
Cantika menangis sesenggukan di tepi ranjang, ketika Pak Permana dan Bu Sofi datang. Riri menceritakan semuanya pada mereka.
"Jadi wanita itu benar-benar melakukannya. Cantika, Papi akan coba bicara pada Tuan Arata. Semoga saja dia bisa membujuk istrinya untuk membatalkan rencana ini dan juga membiarkanmu bebas." Pak Permana memeluk putrinya.
"Papi, aku gak mau nikah tapi aku juga gak mau masuk penjara dan jauh dari anakku."
"Papi akan berusaha menyelesaikan persoalan ini."
Saat itu juga, Pak Permana meluncur ke kediaman keluarga Peter. Pria itu duduk di ruang tamu berhadapan dengan pasangan pemilik rumah.
"Saya mohon, biarkan Cantika hidup tenang. Dia benar-benar tidak sengaja membuat Peter celaka."
"Apa Anda pikir putra kami saat ini hidupnya baik-baik saja? Dia kehilangan semangatnya, bahkan sudah beberapa kali Peter mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Anak kami depresi karena sekarang tidak bisa beraktivitas normal." Wanita itu meledak-ledak.
"Pak Permana, saya sebenarnya tidak ingin menekan putri Anda. Tapi saya tidak tega melihat kondisi putra saya yang begitu kacau. Dia begitu terpuruk dan kehilangan gairah hidup. Akhirnya saya setuju dengan rencana istri saya. Ini semua agar Peter kembali tersenyum. Maaf, saya mohon dengan sangat, restuilah pernikahan ini. Peter sangat mencintai anakmu. Dia pasti akan bahagia jika bisa menjadi suami Cantika." Tuan Arata berkata jauh lebih sopan. Bahkan perkataannya berhasil menggugah perasaan Pak Permana.
"Jika Anda ada di posisi kami, pasti Anda akan melakukan hal yang sama. Bagaimana pun juga, Cantika tetap harus bertanggung jawab. Lagipula kami akan menjadikannya menantu di rumah ini, bukan pembantu. Apa yang Anda cemaskan? Peter sangat mencintainya, dia akan menerima anaknya juga. Jangan egois, Anda ingin Cantika hidup tenang sedangkan putra kami menderita." Amarah Nyonya itu makin membludak.
Pak Permana tertunduk tanpa berkata apapun. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Di sisi lain merasa iba dan bersalah pada keluarga Peter, tapi di sisi lain tidak mau melihat putrinya tertekan.
"Saya pamit." ucapnya setelah banyak mendengar lagi ceramah dari kedua orang itu.
"Ingat, Pak. Saya sangat berharap jika pernikahan ini benar-benar terlaksana. Saya mohon bantuan Anda." Tuan Arata memelas dengan mata berkaca-kaca.
Pak Permana pun pergi dari rumah itu. Niatnya ingin menyelesaikan masalah, malah justru membuatnya bimbang.
**
"Maaf, Nak. Papi tidak berhasil membujuk ibunya Peter. Malah sekarang ayahnya juga sependapat dan menginginkan pernikahan itu." Pak Permana menundukkan kepalanya. Dia juga menceritakan bahwa keadaan Peter begitu mengkhawatirkan.
Cantika meneteskan air mata. "Ini semua salahku, Pih. Kalo saja aku bisa kontrol emosi, pasti semua ini gak akan terjadi."
"Cantika, bagaimana sekarang?"
Wanita itu bungkam. Dia pun kini bimbang. Bagaimanapun juga, dia merasa begitu bersalah.
"Ika, Papi gak akan maksa kamu untuk menikah dengannya. Begini saja, sebaiknya kamu dan Afkar pergi ke luar negeri agar keluarga Peter tidak bisa mendekatimu."
"Nggak, Pih. Aku harus tanggung jawab. Anggap saja ini adalah balas budiku karena waktu itu Peter pernah nolongin Mas Anas saat kebakaran."
"Apa kamu yakin? Coba pikirkan lagi, ini semua menyangkut masa depanmu."
Saat itu muncul Bu Sofi. "Mas, Peter ada di bawah. Katanya ingin ketemu sama Cantika." Raut wajahnya terlihat tidak senang.
"Aku akan temui dia, Mah." Cantika bangkit dari duduknya.
