TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Suasana baru.


__ADS_3

Cantika bangkit dari rebahannya. Duduk sambil berusaha menghirup aroma sedap yang lewat ke hidungnya. Gara-gara bau harum masakan itu, perutnya jadi keroncongan.


"Si Om bikin apa, ya? Sedap banget aromanya. Gue jadi laper..." memegang perutnya.


Tak lama berselang, suaminya itu muncul dan berdiri di dekat pintu. "Kita makan sekarang," ajaknya.


Cantika memalingkan wajah, "Emmm, duluan aja. Gue masih kenyang." Malu sebenarnya jika mengakui bahwa dia ingin makan.


Anas tersenyum manis seperti biasa, "Saya sudah masak nasi goreng spesial untuk kita. Kamu pasti suka." Ini adalah caranya agar wanita itu mau makan.


"Ok...dikit aja. Kasihan Om suami udah capek-capek masak."


"Om ? Sudah saya bilang panggil Mas saja !"


"Ok, Mas...." memaksakan diri. Malu jika harus membantah di saat dirinya akan numpang makan di rumah ini.


Anas mesem ketika melangkahkan kaki ke ruang tamu. Cantika perlahan berjalan mengekor.


"Kita makan di sini? Gimana kalo tiba-tiba ada yang datang?"


"Kita ajak makan saja sekalian." Anas duduk menghadap meja yang di atasnya berjejer makanan yang masih ngebul.


Ika ikut duduk di sebelahnya. "Jadi ruangan ini serba guna? Ruang TV, ruang makan juga ruang tamu?"


Anas mengangguk dan lagi-lagi tersenyum. Kali ini bibir yang tersungging itu terlihat indah di mata Cantika. Heyyy, si Om gak terlalu jelek. Dia manis juga! Wait, apa yang gue pikirin?


Dia segera memalingkan muka, takut otaknya makin tidak waras.


"Cepat makan, cicipi masakanku!" ucap Anas sambil memasukkan makanan ke mulut.


Cantika mengambil piring dan menyendokkan makanan sedikit. Perlahan dia mengunyah untuk merasai nasi goreng buatan suaminya. Ajaib, ini benar-benar enak! Rasanya hampir sama dengan yang ada di restoran. Bagaimana pria itu melakukannya, apa tangannya punya sentuhan ajaib hingga mampu membuat makanan selezat ini?


Tanpa sadar Cantika mengisi ulang piringnya. Dia ketagihan akan rasa makanan itu.


"Bagaimana rasanya, enak tidak?" tanya Anas.


"Emmm, kurang bumbu sedikit. Jadinya kurang enak..." suaranya agak ngosom karena bicara dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


Anas mesem sendiri, Kurang enak tapi makannya lahap sekali. Seperti orang kelaparan saja.


"Kamu memang biasa makan sebanyak ini, ya?" tanya Anas.


Cantika melongo. Banyak? Woowww, apa gue keliatan rakus? "Emang sebanyak apa gue makan? Perasaan cuma habis sepiring doang."


Anas terkekeh, "Sepiring tapi nambah terus sampai tiga kali."


Mata perempuan itu membulat sempurna. Apa tidak salah dengar, benarkah dia serakus itu? Hebat, Om bewok itu ternyata pandai memasak. Gara-gara makanan enak yang dibuatnya, Cantika berubah seperti orang kesurupan.


"Heehhh, Lo tambahin apa di makanan ini?" matanya penuh selidik.


Anas mengernyitkan dahi, "Maksudmu? Saya tidak mencampur bahan yang aneh ke dalam nasi goreng itu."


"Jangan-jangan Lo tambahin g@nj*, ampe gue ketagihan dan makan banyak!"


Pria itu terbahak-bahak. Sungguh konyol pemikiran perempuan di sampingnya. "Bagaimana mungkin saya melakukan itu, untuk apa?"


Kenapa makanannya seenak ini? Dia pake bumbu rahasia apa sebenarnya?


Anas menatapnya lekat, "Saya hanya membuatnya dengan penuh cinta, pakai hati yang ikhlas."


Untuk mengalihkan hati dan pikirannya, dia kembali melahap makanan yang masih tersisa di piring. Sayang sekali jika nasi goreng seenak itu tidak dihabiskan.


Ika memegangi perutnya yang terasa engap karena terlalu penuh. Aduhhh, baru kali ini gue makan banyak banget, ampe susah gerak.


Anas membereskan peralatan makan dan langsung mencucinya. Merapikan dapur yang berantakan saat memasak tadi. Bergerak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.


Cantika melongo ketika pria itu berjalan memasuki kamar. Wajahnya yang basah terlihat bercahaya. Bahkan bewoknya terkesan sexy di mata Cantika. Sejurus kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Astaga, kenapa otak gue segila ini? Sejak kapan gue terpesona sama cowok bewokan?


