TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Tak bersambut


__ADS_3

Pagi ini Riri baru saja masuk ke dalam mobil. Dia duduk anteng di kursi depan.


"Ayo, kita berangkat. Kenapa malah bengong?" tanya si gadis manis itu.


"Tapi kenapa Nona duduk di sebelah saya? Harusnya kan di belakang. Saya kan sopir Nona." Fabian berucap tanpa menatap.


"Terserah akulah, Mas. Aku lebih nyaman duduk di sini. Lagian Mas itu kan temenku."


Fabian terlihat sungkan. Pria itu merasa tidak enak hati.


"Udah, Mas. Jangan terlalu dipikirin, kita berangkat sekarang! Aku takut telat ke kampus."


"Baik, Non." Fabian menghidupkan mesin mobil. Kendaraan itu pun melaju dengan kecepatan sedang.


Saat tiba di sebuah Universitas ternama di kota, mobil berwarna silver itu pun berhenti.


"Sudah sampai, Nona."


"Sudah sampai ya?" Ada nada kecewa yang terdengar. Padahal dia ingin lebih lama bersama pria itu. Tapi di lain sisi, dia harus segera masuk ke kelasnya.


Katanya tadi takut telat, tapi malah males turun. Terlihat seperti mengulur waktu. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran gadis ini?


"Nona, bukankah Anda harus cepat masuk?!" Pertanyaan itu membuat Riri tersadar dari lamunannya. Kenapa Riri dari tadi memperhatikan aku? Apakah wajahku ada yang aneh?


"Ahh, iya."


Fabian segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nona aneh itu. Riri membuka sabuk pengaman dengan malas. Tapi sebagian hatinya merasa senang karena diperlakukan bak putri raja oleh Fabian. Tentu saja, pria itu adalah sopirnya. Riri bahkan melupakan itu.


"Makasih, Mas." Gadis itu tersenyum manis sebelum berlalu.


Fabian mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh karena Nona-nya memperlakukan dia tidak seperti pada seorang sopir.


Apa gadis itu mempunyai rasa....? Fabian tak berani melanjutkan spekulasinya. Lagipula itu bukanlah hal yang penting.


**


Pulang dari kuliah, Riri meminta ditemani jalan-jalan ke Mall. Fabian sebagai sopir sekaligus bodyguard-nya, tentu saja dengan setia dan bersabar mengikuti perintah sang Nona. Tangan pria itu bahkan kini sudah penuh dengan banyaknya barang belanjaan. Sementara Riri malah masuk ke toko sepatu. Sepertinya dia masih mau berburu barang-barang yang lain.


"Ini bagus banget, kayaknya cocok buat Mas." Gadis itu menyodorkan sepatu kasual berwarna putih.


"Tidak, Nona. Saya tidak berniat membeli sepatu." Menggeleng pelan dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Ambil, aku yang beli ini khusus untukmu. Anggap saja sebagai hadiah karena Mas udah jadi supir dan bodyguard yang baik."


"Tidak usah, terima kasih. Saya tidak membutuhkannya."


Riri berubah masam dan menatap pria itu dengan kecewa. "Berarti kamu gak hargain aku. Apa sepatu ini jelek?"


"Bukan seperti itu, Nona. Saya tidak pantas mendapatkannya. Sepatu itu sangat bagus, tidak cocok untuk saya."


"Belum juga dicoba. Cepat pakai!" Gadis itu kini berubah jadi pemaksa.


Fabian yang serba salah pun akhirnya mengikuti kemauan Riri. Belanjaan itu dia simpan dulu di lantai.


"Nah, bagus kan. Aku udah bilang kalo itu emang cocok buat Mas. Mbak, saya mau sepatu ini aja." Riri berbicara pada sang pelayan wanita yang dari tadi bersama mereka.


"Baik, Mbak." Pelayan itu mengambil sepatu yang baru saja dilepas dari kaki Fabian untuk dibungkus.


Tak cukup di situ, Riri membelikan juga kemeja dan celana jeans untuk pria itu, dengan mode paksa. Sekeras atau selembut apapun penolakan Fabian, Riri bersikukuh memberikan barang-barang tersebut.


Puas berburu belanjaan, kini keduanya pun makan di sebuah food court. Sudah seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan, itu hanya pemikiran Riri saja! Lain kali gadis itu akan mengajak nonton bioskop juga pada sang sopir. Pepet terus sampai dapat.


**


Beberapa bulan berlalu, sudah terlalu lama Riri memendam perasaannya. Sedangkan pria itu belum juga merespon. Benar-benar tidak peka atau malah pura-pura bego?! Dan malam ini dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya.


"Mas Bian, Riri cinta sama Mas Fabian." Ucapnya sambil menunduk. Meski perkataannya pelan, tapi begitu jelas terdengar.


Fabian mendadak membeku. Meski dia sudah menduga-duga sebelumnya, tapi tetap saja kaget. Ternyata Nona cantik itu berani jujur. Lagipula, ini di luar ekspektasinya.


Pria itu bangkit dari duduknya. "Maaf, Nona. Saya permisi ke toilet."


