
"Cantika, apa saja yang kamu lakukan hari ini di rumah Papi? Dan...siapa saja teman-teman yang bersamamu di Kafe?" tanya Anas sambil berbaring berhadapan dengan istrinya di tempat tidur.
"Sebenarnya aku cuma sebentar sihh, waktu di rumah Papi. Ngobrol sama adik tiriku, habis itu tadinya mau pulang cuma gak sengaja ketemu Rubi. Dia ngajakin aku nongkrong, terus aku ijin ke kamu. Terus aku ke Kafe ketemu sama temen cewek yang lain. Selain Rubi ada Tina, Rosa, Gladis sama Ariel." Berbicara tanpa jeda.
"Ariel? Laki-laki?" melotot.
"Cewek Mas, cuma namanya Ariel. Gak ada cowok di gengKu. Kenapa emang, cemburu ya? Kamu shock kayak gitu." Tersenyum nakal.
"Aku cemburu dan takut. Lain kali kalo keluar rumah, harus punya waktu. Jangan keasikan sampai lupa pulang, aku khawatir."
"Maaf, Mas." Dia pun menjelaskan secara rinci mengenai alasan kenapa sampai telat pulang. "Gitu ceritanya....Mas."
"Semoga saja ayah temanmu itu cepat sembuh!"
"Aamiin.....Mas, cape ya udah jauh-jauh jemput aku? Dipijitin mau?"
"Gak usah, kamu tidur saja. Ini sudah mau tengah malam."
"Tapi aku maksa lho.... Cepet tengkurap!"
Anas pun menuruti perkataan istrinya itu. Dia begitu menikmati gerakan tangan yang ada di sekitar punggung dan bahunya, makin enjoy karena istrinya duduk di atas pingg*ngnya.
"Gimana pijitanku, mantap gak?"
"Mantap, aku sampai ngantuk gini...aaa..." Pria itu menutup mulutnya yang menguap dengan sebelah tangan.
"Pastilah, aku ngelakuinnya pake cinta." Kali ini tangannya beralih ke pelipis suaminya.
Cantika terus mengoceh tapi kali ini suaminya tidak merespon. Dia menghentikan gerakan tangannya. Membaringkan tubuhnya di sebelah Anas.
"Kamu udah tidur, pantesan diem aja pas aku nyerocos. Good night, my husband !" Sebuah kec*p*n hangat menempel di bibir suaminya.
Anas mengerjap lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Ehh, kirain tidur beneran. Mas ternyata cuma pura-pura."
Pria itu tersenyum manis sambil menatap istrinya dengan lekat. "Aku baru saja terlelap, tapi kamu sudah mengusik. Sekarang tanggung jawab, karena kamu sudah membangunkan aku!"
"Maksud...emmm..." Bibirnya yang masih ingin mengeluarkan suara, kini tengah diblokir bibir suaminya. Maksudnya ini, ternyata tujuannya emang pengen begituan. It's Ok, gak masalah.
Gerakan lamban dan lembut itu lama-lama menjadi lebih brutal. Anas semakin memperdalam c**mannya. Dia makin pintar mengeksplorasi bagian manis itu. Menggelitik dan membuat istrinya merinding. Sesekali mengg*git area itu saking gemas.
Mata yang sama-sama berkabut itu kini tengah saling beradu. Nafas mereka tidak beraturan. Dada pun naik turun seiring debaran hebat jantung mereka. Pria itu kembali menyusuri area kening, pipi dan kelopak mata. Berlama-lama lagi di bagian bawah hidung.
Kini gerakan Anas lebih lihai dan mendominasi. Cantika dibuat kewalahan dan hanya bisa pasrah menerima semua sent*han hangat itu. Baguslah, ternyata pria itu telah belajar banyak dalam waktu yang cepat.
Si tangan milik Anas masih terus bergerilya ke semua bagian sensitif yang lain. Cantika pun dengan refleks, mengusap lalu menekan kepala pria itu agar semakin dalam pada bagian d*d*nya. Sumpah, ini adalah perang paling hebat yang pernah gue rasain! Mas Anas....
