TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Goal....!!


__ADS_3

Malam telah menyapa. Langit berubah gelap tapi keindahannya belumlah sirna. Sinar matahari yang telah pulang, digantikan oleh gemerlap cahaya bintang dan rembulan. Sepasang mata menatap kecantikan yang terpancar dari atas sana. Sudut bibirnya tersungging, namun senyuman itu terlihat begitu kelu.


Persis di malam seperti itu, berpuluh tahun yang lalu, Anas bersama keluarganya memasang tenda di halaman rumah. Mereka bersama menatap indahnya hamparan langit malam sambil bercanda ria. Itulah kali terakhir kebersamaan paling indah, dengan kedua orangtuanya sebelum mereka meninggal dunia pada esok harinya.


Kini matanya tertunduk, membuat bulir bening itu terjun bebas ke wajahnya. Dadanya kembali sesak jika mengingat kejadian itu. Anas juga adiknya masih butuh sosok ayah dan ibu saat mereka menjadi yatim piatu. Tidak mudah untuk menjalani hidup tanpa sosok orang tua meski mereka tidak terkatung-katung.


Itulah salah satu alasan pria itu mempunyai karakter yang dewasa dan bertanggung jawab. Dia harus bekerja keras membiayai Ardan dan dirinya sendiri. Bahkan dia rela tidak melanjutkan kuliah demi membiayai sekolah Ardan. Tidak dipungkiri jika Pak Permana pun sering membantu, tapi itu belumlah cukup. Masih banyak keperluan lain yang harus dia tutupi.


Anas memegang pelipisnya sambil berlinang air mata. Sungguh saat ini dia merindukan sosok ayah ibunya. Ingin rasanya dia memeluk mereka berdua. Aku kangen kalian ayah, ibu.... Setabah apapun pria itu, tetap saja rasa duka dan rindu itu kadang muncul.


Cantika menghampiri, berdiri tepat di hadapannya. "Mas, kenapa ? Apa sakit lagi, kepalamu pusing ? Ayo kita ke dalam, udara di luar dingin banget. Aku takut kamu masuk angin."


"Kamu tidur duluan, aku masih mau di sini." Masih menunduk.


Cantika berjongkok dan mengintip bagaimana raut wajah suaminya.


"Kamu nangis ? Wajahmu sembab gitu. Kenapa, bilang saja padaku ?!"


"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit merindukan kedua orang tuaku." Mencoba tersenyum.


Cantika bangkit lalu menyandarkan kepala Anas di perutnya. Mengusap-usapnya dengan lembut. Anas memeluk pinggang wanita itu seraya menangis meski tak mengeluarkan suara.


"Mas, aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku juga sering merasa kangen sama almarhumah mami. Selalu nangis sendirian di dalam kamar, pengen ketemu tapi cuma bisa lihat fotonya aja."


Anas tak bersuara. Tapi Cantika tahu pasti jika suaminya itu masih menangis. Sangat terasa dari dada dan bahu pria itu yang naik turun, menahan kesedihan.


"Kamu pernah bilang, saat kita kangen sama orang yang udah gak ada lagi di dunia ini, bagusnya kita kirim doa agar orang tersebut dihapus segala dosanya dan diberi tempat yang layak di alam sana. Sejak denger nasehat itu, aku selalu melakukannya. Tapi kalo sekali-kali kamu pengen nangis, ya nangis aja biar hatimu sedikit lega."


Anas mendongak lalu menatap wanita itu dengan lekat. "Terima kasih sudah peduli padaku."


Cantika mengusap wajah pria itu, "Sama-sama, kita ke dalam sekarang. Aku mulai kedinginan di sini." Ajaknya.

__ADS_1


Keduanya pun berjalan beriringan. Pintu rumah sudah dikunci, dan kini saatnya masuk ke dalam kamar tidur.


Cantika duduk di tepi ranjang diikuti suaminya. Tangan mereka saling berkaitan. Mereka beradu pandang sambil melempar senyuman.


"Aku pengen nanya, kamu beneran belum pernah sekalipun pacaran atau bersentuhan dengan perempuan lain ?"


"Belum pernah. Kamu satu-satunya perempuan yang ada di hidupku."


"Kamu cinta gak sama aku ?"


"Haruskah ku jawab ? Tidakkah kamu bisa merasakannya ?"


