
Anas sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Bayangkan saja, dia sekamar dengan seorang bidadari cantik nan s*xy. Meski mereka berbaring di tempat berbeda, tetap saja jantungnya meletup-letup.
"Cantika, kamu sudah tidur ?"
"Hemmm, belommm."
"Boleh aku bertanya ?"
"Apa ?"
"Apa setiap malam, kamu tidur dengan posisi yang aneh ?"
Cantika membuka selimut yang menutupi kepalanya. "Maksudnya ?" agak terusik.
"Malam kemarin kamu hampir saja jatuh saat tidur. Apa memang selalu begitu ? Memangnya cara tidurmu bagaimana ?" Apapun dia bicarakan untuk mengusir gugup dan pikiran anehnya.
"Mana gue, ehmmm....mana aku tahu cara tidurku itu kayak apa ?! Orang tidur ya pasti gak sadarlah...." mulai kesal.
"Sering jatuh dari kasur ?"
"Ehmmm, kadang-kadang sihhh. Tapi gak tiap malam juga." Akhirnya malu.
"Kamu sering kesakitan dong..."
"Dikit...."
Kasur milik Cantika yang ada di rumahnya, berukuran extra besar dengan sisi kiri dan kanannya dipasang kasur lagi dengan ukuran lebih pendek dan kecil. Pak Permana sengaja memesan model tempat tidur yang seperti itu karena tahu betul jika putri satu-satunya itu suka pecicilan ketika tidur pulas.
"Jangan sampai kamu malam ini jatuh menimpaku lagi ! Nanti aku kesusahan bernafas."
Cantika bangkit lalu duduk, "Apa ? Itu bukan salahku. Gak sengaja tahu ?!" sewot.
"Cantika, cepatlah tidur ! Ini sudah malam, jangan marah-marah terus ! Kalau kamu kurang tidur, matamu nanti seperti panda."
Cantika kembali berbaring miring menyelimuti seluruh tubuhnya lagi, kecuali kepala. "Hehhhh, suami rese ! Jangan ganggu, aku beneran mau tidur nihh !"
__ADS_1
Anas hanya tersenyum menanggapi kekesalan istrinya. Rumah ini begitu hangat karena keberadaan Cantika. Itu membuatnya bahagia.
Satu jam berlalu, tak ada lagi suara koaran dari Cantika. Mungkin dia sudah tidur. Tapi Anas masih terjaga. Seberapa keras pun dia berusaha memejamkan mata, pikirannya belum bisa diam. Melayang-layang pada si cantik yang jutek itu.
Wajah penuh pesona dan senyum Cantika yang ternyata begitu manis, masih anteng memenuhi isi kepala Anas. Apalagi saat bayangan perempuan itu yang memakai baju tidur mini, menari-nari menggodanya. Membuat otaknya sedikit gila. Bagaimana pun juga, dia tetaplah laki-laki normal. Pasti akan merasa tertarik akan keindahan istrinya itu.
Ini tidaklah benar. Aku tidak boleh berpikir macam-macam ! Cantika masih butuh waktu untuk menerimaku sebagai suaminya. Lagipula dia sedang datang tamu bulanan. Berhenti berpikir ngeres ! Aku harus kuat melewati ujian paling dahsyat ini !
Anas menarik nafasnya berat. Sabar Anas, sabar....!
"Astaghfirullah....!" wajahnya terkena guling dari atas kasur di sebelahnya. Siapa lagi pelakunya selain Cantika ?! Tidak hanya guling, bahkan selimut pun ikut melorot menimpa tubuh pria itu. "Apa dia kumat lagi ?" gumamnya.
"Astaghfirullahaladzim...." suaranya lebih keras karena terlalu kaget dengan penampakan istrinya. Kepala Cantika tiba-tiba muncul di bibir ranjang, dengan rambut tergerainya yang menutupi sebagian wajah. "Tidurnya terlalu aktif. Jangan sampai dia jatuh lagi menimpaku !"
Anas segera bangun dan membenarkan posisi tubuh perempuan itu, sambil memalingkan wajah agar tidak menyaksikan area indah namun sensitif milik si cantik. Menyelimutinya dan membuat benteng di salah satu sisi kasur menggunakan guling dan bantal. Sisi yang lain aman karena mepet dengan tembok.
"Tidurlah yang tenang, jangan terlalu lincah saat tidur !" bisiknya sambil tersenyum menatap istrinya yang pulas.
Anas kembali berbaring di tempat semula. Bibirnya masih tersungging. Perempuan bernama Cantika itu telah berhasil membuat kesepiannya sirna. Hidupnya yang kemarin-kemarin datar saja, kini telah berubah penuh g*irah dan debaran indah.
