TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Acara syukuran.


__ADS_3

Baru saja selesai sarapan, ada lagi para ibu-ibu yang datang ke rumah itu. Tapi kali ini bukan untuk membeli nasi kuning, melainkan untuk bantu-bantu memasak dan menyiapkan segala keperluan untuk sukuran sore nanti. Ada juga beberapa bapak-bapak yang ikut nimbrung.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumussalam. Mari masuk !" sambut Anas dengan ramah. "Terima kasih banyak sudah mau datang dan membantu. Bapak-bapak dan ibu-ibu sudah sarapan belum ? Jika mau, silahkan makan dulu, kebetulan nasi kuningnya masih lumayan banyak !"


"Kami sudah sarapan di rumah. Langsung aja kita cus ke dapur." Ucap salah seorang ibu.


Sebagian emak-emak masuk ke dapur, beberapa ada yang duduk di atas lantai ruang tengah untuk memotong sayuran dan lain-lain. Sedangkan Cantika hanya melongo menyaksikan peristiwa aneh itu. Dia pindah ke kamar saat bapak-bapak memindahkan kursi dan meja dari ruang tengah, menuju halaman.


"Heyyy, sini deh !" panggil Cantika pada suaminya secara pelan.


"Ada apa ?"


"Ini kenapa banyak orang, apa yang mau mereka lakukan di rumah kita ?" masih bisik-bisik.


"Mereka adalah para tetangga yang akan membantu untuk mempersiapkan acara syukuran nanti sore. Di sini memang sudah biasa jika ada tetangga yang mengadakan acara hajatan atau sukuran, tetangga dan kerabat pasti akan datang ke rumah untuk ikut membantu."


"Ehhmm, bagus juga. Solidaritas kalian begitu tinggi."


"Kita kan makhluk sosial, saling membutuhkan. Maka dari itu kita harus saling tolong-menolong !"


Cantika manggut-manggut, "Terus, aku harus bantu apa ? Aku gak bisa masak."


"Diam saja dan perhatikan, atau ikut ngobrol dengan ibu-ibu. Atau....kalau mau, pijit saja badanku yang pegal-pegal nanti malam." Nyengir. Untuk pertama kalinya pria itu belajar modus.


Cantika mendelik sebal, "Apaan sihhh ? Ogah banget...!" berlalu ke dalam kamar tidur.


Anas tertawa kecil lalu bergabung dengan para bapak-bapak untuk menyusun kursi yang dibawa dari kantor RW, agar tertata rapi di halaman rumahnya.


Di dalam kamar, Cantika rebahan di kasur sambil memainkan handphone. Beberapa waktu kemudian, ayahnya menelpon. Dia menerima panggilan tersebut. Seperti biasa, Pak Permana menanyakan kabar putri dan menantunya.


"Cantika, mana suamimu ?"


"Dia lagi sibuk beres-beres, emang kenapa ?"


"Ohhh, apa acara syukurannya jadi diadakan sore ini ?" balik bertanya.

__ADS_1


"Darimana papi tahu ?"


"Papi sempat ngobrol dengan suamimu kemarin."


"Berarti papi punya nomer handphonenya ?"


"Punyalah....emang kamu gak punya ?"


"Pi, kirimin aku kontaknya dong !" berkata pelan.


"Jadi kamu beneran tidak punya ? Kamu ini lucu, masa nomer suami minta dari papi, haha..."


"Papi mau ngasih gak, kalo gak aku bisa minta langsung ke orangnya kok ?!" Padahal dia sangat berharap jika ayahnya mau menuruti. Gengsi jika harus meminta pada Anas secara pribadi.


"Ok, tentu saja papi akan kirimkan nomor Anas."


Setelah lumayan banyak obrolan, mereka pun mengakhiri pembicaraan di telpon. Tak lama berselang, Pak Permana mengirim kontak tersebut. Cantika tersenyum setelah mendapat apa yang dia inginkan. "Ok, udah di-save. Nomor my husband."


Sore hari pun tiba.


Semua telah siap dan rapi. Para tetangga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Anas sudah siap dengan pakaian kokonya, tanpa sarung. Dia menghampiri istrinya yang masih terlelap di atas kasur. Menggoyangkan sedikit bahunya. "Cantika, cepat mandi ! Sebentar lagi banyak tamu yang akan datang."


