
Dua bulan berlalu.
Selama itu pula Anas masih berada di dalam ruangan gelap itu. Dan hari ini, dia dipindahkan ke ruang bawah tanah. Tangan dan kakinya tak lagi dibelenggu karena saat ini dia dikurung di dalam tahanan layaknya seorang penjahat.
Tubuhnya kini kurus kering karena hanya diberi makan dua hari sekali, itu pun dengan porsi kecil. Bajunya sangat lusuh karena terakhir Peter memberinya pakaian ganti pada bulan lalu. Bukan baju yang layak, tapi kain yang sudah robek di beberapa bagian.
"Boleh minta baju ganti yang bersih dan alat sholat?" Anas berbicara pada pria yang duduk di kursi menghadapnya.
"Kita lihat saja nanti." Jawabnya acuh meski sebenarnya agak tersentuh. Sisi lain hatinya merasa terkesan pada sikap Anas yang masih saja memikirkan beribadah di saat kondisinya memprihatinkan.
"Tolong bantuannya, Mas. Saya ingin menghadap-Nya dalam keadaan suci. Tidak perlu baju baru, yang penting layak pakai dan bersih."
"Hemmm...." menggeram.
Anas bersandar di tembok yang mengurungnya. Air mata lolos begitu saja membanjiri wajahnya. Pikirannya terkait akan sosok istri yang sangat ia rindukan. Apalagi saat ini Cantika tengah mengandung anaknya. Rasa khawatir itu semakin bertambah. Dia takut jika si pria gila akan berbuat nekad menyakiti mereka.
"Harusnya aku ada di sisinya saat ini. Dia pasti sangat membutuhkanku. Ya Tuhan, tolong lindungilah mereka. Beri kesempatan agar kami bisa berkumpul lagi."
Diam-diam pria kekar itu memperhatikan Anas. Hatinya ikut terenyuh. Lagi-lagi rasa iba pada tahanan itu muncul.
**
Seorang laki-laki berkemeja biru tua, kini tengah memasuki sebuah villa. Langkahnya terus berayun menaiki anak tangga. Kaki panjangnya menyusuri lantai hingga sampai di sebuah ruangan. Tangannya menyentuh sebuah buku di lemari. Bukan untuk melihat atau membacanya, melainkan hanya untuk dipegang saja.
Pada bekas tempat buku tersebut terdapat beberapa tombol. Pria itu pun memencet beberapa digit yang hanya diketahui olehnya dan beberapa orang terpercaya. Tak perlu menunggu lama, lemari itu pun terbuka layaknya pintu. Dia pun masuk ke dalam sana yang merupakan sebuah ruangan kecil. Terus melangkah menuruni anak tangga yang terhubung pada sebuah ruangan. Dan lemari tadi? Otomatis tertutup dan terkunci sendiri.
"Bos." Ucap pria kekar sambil membungkuk hormat.
Si pria sipit pun duduk di sebuah kursi menghadap ke kamar yang lebih mirip dengan sebuah sel tahanan. Sedangkan si laki-laki di dalam sana tengah meluncurkan tatapan tajam.
"Peter, sampai kapan kamu akan mengurungku di sini?" berjalan lalu memegang jeruji besi.
Si pria sipit hanya menyeringai. Tak lama kemudian, suaranya terdengar lagi. "Mungkin sampai Lo membusuk di tempat ini. Gimana kabar Lo, Nanas? kayaknya Lo makin berantakan. Tapi baguslah, gue seneng lihatnya."
"Kamu itu perlu dirawat Psikiater! Pikiranmu tidak seperti orang sehat dan normal."
"Terserah, gue gak butuh kritik dan saran Lo. Gue ke sini cuma mau minta restu. Gue akan lamar Cantika bentar lagi. Bagus kan, ide gue?!" nyengir menyeramkan tapi menjengkelkan.
"Dasar gila, kamu pikir istriku akan bersedia menikah denganmu?" suaranya meninggi.