Wiingggg ! Sebuah bantal jatuh lagi menimpa wajah Anas. "Ya ampunnn." Dia mengambil benda tersebut lalu berdiri dengan bertumpu pada lututnya. Menghadap ke kasur dan menyimpan kembali bantal yang dipegang.
"Oowww..." satu lagi bantal mendarat di wajahnya.
"Dasar cowok rese, cowok gila !" suara dari perempuan itu. Sedikit berteriak sambil meninju guling.
Anas memperhatikan wajah Cantika. Apakah istrinya itu terbangun atau hanya mengigau ? Tapi dilihat dari mata yang terpejam itu, pastilah Cantika sedang terlelap.
Pria itu tertawa pelan karena tingkah konyol istrinya. Selain tidur pecicilan ternyata Cantika suka mengigau separah itu. Apa jangan-jangan perempuan itu juga suka tidur sambil berjalan seperti yang kadang ada di film-film ?
Anas berbaring lagi dan dalam waktu yang lumayan lama, barulah dia tertidur.
***
Jam lima shubuh.
__ADS_1
Cantika mengerjapkan mata lalu duduk. Yang menarik penglihatannya adalah sosok suaminya yang tengah melaksanakan ibadah lima waktu. Pria itu sepertinya begitu tenang dan khusyuk saat melakukannya. Mungkin inilah salah satu penyebab Anas selalu bersikap ramah dan jarang marah. Jiwanya begitu tenang hingga amarah pun mampu dia tahan.
Kenapa laki-laki yang alim beribu kali lipat lebih menarik daripada pria tajir ?
Cantika terus menatapnya hingga pria itu selesai shalat dan berdoa.
"Kamu sudah bangun ?" tanya Anas sambil melipat sajadah.
"I...iya. Aku mau ke kamar mandi !" beranjak dari sana dengan langkah cepat. Setelah mencuci wajahnya, dia kembali ke dalam kamar.
Anas telah selesai ganti baju. Cantika melongo memperhatikan suaminya. Begitu tampan padahal hanya memakai kaos oblong dilapisi jaket kulit dan celana jeans belel.
"Mau kemana ?" tanya perempuan itu.
"Aku mau ke pasar. Kamu diam saja di rumah, jangan kemana-mana ! Kalau mau sarapan, beli saja ke warung yang ada di depan. Ini uangnya." Menyodorkan dua lembar uang berwarna merah.
"Ini buat aku ?" mengambil uang tersebut dengan ragu.
"Ya, tapi maaf. Aku hanya bisa memberimu segitu dulu. Inshaa Allah nanti jika aku sudah mulai jualan lagi, aku akan memberimu uang setiap hari." Tersenyum.
"Makasih..." menunduk.
"Aku tahu jika uang segitu sama sekali tidak berharga untukmu. Mungkin waktu belum menikah denganku, untuk sekali jajan pun, itu belumlah cukup. Tapi aku harap kamu saat ini belajar lebih dewasa. Lebih bijak dalam mengatur keuangan."
"Ehmmm....aku usahain. Makasih..."
"Terima kasih karena sudah mau hidup bersama laki-laki sepertiku. Aku mungkin belum mampu memberi kemewahan untukmu, tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk rumah tangga kita. Aku berangkat, assalamualaikum..."
"Waalaikumussalam. Tunggu !" Cantika memegang tangan kanan Anas lalu menciumnya. "Hati-hati di jalan, jangan ngebut !" memalingkan wajah.
Anas mengangguk sambil tersenyum. Dia tahu benar jika istrinya itu berkata tulus meski diucapkan dengan ekspresi wajah yang judes. Pria itu pun berlalu.
Cantika menatapnya lewat kaca jendela kamar, hingga Anas menghilang. Wajah cantik itu memancarkan kebahagiaan. Dia tersenyum melihat uang yang dipegangnya. Entah kenapa meski jumlahnya sedikit, tapi bisa membuatnya sumringah. Mungkinkah karena itu adalah uang nafkahnya yang pertama ?
"Ini uang dari om bewok lhooo ! Ternyata nikah itu lucu juga, lumayan menyenangkan...." cengar-cengir sendiri. Dia juga tidak mengerti kenapa bisa bertingkah konyol seperti itu ? Jika mungkin uang itu pemberian ayahnya, sudah pasti dia akan mengamuk protes karena jumlahnya yang sedikit. Tapi karena ini memang dari Anas, dia enjoy-enjoy saja. Malah kegirangan. Ada apakah gerangan dengan perasaan Cantika ?
__ADS_1