Riri kini bungkam. Saat ini wajahnya seperti kepiting rebus, malu tak terkira. Bukan hal yang mudah bagi wanita sepertinya untuk nembak duluan. Tapi mau bagaimana lagi, dadanya sudah penuh sesak menahan perasaan itu.


Astaga, apa Mas Bian marah? Apa dia gak punya rasa yang sama? Ya Tuhan, deg-degan banget aku. Semoga dia gak membenciku setelah ini. Apa aku kelihatan kayak cewek yang gampangan?


Gusar campur malu, itulah kini yang dia rasakan.


Drrtt.....! Drrtt....! Ponsel di atas meja bergetar. Riri yang awalnya ragu pun, mengambil benda pipih milik Fabian tersebut.


Baru juga menjawab, suara seseorang di sebrang sana begitu memekakkan telinga.


"Halo, Mas Fabian. Mas lagi dimana sih? Kapan pulang? Aku dari tadi nungguin. Hallo, Mas.... Ngomong dong!"

__ADS_1


Tutt.... tutt.... tutt....


Riri langsung mengakhiri telpon itu tanpa bicara sedikitpun. Dadanya seolah tertimpa paku bumi saat mendengar suara wanita. Tangannya bergetar mengutak-atik ponsel tanpa sandi itu. Banyak foto-foto kebersamaan Fabian dengan seorang perempuan yang buncit.


Apa Mas Fabian udah nikah. Apa ini istrinya yang lagi hamil?


Tanpa seijinnya, tetesan bulir bening terjun begitu saja ke wajahnya. Saat si pria kekar muncul, dia menyimpan ponsel itu ke tempat semula. Buru-buru dia usap pipi sembabnya.


"Mas, apa Mas udah nikah dan punya istri?" tanyanya lirih tanpa menatap.


"Iya." Jawabnya singkat, sama-sama memalingkan muka.


Makin hancurlah perasaan Riri. Kenapa ia harus terjebak dengan cinta terlarang? Suatu kesalahan jika mempunyai rasa pada suami orang. Kenapa dia begitu bodoh, hingga tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang Fabian?


"Apa istrimu adalah perempuan hamil yang ada di galeri foto HP itu?"


"Iya." Lagi-lagi jawaban singkat yang membuat Riri makin terbakar.


Gadis cantik itu mengambil napas panjang sebelum kembali berkicau. "Mas, maaf. Aku tadi lancang angkat telpon dari istrimu. Aku juga udah gak sopan lihat-lihat foto kalian. Oh, ya. Mas kayaknya harus cepat pulang. Istri Mas udah nungguin dari tadi. Kasihan kan dia lagi hamil besar." Pura-pura tabah padahal hatinya semrawut.


Fabian menatapnya dengan lekat meski sesaat. Iba, merasa bersalah dan juga malu. Harusnya dia bisa mencegah agar gadis itu tidak menyukainya. Harusnya dari awal dia menolak pekerjaan jadi sopir modus ini.


"Nona juga harus cepat pulang ke rumah, takut orang-orang khawatir."


**


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Pak Permana, Riri dan sang sopir pribadi tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan gadis itu duduk di kursi belakang, layaknya majikan yang normal. Biasanya selalu keukeh ingin dekat dengan si pria kekar.


Sebelum turun, Riri sempat berbicara. "Maafkan aku. Kalo aku tahu Mas udah punya istri, aku akan buang jauh-jauh perasaan ini. Aku gak mau jadi pelakor. Tolong Mas lupakan aja apa yang aku katakan di restoran."


"Tolong maafkan saya, Nona. Saya tidak berniat melukai perasaan Anda."


Sungguh perasaan pria itu pun terusik melihat kesedihan Riri lewat pantulan kaca spion bagian tengah. Bisakah dia memeluk Nona-nya sebentar saja? Ia ingin menenangkan gadis cantik itu.


"Jangan minta maaf. Ini murni kesalahanku. Harusnya aku cari tahu dulu sebelum memutuskan untuk mencintai seseorang." Tapi bukankah hati tidak bisa dikendalikan? Kadang kita bisa menaruh perasaan cinta bahkan pada musuh sekalipun.


Riri segera turun dari mobil, meninggalkan laki-laki yang masih termenung itu. Kakinya berlari kecil hingga akhirnya sampai di kamarnya. Untung saja tak ada ayah atau ibunya yang melihat. Jika tidak maka saat ini Riri akan diinterogasi.


"Kenapa cintaku selalu bertepuk sebelah tangan?"


Dia terus saja menangisi nasib buruknya. Sungguh menyesal karena sudah mudah jatuh hati pada seseorang. Dulu cintanya harus kandas dengan mantan tunangannya. Tapi itu adalah anugrah. Dia bersukur, sangat-sangat lega bisa bebas dari pria segila Peter. Tapi saat ini, hatinya sedikit tidak rela jika harus gagal mendapatkan Fabian.

__ADS_1


Di matanya, laki-laki berotot itu adalah pria yang sangat baik. Meski penampilannya tidak rapi, tapi sikapnya selalu menyenangkan dan sopan.


Namun mulai saat ini, Riri harus berusaha menghapus nama pria itu dari hatinya. Dia tak mau menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain.


__ADS_2