Pak Permana dan istrinya mengikuti dari belakang. Mereka duduk berdampingan menghadap si pria sipit yang duduk di kursi rodanya. Terlihat seorang pria berbadan kekar, berdiri di dekatnya. Dia adalah salah satu bodyguard Peter.
Cantika menatapnya iba, rasa bersalahnya makin menggunung. "Peter, apa kabar? Maaf, kamu kayak gini gara-gara aku."
__ADS_1
"Ini semua salahku, kamu gak salah apa-apa. Aku ke sini cuma mau bilang kalo kamu gak usah turutin rencana gila Mommy untuk menikah denganku. Cantika, aku cukup tahu diri. Aku gak mau bikin kamu sedih. Untuk urusan surat perjanjian itu, jangan takut. Aku akan mencarinya dan merobeknya di depan kamu."
Tiba-tiba seorang wanita muda yang merupakan baby sitter Afkar muncul. Dia menggendong anak yang tengah menangis itu.
"Dedenya dari tadi nangis terus. Biasanya gak kayak gini." Ucapnya panik. Dia memang sudah mencoba segala cara untuk mendiamkan bayi itu, tapi selalu gagal.
"Cantika, boleh aku coba menggendongnya?" tanya Peter.
"Tapi dia sedang rewel, nanti kamu malah kerepotan." ucap Cantika.
Bu Sofi segera mengambil Afkar dari pengasuhnya. Tapi anak itu masih belum mau diam. Pak Permana mengambil alih, tetap saja sama. Bahkan saat diberikan pada ibu kandungnya, bayi itu masih menangis.
"Cantika, aku mau menggendongnya. Aku gak akan ngapa-ngapain dia kok." Peter terus mencoba lagi.
"Baiklah, maaf." Cantika memberikan si kecil pada si pria sipit meski agak ragu.
Peter tersenyum pada bayi yang kini ada dalam gendongannya. "Lucu sekali anakmu. Siapa namanya?"
"Afkar Malik." Jawab Cantika pelan.
Bu Sofi menatap Peter dengan ketus. Sampai detik ini dia masih memendam amarah pada pria itu. Pak Permana kebalikannya, dia merasa takjub akan laki-laki yang duduk di kursi roda itu. Cucunya langsung berhenti menangis saat bersama Peter. Entahlah, kenapa bisa begitu?
Kenapa Afkar bisa senyaman itu sama Peter? Cantika pun terheran-heran.
Sang baby sitter mengambil asuhannya karena sudah terlelap. Dia pergi ke kamar atas untuk menidurkannya. Bu Sofi pun ikut angkat kaki dari ruangan itu.
"Peter, maaf. Afkar tadi malah tidur di pangkuanmu." ucap Cantika.
"Maksudmu?" tanya Pak Permana.
"Om tahu sendiri gimana keadaanku saat ini. Gak akan ada yang mau jadi istri pria lumpuh meskipun aku ini tampan dan kaya raya." Tersenyum kelu.
"Peter, aku udah tanda tangani perjanjian itu. Aku gak akan ingkar sama Mommy-mu. Aku rela nikah sama kamu." Ucap Cantika yang membuat semua orang melongo. Pikirannya makin yakin meski masih ada sedikit keraguan. Itu karena dia merasa bersalah dan juga entah kenapa, dia melihat Peter saat ini agak berbeda. Terlihat lebih baik dan tulus. Mungkin pria itu bisa menjadi ayah yang baik untuk putranya.
Peter terbelalak, "Cantika, kamu yakin dengan keputusanmu itu? Dengar, aku gak mau maksa kamu. Aku lebih baik pergi daripada bikin kamu terluka."
"Aku serius, Peter. Aku mau nikah sama kamu."
Peter berbinar-binar, senyumnya mengembang. Akhirnya Cantika mau juga nikah sama gue. Terserah alasannya apa. Meskipun mungkin itu karena dia merasa kasihan atau bersalah.
"Peter, apa kamu benar-benar mencintai Cantika?" tanya Pak Permana.
"Tentu, Om. Bukan cuma Cantika, tapi juga anaknya. Aku bersedia untuk menerima keduanya."
"Baiklah, karena Cantika pun setuju maka Om akan merestui. Tolong jaga putri dan cucu Om satu-satunya!"
Peter menganggukan kepala sambil tersenyum bahagia. Inilah hal yang paling dia inginkan.