Keduanya makin tenggelam dalam keindahan. Tubuh dan jiwa mereka seolah terbang tinggi menuju surga. Di sanalah, di tempat memabukkan itulah mereka selalu ingin mampir. Terus-menerus ingin mencapai ke puncak itu setiap saat.
***
Waktu terus berputar.
Malam ini adalah pesta pertunangan Riri dan Peter. Keduanya baru saja saling bertukar cincin sebagai pertanda jika hubungan mereka kini lebih serius untuk mencapai gerbang pernikahan. Seluruh orang yang hadir di sana bertepuk tangan sambil tersenyum. Ada juga beberapa yang patah hati karena incaran mereka sudah terikat dengan orang lain.
Diantara orang yang tidak terlalu menyukai acara ini yaitu Cantika. Bukan apa-apa, dia masih merasa tidak tega jika membiarkan adik tirinya berhubungan dengan Si Playboy. Riri, Lo udah salah pilih calon suami. Semoga aja Lo cepet sadar siapa Peter sebenarnya, sebelum kalian nikah.
Anas menoleh pada istrinya yang terlihat agak murung. Dia menggenggam erat tangan halus itu untuk memberi sedikit ketenangan. "Kenapa diam saja dari tadi?" Cantika hanya tersenyum sambil menggeleng. Tidak penting jika membahas itu pada suaminya. Lagipula jika dia memberi tahu, mungkin saja suaminya itu akan salah paham.
Tiba-tiba Gladis menghampiri Cantika dan langsung memeluknya. Ritual cipika-cipiki tentu saja tidak tertinggal. Anas sampai melepas pegangan tangannya saking kaget.
__ADS_1
"Ika, Lo cantik banget malam ini. Bahkan Riri aja kalah. Harusnya Lo yang ada di sana sama Peter. Secara kalian itu serasi..." perkataannya terpotong karena Cantika menarik tangannya sekaligus membekap mulut lemes itu, agar menjauh dari Anas.
"Bisa diem gak sih? Lo kan liat kalo gue lagi sama Mas Anas. Bicara Lo gak disaring dulu. Gimana kalo suami gue tersinggung atau salah paham?"
Gladis menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak, "Ups, sorry gue gak maksud gitu. Gue keceplosan....Sebenernya gue lebih suka liat Peter sama Lo. Kalian itu serasi. Gue gak suka Riri yang gantiin posisi Lo." Gadis itu memang yang paling fanatik dan nge-fans berat dengan pasangan Cantika-Peter. Alasannya adalah karena dia yang sudah menjodohkan mereka berdua saat pacaran.
"Dis, gue udah gak cinta sama Peter. Sekarang cuma Mas Anas yang ada di hati gue sampai kapanpun. Lo harus ngerti. Dan lain kali jangan keceplosan lagi kayak tadi!"
"Sorry...!"
"Gue ke situ lagi, kasihan Mas Anas sendirian."
Cantika menghampiri suaminya yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan, dengan wajah bingung.
"Apa dia temanmu? Maksud perkataannya tadi apa? Kenapa menyebut nama Riri dan tunangannya?" Anas langsung memberondongi istrinya dengan berbagai macam pertanyaan.
Cantika menggigit bibir bawahnya karena gugup. Apa yang harus dia katakan pada pria itu? Jika jujur, mungkin Anas akan merasa terusik atau bahkan murka. Entah padanya atau pada Gladis.
"Itu...Gladis, temenku. Dia emang suka ngaco kalo ngomong." Dia menundukkan kepalanya. Tak berani menatap mata yang kini tengah mengintainya. Karena wajah suaminya masih penuh keraguan, akhirnya dia berusaha untuk mengalihkan pikiran pria itu. Cantika mengaitkan tangannya di lengan Anas.
"Mas, mau coba dansa?"
"Aku tidak pernah melakukan itu, tidak bisa." Berbisik di telinga Cantika.
"Aku juga gak bisa kalo dansa yang muter-muter atau terlalu lincah. Kita pake gaya biasa aja tapi tetep romantis." Dia tersenyum manis.
Ika mengalungkan tangannya di leher Anas. "Pegang pinggangku, Mas."
Pria itu menurut saja. Mereka bertatapan lekat sambil melangkah pelan ke kiri dan ke kanan, mengikuti alunan musik yang terdengar begitu romantis.
