
Cantika tengah berbaring di atas ranjang Rumah Sakit. Matanya meneteskan bulir bening tatkala menatap layar monitor yang menampilkan sebuah video. Video tersebut menunjukkan gambar janin yang ada dalam perutnya, seperti sedang tersenyum. Bu Sofi yang berdiri di dekatnya, ikut terharu.
"Syukurlah, anak Anda sehat. Tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan." Ucap Dokter.
"Dok, anaknya laki-laki ya?!" tanya Bu Sofi.
"Benar." Menjawab dengan tersenyum.
"Mah, kalo ada bewokan, pasti dia mirip Mas Anas." Cantika tersenyum kelu.
"Iya, memang mirip ayahnya." Bu Sofi mengelus kepala anak tirinya. Dia tahu benar apa yang kini tengah dirasakan Cantika. Kesedihan itu pasti muncul di saat momen bahagia seperti ini. Andai Anas masih hidup, pasti Cantika akan jauh lebih bahagia.
"Tapi tekanan darah Anda agak tinggi. Apakah ada sesuatu yang sedang mengganggu? Saya tidak mau ikut campur dengan masalah pribadi Anda. Tapi biasanya itulah salah satu penyebabnya. Sebisa mungkin, hilangkan segala pikiran negatif yang akan membuat Anda stress." Jelas Dokter.
"Baik, Dok." Cantika mengangguk pelan.
Wanita dengan perut buncit itu pun bangkit, dibantu oleh sang mama tiri. Keduanya meninggalkan ruangan tersebut.
Di dalam mobil.
Cantika termenung, matanya tertuju ke arah luar tapi dengan tatapan kosong. Saat ini dia benar-benar merindukan Anas. Di momen membahagiakan seperti ini, harusnya ada sosok suami yang hadir di sisinya. Tapi Cantika bisa apa? Dia bahkan tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan seperti ini.
Tangannya mengelus-elus perut buncitnya. Sayang, anak Mami... Jadilah anak yang baik seperti Papimu. Dia tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa meskipun ditinggal pergi oleh orangtuanya. Mami mau kamu kelak jadi laki-laki yang bertanggung jawab, sama seperti Papimu.
Seberapa kuat pun mencoba tegar, tapi tetap saja ada saatnya dia rapuh. Mas, aku kangen kamu....
Bu Sofi menggenggam erat tangan Cantika. "Kamu baik-baik saja?"
Cantika mengusap air matanya lalu menoleh. "Ma, kita ke makam Mas Anas dulu. Aku kangen sama dia."
Bu Sofi mengangguk. Wanita paruh baya itu memerintahkan sopir agar melajukan mobil ke tempat tersebut.
**
Cantika masuk ke kamarnya sepulang dari makam. Ia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam foto hasil USG 4D tadi. Bibirnya tersungging tipis saat menatap gambar janin itu.
"Udah 7 bulan kamu ada di dalam perut Mami. Kamulah yang selama ini bikin Mami semangat untuk hidup. Mungkin kalo kamu gak ada, Mami akan lebih kesepian."
Foto tersebut disimpan di dalam laci. Cantika berbaring dengan posisi miring di atas ranjang. Tangannya mengelus perut dengan perlahan sambil terus mengoceh. Calon anaknya itu memang selalu jadi pendengar setianya.
Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. Sang ayah memanggil-manggil namanya.
"Ika, Papi boleh masuk?"
Cantika perlahan bangkit sambil berjalan ke arah pintu. "Pih, masuk!" Kembali melangkah tapi kali ini menuju sofa. Wanita itu duduk bersebelahan dengan ayahnya.
"Nak, Mama bilang cucu Papi adalah laki-laki?" bertanya dengan mata berbinar.
"Iya, Pih. Alhamdulillah, calon anakku laki-laki. Di juga tumbuh dengan sehat, gak ada masalah."
"Alhamdulillah, Papi sangat bahagia. Mana foto hasil USG-nya? Papi mau lihat."
"Di dalam laci. Biar aku ambil." Cantika hendak bangkit jika tidak dicegah ayahnya.
"Kamu duduk saja, biar Papi yang bawa!"
Pak Permana melangkah menuju nakas lalu membuka laci. Orang tua itu kembali duduk di tempat semula. Bibirnya tersenyum lebar tapi matanya berkaca-kaca. Perasaannya antara terharu dan juga sedih. Putri satu-satunya hamil tanpa seorang suami yang mendampingi. Dan cucunya nanti akan lahir tanpa seorang ayah. Tapi kesedihan itu ia sembunyikan agar Cantika tidak terluka.