"Di mata dunia, dia adalah seorang janda. Gue bebas deketin dia. Masalah kehamilannya, itu gak masalah. Gue bisa aja singkirin bayi itu." Berucap sambil mengelus dagu.
"Jangan berani melakukan itu! Jangan pernah menyentuh istri dan anakku, brengsek!" teriak-teriak.
Peter masih bersikap santai. "Tapi untuk sementara, gue masih butuh anak Lo sebagai jalan gue deketin Cantika. Nanti setelah aku nikahin dia, mungkin bayi tak berdosa yang masih ada di perutnya, akan gue musnahkan. Hahaha...."
"Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu! Tolong jangan sakiti mereka."
Peter masih terbahak-bahak. Sedangkan anak buah yang berdiri di sampingnya, kini menatapnya ngeri. Dia baru tahu jika Bosnya itu benar-benar seorang psikopat.
"Waktu besuk udah habis." Melirik jam di tangannya. "Gue ada janji buat makan malam di rumah Papi Permana. So, gue harus siap-siap agar penampilan gue gak malu-maluin. Calon menantu orang kaya selain sama-sama kaya, juga harus rapi." Menatap sinis dan merendahkan pria yang ada di dalam tahanan.
"Kamu mungkin memang pria dari kalangan berada dan juga tampan. Tapi sayang sekali, kamu tidak layak dihormati. Attitude-mu benar-benar nol besar. Aku yakin Cantika tidak akan pernah mau kembali padamu, meskipun aku benar-benar sudah mati."
"Kurang ajar, Lo sombong sekali. Kita lihat saja nanti, Cantika pasti akan jadi milik gue kayak dulu." Matanya menajam dan merah menyala.
"Kenapa marah? Kamu setuju dengan apa yang aku katakan? Kamu tidak percaya diri?"
"Banyak omong. Apapun yang Lo pikirin, gue gak peduli. Yang jelas gue gak akan pernah mundur. Cantika harus jadi milik gue. Camkan itu!" Bangkit dari tempat duduknya.
"Jangan pernah menyentuh apalagi menyakiti istri dan anakku, camkan itu!" ucap Anas tak kalah garang.
Peter makin kesal. Tangannya terkepal kuat. "Fabian, bawa dia kemari!"
__ADS_1
"Baik, Bos." Pria kekar itu menuruti perintah Peter meskipun agak ragu.
Anas diseret dari sana lalu dihadapkan ke bawah kaki Peter.
"Buat dia berdiri!" titahnya.
Fabian memaksa Anas bangkit lalu memegang kedua tangannya dengan kuat agar tidak dapat berbuat apa-apa. Peter segera menghujaninya dengan pukulan dan tendangan di bagian wajah dan perut.
"Miskin tapi belagu. Rasain gimana marahnya seorang penguasa!"
"Aaa...." pekik Anas yang tak dapat melawan.
"Gue gak akan pernah mau kalah sama siapapun apalagi sama cowok gak guna macam Lo!" Satu lagi bogem mentah diluncurkan tepat di sudut bibir Anas, hingga mengeluarkan darah segar.
"Bos, cukup. Jangan buang tenaga, bukannya Bos harus siap-siap untuk pergi ke rumah calon mertua?" ucap Fabian.
"Sebentar lagi, gue belum puas." Masih menyerang dengan brutal.
"Bos, biar saya saja yang menghajarnya habis-habisan. Bos lebih baik pulang." Bujuk Fabian.
Akhirnya Peter menghentikan aksinya. Pria itu pergi dengan nafas terengah-engah. "Bian, urus dia dengan benar!" perkataan terakhir yang terucap sebelum benar-benar menghilang dari sana.
Fabian memasukkan Anas kembali ke dalam kurungan. Pria itu menatap tajam ke arah si laki-laki bewok.