Aneh, meski ini bukan pertama kalinya tapi pasangan itu terlihat agak malu-malu saat saling menyentuh. Berdebar-debar dan sedikit gugup. Ika bahkan dibuat salah tingkah. Dia menginjak kaki Anas dengan sepatu hak tingginya. Meski kaki pria itu dibungkus sepatu, tetap saja terasa sakit.
"Ouwwww...." Anas meringis dan menghentikan gerakan kakinya. Matanya tertuju pada bagian yang sakit itu.
"Tidak apa-apa, aku tahu jika kamu tidak mungkin sengaja melakukan itu."
"Udahan aja deh dansanya, kita makan yuk!"
Sepasang mata memonitor kedua insan yang baru saja pergi. Tangannya terkepal erat berbarengan dengan dadanya yang terasa begitu panas. Sia-sia aja gue nekad tunangan sama Riri, kayaknya Cantika sama sekali gak terpengaruh. Dia malah asik sama suami miskinnya. Gak, gue yakin kalo dia cuma pura-pura bahagia sama cowok itu. Dia sebenarnya marah karena gue lebih milih adik tiri yang dia benci sebagai calon pendamping.
"Sayang, kenapa bengong?" Perempuan di sampingnya menepuk-nepuk bahunya dengan pelan.
"Nggak, aku ke toilet sebentar." Pria itu melepas pelukannya dan mengakhiri dansa mereka. Dia pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan tunangannya yang kini tengah bingung.
Kak Peter kenapa? Apa dia lagi gak enak badan?
***
Cantika dan Anas duduk bersebelahan di sebuah kursi khusus tamu undangan. Mereka makan dengan lahap sambil saling menyuapi. Lagi-lagi mata elang itu memperhatikan gerak-gerik mereka. Tangannya kembali terkepal erat dan ingin segera menempelkannya pada wajah pria yang tengah bermesraan dengan Cantika.
Rahang pria itu mengeras dan matanya memerah memendam amarah. Dia tidak rela jika wanita miliknya, disentuh pria lain. Cantika itu milik gue. Cuma gue yang pantas ada di dekatnya!
Pria itu nekad mendekati meja Cantika ketika suaminya pergi ke toilet. Seenaknya duduk di tempat bekas Anas tadi.
"Sayang..." Menatap lekat.
Cantika refleks berdiri. Dia memelototi pria itu. "Peter, ngapain Lo di sini? Mending temenin Riri, tunangan Lo itu pasti gak suka kalo liat kita deket-deket!"
Peter tergelak santai, "Aku gak peduli, yang penting aku bisa menatap wajahmu yang cantik ini."
"Gue udah punya suami. Lo jangan macem-macem!"
__ADS_1
"Cowok miskin itu? Aku yakin jika kamu tidak mencintainya. Dia itu gak ada apa-apanya dibandingin aku. Sayang, tinggalin suami gak guna kayak dia! Aku akan putusin Riri agar kita bisa kembali sama-sama."
Sumpah, gue tambah jijik sama dia! Dasar playboy gak waras!
"Kepedean Lo, gue udah move on. Suami gue itu lebih segalanya, dia paling terbaik. Kami saling mencintai."
"Stop, Cantika. Jangan pernah kamu memujinya! Aku gak suka. Kamu itu cuma milikku." Peter mencengkram erat tangan wanita itu. Dia sama sekali tak peduli jika Cantika kini tengah berusaha melepaskan diri sambil mengumpat kesal.
"Lepasin gue, br*ngs*k. Dasar cowok gak tahu malu!"
"Ada apa ini?" Anas muncul di tengah-tengah mereka. Matanya meruncing tajam menatap pria yang lancang memegang istrinya. Dia segera menghempas tangan nakal itu dengan paksa. "Jangan kurang ajar, bukankah kamu baru saja bertunangan?!"
Peter membuang wajahnya yang merah padam. Tangannya lagi-lagi terkepal erat.
Anas mengusap lengan istrinya dengan lembut. "Cantika, kamu pasti kesakitan. Apa saja yang sudah dia lakukan padamu?"
