
Keesokan paginya.
"Mbak, Mas Anasnya kemana?" tanya seorang pembeli.
Cantika menatapnya tak suka, "Mau beli nasi kuning apa mau ketemu suami orang?"
Si wanita itu malah cengengesan, "Kalo dua-duanya, boleh?"
Cantika memelototinya tapi orang itu masih cuek saja. Nih ibu-ibu gak ada otaknya apa? Gak tahu malu banget. Dia berdehem keras saat si pembeli celingukan ke dalam rumah. "Suamiku gak ada...Jadi dibungkus gak nasi kuningnya? Apa Lo aja yang gue bungkus?" Akhirnya Ika meledak-ledak.
"Ya...jadi dong." Setidaknya meskipun gak ketemu Mas Anas, minimal nyicip masakan buatannya. Ye kannn?!
"Jadinya berapa bungkus? Pake racun gakkk?"
"Hahaha...jangan Mbak. Tapi kalo racun cintanya Mas Anas, boleh tuhhh."
Ihhh, cewek gila! Kalo dia bukan pembeli, udah gue gamprat mukanya. Tenanglah Cantika, anggap aja nih cewek radio butut. Bukan omongannya yang mesti ditanggapin, tapi duitnya!
"Mbak, lima bungkus aja dehh gak pake sambel. Lauknya pengen ayam sama tempe." Wanita itu masih santai menanggapi Cantika yang berwajah judes.
"Hemmm..." Menjawab dengan geraman kesal. Gue sumpahin Lo kena katarak biar gak sembarangan lirik-lirik suami gue.
Cantika menyodorkan pesanan ibu itu. "Nih, semuanya jadi sekian..." menyebutkan nominal harga.
Wanita itu masih cengengesan saat mengambil kantong plastik dari si pedagang. Dia memberi sejumlah uang untuk membayar makanan itu. "Makasih, Mbak."
Cantika menatapnya dengan malas, "Hemmm, ini kembaliannya."
Setelah mengambil uang itu, si pembeli pun pergi.
"Dasar cewek centil, gak ngehargain banget gue sebagai Nyonya Anas. Kalo kayak gitu gak masuk kategori bercanda." Dia menggerutu sendiri. Kini Ika berjalan mondar-mandir dengan gusar, "Ihhh, Mas Anas lama banget ke warungnya."
Tak butuh waktu lama, suaminya pun muncul dengan menjinjing kantung plastik. "Sayang, maaf lama. Warungnya tadi lumayan banyak pembeli."
"Hemmm." Jawabnya dengan cemberut.
"Kenapa ngambek begitu?" mengusap pipi istrinya.
"Aku gak nyangka kalo jadi istrimu itu ternyata menyiksa. Tubuhku tiap hari kebakaran gara-gara ulah para pembeli. Sebagian besar dari mereka suka kecentilan sama kamu."
Anas tergelak, "Sayang...gak usah dipikirkan! Yang penting mereka tidak melakukan hal buruk. Kalo hanya sekedar omongan, biarkan saja. Ingat, aku cuma milikmu!"
__ADS_1
Akhirnya senyum manis itu berhasil mendinginkan dadanya.
***
Usai sarapan, Cantika dan Anas duduk di teras rumah.
"Mas, boleh aku ke rumah Papi sekarang?"
"Tentu saja boleh. Aku antar ya?!"
"Tapi kan kamu harus tetap di sini, takutnya ada pembeli yang datang."
"Tidak apa-apa."
"Atau...nanti siang aja deh aku ke sananya. Mas gak keberatan nganterin aku?"
"Kamu ini, masa nganter istri sendiri ke rumah mertua harus keberatan."
"Takutnya kamu cape, Mas."
"Aku khawatir jika membiarkan kamu pergi sendiri." Pria itu melengkungkan bibir.
Dan lagi, yang paling membuat Cantika meleleh yaitu senyum manis suaminya. Kini jantungnya pun berdegup hebat karena tangannya disentuh bibir Anas.
***
"Cantika, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. Motorku harus diperbaiki dulu."
"Terus apa Mas ikut ke rumah Papi?"
"Ya, kita naik angkot saja."
Cantika mengangguk. Tidak masalah jika harus naik kendaraan umum atau jalan kaki sekalipun, asal bersama suaminya. Jangankan ke rumah Pak Permana, ke gunung Everest saja akan dia jambangi.