Dia memang biasanya menyukai tipe pria ala-ala Korea. Mulus dan putih bersih seperti wajah bayi. Itu salah satu alasannya, kenapa dulu berpacaran dengan Peter. Tapi kini entah mengapa saat melihat seorang Anas yang wajahnya dihiasi bulu-bulu lebat, hatinya sedikit tergiur? Wait....tergiur? Oh, please Cantika....lo jangan gila !


Perempuan itu memegang kepalanya yang terus berkelahi. Antara mengakui dan tidak, bahwa ternyata suaminya adalah pria sexy.


Anas berdehem pelan dan berdiri di hadapannya. "Cepatlah bersihkan mulutmu, jika mau mandi itu lebih bagus. Setelah itu ambil wudhu, kita sholat berjamaah!"


Cantika melongo lagi melihat Anas yang begitu tampan mengenakan baju Koko dan sarung juga peci. Benar-benar adem di matanya.

__ADS_1


"Cantika, kamu dengar tidak?"


Perempuan itu memalingkan wajahnya karena malu. "Gue....itu airnya ada gak?" Tapi saat suaminya bicara, dia kembali menatapnya.


"Saya sudah mengisinya sampai penuh, kamu tinggal pakai saja."


Please Om bewok, lo jangan senyum kayak gitu! Gue ampir meleleh....


Cantika segera beranjak dari duduknya, melangkah cepat ke kamar mandi. Di dalam sana, dia memegangi dadanya yang dag-dig-dug tak karuan. "Gila, tuh cowok ternyata auranya kuat juga. Gue dibuat kayak orang bego tadi. Kalo dilihat-lihat sih, dia emang ganteng. Selain itu pinter masak dan baik, rajin lagi. Ahhh, stop mikirin dia! Kenapa sih nih otak, jadi berpindah haluan ke cowok bewokan?" menepuk-nepuk kepalanya.


***


Usai sholat berjamaah dan berdoa, Anas berbalik dan mengulurkan tangannya. Cantika mengernyitkan dahi, "Apa?"


"Sungkem!"


Meski awalnya mendelik, tapi perempuan itu menurut juga. Dia meraih tangan kekar itu lalu menempelkannya ke kening. Ada perasaan aneh saat melakukan itu. Entahlah, baik Cantika maupun Anas belum bisa menjabarkannya.


Tiba-tiba Ika berderai air mata saat teringat mendiang ibunya. Terakhir dia sholat adalah sebelum ibunya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Sudah terlalu lama dia menjauh dari Tuhan. Dan kali ini berkat pria asing yang jadi suaminya, dia kembali bersimpuh. Sekilas ada rasa sedih yang bercampur dengan rasa tenang. Mungkin hati kecilnya menangis saat dia melakukan hal-hal buruk. Dan saat kakinya baru sedikit kembali menapaki jalan-jalan lurus, ketenangan menghampiri benaknya.


Anas menatapnya lekat. Refleks tangannya mengusap lembut pipi istrinya. Dua pasang mata bersirobok. Perasaan dan getaran aneh itu kembali muncul pada keduanya. Saat tersadar, Anas menarik tangannya dari wajah sendu itu.


"Maaf, saya tidak bermaksud lancang!" menunduk.


Cantika ikut menundukkan wajahnya. Tak ada kata yang terucap.


"Setiap kamu merindukan seseorang yang sudah tiada, maka berdoalah. Doakan agar orang tersebut mendapat pengampunan dan tempat yang baik dari Tuhan!"


Cantika mendengarkan dengan seksama.


"Apa kamu tahu? Setiap hari Jum'at, amalan kita akan disetorkan pada orang tua kita yang sudah berada di alam kubur. Jika kita berbuat buruk, maka mereka akan bersedih. Tapi jika kita melakukan hal-hal baik, maka sudah dipastikan jika mereka akan berbahagia. Ini bukan dongeng, aku mendengarnya dari Pak Ustadz." Tersenyum.


Cantika masih menunduk. Wajahnya makin banjir air kesedihan. Bahkan kini suara tangisnya pecah. Tak lagi malu untuk meluapkan rasa sesak di dadanya.


Mami....maafin aku. Aku bukan anak yang baik....


Anas memeluknya, tak tega melihat perempuan itu berduka. "Menangislah, agar hatimu lebih lega. Aku sangat paham bagaimana perasaanmu." Membelai lembut kepala yang bersandar di dadanya.

__ADS_1


Cantika begitu nyaman untuk meluapkan segala kesedihan yang selama ini dia pendam sendiri. Anas benar-benar pria luar biasa. Baru sehari saja menikahi Cantika, dia sudah mampu menyentuh hati perempuan itu yang sudah hampir mengeras.


__ADS_2