Wanita itu gelagapan bicara. Dia terlalu gugup karena takut suaminya murka dan salah paham. "Nggak...Mas. Di...dia tadi cuma...bercanda doang." Cantika terpaksa berbohong untuk menghindari keributan yang mungkin saja akan terjadi.
Anas mengernyit, "Bercanda?" Dia menatap istrinya lalu pada pria yang masih berdiri di dekatnya itu.
"Mas, kita pulang sekarang yuk! Aku rasanya cape banget..." Cantika mengaitkan tangan di lengan suaminya. Dia harus segera lari dari situasi ini.
Anas menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun pergi meninggalkan pria yang tengah murka itu.
Peter meninju meja yang ada di hadapannya berkali-kali. Dadanya yang panas kini naik turun. Gue salah! Harusnya gue gagalin acara pernikahan Cantika waktu itu.
Sepertinya Peter menyesal karena dia sudah terlalu percaya diri. Dia pikir Cantika tidak akan pernah tertarik pada pria miskin dan kampungan itu, meskipun mereka sudah menikah. Ika pasti akan minta kembali padanya apalagi setelah tahu jika dia sudah bertunangan dengan Riri. Tapi ternyata prediksinya salah besar. Wanita itu tetap saja menolaknya.
***
Cantika dan Anas berbaring di tempat tidur dengan saling berhadapan. Pria itu menatap lekat pada istrinya yang juga tengah menatapnya. Tangannya mengusap lembut kepala si cantik.
"Cantika, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi di pesta pertunangan adikmu tadi?!" tanyanya dengan suara lembut.
Wanita itu menunduk. Kali ini dia lebih gugup daripada tadi. Apa yang harus dia katakan?
"Jawab dengan jujur! Aku tahu jika pria itu sudah macam-macam padamu. Hanya saja aku tidak memberinya pelajaran karena tidak mau mengacau dalam acara itu."
"Tapi jangan marah kalo aku cerita semuanya!" jawab Cantika dengan mencicit, kepalanya masih menunduk.
"Aku sangat menghargai kejujuran. Katakan saja, jangan ada yang disembunyikan!"
Cantika mendongak dan menatap suaminya sekejap. Dia menunduk lagi saat mulai bersuara. "Peter itu adalah....mantan pacarku. Sebelum nikah sama kamu, aku pacaran sama dia. Tapi karena dia itu playboy, aku putusin aja."
Deg! Ternyata kenyataan itu lebih menyakitkan dari yang dia duga. Dia pikir pria itu hanya menyukai Cantika, ternyata hubungan mereka jauh lebih dekat.
"Apa karena itu kamu bersedia menikah denganku?"
"Bukan. Aku nikah sama kamu karena ingin keluar dari rumah Papi. Aku gak mau lihat wajah ibu dan adik tiriku."
"Lalu apa yang terjadi tadi? Aku lihat pria itu mencengkram erat tanganmu. Apa dia mencoba menggodamu lagi agar kembali padanya?"
"Kurang lebih seperti itu. Tapi aku sama sekali gak tertarik sama dia. Aku gak pernah mau balikan sama Peter meskipun aku gak nikah sama kamu." Kini kedua bola mata itu menerobos masuk pada mata suaminya.
"Tapi dia jauh lebih tampan, lebih kaya dan berasal dari keluarga terpandang. Aku sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding pria itu. Kamu yakin sudah tidak punya lagi perasaan padanya?" Tatapannya begitu sendu. Kedua bola mata itu terlihat berair.
"Mas, sekarang cuma kamu yang ada di hatiku. Aku gak peduli sama Si Playboy atau cowok lain yang ada di planet ini. Aku hanya cinta sama kamu, suamiku. Kamu itu adalah pria terbaik di dunia."
Cantika menatapnya lebih lekat. Tangannya meraup wajah pria itu. Mengusap-usap kedua pipi berbulu itu dengan perlahan.
"Mas, aku sangat mencintaimu." Kini dia memeluk erat suaminya.
__ADS_1
Anas pun membalas pelukan itu. "Aku pun begitu mencintai kamu, istriku."
Perasaan keduanya makin besar. Bertambah cinta dan tak mau kehilangan. Dan ikatan pernikahan itu pun semakin kuat.