"Kamu mau memukulku juga? Apa hanya karena dia Bosmu, maka kamu akan menuruti semua perintahnya meskipun itu salah?" ucap Anas dengan suara lemah namun penuh penekanan.
"Untuk saat ini aku ingin berbaik hati padamu. Hanya untuk kali ini saja."
Laki-laki bertubuh kekar itu kembali duduk di kursi tadi, setelah mengunci sangkar manusia terlebih dahulu. Anas menatapnya heran. Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Kenapa tiba-tiba perlakuan penjaganya itu jadi lebih lunak?
**
Malam ini Peter beserta ayahnya tengah duduk berhadapan dengan Cantika dan Pak Permana di ruang makan. Riri dan ibunya sengaja tidak hadir karena enggan bertatap muka dengan si playboy.
Bagi Pak Permana, ini adalah makan malam antar rekan bisnis. Sedangkan bagi Peter, ini adalah makan malam spesial yang mempertemukan dua keluarga. Cantika sendiri tidak tahu-menahu jika laki-laki sipit itu akan datang. Ibu dan saudara tirinya belum memberi tahu akan hal ini. Iya, mungkin mereka lupa.
Pak Permana dan ayah si pria sipit, sibuk berbicara tentang bisnis. Bahkan setelah makan, keduanya pergi ke ruang kerja.
Cantika segera menyudahi makan malam payahnya.
"Ika, tunggu. Aku mau ngomong dulu." Cegah Peter saat wanita itu hendak berdiri.
"Apa?" tanyanya malas.
"Aku mau tunjukkin sesuatu." Mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jasnya, lalu membukanya. Pria itu menyodorkan cincin berlian seraya berucap, "Will you marry me?"
Jelas saja Cantika memasang wajah kesal. Bisa-bisanya pria itu melamarnya. Dia menjawab dengan suara bergetar menahan amarah.
"Are you crazy? Aku punya suami dan sedang hamil. Aku gak mau nikah sama siapapun. Understand?"
"Tapi, aku cinta banget sama kamu. Lagipula sekarang kamu sudah jadi janda. Anas udah gak ada di dunia ini. Apa salahnya kalo aku gantiin posisi dia buat jadi suamimu? Aku ingin melindungi kamu dan juga anakmu. Apa kamu gak percaya sama pe...." Belum selesai bicara tapi sudah dipotong.
"Buat aku, Mas Anas masih hidup. Dia akan selalu ada di hatiku sampai aku mati. Jangan pernah berharap bahwa kamu bisa gantiin dia. Mulai saat ini, jangan pernah tunjukkin wajahmu di depanku!" Cantika bangkit dari duduknya lalu melangkah tergesa-gesa.
"Tunggu, Ika." Peter menyimpan kembali kotak perhiasan itu. Dia segera berjalan menyusul Cantika. Tangannya berhasil memegang lengan perempuan itu.
"Lepasin, jangan pernah sentuh aku!" teriak-teriak.
"Please, aku gak bermaksud sakitin hatimu. Aku cuma mau lindungi kamu dan bayimu."
"Gak perlu, aku gak butuh itu semua. Lepasin!" masih berontak.
Saat itu Pak Permana dan ayah Peter muncul. Mereka terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Cantika, ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak begitu?" tanya Pak Permana agak panik.
"Papi, mulai saat ini jangan pernah biarin dia ke rumah ini lagi. Aku gak mau ketemu sama dia." Bercucuran air mata sambil berlalu.
"Om, ini cuma salah paham aja kok. Aku gak bermaksud buat nyakitin Cantika." Peter berusaha membela diri.
"Peter, apa yang sudah kamu lakukan? Jangan bikin Daddy malu!" Pria itu melotot.
"Nggak, Dadd. Aku gak ngelakuin hal kasar."
"Pak Permana, maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan ini. Kami pamit pulang, terima kasih atas undangan makan malamnya. Tolong mintakan maaf atas nama putra saya." Pria sipit paruh baya itu merasa tidak enak hati.