***


Cantika sudah rapi dengan gamis pemberian suaminya. Terlihat lebih cantik dan anggun, juga kalem. Menurut Anas, inilah penampilan Cantika yang paling sempurna. Dia bahkan tak berkedip saat menatapnya.


Cantika tersipu malu karena tahu jika pria itu tengah memperhatikan dirinya. Kalo teman-teman gue ngeliat, udah pasti gue di-bully. Noraklah, kayak emak-emaklah...tapi laki gue malah terpesona gitu. Apa baju ini beneran cocok dan bikin gue keliatan cantik ?


"Apa aku gak keliatan aneh dengan baju model gini ?"


"Cantik, sangat manis. Perfect."


"Bisa ngomong gaul juga nih cowok." Bergumam pelan.


"Heh, apa ?"


"Gak....kamu juga handsome." Menunduk malu.

__ADS_1


"Makasih." Nyengir pasti....


Saat itu di balik pintu, muncul Pak Permana beserta istri dan anak tirinya. Mereka mengucap salam secara hampir bersamaan. Anas segera menjawab dan menyambut dengan ramah. Cantika hanya terdiam, menatap mereka dengan malas. Dia sebenarnya senang melihat ayahnya ada di sana jika Bu Sofi dan Riri tidak ikut.


Semuanya duduk di atas karpet yang sudah dihamparkan. Anas mengambil minuman untuk mereka lalu ikut duduk di sebelah istrinya.


"Maaf, rumah ini terlalu kecil dan mungkin tidak nyaman." Ucap Anas.


"Tidak apa-apa, Nas. Jangan sungkan begitu, kami ini kan keluargamu juga." Pak Permana tersenyum ramah.


"Iya, nak. Rumahmu ini meskipun kecil tapi sangat nyaman, bersih dan yang bikin betah adalah udaranya yang masih segar. Orang-orangnya juga ramah." Bu Sofi menambahkan.


Mulai...jurus menjilat dikeluarkan ! Pinter banget cari perhatian. Cantika mendelik pada ibu tirinya.


"Cantika, apa kabar ?" tanya bu Sofi.


"Very happy...Dibanding waktu tinggal sama kalian, aku lebih suka tinggal di rumah ini. Lebih tenang dan damai." Menyindir.


Pak Permana mencoba menetralkan suasana yang mulai memanas itu. "Anas, papi membawa sedikit camilan dan amplop untuk anak-anak yatim. Papi juga ingin berbuat baik dalam hidup ini."


"Terima kasih banyak, papi...." Masih kaku menyebut pria paruh baya itu dengan sebutan papi.


Pak Permana juga bertanya perihal wajah menantunya yang bonyok. Anas hanya berkilah jika dia kena serangan salah sasaran.


Tak lama berselang, para tamu berdatangan. Anak-anak duduk di dalam rumah bersama Cantika dan keluarganya, sementara para tetangga duduk di kursi halaman rumah. Anas dan pak ustadz berada di teras, duduk bersebelahan.


Rangkaian acara demi acara berlangsung khidmat. Untuk pembacaan ayat suci Al-qur'an, dilakukan oleh Anas. Lantunan yang begitu lembut dan menenangkan bagi yang mendengar. Cantika bahkan sampai menitikkan air mata. Selain karena hatinya yang tersentuh, dia juga merasa bangga mempunyai suami seperti Anas. Dia laki-laki yang luar biasa ! Mungkin cuma ada beberapa di dunia ini.


Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Pak Ustadz. Semua tamu pulang setelah mendapatkan bingkisan dari pemilik acara. Anak-anak yang ada di dalam, tengah antre untuk mendapat amplop dan bingkisan makanan. Mereka semua menyalami Cantika, Anas dan keluarganya. Semuanya berhamburan dengan tenang, meninggalkan rumah itu.


Tamu terakhir adalah pak ustadz, "Saya doakan semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah dan warohmah. Saya pamit, assalamualaikum...."


"Aamiin....."


"Waalaikumussalam," jawab mereka serempak.


"Terima kasih banyak Pak ustadz. Biar saya antar ke depan." Ucap Anas. Dia kembali lagi setelah beberapa saat.

__ADS_1


Cantika beserta suami dan keluarganya, makan bersama. Setelah itu, Pak Permana dan Bu Sofi serta Riri pamit pulang. Kini hanya ada sepasang suami-istri itu di dalam rumah.


__ADS_2