"Papi memang pengen cucu laki-laki. Biar nanti bisa diajak main bola bareng. Ika, bukankah dia seperti Anas? Bentuk mata, hidung dan bibirnya sama persis."
__ADS_1
Cantika mengangguk, "Iya, mirip banget. Semoga aja nanti dia tumbuh jadi laki-laki yang baik seperti ayahnya."
"Cantika, kasihan anakmu jika nanti tumbuh tanpa sosok ayah di sampingnya. Apa kamu tidak punya niat untuk menikah lagi?"
Cantika memalingkan wajah sambil menghembuskan nafasnya berat. Nampaknya dia tidak suka dengan pembahasan itu.
"Papi tahu jika kamu tidak pernah mau menikah lagi, tapi apakah kamu tega melihat anakmu kehilangan sosok ayah?"
"Aku bisa jadi ayah dan ibunya dalam waktu bersamaan."
"Tapi tetap saja berbeda, dia berhak mendapat kasih sayang itu."
Cantika menatap ayahnya dengan tajam, "Papi, aku gak mau nikah lagi. TITIK."
"Ok, tapi sebaiknya kamu pikir-pikir lagi jika suatu saat ada laki-laki baik yang mau menerimamu dan anakmu."
"Stop, gak usah bahas itu lagi! Papi, sorry. Aku mau istirahat." Berpaling lagi.
Pak Permana bangkit dari duduknya. "Baiklah, tolong jangan tersinggung dengan ucapan Papi barusan. Papi hanya ingin melihatmu kembali tersenyum. Selain itu, Papi ingin memberi tahu bahwa anakmu berhak mempunyai ayah meskipun itu ayah sambung."
Pria itu pun pergi setelah menyimpan foto ke dalam laci. Cantika kini menangis sambil memegangi perutnya. "Tidak, Nak. Mami gak akan cari ayah yang lain untukmu."
**
Peter tengah mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya. Sesekali dirinya berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambut. Sudah beberapa bulan ini dia mencoba menghubungi Cantika, tapi selalu gagal. Wanita itu selalu saja menghindar.
"Arggghhh, Anas udah gue amankan tapi tetep aja Cantika belum berhasil gue dapetin. Malah kali ini jadi lebih galak dari sebelumnya. Gue udah terlalu lama menunggu, kira-kira rencana apa yang harus gue lakuin sekarang?"
Pria itu beberapa kali mengusap wajahnya. Otaknya terus berputar-putar mencari cara. "Ckkkk, kurang tepat. Come on, Pet! Cari ide yang lebih bagus!"
Pikirannya kembali berlarian agar menemukan cara untuk meraih tujuannya. "Hemmm, kayaknya boleh juga." Tersenyum menyeringai, sepertinya dia sudah menemukan cara yang licik.
**
Peter kembali amuk-amukkan saat rencananya gagal. Sebenarnya bukan gagal, melainkan cara briliannya belum sempat terrealisasi. Pria itu belum punya kesempatan untuk menjalankan cara liciknya.
"Brengsek, rencana gue molor terus. Udah terlalu lama gue gak lihat wajah Cantika. Apa dia selalu mengurung diri di kamar? Saat ada kesempatan ke rumahnya, gue gak pernah lihat dia ada di sana. Gak bisa, gue harus bertindak lebih cepat!"
Peter keluar dari kamarnya dengan langkah tergesa. Dia masuk ke dalam mobil lalu pergi tanpa didampingi sopir. Tujuannya adalah ke rumah Pak Permana. Dia akan mencari alasan untuk bisa bertemu Cantika. Semoga saja bisa berhasil.
Saat ini si pria sipit telah duduk di sofa ruang tamu di rumah Pak Permana. Pelayan sudah tahu dan memperingatkan jika majikannya tidak mau bertemu dengan Peter. Tapi pria itu tetap bersikukuh menunggu hingga Cantika mau turun menemuinya.
Saat pelayan pergi, pria itu nekad naik ke lantai atas. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar Cantika.
"Hey, apa yang sedang kamu lakukan?" Riri keluar dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Cantika. Kemunculannya benar-benar membuat Peter terlonjak.
"Bukan urusan Lo." Jawabnya ketus.
"Jelas ini juga urusanku karena kamu menyelinap diam-diam ke kamar Kakakku. Ada niat buruk apa yang mau kamu lakukan?"
"Gue cuma mau ketemu Cantika, gue kangen."
"Menjijikan, gak tahu malu. Udah tahu Kak Cantika gak sudi lihat wajahmu itu, masih aja ngotot pengen ketemu. Apa kamu udah gak diminati lagi sama cewek-cewek cantik, sampe harus kejar-kejar wanita yang sedang hamil?"