**
__ADS_1
Berminggu-minggu berlalu.
Anas masih berada di dalam tahanan itu. Wajahnya makin tirus dan tulang pipinya menonjol. Mata lelahnya dipenuhi lingkaran hitam. Bulu-bulu di wajahnya makin lebat. Rambut hitam agak gimbalnya memanjang sampai ke bahu.
Keadaannya benar-benar jauh dari kata rapi. Siapapun yang melihat pasti akan mengira jika dia adalah orang tidak waras atau gelandangan.
Fabian menatapnya iba. "Tolong maafkan aku. Aku sering berbuat kasar padamu, padahal kita sama sekali tidak punya masalah. Ini semua hanya demi menjalankan tugas."
"Ya, itu karena kamu lebih mementingkan uang daripada kemanusiaan. Tapi tenang saja, semua orang akan mempertanggung-jawabkan perbuatannya nanti. Yang salah tetap salah." Jawabnya lirih tapi menusuk.
Drappp.... drapp..... Derap langkah kaki yang pelan namun berat, mendekat ke ruangan itu. Sesosok pria bertubuh tegap memakai jas dan kacamata hitam pun muncul. Dia duduk di atas kursi menghadap Anas. Fabian mengangguk hormat pada pria yang tak lain adalah Bosnya itu.
"Halo, Nanas. Gue punya kabar gembira buat Lo. Ada 2 info penting yang harus Lo tahu." Ucapnya santai penuh seringai.
Anas menatapnya tajam penuh kebencian.
"Berita pertama, gue bakal kasih tahu siapa nama anak Lo. Bayi lucu itu bernama Afkar Malik."
Anas mendekat ke jeruji besi. Dia terlihat begitu antusias ingin mengetahui lebih banyak tentang anaknya. "Katakan, seperti apa wajahnya?!"
"Sayangnya dia mirip banget sama Lo. Tapi untungnya anak itu betah kalo digendong sama calon ayah barunya."
"Kamu jangan banyak bermimpi! Cantika gak akan mungkin mau jadi istrimu."
"Itu dulu, sekarang beda lagi. Dia bersedia nikah sama gue. Nah, itu berita ke-duanya. Gue besok nikah sama istri Lo."
"Bohong!"
Peter memberikan sebuah kartu undangan yang langsung diambil oleh Anas.
"Baca aja kalo gak percaya."
"Gak mungkin." Anas mencerna setiap kata dalam kertas itu. Pikirannya nyaris tak percaya.
"Besok Cantika akan resmi jadi milik gue."
Anas menyobek kartu di tangannya. "Jika pun benar, pasti ada berbagai macam kelicikan yang kamu lakukan agar Cantika mau menerimamu. Benar-benar pria gila dan licik!" teriak-teriak.
"Yes, i am but i don't care. Yang penting gue bisa miliki Cantika, cewek yang paling gue cinta."
"Itu bukan cinta, tapi obsesi. Peter, kamu itu kaya dan tampan. Pasti banyak wanita yang mau jadi istrimu. Kenapa masih ngotot ingin merebut Cantika dariku?"
"Cantika adalah milik gue, sebelum dia nikah sama Lo. Apa salahnya gue berusaha dapetin apa yang emang harusnya jadi milik gue?"
"Dasar gila....!!"
Peter tergelak, "Terserah... Oh ya, karena gue ini baik hati maka gue akan kasih lihat gimana meriahnya acara pernikahan gue sama Cantika. Gue pasang CCTV di hotel tempat gue nikah, nanti Lo bisa dengan mudah menyaksikan itu semua. Bahkan Lo sama Fabian bisa nobar malam pertama kami yang pastinya seru banget. Hahaha...."
Pria tidak waras itu pun pergi. Anas kini berteriak mengumpatnya. Sementara Fabian tak berkata apapun meski dirinya ikut dongkol atas sikap gila Bosnya.
__ADS_1
"Ya Allah, jangan biarkan pernikahan itu terjadi. Cantika harus tahu jika aku masih hidup. Aku tidak mau pria gila itu menyentuh istri dan anakku." Anas menangis histeris sambil memukul-mukul besi yang menghalangi kebebasannya.
Lagi-lagi si penjaga itu hanya diam saja. Tidak tahu harus berbuat atau berkata apa meski pikirannya bergelut.