
Riri sudah sekuat tenaga untuk melupakan Fabian. Namun perasaan itu masih tak mau pergi. Hatinya kini malah berkhianat. Inginnya menghapus nama itu tapi selalu saja gagal. Wajah pria kekar terus menari-nari di pelupuk matanya ketika hendak tidur.
Baru saja merebahkan diri, ponsel di atas nakas berbunyi. Dengan malas tangannya merayap mengambil benda pipih berwarna putih itu. Sebuah panggilan dari pria yang sedang dia pikirkan, langsung di-reject. Tapi terus saja nomer itu mengubungi. Takut ada masalah yang penting, dia memutuskan untuk menjawabnya.
"Halo." Nada bicaranya begitu hambar.
"Halo, Nona. Maaf mengganggu malam-malam begini. Apa Nona belum tidur?"
Kalo bicara ya pasti belum tidur. Kenapa dirinya malah berbasa-basi?
"Ada apa? Langsung saja bicara pada intinya!" Sejak tahu status Fabian, Riri memang selalu bersikap jutek. Itu dia lakukan untuk membuat jarak mereka makin tebal.
"Maaf, saya dengar tadi siang Nona tiba-tiba diserang oleh beberapa orang gadis di kantor. Apa Anda baik-baik saja? Maafkan saya karena tidak ada di sana saat Anda butuh bantuan."
"Iya, tapi nggak apa-apa kok. Mereka cuma jambak rambut doang. Lagian keburu diamankan sekuriti." Jawabnya jutek.
"Tapi Nona baik-baik saja kan?! Apalagi yang mereka lakukan? Biar saya yang akan kasih pelajaran pada gadis-gadis itu agar bersikap lebih sopan." Terdengar sekali jika pria itu begitu cemas.
Riri malah tidak suka atas perhatian Fabian. Mungkin lain lagi jika seandainya si pria bertatto masih single.
"Gak usah berlebihan!"
"Tapi saya benar-benar takut jika mereka akan mengganggu Anda lagi. Saya takut Anda kenapa-napa."
"Stop, Mas Bian! Ini bukan urusanmu. Gak usah sok cemas kayak gitu! Hubungan kita tidak sedekat itu sampai Mas harus repot-repot urusin aku."
Tutt..... tutt..... Ponsel disimpan kembali di atas nakas. Riri kembali berbaring menatap langit-langit kamar. Marah dan kesal, tentu saja. Pria itu selalu memberinya harapan kosong. Bagaimanapun juga, seorang wanita akan terbuai jika mendapat perhatian khusus dari seorang pria. Mending kalau laki-laki lajang, nah ini si Fabian kan sudah punya istri dan anak. Membuat Riri makin frustasi saja.
Esok paginya di parkiran kantor.
Riri baru saja keluar dari mobilnya. Sudah setahun ini dia memilih untuk menyetir sendiri. Alasannya tiada lain adalah untuk menghindari Fabian. Baru saja menutup pintu, tiba-tiba tiga gadis yang merupakan seniornya, menghampiri.
"Lo masih aja berani masuk kerja, padahal kemarin kami udah kasih tahu supaya Lo resign aja dari kantor ini."
"Emang niat banget pengen deket sama si Bos kali."
"Dasar cewek norak. Lo harusnya gak boleh maen salib aja dong. Gue udah lama ngincar Pak Daniel."
Itulah perkataan kasar dari mulut gadis-gadis itu.
"Denger ya, Kakak-kakak senior. Aku ke sini cuma mau kerja, bukan mau cari jodoh." Jelas Riri.
"Alasan aja Lo. Gak mungkin Lo gak tertarik sama Bos." Salah satu dari mereka hendak mendaratkan tamparan pada wajah cantik Riri. Namun tiba-tiba seseorang muncul dan menangkap tangan lancang itu.
Mas Bian? Apa selama ini dia emang selalu ngikutin aku? Pantesan aja dia selalu tahu apa yang terjadi.