Tapi sepertinya Cantika harus kecewa karena saat itu tiba-tiba ada yang datang. Seorang pria memberi tahu jika salah satu sahabat Anas telah meninggal dunia.
"Cantika, maaf. Aku harus segera ke sana. Kamu pergi saja ke rumah Papi sendirian. Atau besok saja kita mengunjungi Papi?"
"Mas pergi saja, aku gak apa-apa ke sana sendiri."
"Hati-hati di jalan, jika ada masalah hubungi aku!"
__ADS_1
Cantika mengangguk pelan. Dia harus merelakan kepergian suaminya itu.
***
Cantika bertanya pada seorang perempuan yang berdiri bersamanya di pinggir jalan raya. Dia mencari tahu kendaraan mana yang harus dia naiki agar sampai ke rumah ayahnya.
"Harus dua kali naik angkot atau biar gak ribet, mending naik bus! Kebetulan kita searah, bareng saja." Ajak wanita itu.
"Ya, makasih Mbak."
Kedua perempuan itu pun naik ke bus setelah beberapa saat menunggu. Mereka duduk di kursi bagian tengah dengan berdampingan. Selama perjalanan, mereka mengobrol ringan dan saling berkenalan.
Cantika menutup hidung ketika ada seorang pria yang berdiri di sampingnya. Tubuh pria itu begitu dekat dengannya. Ya ampunnn bau banget...Nih cowok apa belum mandi selama sebulan? Baru aja pertama kali naik kendaraan umum, gue udah sial!
Wanita di sebelahnya pun tak jauh beda dengan Cantika. Dia bisa mencium bau aroma tubuh si pria itu yang begitu menyengat. Semoga saja mereka tidak pingsan.
***
Setelah lamanya menghirup aroma yang begitu sedaaap, akhirnya Cantika turun dari Bus.
"Uo....uoo..." Seluruh isi perutnya keluar, untung saja dia sudah ada di pinggir gorong-gorong. "Gila tuh cowok, gue ampe muntah. Untung ini bukan di Bus."
Cantika melanjutkan perjalanan dengan menaiki ojeg menuju perumahan elite dimana ayahnya tinggal. Terus masuk ke sana sampai tiba di sebuah rumah mewah milik Pak Permana.
***
Saat itu di rumah hanya ada Riri. Pak Permana dan Bu Sofi sedang ada di luar. Cantika dan gadis itu duduk berhadapan di ruang tamu.
"Kak, suami Kakak gak ikut?"
"Dia lagi ada urusan. Ri, Papi bilang Lo bentar lagi mau tunangan. Sama siapa?" Sebenarnya dia sudah tahu, hanya ingin memastikan saja.
Riri menunduk, "Ya, Kak. Aku...mau tunangan sama...Peter, mantan pacar Kakak." Dia merasa sedikit tidak enak hati.
"Lo yakin mau tunangan sama dia? Peter itu playboy!"
Riri mendongak, "Kenapa Kakak ngomong gitu? Kakak keberatan aku menjalin hubungan dengan mantan Kakak itu?"
"Gak, gue cuma mau ngasih tahu aja. Peter itu bukan cowok yang baik. Gue takut nanti Lo malah bakalan kecewa. Mending pikir-pikir lagi sebelum telat!"
Riri berdiri dengan wajah murka, "Stop Kak! Sejak kapan Kak Cantika peduli dan cemas sama aku? Bilang aja kalo Kakak masih cinta sama Peter! Kenapa Kakak selalu bersikap buruk sama aku? Kemarin-kemarin aku memang selalu diam, tapi kali ini TIDAK. Aku gak akan biarin Kakak menghancurkan kebahagiaan aku sama Peter."
__ADS_1
Cantika pun berdiri dan menatapnya tajam. "Riri, gue udah gak cinta sama Peter. Gue cuma mau kasih tahu gimana sifat aslinya agar Lo gak nyesel. Tapi kalo Lo gak percaya, ya udah...Gue gak bakal rugi."
Karena tujuannya ke rumah itu sudah terpenuhi, maka dia pun pergi meninggalkan adik tirinya yang kini tengah menangis. Cantika tahu jika selama ini sikapnya pada Riri tidak pernah baik, tapi kali ini dia benar-benar tulus ingin menyelamatkan gadis itu. Tapi saat niatnya tidak disambut, dia tidak perlu keberatan. Yang paling penting adalah dia sudah melakukan apa yang menurutnya benar.