"Ye....mana ku tahu. Kamu kan belum pernah bilang i love you atau aku cinta kamu."


"Memang harus ku katakan ?"


"Harus dong, itu semacam pengakuan dan penegasan tentang perasaan mas padaku. Jadi aku lebih yakin jika mas mengatakan itu."


Cantika mencebik, "Ishhhh, sama aja bohong."


"Istriku, aku mencintaimu. Entah sejak kapan perasaan itu muncul ? Yang jelas, setiap aku bersamamu hatiku selalu berdebar-debar. Aku mau kita menjalani pernikahan ini sampai tutup usia. Sampai kita punya anak dan cucu. Sukur-sukur sampai cucu kita punya keturunan."


Cantika menatapnya lekat. Menebarkan senyum manis pada pria itu. Tangannya melingkar di pinggang Anas. Kepalanya bersandar di dada suaminya. "Mas, aku siap melayanimu mulai malam ini." Suaranya agak bergetar karena gugup.


Anas pun tak kalah tegang. Dia bahkan tak mampu berkata-kata. Jantungnya meledak-ledak, pasti Cantika dapat mendengar suara debarannya. Dengan susah payah dia menelan salivanya sendiri.


"Cantika, jangan lupa berdoa dulu !"


Perempuan itu menatapnya heran, "Berdoa untuk apa ?"


"Doa sebelum melakukan hubungan suami-istri." Jawab pria itu dengan malu.

__ADS_1


"Jangan ngaco kamu. Masa mau begituan harus doa dulu."


"Aku serius, itu agar kita tidak diganggu atau dicampuri setan saat melakukannya."


"Serem amat.....Aku gak tahu gimana doanya."


Anas pun membimbing istrinya merapal doa tersebut.


Setelah itu mereka kembali fokus pada kegiatan yang akan dilakukan. Anas dan Cantika sama-sama gugup dan berdebar-debar. Ini pertama kalinya mereka akan melakukan hal itu. Meskipun Cantika sering gonta-ganti pacar dan gaya hidupnya tidak baik, dia sama sekali belum pernah membiarkan kesuciannya diambil oleh pria yang bukan haknya.


Anas perlahan meng*c*p kening istrinya. Beralih lagi ke area lain di seluruh wajah cantik itu. Meskipun sentuhan dan gerakan pria itu masih kaku karena belum berpengalaman, tapi keduanya sama-sama menikmati romansa indah malam itu. Malam yang dingin berubah menjadi hangat dan penuh makna.


Usai menuntaskan h*sr*t dan cinta, mereka kembali saling menatap sambil tersenyum. Anas mengusap rambut hitam istrinya lalu membenamkan wajah cantik itu di dadanya yang sedikit berbulu. Cantika memeluknya semakin erat. Hati dan jiwa mereka mulai saat ini telah benar-benar menyatu. Pernikahan yang mulanya karena perjodohan itu pun, berubah jadi pernikahan normal layaknya pasangan lain.


"Cantika, aku mencintaimu. Terima kasih banyak sudah mau mencintai dan menerimaku."


"Jangan makasih terus, tapi kalo mau bilang cinta sihh boleh banget. Yang sering malah harusnya."


Anas kembali meng*c*p puncak kepala istrinya. Sungguh saat ini dia merasa jika kebahagiaannya begitu sempurna. Cantika sudah benar-benar menerimanya sebagai seorang suami. Tidak ada hal yang lebih baik daripada itu.


Cantika mengusap-usap dada berbulu itu, membuat yang empunya jadi merinding.


"Suamiku sexy banget sihhh...gemes dehhh..." menggosok area yang dipegangnya dengan cepat.


"Cantika, diamlah ! Kamu membuatku tidak waras. Apa kamu sengaja memancing ?"


"Mancing ikan ?" malah bercanda.


"Bukan. Jika kamu seperti ini terus maka aku bisa terpancing untuk melakukan itu lagi."


Cantika segera menghentikan gerakan tangan nakalnya. Gawat jika suaminya benar-benar minta jatah lagi. Bukan apa-apa, area miliknya butuh istirahat. Saat ini saja Cantika masih menahan rasa sakit bekas di-unboxing suaminya. Mungkin besok saja lagi ya, mas Anas....!

__ADS_1


__ADS_2