"Nona, tolong jaga mulut dan sikap Anda!" Pria itu makin mengeratkan cengkraman tangannya, membuat si gadis songong meringis kesakitan.
"Siapa Lo tiba-tiba muncul kayak setan? Lepasin teman kami!"
"Minta maaf dulu pada Riri!" Titah Fabian dengan wajah menyeramkan.
"Jangan ikut campur, ini urusan kami!" Ucap salah seorang wanita.
"Jelas ini urusan saya. Riri itu adalah calon istri saya. Jika kalian berani menyentuhnya, maka kalian akan menyesal!" Matanya merah menyala.
"Ok, Riri gue minta maaf. Suruh pacar Lo buat lepasin gue!" Wanita itu gemetaran karena Fabian malah mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Minta maaf yang benar!" Teriak Fabian.
Riri bingung harus berbuat apa. Tapi sepertinya dia harus mengikuti permainan Fabian agar bisa lepas dari bully-an para seniornya.
"Riri, maaafin kita. Mulai saat ini kita janji gak akan ganggu Lo lagi."
"Maafin gue, janji deh bakalan ramah mulai sekarang!"
"Maaf, Ri. Ternyata kita emang salah paham. Kita gak akan lagi ganggu Lo."
"Jika pacarku tidak mau memaafkan, maka kalian tetap akan kuhukum. Gak akan ada yang bisa nolongin kalian." Fabian menatap ketiganya bergantian, dengan garang.
Wanita-wanita itu memelas.
"Ok, aku maafin kalian semua. Mulai sekarang sportif-lah dalam segala hal." Ucap Riri yang kini merasa di atas angin.
Fabian akhirnya melepaskan si gadis songong. Tanpa tunggu lama, ketiganya pun masuk ke gedung tinggi itu.
"Makasih, Mas. Tapi kenapa malah bilang aku ini adalah calon istrimu, kenapa gak bilang aja kalo aku ini adikmu?" Riri bertanya sembari merapikan tampilannya.
"Itu karena saya memang menginginkannya." Fabian menatapnya lekat.
Riri balas menatap dengan wajah bingung. "Maksud Mas?"
"Bagaimana jika saya benar-benar ingin menjadikan Nona sebagai istri saya?"
"Ngomong apa kamu ini? Kenapa malah ngaco?"
"Saya serius, sebenarnya saya dari awal juga sudah menyukai Anda. Saya mencintai Nona."
Andai saja pria itu masih single, maka saat ini Riri pasti sudah memeluknya erat. Inilah yang dia harapkan.
"Riri, aku benar-benar mencintaimu." Fabian hendak menggenggam tangan gadis itu tapi segera ditepis.
"Please, Mas. Mulai saat ini jangan pernah temui aku lagi. Aku benci sama kamu. Kamu itu cuma suka kasih aku harapan kosong. Kamu egois dan cuma mau manfaatin aku." Sudut matanya berair.
"Bukan seperti itu. Awalnya aku emang mau menghindar tapi lama-lama perasaan ini malah menggunung. Aku tidak sanggup lagi menahannya. Riri, tolong dengarkan aku!" Bicaranya jadi lebih santai meskipun suasana makin tegang.
"Kita bukan siapa-siapa, Mas. Aku harus kerja. Kita gak boleh ketemu lagi dengan alasan apapun!"
"Tidak bisa, kamu harus dengarkan aku!"
Tanpa terduga, pria itu mengangkat tubuh Riri ke dalam mobil. Dia segera naik ke kursi kemudi. Tak ada waktu bagi gadis itu untuk kabur karena terlalu shock. Mobil pun melaju kencang meninggalkan parkiran kantor.
Dengan gemetaran, Riri memakai sabuk pengaman. Takut tubuhnya membentur sesuatu. Kenapa pria di sebelahnya seperti sedang ketumpangan setan?
"Mas Bian, kamu mau bawa aku kemana?"
"Aku mau memculikmu, Nona."
"Apa? Jangan gila kamu!" Panik.
"Aku emang gila gara-gara kamu, Riri."
