu semua ini."


Cantika meraup pipi berbulu itu, "Gak, aku gak ngerasa kayak gitu. Udah ah, jangan dibahas lagi. Kita gak boleh nolak rejeki, apalagi dari orangtua."


Wanita itu menarik tangannya agar berjalan lagi menyusuri ruangan demi ruangan. Lagi-lagi mata Cantika berbinar saat melihat dapur dan kamar mandi di lantai bawah.


"Mas, kamu gak usah lagi nimba air, tinggal pencet aja airnya langsung keluar. Wahh, Papi hebat banget. Bikinin kita rumah lengkap sama perabotannya."


Mereka naik ke lantai atas. Masuk ke dalam kamar tidur yang ukurannya sekarang lebih luas. Ada kasur besar dan juga sofa di sana. TV besar dan lemari yang lebar. Di dalam kamar mandi terdapat shower dan bathup. Meski luasnya tidak seperti kamar miliknya di rumah Pak Permana, tapi saat ini Cantika dapat lebih leluasa tinggal di sana.


"Ahhhh, aku bahagia banget Mas. Kamu juga, kan?!"


Anas mengangguk pelan meski sebenarnya dalam hatinya merasa tidak enak. Tetap saja dirinya merasa rendah.


Cantika menarik tangan suaminya agar mengikuti ke dalam kamar mandi. Dia segera melepas kain penutup yang melekat di tubuhnya.


"Mas, kita berendam yuk!" Ajaknya dengan kerlingan nakal.


Anas pun melakukan hal yang sama. Dia ikut masuk ke dalam bathup. Dan akhirnya mereka pun bermain air bersama. Tapi untuk adegan asik, tetap dilakukan di atas ranjang.


"Kita memang harus mencoba kasur ini, enak tidak kalo dipakai untuk tidur dan main perang-perangan?!" Cantika lagi-lagi tersenyum nakal saat membaringkan diri di atas tempat tidur.


Anas pun segera menyerangnya, karena sudah tidak tahan lagi setelah melakukan pemanasan yang lama di dalam kamar mandi tadi.


Dan ternyata pilihan Pak Permana memang tepat, suasana baru di rumah baru itu telah membangkitkan semangat yang lebih besar pada pasangan suami-istri itu.


Note:

__ADS_1


Sekali lagi saya mohon maaf karena mungkin sekarang tidak akan update sesering dulu. Saya sudah katakan kalo ada beberapa kendala dalam kehidupan nyata Author, yang tidak mungkin dijabarkan semuanya.


Terima kasih banyak sudah support 🤗


__ADS_2