"Maafkan juga atas sikap Cantika. Saya yakin dia tidak bermaksud seperti itu. Saat ini Cantika sedang mengandung, jadi perasaannya lebih sensitif dan mudah marah atau tersinggung."
"Om, aku pamit. Maaf, aku sama sekali gak bermaksud bikin Cantika sedih." Peter membungkuk hormat.
"Tidak usah seperti itu. Ini pasti hanya salah paham." Pak Permana menepuk pundak Peter.
Kedua laki-laki bermata sipit itu pun meninggalkan rumah tersebut.
Pak Permana menyusul putrinya ke dalam kamar. Pria itu masuk setelah meminta ijin terlebih dahulu. Kini dia duduk di sebelah anaknya di atas sofa.
"Nak, sebenarnya ada apa sampai kamu menangis dan marah pada Peter?"
"Dia lancang karena berani melamar aku buat jadi istrinya. Aku ini udah bersuami dan sedang hamil." Masih menangis.
"Caranya memang tidak terlalu salah, hanya saja waktunya yang tidak tepat. Papi tahu bagaimana perasaanmu. Tapi Papi rasa, Peter itu hanya ingin mengungkapkan perasaan saja. Dia tidak bermaksud mengusikmu."
Cantika mendelik, "Kenapa Papi bela dia?"
"Bukan seperti itu, Papi cuma mau meluruskan masalah ini. Kalau kamu tidak suka, tolak saja. Gak perlu marah-marah seperti tadi."
"Pokoknya aku gak mau ketemu dia lagi."
"Iya, Papi ngerti. Sekarang kamu istirahat saja. Mungkin cucu Papi sudah cape karena ibunya marah-marah terus." Pak Permana mengusap kepala anaknya sambil tersenyum. Dia pun keluar dari kamar itu.
Cantika mengelus perutnya yang sudah tidak lagi rata. "Maaf, Nak. Mami gak sengaja bikin kamu cape. Ini semua gara-gara Om Reseh itu. Untung kamu punya Papi yang baik hati. Papimu pasti bahagia jika saat ini bisa melihat kita."
Dia terus berceloteh seolah berbincang dengan anaknya yang ada di dalam kandungan. Sesekali wajahnya sendu saat mengingat sosok suami yang selalu dia rindukan. Sampai kapanpun Anas tidak akan pernah tergantikan.
**
"Aku cuma mengajaknya nikah." Jelas Peter saat berada di dalam mobil.
"Dasar stupid, harusnya kamu mikir dong. Cantika itu kan belum lama jadi janda, lagipula dia sedang hamil. Emang kamu mau punya anak tiri?" Suara dari pria di sebelahnya.
"No problem. Aku pengen banget jadi suami Cantika. Daddy setuju kan?!"
"Daddy akan dukung kamu asalkan kamu memang benar-benar serius. Jangan kayak yang waktu kemarin-kemarin. Kamu malah gak jadi nikah sama adik tirinya Cantika. Itu malu-maluin."
"Serius, Dadd. Itulah alasanku putus sama Riri. Aku cinta banget sama Cantika."
"Ok, tapi jangan terburu-buru. Cari waktu yang tepat untuk melamarnya!"
Peter mengangguk-anggukkan kepala. Jika dipikir lagi, memang dia yang salah. Pantas saja Cantika semarah tadi. Sepertinya playboy itu sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi, untuk segera memiliki istri dari Anas tersebut.
Note:
Maaf ya teman-teman, aku baru bisa up malam hari. Tadinya mau up pas hari masih terang dan cerah, tapi bab baruku gak sengaja kehapus. Auto ngetik lagi dari 0 😫
Makasih atas segala dukungan kalian🤗
Alhamdulillah respon pembaca di group FB sangat bagus pada cerita ini. Mudah-mudahan saja nular juga ke pembaca di Noveltoon.
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya 🤗