"Dengar, aku emang masih cinta sama kamu tapi aku gak mau kita bersama apalagi jika kamu senekad ini."
"Aku terpaksa, maaf."
__ADS_1
"Aku bilang bawa aku ke kantor lagi! Aku mending kerja daripada harus meladeni cowok gila kayak kamu, Mas. Ingatlah anak dan istrimu!" Teriak-teriak frustasi.
Cittt.....! Mobil mendadak menepi. Fabian terlihat mengatur napasnya. Kini dia menatap gadis yang gemetaran itu dengan dalam.
"Aku tidak punya anak dan istri."
Riri mendongak, ekspresi wajahnya bingung. "Tapi waktu itu Mas bilang?"
"Yang ada di foto itu memang istriku yang sedang hamil. Tapi dia telah pergi membawa anak kami ke alam lain, jauh sebelum aku ketemu kamu."
"Jangan bohong, lalu siapa yang menelpon waktu itu?"
"Adikku. Jika tidak percaya, mari kita ke rumahku!"
"Terus kenapa Mas tidak jujur selama ini?"
"Aku merasa rendah, aku tidak pantas bersama gadis baik sepertimu. Kamu itu anak keluarga terpandang, sedangkan aku bukan siapa-siapa. Tapi lama-lama rasa cinta ini tidak bisa lagi ditahan. Apalagi saat aku tahu bahwa kamu dekat dengan atasanmu di kantor. Aku takut hatimu berpaling padanya."
"Mas, apa kamu sungguh-sungguh? Ini bukan akal-akalan Mas agar bisa punya istri yang banyak, kan?!"
"Apa mataku terlihat menyimpan kebohongan? Tanya dan rasakan apa yang ada di dalam hatimu!"
Riri menatapnya lekat lalu menggenggam tangan kekarnya. "Aku percaya, Mas. Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
"Jika kamu bersedia, aku akan memberanikan diri untuk bicara pada kedua orangtuamu. Aku ingin segera menikahimu. Apa ini tidak terlalu terburu-buru?"
"Iya, aku mau. Makasih, Mas." Riri memeluk pria itu dengan erat. Senyum pun kembali merekah di wajah cantiknya.
"Apa kamu yakin ingin hidup bersama seorang duda kere dan jelek sepertiku, mantan preman lagi?"
"Buatku, Mas itu adalah yang terbaik. Tapi, ada satu hal yang mau aku katakan."
Pelukan itu pun terlepas. Kedua pasang mata saling bertabrakan.
"Mas, aku sebenarnya sudah tidak virgin lagi. Aku pernah melakukan hal itu dengan mantanku." Ucap Riri sambil menunduk.
"Maksudmu, Peter?"
"Iya, kenapa kamu tahu?"
"Mantanmu kan cuma dia. Tahu begitu, aku dulu akan menghajarnya sampai mati." Memalingkan muka juteknya.
"Apa Mas cemburu?" menoleh.
"Tentu saja."
"Tapi sebenarnya bukan cuma Peter, ada satu lagi mantan pacarku yang udah...." Tidak enak hati melanjutkan perkataannya.
"Apa?" Meski nada bicaranya pelan, namun terdengar shock.
"Apa Mas mau menerimaku yang sudah tidak suci lagi? Jika tidak pun, aku akan menerima. Aku tahu bahwa gadis kotor sepertiku mungkin tidak pantas untuk dicintai." Kembali menunduk, pesimis.
Fabian menggenggam erat tangan halus gadis itu. Menatap wajahnya dalam-dalam.
"Riri, aku mencintaimu. Aku akan menerima semua yang ada padamu, termasuk masa lalumu sehitam apapun itu." Memang tidak adil rasanya jika Fabian mempermasalahkan hal itu, mengingat Riri pun menerimanya dengan ikhlas.
"Makasih, Mas. Aku mencintaimu." Kembali memeluk erat.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Nona."
Dua hati telah bersatu. Kini tinggal mendapatkan restu dari keluarga Riri. Fabian yakin jika dia akan mendapatkan hal tersebut meski hanya bermodal cinta yang tulus.