"Diem, Lo. Gak usah ikut campur dan sok bener!"
Pintu kamar itu terbuka dan menampakkan sosok bingung seorang perempuan. Wajahnya memerah saat melihat wajah laki-laki yang gila itu.
"Ngapain Lo di sini? Gue udah bilang jangan pernah tunjukkin wajah Lo di depan gue!" Cantika seketika itu juga naik darah.
__ADS_1
"Tahu, Kak. Aku udah peringatin dia tapi tetep aja ngotot." Riri menimpali.
Peter mendelik tajam ke arah gadis itu. Sejurus kemudian tatapan berpindah kepada Cantika.
"Ika, aku cuma pengen liat wajahmu sebentar aja. Aku kangen banget sama kamu."
"Pergi sekarang dari rumah ini!" Bentak Cantika sambil mengarahkan telunjuknya ke arah tangga.
"Gak, aku gak akan pergi dari sini."
"Dasar stress!" Cantika berbalik tapi lengannya ditarik pria sipit itu.
"Cantika, aku rasa aku gak salah karena cinta sama kamu. Ok, aku minta maaf lagi jika aku bikin kamu gak nyaman. Tapi please, biarin aku ketemu sama kamu lebih lama lagi."
"Kak, mending pulang aja sono! Kakak udah gangguin Kak Cantika." Riri menatapnya tajam.
Awas, nanti akan ada balasan atas perbuatan kasar Lo ini. Tunggu aja, Ri!
Cantika tiba-tiba meringis kesakitan seraya memegangi perutnya. "Ahhh, sakit. Kenapa sakit begini?"
"Kakak kenapa?" Riri memegang pundak kakaknya.
"Cantika, kamu kenapa?" Peter ikut panik.
"Ri, perutku sakit sekali." Jawabnya masih meringis.
"Ayo kita ke Rumah Sakit!" tawar Peter.
"Gak usah, pergi Lo!" ucap Cantika dengan suara melemah. Tiba-tiba sesuatu meletup dari bagian inti tubuhnya. Cairan asing membanjiri bagian kakinya.
Semua orang panik. Riri memapah Cantika menuju tangga. "Kakak masih kuat jalan?"
"He-em." Menjawab singkat dan mencoba melangkah meski sel*ngkang*nnya terasa berat untuk digerakkan.
Peter menawarkan bantuan tapi selalu ditolak. Saat sampai di puncak tangga, Cantika tak dapat lagi menggerakkan kakinya. Si playboy dengan sigap berniat menggendongnya. Pria itu kini berdiri di hadapan Cantika.
"Cantika, biar kubantu."
Cantika menggeleng keras.
"Maaf, aku akan maksa karena ini demi kebaikanmu dan anakmu." Peter hendak mengangkat tubuh wanita hamil itu.
Cantika berteriak-teriak sambil menendang pria itu saking marahnya. "Minggir, Lo!" Peter sudah membuatnya makin murka dan hilang kontrol. Apalagi itu juga karena pengaruh dari menahan sakit dan mulas pada perutnya.
Peter terjengkang dan bergulingan ke lantai bawah. Cantika dan Riri terbelalak. Mereka sama-sama tidak menyangka bahwa kejadiannya akan seperti ini.
"Kak, bagaimana ini? Gimana kalo dia mati?" Riri terlihat shock.
Cantika tak kalah panik tapi karena perutnya makin mengubrak-abrik, dia pun kembali meringis kesakitan. Saat ini dia hanya fokus pada anak yang ada dalam kandungannya.
"Astaga, ada apa ini?" tanya pelayan yang baru muncul.
"Bi, tolong panggil Satpam!" titah Riri.
Si bibi pelayan pun pergi tanpa bertanya lagi. Tak lama kemudian, wanita itu kembali bersama 2 orang Satpam dan Mang sopir juga tukang kebun.
Seorang petugas keamanan dan sopir membawa Cantika. Peter diangkat oleh Satpam dan tukang kebun. Keduanya dimasukkan ke dalam mobil. Riri ikut bersama mereka.
"Ke Rumah Sakit secepatnya, tapi hati-hati Mang!" perintah Riri dengan panik.
__ADS_1
Gadis itu benar-benar takut. Di sisinya, ada kakaknya yang masih meraung kesakitan. Di depan, ada si pria brengsek yang tengah pingsan. Dia hanya berharap jika tidak ada sesuatu yang buruk yang akan menimpa Cantika dan juga Peter.